Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Pagi itu suasana kantor terasa sedikit berbeda. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk atau deadline yang mendesak, melainkan karena satu hal yang sulit diabaikan oleh siapa pun—penampilan direktur mereka.
Bisik-bisik pelan terdengar di berbagai sudut ruangan.
“Lihat wajah Pak Bima...”
“Babak belur begitu... habis berkelahi, ya?”
“Siapa yang berani mukul direktur...”
Namun seperti biasa, tidak ada yang cukup berani untuk bertanya langsung. Para pegawai hanya bisa menahan rasa penasaran, menyapa dengan sopan, lalu kembali ke meja masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam ruangannya, Bima duduk diam di kursi kerjanya. Wajahnya memang jauh dari kata layak tampil. Memar di pipi, luka kecil di sudut bibir, dan sedikit bengkak di pelipisnya. Ia bahkan sempat menghela napas ketika melihat bayangannya sendiri di layar ponsel.
“Benar-benar kacau,” gumamnya pelan.
Namun bukan rasa sakit yang mengganggunya. Pikirannya jauh lebih berisik daripada luka di wajahnya.
Ia mulai membuka beberapa dokumen di meja, mencoba bekerja seperti biasa. Lembar demi lembar ia periksa, tanda tangan ia bubuhkan, hingga akhirnya perhatiannya tertuju pada sebuah amplop yang terselip di antara berkas.
Alisnya sedikit berkerut.
“Ini apa...”
Ia membuka amplop itu perlahan. Begitu membaca isi suratnya, sorot matanya berubah.
Surat pengunduran diri.
Dari Pandu.
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Bima menatap lembar kertas itu cukup lama. Ingatannya langsung berkelana jauh—masa kecil, masa kuliah, semua kebersamaan yang pernah ia lalui dengan Pandu. Sahabat yang sudah ia kenal hampir seumur hidupnya.
Namun semua itu terasa tidak berarti sekarang.
Tangannya bergerak cepat. Ia mengambil pena, lalu menandatangani persetujuan tanpa ragu sedikit pun.
“Sudah cukup,” ucapnya dingin.
Baginya, keputusan ini bukan lagi soal persahabatan. Pandu sudah melewati batas. Apa yang terjadi pada Aira tidak bisa dimaafkan, apalagi dilupakan.
Bima menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kalau Pandu sudah keluar... apakah Aira akan kembali...?”
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.
Ia tahu jawabannya tidak akan sesederhana itu.
Dengan napas panjang, ia meraih telepon kantor.
“Tolong panggilkan Ayunda ke ruangan saya.”
“Baik, Pak.”
Tak butuh waktu lama, pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.”
Ayunda membuka pintu dan melangkah masuk. Namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat kondisi Bima.
Matanya membesar.
“Pak Bima...?”
Ia menatap wajah direktur itu dari dekat, jelas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Ini... kenapa, Pak?”
Bima hanya menghela napas pelan, seolah pertanyaan itu terlalu melelahkan untuk dijawab.
“Duduk saja, Ayunda.”
Ayunda masih tampak ragu, tetapi akhirnya ia duduk di kursi depan meja kerja Bima.
“Ada yang ingin saya bicarakan,” lanjut Bima.
“Apa, Pak?”
Bima mengambil surat tadi dan meletakkannya di atas meja, mendorongnya sedikit ke arah Ayunda.
“Pandu sudah mengundurkan diri.”
Ayunda terdiam beberapa detik, lalu mengambil surat itu dan membacanya cepat.
“Dia... benar-benar keluar?”
Bima mengangguk singkat.
“Mulai hari ini, dia tidak akan ada lagi di perusahaan ini. Tidak akan mengganggu Aira lagi.”
Nada suaranya terdengar tegas, tetapi ada sesuatu di balik itu—harapan.
Ia menatap Ayunda.
“Saya ingin Aira kembali bekerja.”
Ayunda tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Bima dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Pak Bima yakin sesederhana itu?”
Bima sedikit mengernyit.
“Maksud kamu?”
Ayunda menyilangkan tangan.
“Kalau Pak Pandu sudah keluar, berarti semuanya selesai? Begitu?”
Bima tidak menjawab.
“Pak,” lanjut Ayunda, suaranya kini lebih serius, “Aira sampai di titik itu bukan cuma karena Pak Pandu.”
Kata-kata itu terasa seperti pukulan lain bagi Bima.
“Dan keluarga Aira,” tambahnya, “paman dan bibinya... mereka tidak akan semudah itu mengizinkan Aira kembali ke tempat yang sama.”
Bima menunduk sedikit.
Ia tahu itu benar.
“Saya... ingin memperbaiki semuanya,” ucapnya pelan. “Saya ingin jadi atasan yang lebih baik.”
Ayunda menatapnya beberapa detik.
“Saya harap begitu, Pak. Tapi jujur saja, saya tidak berani membujuk Aira.”
Bima mengangkat wajahnya.
“Kenapa?”
“Karena saya melihat sendiri bagaimana kondisi Aira waktu itu. Dan saya juga tahu bagaimana marahnya keluarga dia.”
Suasana kembali sunyi.
Bima menggenggam tangannya pelan.
“Kalau begitu... saya akan menemui paman dan bibinya. Saya akan minta maaf langsung.”
Ayunda langsung menggeleng.
“Saya tidak bisa membantu soal itu, Pak.”
Bima menatapnya.
“Saya sudah tidak sepenuhnya percaya lagi,” lanjut Ayunda. “Maaf.”
Kata-kata itu jujur. Tidak kasar, tapi cukup untuk membuat Bima terdiam.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Tiba-tiba Bima berbicara lagi.
“Ayunda.”
“Iya, Pak?”
“Ambil ponselmu.”
Ayunda mengernyit.
“Untuk apa?”
“Foto saya.”
Ayunda terdiam, lalu menatap wajah Bima lagi.
“Serius, Pak?”
“Serius.”
“Dengan kondisi seperti ini?”
“Justru itu.”
Ayunda menahan tawa kecil.
“Bapak yakin ini ide yang bagus?”
Bima mengusap wajahnya sebentar.
“Mungkin... dia akan merasa kasihan.”
Ayunda akhirnya tertawa pelan.
“Sepertinya Bapak benar-benar kehabisan cara.”
“Bisa jadi.”
Setelah beberapa detik, Ayunda menghela napas.
“Baiklah.”
Ia berdiri, mengambil ponselnya, lalu mengarahkan kamera ke Bima.
“Pak, coba ekspresinya lebih... menyedihkan.”
Bima mengerutkan kening.
“Seperti apa?”
“Ya... seperti orang yang benar-benar menyesal.”
Bima mencoba mengatur ekspresinya.
“Begini?”
“Kurang.”
Klik.
“Ini?”
“Masih kurang.”
Klik.
“Pak, jangan terlihat seperti marah, tapi lebih ke... kasihan.”
Bima menarik napas, lalu mencoba lagi.
Klik.
Empat kali foto diambil.
Ayunda kemudian mendekat, menunjukkan hasilnya.
“Pilih saja, Pak.”
Bima memperhatikan satu per satu foto itu dengan serius, seolah sedang memilih dokumen penting.
Akhirnya ia menunjuk satu.
“Yang ini.”
Ayunda mengangguk, lalu membuka aplikasi pesan.
Tanpa banyak bicara, ia mengirim foto itu ke Aira.
Beberapa detik terasa cukup lama.
Lalu ponselnya berbunyi.
Balasan masuk.
Ayunda membacanya, lalu tiba-tiba tertawa.
Bima langsung menatapnya.
“Apa katanya?”
Ayunda menahan tawanya.
“Aira bilang...”
“Apa?”
“Kenapa bosnya pakai filter seperti itu.”
Bima langsung mengernyit.
“Filter?”
Ayunda menunjukkan layar ponselnya.
Bima melihat foto itu.
Ternyata efek kamera otomatis membuat wajahnya terlihat sedikit lebih halus—ironisnya justru membuat luka-lukanya terlihat aneh.
Ia menggaruk kepalanya.
“Ini bukan filter...”
Ayunda masih tersenyum.
“Tapi lumayan, dia membalas.”
Bima terdiam.
Setidaknya itu berarti Aira masih mau merespons.
“Ayunda,” ucapnya lagi.
“Iya, Pak?”
“Kamu masih mau membantu?”
Ayunda tidak langsung menjawab kali ini.
Ia memandang layar ponselnya, lalu menghela napas.
“Saya ingin Aira kembali,” katanya akhirnya. “Saya ingin bekerja lagi dengannya.”
Bima menatapnya penuh harap.
“Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Pak Bima harus benar-benar menjaganya.”
Nada suaranya tegas.
Bima mengangguk.
“Saya janji.”
Namun begitu kata itu keluar, ekspresinya berubah sedikit.
Janji.
Ia pernah mengucapkan itu sebelumnya.
Dan ia gagal.
Ayunda juga tampaknya menyadarinya.
“Pak,” katanya pelan, “janji itu sudah pernah diucapkan.”
Bima terdiam.
Ia mengepalkan tangannya.
Beberapa detik kemudian, ia seperti mendapat ide.
“Kalau begitu...”
Ayunda menatapnya.
“Saya akan membuat surat pernyataan.”
“Surat?”
“Saya akan tulis secara resmi. Bahwa saya bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan Aira di perusahaan ini.”
Ayunda berpikir sejenak.
“Dan akan saya tanda tangani,” lanjut Bima. “Sebagai direktur.”
Ruangan itu kembali hening.
Ayunda menatapnya cukup lama, mencoba menilai keseriusan pria di depannya.
“Itu... mungkin bisa meyakinkan,” katanya akhirnya.
Bima langsung berdiri.
“Baik.”
Ia berjalan menuju meja kerjanya, menyalakan laptop, lalu mulai mengetik.
Setiap kata ia pikirkan dengan serius. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan.
Beberapa menit berlalu.
Suara ketikan memenuhi ruangan.
Ayunda hanya memperhatikan dalam diam.
Akhirnya, Bima berhenti.
Ia membaca kembali isi surat itu, memastikan tidak ada yang terlewat.
Lalu ia menekan tombol cetak.
Printer di sudut ruangan mulai bekerja.
Kertas keluar perlahan.
Bima mengambilnya, membaca sekali lagi, lalu mengambil pena.
Tanpa ragu, ia menandatangani surat itu.
Tinta hitam itu terasa seperti komitmen yang tidak bisa ditarik kembali.
Ia mengangkat pandangannya ke arah Ayunda.
“Ini bukan sekadar kata-kata lagi.”
Ayunda menatap surat itu.
Kali ini, ia tidak tersenyum.
Namun setidaknya, ada sedikit keyakinan yang mulai muncul di matanya.
“Semoga saja, Pak,” ucapnya pelan.