Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alisa mulai bangkit
"Bagaimana rasanya, Mas?" Tanya Lora tersenyum di samping Zefano.
Zefano yang baru saja menyeduh kuahnya terdiam sejenak. Membuat kening Lora berkeringat.
"Enak kan yah? Walaupun gue belum nyoba tapi kan gue jago masak, apapun bisa gue masak." batin Lora yakin.
Senyum di bibir Zefano terbit, yang itu artinya rasanya enak dan sesuai dengan apa yang Zefano inginkan.
"Iya, enak. Makasih sayang." Zefano menoleh ke arah Lora sembari tersenyum.
Lora membalas senyuman itu antusias, lekas berdiri dari sana, "Yasudah, mas. Lora mau ke kamar dulu yah. Mas habisin makanannya." menepuk bahu Zefano sebelum akhirnya berjalan menuju kamar.
Zefano tatap Lora yang pergi dengan bibir tersenyum, sampai akhirnya gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Barulah, senyum itu memudar perlahan, berganti dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia kembali merunduk menatap soto yang ada di hadapannya, cukup lama. Sebelum akhirnya ia melempar sendok dalam genggamannya ke dalam mangkok hingga menimbulkan denting yang cukup nyaring.
Ia tatap dingin soto itu, meraih tisu di meja lalu mengelap tangan dan bibirnya perlahan, sebelum akhirnya ia berdiri dari sana.
"Soto ini—bukan rasa soto yang pernah aku makan." lalu pergi dari sana dengan tatapan dingin yang menakutkan.
Lora yang baru sampai kamar sontak celingak-celinguk mencari barang bukti yang bisa sekapanpun mengejutkan dirinya di hadapan Zefano.
"Aku harus cari semuanya, Mas Zefano gaboleh ingat. Dia harus tetap lupa ingatan! Bagaimanapun, ini adalah rencanaku yang paling matang!" ucapnya mulai kembali menegakkan tubuhnya, menarik sudut bibirnya tipis.
Yah.
Betul.
Kecelakaan Zefano, bukanlah murni kecelakaan biasa. Lora, punya andil dalam kejadian ini.
*
"Jika korban jatuh ke dalam sungai, besar kemungkinan ia akan hilang ingatan 5 bulan kenangan yang baru dirasakannya. Apa kamu yakin akan meletakkan titik truk disini saat bocah itu melintas?"
"Iya, Pak. Sesuai dengan ramalan anda bukan?"
Bapak dukun itu mengangguk antusias, tersenyum sembari mengelus jenggotnya perlahan, "Betul, meski tanpa menjatuhkannya ke sungai pun, saya bisa membuatnya hilang ingatan. Yang penting tidak mati, bukan?"
Lora tatap dukun di depannya gusar, sebelum akhirnya ia mengangguk antusias, "Terus, waktu kapan yang tepat agar Zefano mengingat saya bukan istrinya itu, Pak?"
Sang dukun tersenyum tipis lagi, "7 hari, saya akan buat dia siuman di 7 hari pasca kecelakaan. Kamu datanglah diam-diam ke ruang rawatnya. Karena siapapun orang yang dia lihat pertama kali, dia akan langsung mengenalinya dan melupakan yang lain."
Bibir Lora merekah lebar, "Makasih Pak! Ini bayaran untuk anda!" seru Lora lekas mendorong gepokan uang di dalam tas kecil ke arah sang dukun, membuat senyum dukun itu semakin melebar.
"Semoga orang ini menjadi jodoh anda." imbuhnya, sembari menjilat jempolnya untuk menghitung gepokan demi gepokan uang dalam tas.
Lora tersenyum antusias, ia tidak bisa membayangkan, usulan dari sahabatnya, Cantika. Benar-benar manjur. Dan bisa di percaya.
"Yasudah pak, saya izin pamit. Kejadiannya sebentar lagi kan?"
"Betul, tunggu saja."
Mendengar itu senyum di bibir Lora semakin merekah. Ia lantas keluar dari rumah gubuk terpencil di lereng gunung. Sementara Cantika, sudah menunggu di luar.
Lora berlari dengan raut wajah begitu bahagia ke arah Cantika, "Akhirnya, dukun itu setuju! Dan katanya sebentar lagi Zefano bakal ngalamin itu. Gue ga sabar, Cantika!" seru Lora girang di depan jendela mobil temannya itu.
"Kan gue udah bilang, cinta di tolak, dukun bertindak, wkwkwwk." imbuhnya, yang langsung dibalas anggukan oleh Lora.
"Yodah gih masuk, keburu macet ini."
Yang langsung diangguki oleh Lora.
*
Lora tersenyum penuh kemenangan. Ia lekas mencari-cari keberadaan foto, atau baju atau apapun yang bisa menjadi barang bukti di sana. Saat ia tak sengaja melihat ke arah ranjang. Netranya melihat bercak merah di atas sana.
Tubuhnya langsung ambruk, terduduk di lantai. Menatap syok bercak merah yang mirip sekali seperti bercak malam pertama.
Ia menggeleng dengan tatapan kosong, "Ngga, gamungkin." lirihnya syok, "Ga mungkin Mas Zefano sama tuh wanita udah gituan kan?!"
Namun semakin difikir semakin yakin bahwa itu memang bercak darah malam pertama, membuat ia refleks menjerit.
"NGGAA!!!! CUMA GUE YANG BOLEH NYENTUH MAS ZEFANO!!!" Pekik Lora histeris.
Sementara Zefano kini sedang mengendarai mobilnya. Tanpa sengaja tangan yang tadi sempat terluka di atas ranjang tersenggol dasboard, membuatnya refleks mengaduh.
"Sial, aku heran siapa yang sudah meletakkan garpu di ranjang, ada-ada saja!" decaknya, menatap malas punggung tangannya yang baru tadi di dalam mobil ia balut dengan perban.
Dan garpu yang ada di ranjang adalah kecerobohan Alisa saat sedang memegang garpu, lalu menelfon Fatimah, disitu Alisa terkejut mendengar Zefano kecelakaan dan langsung berlari, meninggalkan garpu itu begitu saja di atas ranjang yang terselip diantara selimut
Dan luka itu ia dapatkan saat menuju ke kamar terlebih dahulu tadi, sebelum ke dapur menemui Lora. Ia terheran-heran, saat ia naik ke ranjang, ternyata di bawahnya ada sendok garpu yang ujungnya dibuat tajam, menusuk punggung tangannya hingga mengeluarkan darah.
"Aku harus menemui Bima, aku yakin ada yang ngga beres dengan otakku!"
***
Sementara di sudut kota lain, Alisa sedang merapihkan baju-baju miliknya ke dalam lemari. Ia mencoba untuk tersenyum, meski hatinya masih merasa sesak dan sakit. Setidaknya 'Mas Zefano belum menyentuhku di malam pertama'
Yang itu artinya, ia tidak ada kemungkinan hamil dan akan bekerja dalam waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan uang yang banyak.
"Meskipun aku dikasih tabungan banyak, tetap saja ini bukan uang milikku sepenuhnya. Aku harus mengembalikannya dengan nominal semula. Hitung-hitung meminjamnya." lirih Alisa yakin.
Hal itu tentu karena ia tidak mau nanti di cap wanita tidak tahu diri. Yang sudah tidak di anggap, justru masih memakai uang pemberian darinya. Ia harus meminimalisir resiko yang membuat hidupnya kesulitan nantinya.
"Asalamualaikum, Alisa!"
Senyum di bibir Alisa merekah saat mendengar suara sahabatnya, Fatimah. Lekas berlari keluar dari kontrakan.
Saat melihat Fatimah disana, ia langsung memeluk tubuh sahabatnya itu, dan lagi-lagi, rasa sesak di hatinya ta mampu ia tutupi di depan Fatimah, menangis sesegukan disapelukan gadis itu.
Fatimah tersenyum getir, mengelus punggung Alisa lembut, "Aku tau, kamu pasti sakit kan? Aku gatau kalo Kak Zefano sangat baik padamu, tapi malah keadaannya berbalik gini." lirih Fatimah.
Alisa lekas mengajak temannya itu masuk, duduk di atas ranjangnya.
"Kapan kamu sampai?" tanya Alisa, dengan netranya yang sembab.
"Tadi pas nyampe di kota ini, aku langsung lari ke alamatmu lah. Belum sempat aku pulang ke rumah orang tuaku. Gimana kontrakannya, nyaman kan?" tanyanya sembari menatap sekeliling.
"Iya, nyaman banget, makasih yah Fat. Ini semua berkat kamu."
Fatimah menoleh ke arah temannya itu, menepuk bahu temannya lembut, "Udah, santai saja. Kaya sama siapa. Oiya, kamu jadi daftar di cafe om ku kan? Om ku sudah nanyain katanya kapan temanku datang hehe."