Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Racun di Ujung Lidah dan Bayang-Bayang Putih
Duniaku baru saja berhenti bergetar setelah badai di ruang sidang, namun sekarang, sebuah gempa susulan datang dan meruntuhkan fondasi yang baru saja kucoba bangun.
Kata-kata petugas intelejen itu—Hendra Kusuma diracun—terasa seperti cairan asam yang dituangkan langsung ke telingaku. Panas, korosif, dan menghancurkan segalanya. Aku berdiri mematung di tengah unit 1401, tangan yang tadinya memegang gagang pintu kini gemetar hebat.
"Apa?" bisikku. Suaraku nyaris hilang, tertelan oleh sunyinya apartemen yang tiba-tiba terasa seperti peti mati. "Bagaimana mungkin? Dia ada di bawah pengawasan Kejaksaan!"
"Seseorang menyelundupkan botol minuman ke dalam sel transisinya di pengadilan," petugas itu menjelaskan dengan nada cepat dan panik. Ia terus menempelkan earpiece-nya, mendengarkan laporan dari lapangan. "Terdakwa ambruk lima menit setelah sidang ditunda. Gejalanya menunjukkan keracunan sianida dosis rendah atau agen saraf. Kami sedang memindahkan beliau ke RS Pusat."
Aku merasakan lututku lemas. Aku hampir jatuh jika sebuah tangan kuat tidak menyambar pinggangku dan menahan beban tubuhku.
Devan.
Ia sudah ada di sana, keluar dari unitnya saat mendengar keributan. Wajah Devan tidak menunjukkan keterkejutan yang sama denganku. Matanya yang tajam justru menyipit, memindai koridor dengan insting seekor srigala yang mencium bau jebakan.
"Jangan bawa dia ke rumah sakit umum," gertak Devan kepada petugas itu. "Itu jebakan."
"Kami tidak punya pilihan, Tuan Devan! Kondisi Tuan Hendra kritis!" seru petugas itu sebelum akhirnya berlari menuju lift untuk menyusul timnya.
Devan menarikku masuk ke dalam unit 1401 dan menutup pintu dengan bantingan keras. Ia mengunci semua selot baja. Ia kemudian memutar tubuhku, memegang kedua bahuku dengan cengkeraman yang kuat namun stabil.
"Anya, lihat aku. Bernapaslah," perintahnya.
Aku mencoba menarik napas, namun dadaku terasa seperti diikat oleh kawat berduri. "Dia... dia akan mati, Devan? Ayah akan mati sebelum aku sempat mendengar dia minta maaf?"
Ada konflik batin yang luar biasa di dalam dadaku. Aku membenci Hendra Kusuma atas apa yang ia lakukan pada memoriku, pada ibumu, dan pada hidup kita. Tapi di saat yang sama, kaset rusak di kepalaku masih menyimpan memori tentang seorang pria yang menggendongku saat aku takut petir. Seorang pria yang mengajariku membaca puisi. Bagian dari diriku yang masih merupakan 'Putri Ayah' menjerit kesakitan, sementara bagian diriku yang baru saja bangun ingin tertawa getir.
"Dengarkan aku," Devan mendekatkan wajahnya, matanya mengunci mataku dengan intensitas yang memaksa aku untuk tetap sadar. "Hendra Kusuma diracun bukan karena seseorang ingin dia mati secara acak. Dia diracun karena dia mulai menjadi beban bagi orang-orang di atasnya. Rekaman audio yang kau berikan tadi... itu bukan cuma menghancurkan dia. Itu menghancurkan semua orang yang menerima suap darinya selama sepuluh tahun terakhir."
Aku mengerjap, air mata akhirnya tumpah membasahi pipiku. "Siapa, Devan? Siapa yang lebih kuat dari Ayah?"
"Keluarga Dirgantara. Dokter Frans. Atau mungkin seseorang yang belum kita lihat di papan catur ini," Devan melepaskan bahuku dan berjalan menuju jendela besar, menyibak gorden sedikit. "Peracunan ini adalah pesan. Sebuah pesan agar Hendra tetap bungkam. Jika dia bangun, dia mungkin akan mulai menyeret nama-nama lain demi meringankan hukumannya. Seseorang ingin memastikan dia tidak akan pernah memberikan kesaksian lanjutan."
Pening di kepalaku kembali menyerang. Rasa sakit yang tajam, seperti sebuah palu yang menghantam titik yang sama berulang kali.
Bayang-bayang putih.
Aku teringat sosok Dokter Frans di lorong pengadilan tadi. Senyum miringnya. Isyarat jarinya di bibir.
"Frans," desisku. "Aku melihatnya, Devan. Di pengadilan tadi, sebelum Ayah ambruk. Dia ada di sana."
Devan berbalik dengan cepat. "Kau melihatnya? Kenapa kau baru bilang sekarang?"
"Aku... aku pikir itu hanya halusinasiku lagi! Satria bilang aku mungkin kelelahan!" aku berteriak frustrasi, memukul kepalaku sendiri dengan telapak tangan. "Kenapa aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak?!"
Devan menyambar tanganku, menghentikan aku dari menyakiti diriku sendiri. Ia menarikku ke dalam pelukannya. Kali ini, tidak ada jarak. Ia mendekapku sangat erat, membenamkan wajahnya di rambutku. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup kencang—ia juga takut. Ia takut kehilangan satu-satunya petunjuk yang tersisa.
"Kita harus ke sana," bisikku di dadanya.
"Tidak. Itu terlalu berbahaya."
"Dia ayahku, Devan! Jika dia mati sekarang, rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi malam kecelakaan itu akan terkubur selamanya! Kau tidak ingin tahu siapa yang menyuruh orang menabrak mobil kita? Kau yakin itu murni ide Ayah?"
Devan terdiam. Pertanyaanku menyentuh titik saraf yang sensitif di dalam dirinya. Selama tiga tahun, Devan yakin Hendra adalah dalangnya. Tapi, bagaimana jika Hendra sendiri hanyalah pion yang lebih besar? Bagaimana jika 'Red-Alpha' dan kontrak dengan Dirgantara adalah alasan mengapa Hendra harus melakukan semua kekejaman itu?
"Satria akan menjemput kita," Devan akhirnya menyerah. "Tapi kau harus memakai rompi pelindung. Kita tidak tahu siapa yang menunggu di rumah sakit."
Rumah Sakit Pusat terasa seperti medan perang. Polisi bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut lobi. Garis kuning polisi terbentang di depan ruang ICU lantai lima. Bau antiseptik yang biasanya membuatku tenang, kini terasa mencekik, mengingatkanku pada klinik steril Dokter Frans.
Jaksa Satria berdiri di depan kaca ruang ICU, menatap ke dalam dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia tidak menoleh saat kami mendekat.
"Dia masih belum sadar," ujar Satria tanpa intonasi. "Dokter bilang racunnya adalah turunan dari zat anestesi dosis tinggi yang dicampur dengan toksin botulinum. Sangat spesifik. Sangat medis."
"Frans," gumam Devan.
Satria akhirnya menoleh, menatap Devan dengan tatapan tajam. "Kami sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Frans Sugiarto. Rumahnya kosong. Kliniknya digeledah, tapi dia sudah menghapus semua jejak digital dalam satu jam terakhir. Dia menghilang, Devan. Seperti hantu."
Aku melangkah mendekati kaca ICU. Di dalam sana, Hendra Kusuma terbaring lemah. Tubuhnya dipenuhi kabel dan selang. Pria yang dulu terlihat seperti raksasa yang menguasai duniaku, kini tampak kecil dan tak berdaya di bawah lampu neon yang dingin. Kulitnya pucat kebiruan.
Aku menempelkan telapak tanganku di kaca.
Ayah, bangunlah. Jangan mati dengan membawa semua kebohongan ini.
Tiba-tiba, monitor jantung di samping tempat tidur Hendra berbunyi nyaring. Beep... Beep... Beep... Garisnya mulai bergejolak tidak beraturan. Tim medis berlarian masuk ke dalam ruangan, melakukan tindakan resusitasi.
"Nona Anya, Anda harus mundur!" seorang perawat mendorongku menjauh.
Di tengah kekacauan itu, aku melihat sesuatu. Sesuatu yang membuat napasku terhenti.
Salah satu dokter yang sedang melakukan tindakan pijat jantung pada Ayah... ia mengenakan masker bedah dan penutup kepala yang rapat. Tapi saat ia mendongak sekilas ke arah kaca, matanya... mata itu menatapku.
Itu bukan mata seorang dokter yang sedang menyelamatkan nyawa. Itu adalah mata yang dingin, analitis, dan dipenuhi dengan kepuasan yang menyeramkan.
Mata Dokter Frans.
"DEVAN! ITU DIA!" teriakku histeris, menunjuk ke arah dokter di dalam ruangan itu. "ITU FRANS!"
Devan tidak menunggu lama. Ia menerjang pintu ICU, namun dua orang petugas keamanan Kejaksaan menahannya.
"Tuan Devan, ini area steril! Anda tidak boleh masuk!"
"ITU PEMBUNUHNYA ADA DI DALAM, TOLOL!" raung Devan.
Di dalam ruangan, 'dokter' itu dengan tenang meletakkan alat kejut jantung. Ia berbisik sesuatu ke telinga Hendra yang masih tak sadarkan diri, lalu ia berjalan menuju pintu belakang yang terhubung dengan koridor sterilisasi.
Saat Satria dan timnya berhasil mendobrak masuk, sosok itu sudah menghilang. Di atas meja nakas di samping tempat tidur Ayah, tertinggal sebuah benda kecil yang sangat tidak pada tempatnya.
Sebuah bunga kamboja putih yang masih segar.
Aku jatuh terduduk di lantai koridor, air mata mengalir deras. Bunga kamboja. Bunga yang sama yang ada di makam Oren sepuluh tahun lalu. Bunga yang sama yang selalu ada di dalam kilas balik memoriku yang hancur.
"Dia belum selesai," bisikku pelan, tubuhku gemetar hebat. "Dia tidak ingin membunuh Ayah. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia bisa menyentuh siapa saja."
Devan berlutut di depanku, memelukku erat, namun matanya tetap waspada menatap ke setiap sudut lorong. Kami baru saja menyadari bahwa Hendra Kusuma bukanlah musuh terakhir. Ia hanyalah gerbang menuju labirin yang jauh lebih gelap.
Malam itu, kami dikembalikan ke apartemen dengan pengamanan tiga kali lipat. Namun, dinding beton ini tidak lagi terasa aman. Setiap bayangan di sudut ruang terasa seperti Frans yang sedang mengintai. Setiap suara derit pintu terasa seperti jarum suntik yang siap menembus kulitku.
Aku duduk di sofa, menatap tas ranselku yang berisi fragmen kaca dan tiket bioskop tua. Devan duduk di lantai di dekat kakiku, membersihkan sikat senjatanya dengan gerakan yang sangat mekanis.
"Van," panggilku.
"Iya?"
"Kau ingat apa yang kau katakan di ruang musik dulu? Tentang 'wujud dunia yang sebenarnya'?"
Devan berhenti bergerak. Ia menatap lurus ke depan. "Iya."
"Dunia ini ternyata tidak punya warna, ya? Hanya ada hitam, putih, dan warna merah darah," ujarku getir. "Aku ingin kembali tidur, Devan. Aku ingin kembali jadi Anya yang tidak tahu apa-apa. Rasa sakit ini... aku tidak kuat."
Devan meletakkan peralatannya. Ia bangkit dan duduk di sampingku di sofa. Ia mengambil tangan kiriku, mencium pergelangan tanganku yang dulu pernah ia tulisi namanya.
"Kau tidak akan kembali tidur, Anya. Karena jika kau tidur, mereka benar-benar menang," bisik Devan. "Dunia ini mungkin gelap, tapi kau punya aku. Dan aku punya kau. Kita adalah dua pecahan kaca yang berbeda, tapi jika kita disatukan, kita bisa memotong apa saja."
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Di tengah ketakutan ini, aku merasakan sebuah memori baru muncul. Memori yang tidak berasal dari masa SMA, melainkan dari masa yang lebih jauh. Masa di mana Dokter Frans pertama kali masuk ke dalam hidupku.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
INT. RUANG PRAKTEK DOKTER - SIANG HARI (8 TAHUN LALU)
Filter visual sangat steril, berwarna putih kebiruan. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang lambat. ANYA kecil (11 tahun) duduk di kursi pasien yang besar, kakinya berayun-ayun. Ia terlihat cemas.
HENDRA (Ayah Anya) berdiri di pojok ruangan, sedang berbicara dengan seorang pria muda yang mengenakan jas lab putih bersih. Pria itu adalah DOKTER FRANS muda.
HENDRA
"Dia mulai bertanya tentang ibunya lagi, Frans. Dia mulai bermimpi buruk tentang kecelakaan itu. Aku tidak ingin dia tumbuh dengan trauma yang menghambat prestasinya."
DOKTER FRANS
(Tersenyum sangat ramah, mendekati Anya kecil)
"Halo, Anya cantik. Jangan takut. Om Frans punya 'permen' ajaib yang bisa membuat mimpi burukmu pergi."
Frans mengeluarkan sebuah botol berisi cairan bening dan sebuah alat yang terlihat seperti pena, namun ujungnya adalah jarum yang sangat halus.
ANYA KECIL
"Apa itu sakit, Om?"
DOKTER FRANS
"Hanya seperti gigitan semut kecil. Setelah ini, kau akan merasa seperti terbang di awan lavender. Kau akan lupa rasa sedihmu, dan kau akan selalu bahagia bersama Ayah. Bukankah itu yang kau mau?"
Frans menyuntikkan cairan itu ke lengan Anya kecil. Kamera fokus pada pupil mata Anya yang melebar seketika. Ekspresi ketakutannya perlahan memudar, berganti dengan senyum kosong yang datar.
DOKTER FRANS (V.O)
(Suaranya bergema, berubah menjadi suara masa kini)
"Ingat, Anya... kebahagiaan adalah sebuah pilihan yang dipaksakan. Dan aku adalah orang yang memilihkan itu untukmu."
Kamera fokus pada wajah Frans yang menatap Anya dengan tatapan seorang ilmuwan yang sedang mengamati spesimennya, bukan seorang dokter yang peduli.
FADE OUT.
Aku tersentak bangun dari lamunan itu. Napas hancur.
"Dia sudah melakukannya sejak aku kecil," bisikku pada Devan. "Frans bukan cuma rekan bisnis Ayah. Dia adalah arsitek dari seluruh hidupku. Ayah hanya penyandang dananya, tapi Frans... Frans adalah pemilik jiwaku selama ini."
Devan memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Kalau begitu, kita akan menghancurkan labirinnya, Anya. Sampai ke akar-akarnya."
Di luar, petir menyambar, menerangi langit Jakarta yang kelam. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, musuh kami bukanlah pria yang terobsesi pada kekuasaan, melainkan iblis yang terobsesi pada kendali pikiran.
[BERSAMBUNG KE BAB 20]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??