NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perdebatan di pagi hari

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse suite, menyiram ruangan mewah itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Badai dan petir semalam telah usai, menyisakan kesegaran pagi hari di kota Surabaya. Namun, kesegaran itu sama sekali tidak dirasakan oleh Dante Moretti.

​Dante membuka matanya perlahan."Eugh...Badanku rasanya mau patah," umpat Dante, tangannya bergerak kaku memutar lehernya hingga terdengar bunyi krek yang keras.

Dante menunduk seketika. Sepasang mata elangnya melotot tajam saat menyadari telapak tangan Nayara masih meremas ujung kemejanya yang kini sudah kusut masai, sementara kepala gadis itu bersandar nyaman di atas pahanya.

Kalian Jangan harap ada adegan romantis dimana Dante akan menatap wajah nayara dengan penuh cinta, lalu dengan lembut menyelipkan tangan di bawah kepala Nayara, mengangkatnya pelan-pelan, dan memberikan bantal empuk agar tidurnya tidak terganggu. Tidak. Itu Sama sekali tidak. karena, Tanpa aba-aba, Dante langsung menegakkan tubuhnya, berdiri dengan sentakan kasar, dan menepis tangan Nayara begitu saja hingga terlepas.

Bruk!

"Aduh! Sakit..." ringkih Nayara, matanya terpejam erat saat kepalanya menghantam lengan sofa yang keras sebelum akhirnya tubuhnya merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin.

"Singkirkan kepalamu dari bawah kakiku" cetus Dante dingin, berdiri berkecak pinggang sambil menatap remeh ke arah lantai.

Nayara mengerjap-ngerjap linglung, mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi dengan wajah acak-acakan. Begitu kesadarannya pulih seratus persen dan melihat Dante berdiri angkuh di depannya, dia langsung bangkit berdiri dengan hentakan kaki yang kuat.

"Kamu punya masalah hidup apa sih pagi-pagi begini?! Kenapa kamu mendorongku sampai jatuh?!" semprot Nayara, napasnya memburu menahan emosi.

"Aku tidak mendorongmu. Kau saja yang merosot seperti karung beras dari sofaku," sahut Dante datar, melipat tangan di dada tanpa rasa bersalah.

"Bohong! Jelas-jelas kamu sengaja menyentak badanku! Kasar banget jadi cowok! Tidak punya sopan santun!" omel Nayara berapi-api, wajahnya yang agak pucat langsung memerah karena jengkel.

"Sopan santun?" Dante mendengus sinis, melangkah maju satu tapak mengikis jarak di antara mereka. "Kau yang tidak tahu diri, dadar Pelayan. Kau sudah mengokupasi tubuhku semalam sampai seluruh badanku kaku semua!"

"Mengokupasi tubuhmu?!" Nayara melotot, menunjuk langsung ke arah dada tegap Dante. "Jangan memfitnah ya! Siapa juga yang sudi menyentuh tubuh sekaku papan gilasanmu itu! Aku tidur di sofa ini sendirian dengan damai semalam! Kamu yang tiba-tiba datang dan cari perkara!"

"Kau lupa ingatan karena demam, atau otak udangmu itu memang sengaja menghapus memori memalukanmu semalam, huh?" ledek Dante dengan senyuman miring yang begitu menyebalkan.

"Memori memalukan apa?! Jangan sok tahu!"

"Siapa yang semalam menangis terisak-isak seperti anak anjing kehilangan induknya saat petir menyambar, hah?" tanya Dante, menatap langsung ke dalam sepasang mata bulat Nayara. "Siapa yang berteriak-teriak 'jangan, tolong, takut' sambil gemetaran?"

Nayara tertegun sejenak, ingatan samar tentang guntur dan mimpi buruk semalam mendadak melintas di kepalanya. Dia menelan ludah dengan susah payah, namun egonya menolak untuk runtuh di depan pria ini. "Y-Ya... kalau aku mengigau karena demam tinggi, itu wajar! Namanya juga orang sakit!"

"Oh, mengigau ya? Lalu, siapa yang tiba-tiba menerjang maju dan melingkarkan tangannya erat-erat di pinggangku, huh?" desis Dante, suaranya yang bariton merendah, menatap lekat-lekat bibir Nayara yang bergerak-gerak jengkel. "Siapa yang menjadikan pahaku sebagai bantal dan meremas kemejaku sampai sekusut ini? Kau memelukku seolah aku ini satu-satunya penyelamat hidupmu, Nayara."

"Hah! Bohong! Itu pasti bualanmu saja untuk menjatuhkan harga diriku!" bantah Nayara dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan untuk menutupi rasa gugupnya. Dia mundur satu langkah, bersedekap dada dengan pandangan penuh tuduhan. "Mana mungkin aku sudi memeluk penjahat sepertimu! Paling... paling-paling kamu sendiri yang sengaja cari kesempatan, kan?!"

Dante terperangah, matanya melebar tidak percaya mendengar tuduhan konyol itu. "Aku? Cari kesempatan padamu? Kau benar-benar gila."

"Iya, kamu! Mengaku saja!" tuduh Nayara tidak mau kalah, memajukan wajahnya menantang balik. "Kamu kan semalam mengeluh kamarnya penuh dan tidak sudi tidur di kamar biasa bawah! Pasti tengah malam kamu diam-diam menyelinap ke sofaku, terus pas aku lagi tidak sadar karena pengaruh obat dokter, kamu posisikan kepalaku di pahamu biar kelihatan kalau aku yang bersandar! Dasar mesum, psikopat!"

"Tutup mulutmu!" bentak Dante, rahangnya mengatup rapat menahan jengkel yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Untuk apa aku cari kesempatan pada gadis penyakitan yang badannya panas seperti oven dan mulutnya penuh racun sepertimu? Lihat kasur *king size* di sana!" Dante menunjuk ranjang mewah yang masih rapi di seberang ruangan dengan sentakan tangan kasar. "Kasur itu kosong! Aku bisa tidur di sana dengan sangat nyaman kalau saja tangan guritamu semalam tidak mengunci pinggangku sampai aku tidak bisa bergerak!"

"Alasan! Kalau memang aku mengunci pinggangmu, kenapa kamu tidak singkirkan saja tanganku?!" cecer Nayara bertubi-tubi, memotong kalimat Dante dengan kilat. "Kamu kan ketua mafia, tenagamu besar, bisa membunuh orang dengan mudah, masa melepaskan pelukan dari gadis sakit saja tidak becus?! Pasti dalam hati kecilmu yang iblis itu kamu menikmati tidur berhimpitan denganku, kan? Mengaku tidak?!"

"Nayara!" Suara Dante meninggi, urat di leher tegapnya menonjol karena menahan murka yang luar biasa. Dia benar-benar mengutuk keputusannya semalam yang sempat merasa iba dan mengusap punggung gadis pembangkang ini. "Dengar ya, Kucing Liar. Aku tidak menyingkirkanmu semalam karena aku sudah terlalu lelah setelah mengurus pengkhianat di luar! Aku tidak punya waktu dan energi untuk meladeni kegilaanmu! Jadi jangan pernah besar kepala dan berpikir kalau aku tertarik padamu bahkan hanya seujung kuku pun!"

"Baguslah kalau tidak tertarik! Aku juga sangat amat bersyukur!" sahut Nayara berapi-api, menatap tajam langsung ke sepasang mata elang Dante dengan binar pembangkangan yang menyala-nyala. "Lagipula, kalau sampai kejadian memalukan semalam itu benar-benar terjadi, aku pasti sedang khilaf! Anggap saja semalam aku sedang memeluk guling bernyawa yang kebetulan lewat di dekatku! Jadi jangan geer ya, Tuan Muda Dante yang Terhormat!"

"Kau... memanggilku guling?!" desis Dante, suaranya mendadak turun beberapa oktav menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.

"Iya! Guling yang keras, kaku, menyebalkan, dan baunya bikin mualku kambuh lagi!" tantang Nayara nekat, menyodorkan dadanya maju menantang ancaman Dante tanpa rasa takut sedikit pun.

"Kau benar-benar minta diledakkan—"

Tok! Tok! Tok!

Ketegangan yang hampir meledak di antara mereka mendadak terputus saat pintu kamar diketuk dari luar. Lucas menyembulkan kepalanya di ambang pintu dengan ekspresi wajah yang menahan kedutan geli yang luar biasa.

"Maaf mengganggu perdebatan pagi anda Tuan Muda," ucap Lucas, berusaha keras menjaga suaranya tetap formal. "Mobil untuk perjalanan ke pelabuhan sudah siap di bawah. Dan saya juga sudah membawakan sarapan serta baju ganti untuk Nona Nayara."

Dante menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak untuk meredakan emosinya yang baru saja diaduk-aduk oleh tawanannya sendiri. Dia berbalik memunggungi Nayara, lalu menatap Lucas dengan tajam.

"Bawa masuk bajunya. Dan pastikan dia memakan sarapannya dalam waktu sepuluh menit," perintah Dante dingin, suaranya kembali datar dan sarat otoritas. "Aku tunggu di mobil. Kalau dalam lima belas menit dia belum turun, seret dia lewat tangga darurat."

"Baik, Tuan Muda," sahut Lucas membungkuk hormat.

Dante melangkah lebar meninggalkan kamar dengan hentakan kaki yang berat, menutup pintu dengan dentuman keras yang mengekspresikan seluruh rasa jengkelnya yang meluap pagi itu.

"Dasar iblis emosian! Untung demamku sudah turun, kalau tidak, sudah kupastikan dia mandul hari ini juga!" omel Nayara ketus setelah kepergian Dante, lalu mengempaskan kembali tubuhnya ke sofa dengan jengkel.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!