Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014: Pria Bernama Arman
Arman datang ke kios tiga hari kemudian tanpa membuat gang kecil itu heboh.
SUV hitamnya berhenti agak jauh di bawah pohon. Ia berjalan sendiri membawa paper bag kecil, menunggu dua anak SMP selesai membeli minuman, lalu masuk setelah Ayu selesai memberi kembalian.
Ayu melihatnya lebih dulu dan langsung menunduk ke rak permen.
"Bu."
Sari sedang mengecek nota kulakan. "Apa?"
"Tamu suara kopi."
Sari mengangkat kepala. Arman berdiri di dekat pintu dengan kemeja biru gelap dan sepatu yang terlalu bersih untuk lantai kios. Ia tidak terlihat canggung, tetapi jelas tidak biasa duduk di antara kardus roti, botol minuman dingin, dan anak sekolah yang berebut es krim.
"Selamat siang, Bu Sari."
Sari menatap paper bag di tangannya. "Kalau itu buah, saya jual buah."
Ayu menunduk lebih dalam, bahunya bergetar.
"Bukan buah," kata Arman. "Obat luka dan vitamin. Dokter Lintang menyarankan beberapa merek untuk memar dan pemulihan."
"Saya sudah punya obat."
"Kalau begitu, ini cadangan. Kalau tidak terpakai, berikan pada orang lain yang membutuhkan."
Sari menatapnya. Ia tidak memaksa, tetapi juga tidak mundur dengan pura-pura tersinggung. Cara seperti itu lebih merepotkan daripada perintah.
"Duduk," kata Sari akhirnya. "Jangan berdiri di pintu. Nanti anak-anak kira ada inspeksi."
Arman duduk di kursi plastik dekat rak buku tulis. Kursi itu terlalu rendah untuk tubuhnya, tetapi ia tidak mengubah posisi atau mencari kursi lain. Sari melayani beberapa pembeli sebelum duduk di kursi kasir.
"Lintang bagaimana?"
"Makan lebih baik. Masih sedikit bicara. Kalau saya bilang Ibu juga makan teratur, dia percaya."
"Jangan jadikan saya alat tawar."
"Saya akan berhenti."
Jawaban itu terlalu cepat untuk orang yang biasa membela diri. Sari berhenti membuka nota.
"Pengasuhnya?"
"Dini masih bekerja."
Wajah Sari langsung berubah.
Arman melihatnya. "Saya tahu Ibu tidak setuju. Saya belum punya bukti cukup untuk menuduh dia sengaja membahayakan Lintang. Untuk sementara aksesnya saya batasi, ada staf lain yang mengawasi, dan CCTV rumah sudah ditambah."
"Anak itu hampir tenggelam."
"Saya tahu."
"Dia takut disentuh."
"Saya tahu."
"Kalau semuanya tahu, jangan hanya melihat rekaman. Lihat anaknya."
Kios kecil itu mendadak sunyi. Ayu berhenti menyusun permen. Seorang anak yang baru masuk mengambil pulpen, merasakan suasana, lalu cepat membayar dan pergi.
Arman tidak menjawab langsung. Ia menatap paper bag di meja, lalu berkata pelan, "Saya tidak terbiasa berada di rumah."
Sari diam.
"Lintang anak adik saya. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Sejak itu dia tinggal dengan saya. Saya pikir rumah aman, pengasuh, sekolah bagus, psikolog, dan dokter cukup untuk menggantikan hal-hal yang hilang."
"Tidak cukup."
"Saya mulai mengerti."
"Mulai saja belum tentu cukup."
Arman mengangguk. Tidak ada wajah tersinggung, tidak ada suara meninggi. Justru karena itu, Sari sedikit kehilangan pegangan. Ia terbiasa dengan laki-laki yang berteriak saat salah. Laki-laki yang mengaku salah tanpa membuat dirinya pusat acara terasa asing.
"Saya datang bukan untuk meminta Ibu mengurus Lintang," kata Arman. "Saya ingin tahu apa yang Ibu lihat, karena saya melewatkannya."
Sari menyandarkan punggung. "Saya melihat anak yang makan seperti takut salah. Anak yang tidak berani minta tolong. Anak yang lebih nyaman memegang baju orang asing daripada tangan pengasuhnya sendiri."
Wajah Arman mengeras, bukan marah pada Sari, melainkan pada sesuatu yang belum ia hadapi.
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu. Lakukan sesuatu."
Ponsel Arman bergetar. Ia melihat layar dan menolak panggilan. Beberapa detik kemudian bergetar lagi, kali ini dari Darto. Arman mengangkat.
"Ya?"
Wajahnya berubah.
"Sekarang? Saya ke sana."
Ia menutup telepon.
"Lintang?" tanya Sari sebelum sempat menahan diri.
"Dia menolak makan siang. Mencari Ibu."
Ayu langsung menatap Sari. Sari menunjuknya.
"Jangan pakai mata begitu."
"Saya tidak bicara."
"Matamu berisik."
Arman berdiri. "Saya tidak meminta Ibu ikut. Saya hanya perlu pulang."
Sari menatap nota kulakan yang belum selesai, stok pembalut yang belum disusun, dan rak roti yang harus dicek tanggalnya. Hidupnya sendiri ada di depan mata. Tapi bayangan Lintang duduk diam di meja makan besar membuat tangannya berhenti.
"Satu jam," katanya.
Arman tidak tersenyum, tetapi wajahnya terang sedikit.
"Baik."
"Saya duduk depan. Saya mudah mabuk kalau di belakang."
"Tentu."
Ayu sudah mengambil tas kecil Sari. "Bu, saya jaga kios. Kalau Bu Nadia tanya, saya bilang Ibu menolong anak kecil."
"Jangan tambah kalimat lain."
"Siap."
Mobil Arman membawa Sari ke Kebayoran Baru. Jalan makin rapi, pohon makin besar, pagar rumah makin tinggi. Sari pernah mengantar hampers ke daerah seperti itu, tetapi tidak pernah masuk sebagai tamu.
"Pekerjaan Pak Arman sebenarnya apa?" tanyanya.
"Saya memimpin Pradipta Group."
Kata itu keluar datar, tanpa pamer.
Sari menatapnya sebentar. "Pantas kursi plastik saya terlihat menderita."
Arman tertawa pelan. Tawa pendek itu membuat wajahnya lebih manusiawi.
Rumah Arman luas, bersih, dan terlalu sunyi untuk anak enam tahun. Di depan pintu, seorang perempuan berusia tiga puluhan menyambut. Rambutnya digerai rapi, bibirnya merah, blusnya terlalu ketat untuk seseorang yang katanya mengasuh anak.
Dini.
Senyumnya untuk Arman manis. Senyum itu mengeras ketika melihat Sari turun dari mobil.
"Pak Arman sudah pulang," katanya. "Lintang ada di ruang makan. Dari tadi memang susah dibujuk."
Sari melihat cara Dini berdiri terlalu dekat dengan pintu, seolah rumah itu miliknya. Ia tidak berkata apa-apa.
Di belakang Dini, seorang pelayan tua membawa nampan kosong. Perempuan itu menunduk pada Arman, lalu menatap Sari sekilas dengan mata yang cepat-cepat dialihkan. Ada rasa ingin bicara di sana, tetapi tertahan oleh kehadiran Dini.
Sari mencatatnya. Rumah besar sering menyimpan rahasia bukan di kamar terkunci, melainkan di wajah orang-orang yang terlalu lama diminta diam.
Di ruang makan, Lintang duduk di kursi dengan piring nasi hampir utuh. Begitu melihat Sari, mata anak itu membesar.
"Tante..."
Sari duduk di sampingnya. "Nasi kamu ngambek."
Lintang menatap piring. "Nasi tidak bisa ngambek."
"Bisa. Kalau dibiarkan dingin, dia jadi keras."
Lintang memegang sendok. Sari tidak menambah bujukan. Ia hanya duduk, menunggu. Setelah beberapa detik, Lintang menyuap satu sendok kecil, lalu satu lagi.
Arman berdiri di seberang meja, diam-diam mengembuskan napas. Dini menggenggam ujung blusnya.
Sari melihat semuanya.
Satu jam, katanya dalam hati. Kadang satu jam cukup untuk mengetahui rumah mana yang terlalu sunyi, anak mana yang terlalu takut, dan orang dewasa mana yang pura-pura tidak khawatir.
Ketika Lintang menelan suapan ketiga, Dini mendekat membawa segelas air.
"Minum, Non. Jangan lama-lama, nanti Pak Arman khawatir lagi."
Lintang langsung berhenti mengunyah.
Sari mengambil gelas itu lebih dulu. "Biar saya taruh di sini."
Dini tersenyum tipis. "Saya biasa mengurusnya, Bu."
"Hari ini biar tidak biasa."
Arman menatap Sari, lalu pada Lintang yang kembali menyuap setelah gelas dipindahkan. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, wajah Arman benar-benar berubah. Ia seperti melihat pola yang selama ini berdiri tepat di depannya.
"Dini," katanya pelan, "setelah ini saya ingin bicara dengan Bu Ratih dan staf dapur."
Senyum Dini menegang. "Tentu, Pak."
Lintang menatap Arman sebentar, lalu cepat kembali pada piringnya. Gerakan kecil itu tidak luput dari Sari. Anak itu tidak bersorak karena ada yang membelanya. Ia justru takut perubahan membuat orang dewasa marah setelah Sari pergi.
Sari mencondongkan tubuh sedikit. "Makan pelan saja. Tidak ada yang buru-buru."
Lintang mengangguk.
Arman menarik kursi di seberang dan duduk, bukan berdiri seperti atasan di ruang rapat. Ia tidak menyentuh Lintang, tidak memaksa bicara. Ia hanya duduk di sana, belajar hadir dengan cara yang paling sederhana.
Sari melihat perubahan kecil itu dan tidak berkomentar. Ada orang yang perlu dipuji agar terus bergerak, tetapi ada juga yang lebih baik dibiarkan belajar tanpa penonton.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??