Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Bukan Lagi Rumahku
Kilatan kamera seperti hujan kecil di depan studio.
Wenny berdiri hanya dua langkah dari Kiara. Tangannya yang tadi terulur untuk memeluk masih menggantung di udara, kaku, seolah ia lupa cara menariknya kembali. Senyum lembut yang ia pasang di depan wartawan retak sedikit demi sedikit.
"Kiara," ucap Wenny pelan. Suaranya dibuat serapuh mungkin. "Kamu masih lemah. Jangan bicara sembarangan. Kakak hanya..."
"Jangan pakai kata itu dulu," potong Kiara.
Tidak keras. Tidak membentak.
Justru karena terlalu tenang, kalimat itu membuat semua orang berhenti bergerak.
Wenny menatapnya. "Kata apa?"
"Kakak."
Beberapa wartawan langsung saling pandang. Mikrofon yang tadinya diarahkan ke Wenny kini bergeser ke Kiara. Ci Lucy berdiri di sisi kiri Kiara, wajahnya profesional, tetapi jari-jarinya sudah siap di layar tablet. Santi di belakang Kiara menggenggam botol air dan obat yang harus diminum setelah wawancara selesai.
Rayhan masih berada beberapa langkah di belakang.
Kiara bisa merasakan keberadaannya tanpa harus menoleh. Seperti dinding yang tidak terlihat. Dingin untuk semua orang, hangat hanya untuknya.
"Aku tanya sekali lagi," kata Kiara. "Malam itu, kenapa kamu berdiri di dekat koridor lounge tempat aku dibawa masuk?"
Wenny menelan ludah.
"Aku mencari kamu. Aku panik karena kamu hilang."
"Kamu mencari aku bersama orang yang membawa kamera?"
Wajah Wenny memucat.
Seorang wartawan langsung menyela, "Wenny, benar Anda ada di dekat fotografer yang diamankan pihak hotel?"
Wenny menoleh ke arah pertanyaan itu dengan mata basah. "Saya tidak tahu dia siapa. Kondisi malam itu kacau sekali. Saya cuma dengar Kiara tidak enak badan, jadi saya ingin menolong."
"Kalau ingin menolong," Kiara bertanya, "kenapa bukan memanggil Santi?"
Santi mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia bicara di depan kamera.
"Saya ada di area registrasi karena dipanggil staf acara untuk mengambil gift set atas nama Kak Kiara. Setelah saya kembali, Kak Kiara sudah tidak ada di tempat. Tidak ada satu pun panggilan dari Wenny ke nomor saya."
Klik kamera semakin cepat.
Wenny segera berkata, "Santi mungkin tidak angkat. Aku benar-benar panik waktu itu."
Ci Lucy mengetuk tablet. Layar kecil di tangannya menyala, lalu ia mengangkatnya sebatas dada, cukup untuk dilihat wartawan terdekat tanpa membuat suasana terasa seperti panggung drama murahan.
"Kami tidak akan memutar rekaman penuh karena masih menjadi bagian dari proses hukum hotel dan tim legal," ucap Ci Lucy datar. "Tapi potongan waktu ini sudah diserahkan kepada pihak terkait."
Di layar tablet tampak gambar dari CCTV koridor hotel. Tidak jernih seperti kamera film, tetapi cukup jelas. Wenny berdiri di sudut koridor dengan gaun satinnya, menghadap seorang pria yang memegang tas kamera. Mereka tidak terlihat seperti dua orang asing yang kebetulan bertemu. Wenny menunduk sedikit, berbicara, lalu menunjuk ke arah lounge.
Timestamp di pojok layar membuat udara di depan studio mendadak lebih berat.
Itu terjadi sebelum Kiara dibawa masuk.
"Itu bisa disalahpahami!" suara Wenny meninggi. Ia cepat-cepat menutup mulut, lalu menurunkan nada. "Saya hanya bertanya apakah ada yang melihat Kiara. Saya tidak menunjuk apa-apa."
"Berarti kamu mengaku bertemu pria berkamera itu sebelum aku masuk lounge?" tanya Kiara.
Wenny membeku.
Pertanyaan itu sederhana, tapi tidak punya jalan keluar.
Jika ia berkata tidak, CCTV sudah ada. Jika ia berkata iya, persona kakak cemas yang baru ia jual pada media pagi tadi langsung runtuh.
"Kiara," Wenny berbisik, air mata mulai turun. "Apa kamu benar-benar mau mempermalukan keluarga sendiri begini?"
Kata keluarga membuat dada Kiara seperti disentuh benda dingin.
Dulu, tubuh ini mungkin akan gemetar mendengar kata itu. Mungkin akan merasa bersalah hanya karena Wenny menangis. Mungkin akan memaksa diri menunduk, meminta maaf, lalu pulang ke rumah Tanuwijaya sebagai anak yang salah lagi.
Tapi pagi ini, setelah semalaman memegang selimut di apartemen servis dan mendengar Papa serta Mama lebih dulu menanyakan air mata Wenny daripada detak jantungnya, sesuatu di dalam diri Kiara sudah selesai.
Bukan meledak.
Hanya padam.
"Keluarga?" Kiara mengulang pelan.
Wenny menangis lebih keras. "Aku tahu kamu marah. Tapi aku tetap kakakmu. Dari kecil kita tumbuh bersama. Papa dan Mama pasti sedih kalau melihat kamu seperti ini."
Suara rem mobil terdengar dari sisi jalan.
Sebuah mobil hitam berhenti terlalu mendadak di depan studio. Pintu belakang terbuka. Hendra Tanuwijaya turun dengan wajah tegang, disusul Lina yang sudah menangis sebelum kakinya benar-benar menyentuh trotoar.
Para wartawan langsung berbalik. Nama Tanuwijaya masih cukup dikenal di lingkaran bisnis lama Jakarta. Kehadiran orang tua kandung Kiara di tengah konfrontasi publik membuat suasana yang sudah panas berubah menjadi lebih tajam.
"Kiara!" Hendra memanggil dengan suara berat.
Kiara menoleh.
Untuk sesaat, semua kamera menangkap wajahnya dari samping. Pucat, masih lelah, tetapi matanya tidak menghindar.
Lina bergegas ke arah Wenny lebih dulu. Ia memegang bahu Wenny, lalu menatap Kiara dengan mata merah. "Kamu kenapa tega sekali pada kakakmu? Dia dari pagi nangis, takut kamu salah paham."
Kalimat itu jatuh seperti bukti yang tidak perlu dibawa siapa pun.
Wenny, yang tadi berusaha menahan air mata, langsung menunduk ke pelukan Lina.
Santi menggigit bibir. Ci Lucy menarik napas pendek.
Kiara hanya berdiri diam.
Seorang wartawan bertanya, "Bu Lina, Kiara baru saja mengalami insiden di hotel. Kenapa Ibu lebih dulu menanyakan kondisi Wenny?"
Lina seperti baru sadar ada puluhan kamera di depannya. Wajahnya berubah kikuk.
"Bukan begitu. Kiara juga anak saya. Tapi Wenny..."
"Wenny lebih rapuh," Hendra menyambung, keras. "Kiara, kamu sudah cukup besar untuk tahu mana yang boleh dibawa ke publik dan mana yang harus diselesaikan di rumah. Minta maaf pada kakakmu."
Mikrofon terangkat serentak.
"Pak Hendra, maksud Bapak Kiara harus minta maaf meski ia yang menjadi korban jebakan?"
"Apa keluarga Tanuwijaya tidak percaya pada bukti hotel?"
"Apakah sejak awal keluarga memang membela Wenny?"
Pertanyaan menghantam dari segala arah.
Hendra baru menyadari kalimatnya sudah keluar terlalu jauh. Rahangnya menegang.
"Jangan putar balik ucapan saya. Saya hanya tidak mau keluarga kami dijadikan konsumsi publik."
Kiara tersenyum tipis.
Tidak ada rasa senang di sana. Hanya lelah yang rapi.
"Papa benar," katanya.
Semua orang diam.
Hendra terlihat lega setengah detik. Lina pun mengangkat wajah dari bahu Wenny.
Lalu Kiara melanjutkan, "Masalah keluarga memang seharusnya tidak dijadikan konsumsi publik. Karena itu selama ini saya diam."
Senyum Hendra menghilang.
"Saya diam saat jadwal kerja saya diserobot. Saya diam saat setiap saya pulang, yang dibicarakan hanya perasaan Wenny. Saya diam saat berita buruk tentang saya membuat Mama menangis untuk Wenny, bukan untuk saya. Saya diam saat Papa meminta saya mengalah karena Wenny sudah lebih dulu tinggal lama di rumah itu."
Wenny mengangkat kepala. "Kiara, jangan memutar cerita."
"Aku belum selesai."
Kali ini nada Kiara sedikit lebih rendah.
Wenny otomatis menutup mulut.
Kiara menatap kamera, bukan Wenny. Ia tahu kalimat berikutnya bukan hanya untuk wartawan. Itu untuk tubuh yang pernah hidup di sini sebelum dirinya datang. Untuk gadis yang selama bertahun-tahun menunggu satu kali saja orang tuanya memilihnya.
"Saya tidak akan membahas urusan darah, riwayat keluarga, atau luka lama di trotoar studio. Saya tidak serendah itu. Tapi hari ini semua orang bisa melihat sendiri. Ketika saya nyaris difitnah di hotel, orang tua saya datang bukan untuk menanyakan apakah saya masih pusing, apakah jantung saya baik-baik saja, atau apakah saya takut. Mereka datang untuk meminta saya minta maaf pada Wenny."
Lina menangis lebih keras. "Kiara, Mama tidak begitu..."
"Mama menelepon saya pagi ini." Kiara menoleh padanya. "Kalimat pertama Mama adalah, jangan membuat Wenny makin tertekan. Mama bahkan belum bertanya apakah saya sudah diperiksa dokter."
Wajah Lina memutih.
Hendra berkata tajam, "Cukup."
Rayhan bergerak setengah langkah.
Kiara mengangkat tangan kecilnya tanpa menoleh.
Rayhan berhenti.
Gerakan itu tertangkap kamera. Bukan Rayhan yang menghentikan Hendra. Bukan Rayhan yang mengambil alih. Kiara sendiri yang berdiri di depan badai yang berasal dari keluarganya.
"Tidak, Papa," ucap Kiara. "Hari ini aku yang bilang cukup."
Hendra menatapnya seolah tidak mengenal anaknya sendiri.
Dulu, Kiara selalu menunggu izin untuk bicara. Hari ini ia tidak menunggu lagi.
"Mulai hari ini, untuk urusan pekerjaan, saya berdiri sebagai Kiara Tanuwijaya, aktris dari Gerbang Majapahit. Bukan adik yang bisa dipakai untuk membersihkan citra siapa pun. Bukan anak yang harus mengorbankan diri supaya rumah terlihat harmonis."
Ia berhenti sebentar, menelan rasa asin yang naik ke tenggorokan.
Tangannya dingin. Ujung jarinya sedikit gemetar. Tapi punggungnya tetap lurus.
"Untuk urusan keluarga," lanjutnya, lebih pelan, "saya tidak memutus darah. Saya juga tidak akan mengutuk orang tua sendiri di depan kamera. Tapi mulai hari ini, saya berhenti meminta kasih sayang dari rumah Tanuwijaya."
Lina terisak. "Kiara..."
Kiara menatapnya.
Di mata Mama, masih ada tangis. Masih ada tuduhan. Masih ada harapan agar Kiara mundur dan memeluk Wenny supaya semua orang bisa berpura-pura bahwa keluarga itu baik-baik saja.
Tidak ada satu pun yang bertanya apakah Kiara sakit.
Jadi Kiara menunduk sedikit, sopan seperti anak yang terakhir kali berpamitan di ambang pintu.
"Terima kasih sudah membesarkan saya," katanya. "Tapi saya tidak akan pulang untuk disuruh mengalah lagi."
Suara kamera meledak.
Wenny menggenggam lengan Lina sampai buku jarinya memutih. "Mama, aku tidak pernah minta Kiara disakiti. Aku hanya..."
"Kalau begitu," Kiara menatap Wenny, "berhenti menangis setiap kali aku menolak dipakai."
Wenny seperti ditampar tanpa disentuh.
Hendra maju satu langkah. "Kiara, jaga mulutmu."
Rayhan maju juga.
Kali ini Kiara tidak menghentikannya, karena ia tidak maju untuk menyerang. Rayhan hanya berdiri tepat di samping Kiara, jaraknya cukup dekat untuk membuat seluruh tubuhnya terlindung dari dorongan siapa pun, tapi tidak menutupinya dari kamera.
Ia menatap Hendra dengan dingin yang membuat udara terasa turun beberapa derajat.
"Pak Tanuwijaya," kata Rayhan, sopan, rendah, dan berbahaya. "Anak Anda baru saja keluar dari insiden yang melibatkan minuman bermasalah, kamera tersembunyi, dan fitnah publik. Kalau kalimat berikutnya masih menyuruh dia meminta maaf, sebaiknya Bapak ucapkan di depan pengacara saya."
Hendra berhenti.
Lina memeluk Wenny lebih erat.
Wenny menunduk, tetapi matanya cepat bergerak ke layar ponsel salah satu wartawan. Komentar siaran langsung bergulir tanpa ampun.
Kakak baik kok ada di CCTV?
Kok korban disuruh minta maaf?
Kiara sakit, yang dipeluk malah Wenny?
Topeng yang ia poles sejak pagi retak di depan puluhan ribu penonton, bukan karena Kiara berteriak, tapi karena semua orang melihat sendiri siapa yang selalu dipilih.
Ci Lucy mengambil alih dengan rapi. "Pernyataan Kiara cukup sampai di sini. Untuk bukti insiden hotel, silakan tunggu keterangan resmi dari pihak legal dan hotel. Kiara masih dalam pemulihan, jadi tidak ada sesi wawancara tambahan."
Santi segera mendekat, menyodorkan air.
Kiara mengambilnya, tetapi tutup botol terlalu keras untuk jarinya yang gemetar.
Tanpa berkata apa-apa, Rayhan mengambil botol itu, membukanya, lalu mengembalikannya ke tangan Kiara. Gerakannya kecil. Tidak dibuat untuk kamera. Justru karena itu, beberapa lensa tetap menangkapnya.
"Bisa jalan?" tanyanya pelan.
Kiara mengangguk.
"Bisa."
Rayhan tidak menggandengnya lebih dulu. Ia menunggu Kiara mengulurkan tangan.
Setelah dua detik, Kiara memasukkan jarinya ke telapak tangan Rayhan.
Baru saat itu Rayhan menggenggamnya.
Mereka berjalan melewati barisan wartawan. Tidak tergesa, tidak berlari dari keluarga Tanuwijaya. Kiara melewati Lina yang masih menangis, melewati Hendra yang wajahnya merah padam, melewati Wenny yang menatapnya dengan kebencian terselubung di balik air mata.
Saat bahu mereka hampir sejajar, Wenny berbisik, cukup pelan untuk tidak ditangkap mikrofon utama, tetapi cukup jelas untuk didengar Kiara.
"Kamu berubah."
Kiara berhenti sebentar.
Ia tidak menoleh penuh. Hanya sedikit memiringkan wajah.
"Iya," jawabnya. "Aku sudah tidak menunggu kamu menang lagi."
Lalu ia pergi.
Di dalam mobil, begitu pintu tertutup, suara dunia langsung meredam. Kilatan kamera masih menempel di kaca gelap, tapi tidak lagi menyentuh kulit Kiara.
Napas yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Bahunya turun sedikit. Rayhan langsung melepas jasnya dan menutupkannya ke pangkuan Kiara, seolah ia takut dingin dari luar masih mengikuti.
"Sayang," panggilnya.
Kiara menatap jari mereka yang masih bertaut.
"Aku tidak menangis," katanya, meski suaranya serak.
"Aku tahu."
"Aku cuma..." Ia menarik napas, lalu tertawa kecil tanpa suara. "Rasanya aneh. Seperti pintu yang lama sekali aku dorong, ternyata memang tidak pernah mau dibuka. Hari ini aku berhenti mendorong."
Rayhan menunduk dan mencium buku jarinya.
"Kalau kamu mau rumah baru," katanya, "aku punya semua waktu di dunia untuk membangunnya."
Mata Kiara panas.
Kali ini bukan karena keluarga Tanuwijaya.
Ia menoleh ke jendela, menyembunyikan ujung matanya yang basah. Di luar, studio mulai menjauh. Wartawan masih berkerumun. Hendra, Lina, dan Wenny tertinggal di bawah mata kamera yang tadi mereka kira bisa mereka pakai.
Beberapa meter dari gerbang studio, sebuah Alphard hitam berhenti di sisi jalan.
Di kursi belakang, seorang pria berjas abu tua menurunkan kaca jendela sedikit. Tatapannya mengikuti mobil Rayhan sampai berbelok keluar dari area studio.
Di layar ponselnya, potongan wajah Kiara dari siaran langsung berhenti pada satu frame. Pucat, anggun, keras kepala, dan rapuh sekaligus.
Pria itu mengusap layar dengan ibu jari.
"Kiara Tanuwijaya," gumam Chandra Kurniawan.
Asistennya yang duduk di depan menoleh. "Pak Chandra?"
Chandra tersenyum tipis, matanya tetap pada gambar Kiara.
"Cari tahu semua tentang dia."