Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suasana di ruangan Ratu itu mendadak manis, namun Ardiansyah tahu ia tidak bisa berlama-lama di sana tanpa melakukan pergerakan nyata. Setelah menghabiskan susu cokelatnya dan memastikan rambutnya sudah kembali ke tatanan yang manusiawi berkat bantuan sisir cadangan di tas Ratu Ardiansyah berdiri.
"Ratu, desain branding itu tidak akan selesai kalau kita hanya di sini. Ayo ikut aku, kita bahas sambil makan siang. Ada kafe baru di dekat sini yang suasananya tenang," ajak Ardiansyah.
Ratu sempat ragu, namun melihat tatapan Ardiansyah yang tidak menerima penolakan, ia akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi saya bawa motor sendiri."
"Tidak," potong Ardiansyah cepat. "Kamu ikut aku. Helm cadanganku jauh lebih aman daripada helm motormu yang bergambar kartun itu."
"Tidak mau, kita bukan sepasang suami-istri ya, Saya pakai motor saya sendiri titik" ratu melangkah terlebih dahulu,ia menaiki motornya yang terparkir di samping motor Ardiansyah.
Ardi tersenyum penuh arti" oke sayang, setelah kita sah nanti, aku akan mengajakmu touring berkeliling kota " Ardiansyah berjalan mengikuti Ratu dengan wajah berseri-seri, wajah seseorang yang sedang jatuh cinta.
Ardiansyah sengaja memilih kafe yang terkesan eksklusif dan sedikit tersembunyi.
Ratu memarkirkan motornya di samping motor Ardiansyah.
"Ini yang anda maksud, kafe sederhana?" tanya Ratu memincingkan sebelah matanya.
Ardiansyah tersenyum mengangguk" Benar sekali, sederhana kan?" .
"Sepertinya tidak sesederhana yang Anda katakan, ini termasuk kafe ekslusif, sangat terlihat saat kita masuk tadi, bahkan untuk parkir mobil sama motor, sangat jauh" sahut Ratu yang terus berjalan di sisi Ardiansyah, untuk memasuki Cafe baru tersebut.
Ardiansyah hanya terkekeh, Sadar, seorang Nona muda pasti tahu Cafe eksklusif dan yang biasa, mereka terus berjalan berdampingan....Namun, sepertinya nasib sedang ingin menguji jantungnya. Baru saja mereka melangkah masuk, mata Ardiansyah menangkap sosok yang sangat ia kenal duduk di sudut ruangan yang cukup privat.
Monica Suhadi sedang duduk berhadapan dengan Angga.
Monica tampak sedang berbicara dengan nada tinggi, sementara Angga mendengarkan dengan senyum sopan yang dibuat-buat , senyum yang bagi Ardiansyah terlihat sangat menjijikkan.
"Pak Ardi... itu bukannya Ibu Monica?" bisik Ratu, ia refleks menarik langkahnya mundur.
Ardiansyah mengeras. Alih-alih menghindar, ia justru menggenggam ujung lengan tunik Ratu, menuntunnya berjalan melewati meja tersebut. Ia ingin menunjukkan pada ibunya bahwa keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
"ARDI...?!"
Suara Monica memekik, memecah ketenangan kafe. Ia berdiri seketika, membuat kursi di belakangnya berderit keras. Matanya membelalak, bukan hanya karena melihat Ardiansyah bersama Ratu, tapi karena melihat penampilan putranya.
"Apa-apaan penampilanmu ini, Ardi?! Jaket kulit? Sepatu boots kotor? Dan rambutmu... ya Allah, kamu terlihat seperti pria jalanan! Apa wanita ini sudah benar-benar merusak otakmu sampai kamu meniru gaya premannya?!" Monica benar-benar murka, anak pertamanya berpenampilan seperti orang miskin dengan berjualan gas, sedangkan anak keduanya berpenampilan seperti preman, Monica benar-benar sedang di uji kesabaran nya.
Monica menunjuk Ratu dengan jari yang gemetar karena amarah. Di sampingnya, Angga berdiri perlahan, matanya menatap Ratu dengan binar ketertarikan yang tidak bisa ia sembunyikan, membuat Ardiansyah semakin emosi.
Ardiansyah menyahut, Suaranya rendah namun sangat mengintimidasi "Jaga ucapan Mama. Ratu tidak merusak apa pun. Dia justru memberiku keberanian untuk menjadi diriku sendiri, bukan boneka bisnis Mama."
Angga mencoba menengahi dengan nada licik namun lembut"Tante, tenanglah. Mungkin Pak Ardi hanya sedang mencoba hobi baru. Tapi Pak Ardi, bukankah ini sedikit berlebihan? Membawa asisten ke tempat seperti ini dengan penampilan yang... kurang pantas untuk level Suhadi?"
Ratu, yang sedari tadi diam, akhirnya melangkah maju satu langkah. Ia tidak menunduk, ia justru menatap Monica dengan tenang di balik kacamata besarnya.
"Maaf, Nyonya Monica. Jika menurut Anda penampilan adalah tolok ukur martabat seseorang, maka saya kasihan pada cara Anda memandang dunia. Pak Ardi terlihat jauh lebih hidup hari ini daripada saat dia harus memakai dasi yang mencekik lehernya setiap hari demi menyenangkan Anda."
"Berani kamu bicara begitu padaku?! Kamu itu cuma asisten! Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga kami!" sahut Monica dengan mata memerah menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Ardiansyah merangkul bahu Ratu secara protektif "Dia tahu lebih banyak daripada yang Mama kira. Dan Pak Angga... jangan sekali-kali kamu mengomentari apa yang pantas atau tidak untuk keluargaku. Fokus saja pada proyekmu yang mulai goyah itu."
Melihat situasi yang semakin panas, Angga membisikkan sesuatu ke telinga Monica. "Biarkan saja dulu, Tante. Biarkan mereka merasa menang. Kita punya rencana yang lebih besar, bukan?"
Monica menarik napas panjang, mencoba mengatur emosinya meski wajahnya masih merah padam. "Ingat Ardi, Mama tidak akan membiarkan wanita ini menghancurkanmu. Kita lihat saja seberapa lama cinta monyetmu ini bertahan saat badai yang sesungguhnya datang."
Monica dan Angga melangkah pergi meninggalkan kafe dengan amarah yang tertahan. Ardiansyah menarik napas berat, ia menatap Ratu dengan rasa bersalah.
"Maaf, Ratu. Harusnya makan siang ini menyenangkan."
Ratu tersenyum tipis, ia mengeluarkan ponselnya "Jangan minta maaf. Justru ini menarik. Tadi saat mereka bicara, aku sempat menitipkan sesuatu di jaringan WiFi kafe ini. Sepertinya aku tahu apa yang sedang mereka rencanakan."
Ardiansyah tertegun. Ia lupa bahwa asistennya ini bukan hanya pandai menggambar desain, tapi juga punya kemampuan yang setara dengan agen rahasia..., keluarga Pratama memang tidak main-main.
"Ayo duduk, Ketua Mafia. Pesan makanan yang banyak. Kita butuh energi untuk menghancurkan rencana mereka, bukan?"
Ardiansyah mengangguk,lalu mereka memesan makanan yang membuat hati mereka melupakan kejadian tadi.
Setelah selesai makan, Ardiansyah memesan kopi, dan Ratu sendiri memesan susu .
Ardiansyah menyesap kopi hitamnya, matanya tidak lepas dari wajah Ratu yang tampak tenang meskipun baru saja menghadapi badai bernama Monica Suhadi. Suasana kafe yang tadinya tegang kini perlahan mencair, menyisakan obrolan privat yang sangat dinanti Ardiansyah.
Ardiansyah mencondongkan tubuh, suaranya merendah "Ratu... sebenarnya sampai kapan kamu mau main petak umpet begini? Maksudku, dengan identitas aslimu sebagai putri mahkota dari keluarga Pratama. Kamu lihat sendiri kan, ibuku hampir kena serangan jantung hanya karena melihat kita jalan bareng."
Ratu mengaduk minumannya dengan santai. "Sampai keluargamu bisa melihat seseorang bukan dari merk tasnya, bukan dari koleksi mobilnya, tapi dari ketulusannya. Saya ingin tahu, kalau saya tetap jadi asisten preman yang hobi naik motor ini, apakah ada orang di keluargamu yang mau menghargai saya sebagai manusia?". Tadinya Ratu hanya iseng saja naik motor, tapi ia jadi keterusan. Ternyata sangat menyenangkan, apalagi bisa menyalip saat ada kemacetan.
Ratu menatap Ardiansyah tegak lurus, membetulkan letak kacamatanya.
"Bagi saya, penampilan luar itu nomor sekian. Yang terpenting saya tetap menutup aurat dengan benar dan tidak merugikan orang lain. Soal mereka mau pingsan melihat gaya saya, itu urusan mereka dengan oksigen, bukan urusan saya." jawab Ratu masa bodo.