Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Ujian Masuk Sekte yang Aneh
Setelah kenyang makan malam dan beristirahat semalam, suasana hati Mu Chen jauh lebih baik. Ia duduk di halaman depan kediaman Tetua Qingyun, memandangi orang-orang muda yang berlalu-lalang — sebagian besar mengenakan jubah hijau dengan lambang daun yang sama seperti milik Xiaoyao.
"Jadi ini murid-murid Sekte Angin Hijau ya?" gumamnya sambil memegang batu giok di dadanya.
Lin Xiaoyao yang duduk di sebelahnya mengangguk. "Benar. Setiap tiga bulan sekali, sekte kami membuka ujian penerimaan murid baru. Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Kau mau mencoba mendaftar?"
Mata Mu Chen langsung berbinar. Selama ini ia sendirian dan tidak tahu apa-apa tentang dunia ini — kalau bisa masuk sekte, setidaknya ia punya tempat tinggal, makanan, dan orang yang bisa diajak bicara.
"Bolehkah aku? Tapi... Tetua Qingyun tadi bilang aku tidak punya Dantian dan tidak bisa menggunakan energi. Apakah masih bisa diterima?" tanyanya dengan nada ragu.
Xiaoyao tertawa pelan. "Ujiannya tidak hanya tentang bakat kultivasi saja. Ada juga yang menguji ketabahan, akal budi, dan keberanian. Siapa tahu kau bisa lolos dengan caramu sendiri."
Dengan semangat yang tiba-tiba muncul, Mu Chen pun memutuskan untuk mencoba. Ia mengikuti Xiaoyao menuju halaman utama sekte yang luas — tempat ratusan calon murid berkumpul. Semua mata langsung tertuju padanya, terutama karena ia masih mengenakan kaos oblong dan celana pendek yang terlihat sangat berbeda dari jubah panjang yang dipakai orang lain.
"Orang itu berpakaian seperti apa ya?"
"Apakah dia dari daerah terpencil?"
"Terlihat tidak memiliki aliran Qi sedikit pun..."
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, membuat Mu Chen menggaruk kepalanya kikuk. "Di rumahku, baju ini dianggap paling sopan untuk cuaca panas. Di sini malah dianggap aneh..."
Di depan halaman, berdiri tiga orang tetua termasuk Tetua Qingyun, serta Tetua Chang — orang yang bertugas menguji bakat calon murid. Di tengah-tengah diletakkan Batu Ukur Qi — batu besar yang akan bersinar terang sesuai dengan kualitas saluran energi seseorang.
"Calon murid maju satu per satu, letakkan telapak tangan di atas batu ini!" perintah Tetua Chang.
Satu per satu calon murid maju. Ada yang membuat batu itu bersinar redup, ada yang sampai berwarna hijau terang, membuat orang-orang bersorak. Sampai akhirnya giliran Mu Chen tiba.
Ia berjalan maju dengan langkah hati-hati, lalu meletakkan telapak tangannya di atas batu itu.
Diam.
Batu itu tetap terlihat seperti biasa, tidak ada cahaya sedikit pun.
Tetua Chang mengerutkan kening. "Coba konsentrasikan energi di tubuhmu mengalir keluar!"
Mu Chen mengangguk, lalu mencoba sekuat tenaga mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya — persis seperti yang ia lihat dilakukan orang lain. Ia menahan napas, memusatkan pikiran... tapi tidak ada apa-apa. Bahkan ia merasa perutnya sedikit mulas karena terlalu menahan napas.
"Maaf... rasanya energi itu hanya mau masuk, tidak mau keluar. Seperti botol yang tutupnya rapat!" ucapnya polos.
Semua orang tertawa terbahak. Beberapa calon murid lain mengejek pelan:
"Dia tidak punya bakat sama sekali! Membuang waktu saja!"
"Sudah pulang saja, jalan kultivasi bukan untuk orang biasa!"
Mendengar ejekan itu, wajah Mu Chen sedikit murung. Ia memandang tangannya sendiri — merasa sedih sejenak. Ia tidak pernah meminta memiliki tubuh seperti ini, tidak pernah berharap terlempar ke dunia asing, tapi kenapa ia selalu dianggap aneh dan tidak berguna?
Namun ingat kata-kata Tetua Qingyun kemarin terlintas di benaknya. Ia mengangkat kepala kembali dan berkata lantang: "Memang aku tidak bisa melakukan hal seperti kalian. Tapi itu bukan berarti aku tidak punya kelebihan lain! Masih ada ujian berikutnya kan?"
Suaranya tegas meski masih terdengar nada sedih samar, membuat beberapa orang terdiam. Tetua Qingyun tersenyum tipis dan mengangguk pada Tetua Chang. "Biarkan ia ikut ujian berikutnya. Kita lihat apa yang bisa ia tunjukkan."
Ujian kedua adalah Jalur Batu Berat — jalan setapak sepanjang seratus langkah yang dipenuhi energi tekanan. Semakin jauh berjalan, semakin berat tekanan yang menekan tubuh. Orang biasa tidak akan bisa melangkah lebih dari sepuluh langkah.
"Aturannya sederhana: siapa yang bisa mencapai ujung jalan ini, dianggap lulus ujian kedua!"
Para calon murid mulai berjalan. Beberapa berhenti di langkah ke-15, ada yang sampai ke-30, bahkan yang terbaik hanya bisa sampai ke-70 langkah sebelum lututnya gemetar.
Giliran Mu Chen. Ia melangkah masuk ke jalur itu — dan langsung merasakan tekanan berat seolah ada batu besar yang menindih bahunya.
"Wah... ini tekanan udara yang kuat sekali! Seperti naik lift yang bergerak sangat cepat di gedung tinggi..." gumamnya.
Ia terus berjalan perlahan. Yang tidak disadari semua orang — tekanan energi di jalan itu justru perlahan diserap masuk ke dalam tubuhnya! Setiap langkah yang ia ambil, tubuhnya justru terasa semakin kuat.
Orang-orang tertegun melihatnya. Ia berjalan perlahan tapi mantap. Langkah ke-20, ke-40, ke-60... bahkan sampai ke langkah ke-90, ia masih berdiri tegak tanpa terlihat kesulitan berarti.
Sampai akhirnya ia tiba di ujung jalan, lalu berbalik menoleh dengan wajah bingung:
"Eh? Sudah sampai? Rasanya hanya terasa berat sedikit saja, lalu tiba-tiba tubuhku terasa lebih ringan. Apakah ini lulus?"
Suasana menjadi hening sejenak, kemudian Tetua Chang yang biasanya tegas hampir tersedak ludahnya. "Ini... mustahil! Tekanan di sana cukup untuk membuat kultivator tingkat awal berlutut, tapi dia malah segar bugar?"
Xiaoyao yang melihat dari samping tersenyum — ia sudah tahu alasannya. Tekanan energi itu diserap tubuh Mu Chen dan diubah menjadi kekuatan. Justru ujian ini menguntungkan baginya!
Ujian terakhir menguji akal dan ketangkasan: setiap peserta harus menangkap seekor Kelinci Angin — hewan kecil yang sangat cepat dan sulit ditangkap, tanpa melukainya.
Semua orang langsung menggunakan teknik kultivasi mereka: ada yang menembakkan angin untuk memperlambat gerakan, ada yang membuat jerat dari energi. Tapi kelinci itu terlalu lincah, selalu lolos begitu saja.
Mu Chen mengamati sejenak, lalu tersenyum miring — otaknya mulai bekerja. Ia ingat cara menangkap hewan kecil yang ia baca di buku sejarah dan ilmu alam.
Ia tidak berlari mengejar. Sebaliknya, ia mengambil beberapa ranting kayu dan tali rami yang disediakan, lalu membuat jerat perangkap sederhana yang disamarkan dengan rumput. Di dekatnya ia meletakkan buah manis yang ia temukan tadi.
"Kalau dikejar, kelinci pasti lari. Tapi kalau ada makanan, instingnya akan menang. Ini strategi dasar: mengerti keinginan sasaran!" bisiknya pada dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, kelinci angin itu muncul. Ia berputar-putar menghindari orang lain, lalu tertarik pada buah yang terlihat lezat. Begitu ia melompat mendekatinya — "KRAK!" — jeratnya terpasang dan menangkap kaki depannya dengan lembut, tidak melukai sedikit pun.
Semua orang tertegun. Mereka yang berusaha menggunakan kekuatan gagal, sedangkan pemuda yang tidak memiliki bakat kultivasi menangkapnya hanya dengan menggunakan akal sehat!
Ketiga tetua berkumpul berdiskusi. Tetua Chang terlihat ragu: "Ia tidak memiliki Dantian, tidak bisa mengendalikan Qi. Secara aturan umum, ia tidak memenuhi syarat masuk sekte."
Tetua Qingyun tersenyum dan menjawab: "Tapi lihatlah. Ia bisa melewati ujian kedua yang bahkan sulit untuk murid lama, ia memiliki akal budi yang tajam, dan ia memiliki tubuh yang sangat istimewa. Sekte kami tidak hanya butuh orang yang kuat, tapi juga orang yang bisa berkontribusi dengan caranya sendiri."
Tetua ketiga, Tetua Shan, juga mengangguk setuju: "Di dunia ini, tidak ada jalan yang mutlak benar. Tubuhnya yang unik bisa menjadi aset berharga. Lagipula, batu giok yang dimilikinya adalah benda yang tidak kita pahami sepenuhnya — mungkin kelak akan terungkap rahasianya."
Setelah berdiskusi panjang, Tetua Chang akhirnya menoleh pada Mu Chen dan berkata lantang agar semua orang mendengar:
"Mu Chen, meski kau tidak memiliki bakat kultivasi biasa, kau telah menunjukkan ketabahan, akal budi, dan potensi yang tidak dimiliki orang lain. Oleh karena itu... kami menerima kau sebagai murid tamu Sekte Angin Hijau!"
Wajah Mu Chen langsung bersinar cerah, melupakan sedikit kesedihan tadi. Ia melompat kegirangan:
"Benarkah? Terima kasih banyak Tetua! Jadi aku punya tempat tinggal dan makanan tetap ya? Lumayanlah, meski hanya murid tamu — yang penting tidak tidur di hutan lagi!"
Ucapannya yang polos membuat semua orang tertawa. Xiaoyao mendekatinya sambil tersenyum: "Murid tamu masih bisa tinggal dan belajar di sini. Hanya saja kau tidak akan mendapatkan teknik kultivasi rahasia. Tapi kau tetap bisa mempelajari hal-hal lain."
Mu Chen mengangguk antusias: "Tidak masalah! Kalau tekniknya tidak bisa dipakai olehku, tidak apa-apa. Aku masih bisa mempelajari tumbuhan, hewan, cara membuat alat, dan hal-hal lain. Di duniaku, ilmu itu tidak hanya tentang kekuatan untuk bertarung!"
Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu dan bertanya dengan wajah khawatir:
"Eh tapi... apakah ada aturan pakaian? Kalau harus memakai jubah panjang, aku takut gerah sekali. Di sini cuacanya panas lho!"
Tetua Qingyun tertawa renyah: "Untuk murid tamu, tidak ada aturan ketat. Kau boleh memakai pakaianmu sendiri selama tidak melanggar kesopanan."
"Syukurlah! Kalau sampai harus memakai jubah tebal, aku khawatir tubuhku yang menyerap energi ini malah akan menjadi sangat panas dan membuatku seperti tungku berjalan!" candanya sambil tertawa sendiri.
Hari itu, Mu Chen resmi menjadi bagian dari Sekte Angin Hijau. Banyak orang masih memandangnya dengan rasa penasaran dan ragu, tapi ia tidak peduli. Ia memiliki tempat tinggal, teman baru, dan kesempatan untuk mempelajari dunia yang asing ini dengan caranya sendiri.
Di malam harinya, ia duduk di halaman kediaman murid sambil memandangi langit yang sama seperti di dunianya. Sedikit rasa rindu masih ada di hatinya — rindu pada orang tua, rumah, dan segala hal yang ia kenal — tapi di sisi lain, ia juga merasa senang.
"Rumahku mungkin jauh, tapi di sini aku menemukan hal baru. Meski tubuhku aneh, meski tidak bisa melakukan hal yang orang lain bisa lakukan... aku akan tetap berjalan jalanku sendiri. Siapa tahu suatu hari aku bisa pulang, atau justru menemukan arti hidup yang lain di sini," gumamnya sambil memegang batu giok yang bersinar lembut di tangannya.
Dan di langit malam itu, bintang-bintang bersinar terang — menyaksikan awal perjalanan seorang pemuda dari dunia lain yang akan menciptakan kisah yang tidak biasa, penuh tawa, petualangan, dan hal-hal yang tidak terduga.
Semoga menghibur para pembaca