Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klaim
Sera sudah benar-benar di buat meradang, kini dengan kesal melangkahkan kaki menuju ke lantai bawah dengan mulut yang terkadang mengumpat.
Di depan sudah ada Mega yang akan menghampiri, berhenti dan menghela nafasnya kembali.
"Ada masalah Nona Sera?" tanya Mega.
"Banyak" jawab Sera lalu menghembuskan nafas sedikit keras.
"Dengan CEO Rudolf Company?"
"Memang mau siapa lagi, hanya dia manusia setengah setan yang sudah memporak porandakan hari-hari ku"
Sera semakin kesal dan segera masuk ke dalam mobil perusahaan yang sudah menjemputnya.
Sengaja, Mega tidak lagi menggunakan Heli, karena seperti yang diinginkan Bos nya, untuk mencari tempat nyaman mengisi perut yang kelaparan.
Mega masih diam, berada di sebelah Sera yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.
"Menurutmu, orang seperti Graven, apa mungkin menggunakan sesuatu untuk menjebak ku?" tanya Sera pada Mega yang seketika menutup Tab Nya.
"Maaf, maksudnya?" tanya Mega masih tidak tau kemana arah pertanyaan atasannya.
Sera menatap Mega sesaat, ragu haruskah menceritakan kekhawatiran akan obat perang-sang yang di bicarakan oleh Graven sesaat tadi.
"Ada masalah lagi Nona?, selain Tuan Graven mungkin?"
Menghela nafasnya, Sera mengalihkan pandangannya, dan kenapa rasanya sama saja, cerita atau tidak dia masih sangat kesal dengan Graven dan obatnya.
"Tidak ada, aku hanya pengen makan, lapar" jawab Sera sengaja mengalihkan tema.
Tepat jam satu siang, mereka akhirnya memasuki sebuah Restoran, cukup ramai namun masih ada tempat privat yang tersisa.
Sera berjalan lebih dulu, sedangkan Mega terlihat berbicara dengan pengelola restoran untuk tempat dan juga menu yang diminta sedikit lebih cepat.
Berada ditempat yang cukup nyaman, letaknya diantar sebuah taman dan pemandangan yang segar, lumayan untuk mengobati kepenatan pikiran.
Mega mendekat, dan duduk di sebelah Sera yang kini masih sibuk dengan ponselnya.
"Sebentar lagi siap Nona"
"Hem"
Tidak ada perbincangan, Mega melakukan hal yang serupa, memanfaatkan waktu untuk menge cek isi Email-nya.
Di saat yang sama, Sera yang tak sengaja menatap ke arah luar di kejutkan sosok yang sangat dia kenal.
"Apa_"
Segera, Sera menutup wajahnya dengan menyambar tablet Mega yang baru saja di pegang.
"Nona Sera, apa yang_"
"Diam!" bisiknya tajam.
Mega segera menatap ke arah depan, dan menemukan jawaban kenapa Sera merebut tablet yang ada di tangannya.
"Ada Tuan Graven"
"Aku tau, mangkanya diam dan tutupi wajahmu, jangan sampai dia_"
"Bisa bergabung?"
Deg
Sialan!, kenapa suara itu justru terdengar sangat dekat sekarang, cepat sekali dia melihat ku, ya Tuhan!, batin Sera dan perlahan menurunkan Tablet yang memenuhi wajahnya.
"Ehem, maaf?" Sera kini menatap sosok setan wujud manusia menurutnya.
"Kebetulan ada perjamuan untuk investor kita tadi, tidak untuk membahas bisnis, hanya pertemanan biasa, dan tidak sengaja aku melihat mu ada disini juga, jadi menurutku lebih baik kita bergabung agar lebih_"
"Tidak, maksudku, aku ingin makan dengan tenang tanpa ada pembahasan bisnis lagi, tolong" sahut Sera.
"Aku yakin tidak ada pembahasan bisnis, dia juga temanku selain investor proyek kita"
"Tapi aku tidak bisa bahasanya Tuan Graven, jangan mempermalukan ku"
"Tenang, ada aku"
"Tidak!"
Graven hanya tersenyum, lalu tangannya memberikan kode dan membuat salah satu pelayan datang dan mengangguk.
Oh Tuhan, tidak, ini tidak mungkin, jangan lagi makhluk lak-nat ini mempengaruhi hidupku, bahkan untuk urusan makan, tidak, jangan!, jerit hati Sera yang akhirnya percuma karena Graven telah membawa orang Philipina itu bergabung di tempatnya.
Menghela nafasnya, sangat pelan seolah mengumpulkan semua kesabaran yang ada di dunia, Sera akhirnya pasrah dengan apa yang terjadi di depannya.
"Maaf, saya gak bisa berbuat banyak Nona, masalahnya ini Tuan Graven dan saya tidak berani" bisik Mega.
"Hem" jawaban singkat, cukup untuk membuat Mega mengerti jika atasannya tidak sedang baik-baik saja.
Hanya tersenyum dengan anggukan kecilnya, Sera kini menyaksikan bagaimana Graven sangat fasih menggunakan bahasa yang hanya sedikit di mengerti olehnya, membuat orang asing itu tertawa, menciptakan suasana nyaman untuk mereka, dan hal itu membuat Sera merasa_
"Damn!"
Sera segera menyadarkan dirinya, hampir tenggelam dalam kekaguman pada Graven Rudolf, lalu tangannya ingin mengambil gelas yang berisi air putih, namun tiba-tiba_
"Ada apa Nona Sera?"
Terdengar pelan, tenang dan seperti biasa, membuat urat syaraf Sera seketika tegang, dengan cepat tangannya bertindak, meminum air dalam gelas yang ada di tangannya.
"Apa Obat perang-sangnya sudah bereaksi?" Graven bertanya.
GUBRAK
Sera hampir saja tersedak, seketika terbatuk dan tangannya menahan dadanya.
Sementara Mega yang tangannya masih asik dengan tabletnya seolah kaku membeku.
Harry yang tengah memegang ponselnya untuk melakukan transaksi seketika mematung, dunia terasa berhenti berputar pada porosnya, tak percaya apa yang baru saja di dengar dari sosok atasan yang selama ini di kenal sangat dingin pada wanita.
"Aku gak lagi terang-sang saat ini okey, dan asal kau tau, seorang Sera tidak akan mudah tumbang dan melemparkan tubuhnya padamu karena Coklat hangat sialan yang kau beri sesuatu, jadi_bisa jaga mulutmu?!" Sera menatap tajam pada Graven yang duduk tepat di depannya.
Graven marah atau panik?, tentu saja tidak, justru ada senyuman tipis yang sekarang bisa di lihat dengan jelas.
"Okey, lalu kenapa aku melihat tatapan yang menyatakan kamu begitu menyukai ku sesaat tadi?"
"What_, Maaf?" Sera mengerjap.
"Iya, iya begitulah, kamu menatapku dan aku melihat ada hal itu Sera"
"Omong kosong, aku menatapmu karena heran"
"Heran aku begitu mengagumkan?"
"Oh my God, percaya diri sekali anda" sahut Sera.
"Kenapa aku merasa ada yang takut akan jatuh_, CINTA?"
Sera tak menjawab, hanya menyipitkan matanya, mengukur kegilaan laki-laki yang ada di depannya saat ini, dengan senyum brengsek nya membuat Sera segera memilih ingin melempar meja atau kursi duluan ke wajahnya.
Sementara Graven hanya menatap Sera tenang, seperti biasa, seolah tidak sedang terjadi apa-apa, tatapan yang siap menenggelamkan apapun yang menantangnya.
"Jatuh Cinta?, dengan orang yang sudah membuat dunia ku jungkir balik dengan derita?, Sepertinya aku belum cukup gila untuk melakukan hal itu Tuan Graven Rudolf, jadi tenang, anda jangan dulu membayangkan tubuh Sek-si ku ini bisa dengan mudah ada di ranjang mu"
Graven tertawa, renyah namun terarah, penuh kehati-hatian dan jebakan.
"Tubuh Sek-si?, siapa yang tidak melihat hal itu dalam dirimu Nona Sera, dan sepertinya sangat menarik jika aku meng klaimnya"
"Maksudmu?"
"Tubuh itu hanya untuk ku, dan hanya aku yang bisa menempatkan di ranjang ku, bagaimana?" Graven tersenyum senang.
"Kau_!"
"Maaf makanan sudah datang, mohon semua tenang!" Mega segara mengambil tindakan, sebelum terjadi angin topan, badai dan mungkin juga sunami dadakan.
Bersambung.
Ya ampun Sera bisa makin gila, bagaimana menurut pembaca?
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭