Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Gelsya... hari ini kan hari sekolah, kenapa kamu ada di rumah? Apa kamu sudah libur?" tanya Arga sambil tersenyum ramah.
Gelsya menundukkan wajahnya.
"Sudah, Paman... Tapi sudah satu minggu ini Gelsya terpaksa tidak masuk sekolah..." jawab Gelsya pelan, suaranya terdengar sangat sedih.
"Lho? Kenapa? Memangnya ada masalah apa?" tanya Arga lagi, mulai merasa penasaran.
"Soalnya... Gelsya belum bayar SPP, Paman. Uang sekolahnya menumpuk. Setiap kali Mama dapat gaji dari hasil kerja keras, uangnya pasti diambil paksa sama Papa. Papa habiskan buat judi dan mabuk-mabukan. Jadi... kalau Mama tidak punya uang, Gelsya terpaksa berhenti sekolah," jelasnya dengan mata mulai berkaca-kaca.
Gelsya pun menganggap kepalanya dan melihat ke arah Arga yang ada di depannya itu.
"Tapi... Gelsya nggak berani bilang sama Mama kalau aku sebenarnya sudah nggak masuk sekolah. Gelsya takut... takut menambah beban pikiran Mama dan membuat Mama sedih atau marah. Makanya Gelsya pura-pura siap-siap kesekolah, padahal sebenarnya Gelsya berlian di taman sampai semua siswa pulang," ceritanya dengan suara terbata-bata menahan tangis.
Hati Arga terasa pedih mendengar pengakuan Gelsya itu.
Masih kecil, tapi sudah belajar menyembunyikan kesedihan demi orang tuanya. Sungguh anak yang luar biasa dewasa dan penyayang.
"Kamu sekarang duduk di kelas berapa, Sayang?" tanya Arga lagi, suaranya terdengar lebih lembut.
"Kelas 2 SD, Paman," jawab Gelsya singkat.
"Terus sekolahnya di mana?"
"Di SD Negeri 2 Pal 5," sahut Gelsya.
Arga menganggukkan kepalanya perlahan, seolah sedang mencerna semua informasi dan menyusun sebuah rencana di dalam kepalanya.
Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah Gelsya, lalu berbisik pelan dan penuh rahasia.
"Begini ya Gelsya... Besok kamu tetap berangkat sekolah seperti biasa ya. Pakai seragammu yang rapi, bawa tasmu, dan masuk kelas seperti biasa," bisik Arga.
"Tapi... kan belum bayar, Paman?" tanya Gelsya bingung.
"Tenang saja. Masalah biaya sekolah, uang SPP, sampai buku dan seragam baru nanti... jangan kamu pikirkan. Biar Paman yang tanggung semuanya sampai kamu tamat sekolah nanti. Paman janji, kamu tidak akan berhenti sekolah lagi," kata Arga dengan senyum yakin. "
Mata Gelsya seketika membelalak tak percaya. Senyum bahagia mulai merekah di wajahnya itu.
"B... benar Paman? Paman tidak bercanda kan?" tanyanya memastikan.
"Benar dong. Paman janji. Tapi ini rahasia antara kita berdua ya. Jangan bilang-bilang sama Mama dulu ya. Kita mau kasih kejutan buat Mama nanti," jawab Arga sambil mengacungkan jari kelingkingnya. "
"Wah! Makasih banyak ya Paman! Paman baik banget deh!" seru Gelsya girang. Ia langsung memeluk lengan Arga dengan penuh rasa syukur dan bahagia.
Akhirnya, ia bisa kembali belajar, dan ia tidak perlu lagi berbohong, merasa sedih karena tidak bisa sekolah.
"SPP sekolah, apa itu?" tanya Ghaizka mendengar perbincangan Gelsya dan Arga di ruang tengah.
Ghaizka mencoba mencari ingatkan pemilik tubuh asli tentang SPP. Setelah di ingat, ternyata SPP itu adalah bayar sekolah setiap bulan, jika tidak di bayar, anak akan di berhenti sementara sampai semua biaya di bayar lunas.