NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Langkah kaki mereka terdengar beritme saat melewati lantai kayu menuju pintu keluar Floraison Cafe. Axel berjalan paling depan, memimpin jalan dengan tas kecil Jasmine di genggamannya. Punggungnya yang tegap tampak tegang, menyiratkan emosi yang masih tertahan. Tepat di belakangnya, Jasmine berjalan dengan kepala sedikit menunduk, diikuti oleh Ilias, Kenzie, dan Bryan yang sengaja memperlambat langkah untuk memberi ruang. Saat melewati meja konter barista, Jasmine sempat melirik sekilas. Liam sedang sibuk membersihkan gelas kaca dengan kain bersih, namun ketika menyadari pergerakan mereka, pria itu mendongak. Ia melempar seulas senyuman hangat yang menenangkan ke arah Jasmine, seolah berkata melalui tatapan matanya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dentang lonceng pintu kafe berbunyi nyaring mengiringi langkah mereka keluar menuju udara terbuka di tepi danau. Sinar matahari sore yang mulai beranjak senja, menyiram permukaan air dengan warna oranye keemasan yang pekat. Angin sore yang dingin mulai berhembus, membuat Jasmine refleks merapatkan kardigan rajut kremnya. Begitu mereka menyeberang jalan aspal dan memasuki halaman rumah asri Jasmine, suasana kaku yang dibawa dari kafe berangsur-angsur digantikan oleh profesionalisme kerja. Ruang tengah sekaligus ruang kendali Jasmine yang luas segera dipenuhi oleh kesibukan digital. Bryan dan Kenzie langsung membuka laptop mereka di atas meja panjang yang sengaja disediakan di sudut ruangan, sementara Ilias duduk di kursi santai sambil memegang tablet yang berisi catatan riwayat pertandingan tim musuh asal London.

"Oke, semuanya fokus," suara Axel terdengar tegas memecah kesunyian kamar setelah mereka semua terhubung ke dalam server lokal permainan. "Sekarang, kita akan evaluasi taktis kita yang sebenarnya. Ilias, tolong bacakan analisis pergerakan Razer utama dari tim musuh."

Selama tiga jam berikutnya, ruangan itu berubah menjadi markas strategi yang sangat intens. Ketegangan taktis benar-benar menguji batas fokus mereka. Axel memimpin diskusi dengan analisis yang luar biasa tajam dan jeli. Setiap kali Bryan mencoba menyisipkan lelucon atau komentar random tentang suasana kafe tadi, Axel langsung memotongnya dengan pertanyaan taktis yang berat, membuat cowok itu akhirnya menyerah dan memilih fokus menatap layar monitornya. Jasmine sendiri mengerahkan seluruh kemampuan mikronya, mencatat setiap rotasi map baru yang diperintahkan kaptennya demi memastikan akurasi tembakannya tidak meleset satu milimeter pun saat turnamen nanti.

---

Waktu berputar cepat hingga jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Kegelapan telah sepenuhnya menyelimuti tepi danau, digantikan oleh kerlip lampu-lampu jalan dan binar lampu dari Floraison Cafe di seberang sana yang terlihat indah dari balik jendela kaca kamar Jasmine.

"Evaluasi hari ini gue rasa udah cukup," ucap Axel akhirnya sambil menutup layar laptop utamanya. Helaan napas lega terdengar serentak dari Bryan, Kenzie, dan Ilias. "Kalian bertiga bisa pulang dan istirahat. Besok siang kita kumpul lagi di rumah Jasmine untuk simulasi pertandingan terakhir."

"Gila, akhirnya selesai juga. Otak gue berasa mau meledak kayak bom asap di dalam game," keluh Bryan sambil meregangkan kedua tangannya yang kaku.

Setelah merapikan peralatan masing-masing, kelima anak tim tersebut berjalan beriringan keluar dari dalam rumah menuju ke depan pagar kayu pembatas halaman. Kenzie sudah memesan taksi online yang kebetulan sudah menunggu di tepi jalan setapak.

"Kita pamit duluan ya, Jasmine. Kamu jangan lupa makan malam dan langsung istirahat. Jangan begadang sendirian lagi," pesan Ilias dengan nada suara lembut seorang abang sejati sembari menepuk pelan pundak Jasmine.

"Makasih, Kak Ilias, Kak Kenzie, Kak Bryan," jawab Jasmine dengan senyuman tulus.

Ketiga cowok itu pun masuk ke dalam mobil taksi yang perlahan bergerak membelah kegelapan malam kompleks perumahan, menyisakan Axel dan Jasmine yang masih berdiri diam di bawah temaram tiang lampu jalan. Angin malam berembus lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan samar-samar wangi mawar dari seberang jalan.

"Kamu bener-bener yakin gak ada apa-apa antara kamu dengan pemilik kafe itu, Jasmine?" tanya Axel tiba-tiba, memecah kesunyian malam. Dia membalikkan tubuhnya, menatap Jasmine dengan pandangan yang sangat intens, menuntut kejujuran mutlak dari gadis yang sudah dia bimbing sejak lama itu.

Jasmine menghela napas pendek, merasa sedikit lelah dengan sikap interogasi kaptennya. "Bener, Kak Axel. Aku udah bilang berkali-kali kalau aku dan Kak Liam baru beneran kenal kemarin pagi karena insiden bebeknya yang lepas."

"Bagus kalau begitu. Karena aku gak suka ngelihat gimana cara dia memperlakukan kamu seolah-olah kalian sudah kenal lama. Dia terlalu kasual, terlalu berani melintasi batasan privasi kamu, dan itu bisa mengganggu fokus kamu sebagai seorang pro player," kata Axel dengan nada posesif yang sangat kental dan tajam. Dia melangkah maju satu langkah, tangannya terangkat hendak mengacak rambut panjang Jasmine seperti yang biasa dia lakukan untuk memberikan ketenangan perlindungan. Namun, sebelum jemari Axel sempat menyentuh kepala Jasmine, sebuah suara ketukan langkah kaki yang mantap di atas aspal jalan setapak mendadak menghentikan pergerakan tangan sang kapten di udara.

"Wah, selamat malam, tetangga kesayangan!"

Dari arah seberang jalan, sosok Liam berjalan santai mendekati pagar rumah Jasmine. Pria itu tampak sudah menanggalkan apron kanvas hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja putih kasual dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan pria matang yang sangat santai, bebas, dan penuh karisma. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah kotak makan plastik transparan yang berisi beberapa potong kue pie buah dengan hiasan kelopak melati segar di atasnya.

"Kebetulan sekali menebak kalian masih ada di luar. Ini ada sisa pie buah menu spesial hari pertama yang sengaja aku sisihkan khusus buat Jasmine sebelum kafenya tutup," ucap Liam dengan nada suara yang sangat renyah, hangat, dan bersahabat, sama sekali tidak memedulikan fakta bahwa ada Axel yang berdiri tegak dengan rahang mengeras di samping gadis itu.

Axel langsung bergeser setengah langkah, memposisikan tubuh tingginya tepat di depan celah pagar kayu, menutup akses fisik bagi Liam untuk mendekati Jasmine. "Terima kasih, tapi Jasmine gak butuh camilan manis lagi malam ini. Dia sudah cukup makan banyak dari makanan yang dititipkan oleh mama saya tadi siang," tolak Axel langsung dengan kalimat yang sengaja menekankan kedekatan personal keluarganya dengan Jasmine.

Liam menghentikan langkah kakinya tepat dua langkah di depan pagar. Bukannya mundur atau merasa tidak enak karena penolakan kasar dan ketus tersebut, Liam justru menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Ia menatap lurus ke dalam netra mata Axel dengan seulas senyuman miring yang penuh dengan kilat kecerdasan seorang psikolog. Percikan persaingan di antara dua cowok tampan ini mendadak menyala terang benderang di bawah kegelapan tepi danau.

"Ah, begitu ya? Sayang sekali kalau tidak dimakan selagi segar," kata Liam dengan intonasi suara yang tetap stabil, tenang, tanpa ada satu pun nada emosi di dalamnya. Ia sedikit memiringkan tubuh jangkungnya agar bisa melihat wajah Jasmine yang mengintip ragu dari balik bahu lebar Axel. "Tapi saya rasa, alangkah lebih baik kalau kita tanyakan langsung pada Jasmine sendiri. Dia kan sudah dewasa, Mas Kapten. Dia punya hak penuh untuk memilih apa yang ingin dia makan atau dengan siapa dia ingin berteman, tanpa harus terus-menerus diatur seperti karakter di dalam layar komputer PC."

Kalimat tajam yang dilontarkan Liam dengan gaya santai itu bagaikan sebuah hantaman telak yang langsung mengenai ego terdalam Axel. Rahang sang kapten itu mengeras sempurna, kepalan tangannya di dalam saku celana tampak bergetar menahan gejolak amarah yang siap meledak seketika itu juga. Dua pasang mata tampan dengan karakter es dan api itu saling mengunci dengan sengit di udara malam yang dingin, menandakan bahwa perang perebutan perhatian sang gadis penembak jitu di tepi danau ini baru saja resmi dimulai.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!