Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Kereta kuda keluarga Astoria berhenti tepat di depan gerbang utama Istana Heist. Suara derap kaki kuda dan gesekan roda pada jalanan berbatu seolah menjadi pengumuman bagi seluruh bangsawan yang sudah hadir lebih dulu. Hari ini, Istana Heist tampak lebih dijaga ketat dari biasanya, para ksatria berbaju zirah emas berdiri kaku di sepanjang jalur masuk memberikan kesan bahwa rapat darurat yang dipanggil oleh Raja bukanlah sekadar pertemuan formal biasa.
Pintu kereta terbuka. Duke Astoria turun lebih dulu dengan dagu terangkat tinggi memancarkan aura otoritas yang seolah mengatakan bahwa ia belum habis. Namun yang menarik perhatian semua orang adalah sosok gadis yang turun setelahnya.
Lilian Astoria melangkah keluar dengan gaun sutra berwarna biru yang berkilau di bawah sinar matahari. Ia telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memastikan riasannya sempurna, menutupi sisa-sisa kegelisahan yang sempat menghantuinya di rumah. Dengan kipas di tangan dan senyum yang ia buat seanggun mungkin ia berjalan di samping ayahnya dan mengabaikan bisik-bisik tajam yang mulai terdengar di sekelilingnya.
"Lihat itu berani sekali dia menunjukkan wajahnya setelah membuat keributan di depan Raja" bisik seorang Lady dari keluarga Count yang berdiri tak jauh dari sana.
"Kudengar Duke sampai harus memohon agar dia tidak dijebloskan ke penjara. Benar-benar memalukan" sahut yang lain sambil menutupi mulut dengan kipas.
Lilian mendengar itu semua namun ia tetap melangkah dengan angkuh. Di dalam kepalanya ia hanya punya satu fokus yaitu menemukan Pangeran Kaelen. Ia yakin begitu sang Pangeran melihat betapa cantiknya dia hari ini semua kekesalan Pangeran akan luntur.
Sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula besar yang mulai dipadati bangsawan Lilian membatin dengan sinis "Di mana si sialan Elara itu? Dia pasti bersembunyi di suatu sudut istana ini karena takut melihatku kembali berkuasa. Begitu aku melihatnya akan kupastikan dia tahu tempatnya yang sebenarnya adalah di bawah kakiku. Dia pikir hanya karena dia menghilang kemarin aku akan melupakannya? Tidak akan"
Lilian tidak sadar bahwa pencariannya akan sia-sia. Matanya yang liar terus mencari sosok berbaju kasar yang ia benci tanpa tahu bahwa orang yang ia cari sedang berada di sebuah gua tersembunyi
___
Pintu Aula Agung yang berat dan berlapis emas itu tertutup dengan dentuman pelan namun tegas. Lilian hanya bisa berdiri mematung di koridor luar sambil mnatap pintu yang kini dijaga oleh dua ksatria berzirah lengkap. Ia mendengus kesal sembari merapikan gaun birunya yang terasa sia-sia karena sosok yang ingin ia temui yaitu Pangeran Kaelen kini berada di dalam ruangan rapat yang tertutup rapat bagi siapapun yang bukan anggota dewan kerajaan.
"Sial, aku harus menunggu berapa lama lagi?" gumamnya rendah.
Enggan berdiri di koridor yang pengap oleh bisikan sinis para Lady lainnya, Lilian memutuskan untuk berjalan-jalan ke arah taman belakang istana. Taman itu dikenal sebagai Garden of Serenity, tempat yang biasanya hanya boleh dimasuki oleh keluarga inti kerajaan. Beruntung bagi Lilian penjagaan di sana agak longgar karena sebagian besar ksatria dikerahkan untuk mengamankan rapat besar.
Saat ia berbelok di antara barisan bunga mawar putih yang mekar sempurna tiba-tiba langkahnya terhenti. Di tengah taman dekat sebuah air mancur kecil berdiri seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun. Wanita itu mengenakan gaun berwarna lilac pucat dengan bordir perak yang sangat halus. Wajahnya memancarkan ketenangan yang luar biasa saat jemari lenturnya memetik setangkai bunga lili. Di sampingnya seorang pelayan setia memegang keranjang anyaman dengan kepala tertunduk hormat.
Lilian tersentak. Itu adalah Permaisuri Seraphina ibu kandung Pangeran Kaelen.
"Ini dia!" batin Lilian bersorak. Matanya berkilat penuh ambisi "Kalau aku tidak bisa mendekati Pangeran Kaelen di dalam, aku akan mendekati ibunya. Jika Permaisuri sudah memihakku, Raja sekalipun tidak akan bisa menolak menjodohanku dengan Kaelen"
Lilian segera mengatur ekspresi wajahnya. Ia mengubah langkah angkuhnya menjadi langkah gemulai yang penuh tata krama. Ia mendekat perlahan lalu melakukan curtsy yang paling sempurna yang pernah ia pelajari selama hidupnya.
"Semoga Cahaya memberkati kesejahteraan Anda Yang Mulia Permaisuri Seraphina" ucap Lilian dengan suara yang dibuat selembut sutra.
Permaisuri Seraphina menoleh perlahan, sedikit terkejut namun langsung memberikan senyum tipis yang hangat "Ah seorang Lady muda di taman ini? Bangunlah Nak siapa namamu?"
"Saya Lilian putri dari Duke Astoria Yang Mulia" jawab Lilian sambil bangkit menjaga agar matanya tetap menunjukkan binar kekaguman yang dibuat-buat "Saya tidak sengaja lewat dan terpesona oleh keindahan taman ini, namun ternyata kecantikan taman ini bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan kehadiran Anda"
Permaisuri Seraphina terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti denting lonceng kecil "Kau sangat pandai memuji Lilian....Astoria ah aku ingat. Kau adalah saudara dari ksatria muda Cassian yang sekarang patroli di perbatasan bukan?"
"Benar Yang Mulia" Lilian melangkah sedikit lebih dekat berpura-pura membantu Permaisuri mengambil dahan bunga yang sedikit tinggi "Keluarga kami selalu mengabdi dengan setia pada kerajaan. Itulah sebabnya saya merasa sangat sedih jika ada sedikit kesalahpahaman yang mengganggu hubungan baik kita"
Permaisuri Seraphina tetap tersenyum ramah dan matanya yang teduh menatap Lilian dengan seksama "Dunia ini memang penuh dengan kesalahpahaman Nak. Namun hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya kembali"
Mendengar nada bicara Permaisuri yang begitu lembut dan sambutannya yang sangat ramah hati Lilian langsung melambung tinggi. Ia merasa telah berhasil "menaklukkan" sang Permaisuri. Di dalam pikirannya ia sudah menyimpulkan bahwa Permaisuri pasti sangat menyukainya dan melihatnya sebagai calon menantu yang ideal.
"Dia sangat ramah padaku! Tidak seperti Kaelen yang dingin, ibunya benar-benar tahu cara menilai kualitas seorang Lady yang sempurna" batin Lilian dengan rasa bangga yang meluap-luap "Lihat saja, sebentar lagi dia pasti akan memanggilku ke istana setiap hari, dan Kaelen tidak akan punya pilihan selain menikahiku. Aku akan menjadi Ratu Heist selanjutnya dan Elara... ah dia mungkin sudah mati membusuk di suatu tempat sementara aku duduk di takhta ini"
Lilian terus bercengkerama memberikan berbagai sanjungan cerdas tanpa menyadari bahwa mata Permaisuri Seraphina meski tersenyum, sebenarnya sedang membaca setiap gerak-gerik dan ketidaktulusan yang terpancar dari balik topeng cantiknya. Lilian merasa ia sedang berada di atas angin padahal ia sedang menari di atas benang tipis yang sewaktu-waktu bisa putus....
Gimana mblo? udah gregetan belum sama si Liliot? (Lilian oot) kedepannya bakalan lebih oot lagi tenang aja😭😭😭
kayaknya gak bakal pilih dua2nya🤣🤣🤣