NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Rumah yang Sepi dan Topeng yang Tebal

Murni datang dengan napas terengah-engah, belum genap tiga puluh menit setelah Narendra meneleponnya. Asisten pribadi Alika itu seketika didera rasa bersalah yang teramat sangat saat melihat sang majikan terbaring lemah sendirian di ruang UGD. Tak ada tanda-tanda keberadaan Tuan Besar Artha Group di sana.

"Ibu Alika... Ya ampun, maafkan Murni, Bu. Seharusnya Murni tidak pulang lebih awal tadi sore," ucap Murni dengan mata berkaca-kaca. Ia segera menghampiri sisi ranjang dan merapikan selimut Alika.

Alika memaksakan seulas senyum tipis, berusaha meyakinkan asistennya bahwa semua baik-baik saja meski tubuhnya sendiri seolah sedang berontak. "Tidak apa-apa, Murni. Ini bukan salahmu. Aku hanya... perlu istirahat sebentar."

Murni mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sunyi. "Bapak... ke mana, Bu? Tadi suara Bapak terdengar sangat panik saat menelepon Murni."

Mendengar kata 'panik', seulas senyum getir sempat terbit di bibir Alika. Rasa khawatir yang dirasakan Narendra rupanya hanya bertahan sampai dokter memberikan diagnosis awal. Begitu tahu bahwa istrinya tidak sedang berada di ambang maut yang bisa mencoreng nama baik keluarga, kepanikan itu menguap, berganti dengan keangkuhan yang sudah jadi rahasia umum.

"Mas Narendra ada urusan bisnis mendesak yang tidak bisa ditinggalkan, Murni," Alika berbohong. Itu adalah dusta yang sudah fasih ia ucapkan demi menjaga martabat suaminya di depan orang lain. "Ayo kita urus administrasinya. Aku ingin pulang ke rumah."

Proses pemulangan itu terasa begitu lambat. Setiap gerakan kecil—mulai dari turun dari ranjang hingga melangkah menuju mobil—menjadi siksaan fisik yang nyata bagi Alika. Lutut dan pergelangan kakinya terasa kaku, seolah-olah cairan sendinya telah mengering dan menyisakan tulang yang saling bergesekan. Ketika pendingin udara di dalam mobil SUV kantor mulai berembus, rasa ngilu itu semakin menjadi-jadi, menusuk hingga ke dalam sumsum tulang. Alika hanya bisa meremas tangannya di balik saputangan, menyembunyikan rintihan sakit dari pandangan Murni.

Rumah megah di kawasan Menteng itu menyambut Alika dengan keheningan yang mencekam. Lampu-lampu kristal yang bergantung di langit-langit tinggi memancarkan cahaya kekuningan yang mewah, namun terasa dingin dan hampa. Tak ada kehangatan di sini; tempat ini tak lebih dari galeri pameran untuk menunjukkan kesuksesan seorang Narendra Pradipta.

Murni membantu Alika hingga ke kamar utama di lantai dua, lalu berpamitan setelah memastikan semua kebutuhan Alika terpenuhi. Kini, Alika sendirian di kamar tidur yang luas. Ia berbaring miring, menatap kosong ke sisi ranjang sebelah kanan yang masih tertata rapi dan kosong.

Waktu merambat naik melewati tengah malam. Di sebuah bar eksklusif di kawasan Senopati, Narendra mungkin sedang menyesap wiski mahalnya, menikmati tawa dari wanita bergaun indah yang hidupnya tanpa beban. Aturan open marriage yang mereka sepakati kini terasa seperti jerat yang perlahan tapi pasti mencekik leher Alika. Narendra bebas mencari kesenangan di luar karena ia tahu, kapan pun ia pulang, Alika akan tetap setia di kamar ini, menjaga statusnya sebagai istri CEO yang sempurna.

Pukul dua dini hari, suara pintu kamar yang terbuka perlahan memecah keheningan.

Alika refleks memejamkan mata, berpura-pura telah tertidur lelap. Ia mendengar langkah kaki yang berat dan teratur mendekati ranjang. Aroma maskulin khas Narendra yang bercampur dengan aroma alkohol pekat seketika menguasai udara. Namun, bukan hanya itu. Indra penciuman Alika yang mendadak sangat sensitif malam itu menangkap selapis aroma lain—aroma parfum wanita yang manis, pekat, dan asing.

Narendra berdiri di sisi ranjang selama beberapa saat, menatap punggung Alika yang membelakanginya. Tidak ada kecupan di kening, tidak ada bisikan pertanyaan apakah kondisinya sudah membaik. Pria itu hanya mendengus pelan, lalu berbalik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya merebahkan tubuh di sisi ranjang yang lain, memberikan jarak lebar di antara mereka seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan.

Di dalam kegelapan malam, Alika membuka matanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh diam-diam, membasahi bantal sutranya. Rasa sakit di hatinya malam ini jauh lebih perih daripada rasa ngilu di seluruh persendian tubuhnya.

Keesokan paginya, matahari Jakarta mulai meninggi, menembus celah-celah gorden sutra kamar utama.

Alika terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa kaku. Ia membutuhkan waktu hampir lima menit hanya untuk bisa menegakkan punggung di atas kasur. Rasa kaku di pagi hari atau morning stiffness ini terasa jauh lebih parah daripada biasanya.

Dengan perlahan dan penuh perjuangan, Alika melangkah ke kamar mandi. Saat menatap cermin besar di atas wastafel, jantungnya seketika berdesir ganjil. Di kedua belah pipinya, menyeberang hingga ke pangkal hidung, muncul bercak kemerahan yang samar. Bentuknya tidak beraturan, namun terlihat jelas di atas kulitnya yang pucat.

Alika menyentuh bercak itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Apakah ini alergi? Atau efek dari kosmetik kemarin? pikirnya panik.

Suara ketukan pintu kamar mandi mengejutkannya. "Alika, kamu sudah bangun?" Suara bariton Narendra terdengar dari luar, terdengar rapi dan siap untuk memulai hari.

Alika buru-buru menyalakan keran air, mencoba menenangkan suaranya. "Iya, Mas. Aku sedang cuci muka."

Narendra tidak menunggu istrinya keluar. Dari balik pintu, dia berbicara dengan nada formal, seolah-olah sedang memberikan instruksi pada sekretarisnya. "Saya harus berangkat ke kementerian sekarang. Ada rapat pleno pagi ini. Murni bilang kamu bersikeras langsung masuk kantor hari ini. Lakukan saja kalau kamu merasa sanggup, tapi saya minta satu hal... tutup wajah pucatmu itu dengan benar. Hari ini ada kunjungan dari investor asing ke divisi humas. Saya tidak ingin mereka berpikir Artha Group mempekerjakan manajer yang penyakitan."

Mendengar ucapan dingin itu, Alika memejamkan mata erat-erat. Kata-kata Narendra bertindak seperti palu yang menghancurkan semua niatnya untuk mengeluhkan rasa sakit. Narendra tidak perlu tahu tentang rasa ngilu di sendinya, Narendra juga tidak perlu tahu tentang bercak merah di wajahnya. Yang pria itu butuhkan hanyalah kesempurnaan.

"Baik, Mas. Aku mengerti," jawab Alika lirih.

Setelah mendengar langkah kaki Narendra menjauh dan pintu kamar tertutup, Alika keluar dari kamar mandi. Ia duduk di depan meja rias yang dipenuhi berbagai produk kecantikan premium. Dengan tangan yang masih kaku dan sedikit gemetar, Alika membuka laci, mengambil botol foundation dengan tingkat coverage paling tinggi dan bedak padat yang tebal.

Ia mulai mengaplikasikan kosmetik itu ke wajahnya, lapis demi lapis, dengan sangat teliti. Ia menutupi bercak kemerahan di pipinya, menyamarkan lingkaran hitam di bawah mata, dan memulas bibirnya dengan lipstik berwarna merah segar untuk memberikan kesan vitalitas yang palsu.

Saat ia selesai, wanita di dalam cermin itu kembali terlihat seperti Alika Putri yang tangguh, elegan, dan tanpa cela—sang manajer humas andalan Artha Group. Namun, di balik topeng kosmetik yang tebal itu, Alika tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya, sebuah misteri medis yang perlahan-lahan mulai menggerogoti kekuatannya dari dalam, sementara suaminya memilih untuk menutup mata.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!