Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Jason Si Sahabat Misterius
Dan untuk pertama kalinya, Kevin tidak merasa masa lalunya hanya miliknya sendiri untuk ditanggung diam-diam.
Perasaan itu bertahan sampai keesokan paginya, lalu diuji oleh dua makhluk yang sama-sama berisik.
Yang pertama, Bola.
Anak anjing kecil itu sudah jauh lebih segar setelah diperiksa dokter hewan. Ia ditempatkan di area belakang dengan pagar kecil, selimut hangat, dan mangkuk makan yang menurut Kevin terlalu mewah untuk seekor sumber trauma berjalan. Bola tidak mendekati bagian utama rumah, sesuai janji Felicia.
Tetap saja, setiap gonggongan kecil dari belakang membuat bahu Kevin menegang.
Felicia menyadarinya. Ia tidak memaksa. Ia hanya memastikan pintu penghubung tertutup, lalu memberi instruksi pada staf agar Bola tidak dibawa melewati koridor utama.
Yang kedua, Jason Setiawan.
Berbeda dari Bola, Jason tidak bisa ditahan pagar kecil.
Pukul sepuluh pagi, suara ribut terdengar dari gerbang depan. Lima menit kemudian, Adi muncul di ruang makan dengan wajah datar yang menyimpan kelelahan.
"Pak Kevin, Pak Jason datang."
Kevin tidak mengangkat kepala dari laptop. "Suruh pergi."
"Beliau membawa sarapan, kopi, dan berkata kalau tidak diizinkan masuk, beliau akan siaran langsung di depan gerbang dengan judul sahabat dibuang setelah menikah."
Felicia yang sedang minum teh hampir tersedak.
*Wah. Ini orang atau ancaman konten?*
Kevin menutup laptop.
"Biarkan masuk."
Jason Setiawan masuk seperti badai versi wangi parfum mahal. Ia memakai kemeja linen putih, celana santai, kacamata hitam yang tetap dipakai di dalam rumah selama tiga detik penuh sebelum dilepas dramatis.
"Kev!" serunya. "Akhirnya gue diizinkan melihat istri legendaris."
Kevin menatapnya. "Pelankan suara."
"Rumah lo terlalu sunyi. Gue membantu ekosistem."
Lalu mata Jason beralih ke Felicia.
Ia berhenti sejenak.
"Oke," katanya pelan. "Sekarang gue paham kenapa lo menyembunyikan dia."
Felicia berdiri, tersenyum sopan. "Selamat pagi. Saya Felicia."
Jason langsung menangkupkan tangan di dada. "Jason Setiawan. Sahabat Kevin sejak masa dia masih lebih menyeramkan daripada sekarang."
"Dia bisa lebih menyeramkan?"
"Jauh."
Kevin berkata, "Jason."
"Oke, oke." Jason duduk tanpa diundang, lalu menunjuk kotak makanan. "Gue bawa croissant, bakmi ayam, kopi, dan dimsum. Karena gue tidak tahu selera Bu Felicia, gue bawa semuanya."
Felicia tersenyum lebih tulus. "Terima kasih. Itu sangat perhatian."
*Sangat perhatian. Terlalu perhatian. Dia tahu makanan Kevin? Bawa banyak pilihan? Masuk rumah tanpa takut? Hmm.*
Kevin memijat pangkal hidung.
Jason membuka kotak bakmi. "Kev, lo belum kasih gue cerita. Gimana rasanya menikah?"
"Biasa."
"Jawaban lo menghina institusi pernikahan."
Felicia tertawa kecil.
Kevin menatapnya, lalu menatap Jason. "Jangan ajari dia hal aneh."
"Gue baru duduk!"
*Protektif banget. Tapi ke siapa? Ke aku atau ke Jason? Tunggu. Kalau Jason pacarnya, mungkin Kevin takut aku salah paham karena Jason terlalu ramah. Aduh, rumit.*
Kevin menutup mata.
Tidak lagi.
Ia benar-benar tidak sanggup.
Jason, yang tidak tahu dirinya sedang menjadi tokoh utama teori cinta rahasia, menyenggol bahu Kevin. "Bro, santai. Wajah lo dari tadi kayak mau mengusir gue pakai surat pengadilan."
Sentuhan itu kasual. Terlalu akrab.
Felicia melihat.
*Nah! Lihat itu. Senggol bahu tanpa takut dibunuh. Ini bukan sahabat biasa. Mereka punya sejarah. Jason kayak golden retriever, Kevin kayak kulkas mahal. Opposites attract. Astaga, apakah aku jadi istri kontrak dalam kisah BL konglomerat?*
Kevin tersedak kopi.
Jason langsung panik. "Kev? Lo oke?"
Felicia berdiri. "Mas Kevin?"
Kevin mengangkat tangan, batuk dua kali, lalu menatap Felicia dengan mata gelap.
"Tidak. Ada. Apa-apa."
Setiap kata dipotong seperti pisau.
Felicia duduk pelan.
*Kenapa dia marah? Apakah pikiranku terlalu kelihatan di wajah lagi?*
Ya, Kevin ingin menjawab. Sangat kelihatan, walau hanya untuknya.
Jason menatap mereka bergantian, lalu menyeringai. "Wah. Ada vibe."
"Diam," kata Kevin.
"Gue belum bilang vibe apa."
"Tetap diam."
Felicia semakin yakin.
*Cemburu? Dia cemburu Jason memperhatikan aku? Atau cemburu aku memperhatikan Jason? Ini segitiga paling tidak efisien yang pernah ada.*
Kevin berdiri. "Aku ke ruang kerja."
Jason langsung ikut berdiri. "Gue ikut. Ada yang harus gue bahas."
"Di sini."
"Serius?"
"Di sini."
Jason melirik Felicia. "Di depan Bu Felicia?"
Kevin menatapnya. "Dia istriku."
Felicia hampir menjatuhkan sumpit.
*Dia bilang itu lagi.*
Jason mengangkat kedua tangan, senyumnya berubah sedikit lebih serius. "Oke. Kalau begitu, update singkat. Phoenix Intel dapat sinyal dari Singapore. Ada transaksi kecil dari jaringan Wijaya masuk ke perusahaan cangkang Liem."
Udara ringan di ruang makan langsung berubah.
Felicia menaruh sumpit.
Kevin tidak bergerak. "Detail."
"Belum solid. Tapi polanya mirip transaksi lama waktu mereka coba tekan proyek Batam. Gue curiga Wijaya mulai memantau posisi lo lagi setelah Brandon kena audit."
Nama Wijaya membuat tangan Felicia mengepal di bawah meja.
*Mereka muncul sekarang? Setelah semua yang mereka lakukan ke Kevin? Bagus. Datang saja. Aku belum punya cukup alasan untuk membenci kalian hari ini.*
Kevin mendengar, dan tatapannya melunak sepersekian detik sebelum kembali dingin.
Jason melanjutkan, "Dan satu lagi. Om Hendra tanya kapan lo mulai gerakkan rencana itu."
Felicia menoleh. "Rencana apa?"
Jason membeku.
Kevin menatap Jason.
Jason tersenyum kaku. "Rencana... olahraga. Kevin harus lebih sehat."
*Bohong. Bahkan anak TK bisa dengar itu bohong.*
Kevin berkata pelan, "Jason."
"Oke, gue salah." Jason mengusap wajah. "Tapi serius, Kev. Lo tidak bisa diam terus. Kalau Madam Liem sudah kehilangan Mira dan Brandon kena audit, mereka pasti cari jalan lain. Rencana lo ambil alih blok suara dewan harus mulai dipercepat."
Felicia diam.
Dewan. Blok suara. Ambil alih.
Jadi Kevin tidak sekadar bertahan. Ia memang sedang menyiapkan sesuatu.
***"Host, kata kunci terdeteksi: family board voting, proxy shares, Phoenix Intel network. Ini terkait misi utama."***
Felicia menatap Kevin.
Pria itu menutup ekspresinya lagi, seolah pintu besi turun di wajahnya.
"Kamu tidak perlu ikut urusan ini," katanya.
Felicia meletakkan tangan di meja. "Kalau misi saya adalah membantu kamu bertahan di keluarga ini, saya perlu tahu papan caturnya."
Kevin menatapnya.
Jason menatap Kevin, lalu Felicia, lalu tersenyum pelan.
"Gue suka dia."
"Tidak perlu," kata Kevin.
"Bukan izin, bro. Pernyataan."
Felicia hampir tertawa, tapi menahan diri.
*Jason lucu. Sayang sekali mungkin sudah punya Kevin.*
Kevin memukul meja dengan ujung jari.
"Felicia."
"Ya?"
"Berhenti berpikir."
Felicia membeku.
Jason berkedip. "Hah?"
Kevin sadar terlambat.
Felicia menatapnya pelan, curiga.
"Maksud Mas Kevin?"
Kevin diam satu detik.
Dua detik.
"Berhenti berpikir terlalu keras," katanya akhirnya. "Wajahmu terlihat sakit."
Jason mengangguk-angguk seolah paham. "Oh. Iya. Wajah mikir."
Felicia masih menatap Kevin, tapi tidak punya bukti.
Di kepalanya, Si Kepo berbisik.
***"Host, rencana besar Kevin terdeteksi tapi data terkunci. Butuh akses lebih tinggi."***
Felicia menatap dua pria di depannya. Satu terlalu dingin, satu terlalu cerah. Keduanya jelas menyimpan rahasia.
Ia tersenyum manis.
"Baik. Kalau begitu, saya akan berhenti bertanya sekarang."
*Sekarang saja. Nanti aku cari tahu sendiri.*
Kevin dan Jason sama-sama merasa punggung mereka dingin.