Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Istana Al Khalifa
Sepulangnya dari panti jompo, Collin lebih banyak diam. Selama ini dia tidak pernah tahu jika Mahreen punya sisi yang bertolak belakang dengan selama ini dia lihat. Bagaimana seorang princess, bahkan putri mahkota, bisa dengan santainya datang kesana dan membagi-bagikan oleh-oleh dari luar negeri.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Mahreen yang sedang asyik membalas pesan dari para sepupunya .
"Sungguh saya tidak menduganya, Princess. Saya kira Anda belanja untuk Anda semua." Collin menoleh ke arah Mahreen.
"Karena seharusnya aku ada acara di sana tapi kan lebih mementingkan pernikahan mbak Ella. Jadi sebagai penebusan pembatalan acara, aku kasih oleh-oleh lah," jawab Mahreen.
Collin hanya mengangguk. "Anda itu punya sisi lain yang orang lain tidak tahu. Orang-orang tahunya Anda putri yang nakal, putri yang sulit diatur. Tapi bagi orang lain, Anda itu princess yang baik, humble dan menyenangkan."
"Aawwwww Lange, jangan terlalu memuji aku seperti itu. Aku bisa besar kepala," kekeh Mahreen.
"Apakah Anda mau bersama dengan Jake Andrean?" tanya Collin tiba-tiba.
Mahreen melongo. "Absolutely not! Uncle Jake itu terlalu tua! Seumuran dengan Abi! Itu bercandanya aku dan Uncle Jake saja buat bikin Abi emosi."
"Hah? Kenapa Anda suka menggoda Yang Mulia?" tanya Collin.
"Karena senang melihat Abi emosi," gelak Mahreen.
"Astagaaa." Collin tidak habis pikir karena ini karakter aslinya Mahreen.
***
Mereka tiba di istana Al Khalifa dan Maximilian sudah menunggu adiknya datang. Mahreen tersenyum ke arah kakaknya.
"Sudah ke Panti Jomponya?" tanya Maximilian.
"Sudah. Aku senang mereka suka oleh-olehnya," jawab Mahreen dengan wajah senang.
"Alhamdulillah. Sudah, kalian beristirahat. Masa tidak merasa jetlag sih?" senyum Maximilian.
"Baik ...." Mahreen mencium pipi Maximilian sementara Collin membungkuk hormat. Pria itu mengikuti Mahreen sementara Maximilian memperhatikan pengawal adiknya.
"Sepertinya ada rahasia yang disimpan Lange rapat-rapat. Tapi apa?" gumam Maximilian.
Collin mengantarkan Mahreen ke kamarnya dan menunggu sampai gadis itu masuk.
"Selamat beristirahat, Princess." Collin mengangguk sopan.
"Selamat beristirahat juga Lange. Aku sangat berterima kasih hari ini," senyum Mahreen. "Besok kita jalan-jalan lagi ya?"
"Baik Princess." Collin mengangguk sekali lagi sebelum ke kamarnya.
Mahreen memperhatikan cara Collin berjalan. "Kenapa cara berjalan dia sangat seksih ya?" gumamnya sambil tersenyum.
Collin tiba di kamarnya yang telah disediakan. Seorang pelayan menunjukkan tempatnya dan Collin melihat kamarnya yang cukup mewah. Collin tersenyum karena ini lebih mewah dari flatnya di London.
"Ya ampun ... Ini sangat mewah!" kekehnya.
***
Collin menelepon Kenneth lewat panggilan video saat dia sudah membersihkan diri dan memakai kaos rumah serta celana pendek santai. Nada suaranya terdengar masih dipenuhi keheranan. Tampak di layar wajah Kenneth yang sedang membawa cangkir kopi.
"Aku benar-benar tidak mengerti cara berpikir Mahreen," ujar Collin.
Di seberang telepon, Kenneth tertawa kecil. "Apa lagi yang dia lakukan sekarang?"
Collin menghela napas panjang. "Kau ingat semua barang yang dia beli di Muscat? Kurasa jumlahnya cukup untuk memenuhi satu kamar hotel."
"Ya, lalu?" Kenneth menyesap kopinya.
"Dia membagikan hampir semuanya," jawab Collin dengan nada tidak percaya.
Kenneth terdiam sesaat. "Maksudmu kepada staf?"
"Bukan. Kepada para penghuni panti jompo."
Kenneth terdengar terkejut. "Serius?"
"Serius. Tas, syal, makanan khas Oman, suvenir, bahkan beberapa barang yang menurutku cukup mahal. Dia memberikannya satu per satu sambil mengobrol dengan mereka."
Kenneth tersenyum mendengar cerita itu. Mata coklatnya tampak bersinar bangga pada adiknya.
"Dan yang paling aneh," lanjut Collin, "dia tampak jauh lebih bahagia saat memberikan barang-barang itu daripada saat membelinya."
"Itu karena memang ada orang seperti itu, Collin."
Collin melirik ke jendela besar di kamarnya. Pepohonan di sana tampak hijau dan indah, seperti hutan mini.
"Salah satu nenek sampai menangis karena tidak pernah mendapat hadiah ulang tahun selama bertahun-tahun," kata Collin pelan. "Mahreen langsung duduk di sampingnya hampir setengah jam hanya untuk menemani berbincang."
Kenneth terkekeh. "Sekarang kau mulai mengaguminya, ya?"
"Aku pengawalnya, bukan penggemarnya!" cebik Collin.
"Tentu saja." Kenneth menyesap kopinya lagi tapi wajahnya tampak usil.
"Tapi ..." Collin berhenti sejenak. "Kurasa dunia akan sedikit lebih baik kalau lebih banyak orang seperti Mahreen."
Dari telepon terdengar suara tawa Kenneth yang semakin keras, membuat Collin hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. Meskipun sering dibuat repot oleh Mahreen, diam-diam ia mulai memahami mengapa begitu banyak orang menyayangi wanita itu.
"Hati-hati C, kamu bisa jatuh cinta pada adikku yang lain," goda Kenneth.
"Tidak deh! Dunia kami berdua terlalu berbeda jauh. Dia seorang princess, C. sementara aku? Hanya agen MI6 yang bertugas melindunginya," jawab Collin.
"Bukan hal yang pertama dalam keluarga aku, seorang pengawal menikah dengan Princess. Banyak dari kami seperti itu. Contoh, Amira dan Grady. Grady pengawal Mira di Amerika dengan kasus yang hampir sama dengan Mahreen ... Endingnya? Mereka menikah kan?" senyum Kenneth.
"No Ken ... Aku sangat tahu diri," ucap Collin.
"Ya itu terserah kamu." Kenneth mengedikkan bahunya.
***
Collin tidak ikut acara makan malam di ruang makan utama dan dia memilih makan di ruang makan pelayan. Dia tahu bahwa dirinya hanya pengawal jadi harus mengikuti semua aturannya. Beberapa pelayan tampak kepo dengan Collin.
Collin baru saja duduk di ruang makan khusus pelayan dan pengawal di Istana Al Khalifa. Di hadapannya sudah tersedia sepiring nasi kebuli, daging panggang, dan segelas teh hangat. Baru beberapa suap, beberapa pelayan dan pengawal lain mulai mengerumuninya.
"Collin, kami dengar kau baru kembali dari perjalanan panjang bersama Princess Mahreen?" tanya salah seorang pelayan dengan penuh rasa ingin tahu.
Collin menghela napas panjang.
"Ya, dari Leiden sampai Muscat."
"Itu pasti menyenangkan, kan?" sahut pengawal lain.
Collin menatap mereka beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Menyenangkan untuk Princess Mahreen. Untukku? Belum tentu."
Semua orang langsung tertawa.
"Memangnya kenapa?" tanya seorang pelayan wanita.
"Kalian tahu berapa banyak toko yang dia kunjungi di Muscat?" kata Collin sambil mengangkat alis. "Aku kehilangan hitungan setelah toko ke dua puluh."
"Sebanyak itu?"
"Dan setiap toko menghasilkan kantong belanja baru yang entah bagaimana akhirnya berada di tanganku," adu Collin.
Ruangan kembali dipenuhi gelak tawa. Seorang pengawal senior menyenggol bahu Collin.
"Tapi setidaknya semua barang itu untuk dirinya sendiri, kan?" tanyanya.
Mendengar itu, Collin justru menggeleng. "Itulah yang paling membuatku heran."
Semua langsung diam dan mendengarkan.
"Sebagian besar oleh-oleh itu ternyata dibagikan kepada penghuni panti jompo di Manama. Aku pikir dia akan memenuhi kamarnya dengan barang-barang baru," lanjutnya.
"Lalu?"
"Begitu sampai di Bahrain, dia malah tersenyum senang saat melihat para lansia menerima hadiah-hadiah itu," jawab Collin dengan perasaan kagum.
Para pelayan saling berpandangan. "Sungguh?" tanya salah seorang pelayan.
Collin mengangguk. "Aku sudah mengawal banyak orang kaya. Biasanya mereka membeli sesuatu untuk diri sendiri. Mahreen berbeda. Dia terlihat lebih bahagia saat orang lain yang menerima barang-barang itu."
Suasana menjadi lebih tenang.
"Jadi semua tas yang kau bawa..." kata seorang pelayan.
"Akhirnya bukan untuk Princess Mahreen," sambung Collin sambil tersenyum pasrah.
Seorang pelayan tua tertawa. "Kalau begitu kau bukan pengawal, Collin. Kau pengawal sekaligus jasa pengiriman internasional."
Ruangan langsung meledak oleh tawa. Collin hanya menggelengkan kepala sambil melanjutkan makan malamnya.
"Silakan tertawa sepuasnya. Tapi kalau Princess Mahreen mengajak perjalanan berikutnya, aku akan meminta tambahan tunjangan khusus."
"Karena bahaya?"
"Bukan," gelengnya.
"Karena apa?"
Collin menunjuk lengannya. "Karena risiko membawa puluhan tas belanja."
Tawa para pelayan dan pengawal kembali memenuhi ruang makan, sementara Collin akhirnya bisa menikmati makan malamnya dengan sedikit lebih santai.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh