Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Bom Waktu di Balik Gelas Sampanye
Suasana aula itu seketika menjadi sunyi saat Elena mengangkat gelasnya.
Cahaya lampu kristal memantul di mata hitamnya yang dingin, menciptakan kilatan yang hampir terlihat seperti ancaman.
Adrian masih terpaku, tangannya yang memegang gelas terasa sedikit kaku.
Ada sesuatu pada diri Elena yang membuatnya merasa terintimidasi sekaligus tertarik secara magnetis.
"Nona Elena benar-benar tahu cara menghidupkan suasana," Siska tertawa renyah, meski hatinya sedikit dongkol karena perhatian semua orang—termasuk Adrian—tercurah sepenuhnya pada wanita asing ini.
"Tapi jangan bahas soal 'berdarah-darah', ini kan malam bahagia!"
Elena hanya tersenyum tipis, lalu menyesap sampanyenya pelan.
"Tentu. Mari kita fokus pada kebahagiaan."
Ia melirik ke arah Paman Han yang berdiri di sudut ruangan dekat meja operator audiovisual. Paman Han memberikan anggukan kecil. Waktunya.
"Adrian, Sayang, ayo tunjukkan video perjalanan cinta kita," rengek Siska manja sambil menarik lengan Adrian.
"Aku sudah menyiapkan kompilasi foto dari awal kita bertemu sampai malam ini."
Adrian mengangguk, mencoba mengusir rasa tidak nyaman di dadanya. "Tentu. Silakan, operasikan videonya."
Lampu aula diredupkan. Perhatian ratusan tamu undangan tertuju pada layar raksasa di belakang panggung.
Musik romantis mulai mengalun.
Slide pertama menampilkan foto Adrian dan Siska di sebuah kafe, tersenyum lebar. Slide kedua menunjukkan mereka di Paris.
Elena berdiri di barisan depan, melipat tangan di dada dengan tenang.
Tiba-tiba, musik romantis itu berubah menjadi suara statis yang berisik.
Srak! Srak! Layar mendadak hitam, sebelum kemudian menampilkan sebuah dokumen pindaian yang sangat jelas.
Itu bukan foto romantis. Itu adalah. Laporan Audit Internal Adiguna Grup Tahun 2024
"Apa ini?" gumam Adrian, matanya membelalak.
Slide berganti. Kali ini muncul rekaman suara yang diputar melalui sound system berkekuatan ribuan watt.
"...Tenang saja, Adrian. Alana tidak akan curiga. Aku sudah memasukkan obat tidur ke minumannya.
Besok pagi, foto-fotonya dengan pria bayaran itu akan tersebar, dan kau punya alasan kuat untuk menceraikannya tanpa memberikan sepeser pun harta gono-gini."
Itu suara Siska. Sangat jernih. Sangat nyata.
Suasana aula mendadak riuh. Para tamu mulai berbisik-bisik, beberapa bahkan terang-terangan mengambil ponsel untuk merekam kejadian tersebut.
Wajah Siska berubah pucat pasi, lebih putih daripada bedak mahal yang ia kenakan.
"Dan bagaimana dengan dana proyek itu?" suara Adrian di dalam rekaman menyahut.
"Sudah kupindahkan ke rekening pribadiku atas nama Alana. Dia yang akan dipenjara, kita yang menikmati uangnya. Adil, kan?"
"MATIKAN! MATIKAN SEKARANG!" teriak Adrian, suaranya pecah karena panik.
Ia menerjang ke arah meja operator, namun Paman Han sudah menghilang dari sana, meninggalkan sistem yang sudah terkunci oleh virus tingkat tinggi.
Layar kembali berganti, menampilkan foto-foto Alana—wajah lama Elena—saat ia tergeletak berdarah di pinggir jalan tol sebelum jatuh ke jurang.
Di bawah foto itu tertulis kalimat besar:
APAKAH DARAH BISA DIBERSIHKAN DENGAN BERLIAN?
"Ini fitnah! Ini editan AI!" teriak Siska sambil menunjuk-nunjuk layar dengan jari gemetar. "Adrian, lakukan sesuatu! Ini ulah orang yang ingin menjatuhkan kita!"
Namun Adrian tidak mendengarkan. Ia menatap layar itu dengan tubuh bergetar. Kenangan tentang malam itu kembali menghantamnya.
Ia memang ingin menyingkirkan Alana, tapi ia tidak pernah menyangka Alana akan benar-benar mati malam itu. Ia pikir Alana hanya akan pergi jauh dan menderita dalam kemiskinan.
"Siapa yang melakukan ini?!" Adrian berbalik, matanya liar mencari pelakunya.
Tepat saat itu, pandangannya bertemu dengan Elena. Wanita itu masih berdiri di tempat yang sama, memegang gelas sampanye dengan tenang di tengah kekacauan.
Ia tidak tampak terkejut. Ia justru tampak... puas.
"Nona Elena... Anda tahu sesuatu tentang ini?" tanya Adrian dengan suara rendah, hampir seperti bisikan putus asa.
Elena berjalan mendekat, langkah hak tingginya menggema di lantai aula yang kini sunyi karena semua orang menunggu reaksinya.
"Tuan Adrian, aku baru saja datang dari Singapura untuk berinvestasi. Tapi melihat ini..." Elena menunjuk layar dengan dagunya.
"Sepertinya aku harus berpikir dua kali untuk menanamkan modal di perusahaan yang dibangun di atas kebohongan dan darah seorang wanita."
"Ini jebakan, Nona! Saya bisa jelaskan!" Adrian mencoba meraih tangan Elena, tapi Elena mundur dengan anggun.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang kotor, Tuan Adiguna," ucap Elena dingin.
Auranya berubah seketika, dari wanita asing yang menawan menjadi sosok yang penuh otoritas dan kebencian yang terpendam.
Siska, yang merasa posisinya terancam, maju dan mencoba menyerang Elena secara verbal.
"Kau! Pasti kau yang meretas sistem ini! Kau sengaja datang ke sini untuk merusak pertunanganku, kan?! Siapa kau sebenarnya?!"
Elena menatap Siska dengan tatapan merendahkan. Ia mendekat ke telinga Siska, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh wanita itu.
"Tidakkah kau mengenali suaraku, Siska? Bukankah kau yang dulu bilang kita adalah sahabat sejati?"
Siska tersentak. Pupil matanya melebar. Suara itu... meskipun nada bicaranya berbeda, namun intonasi dan cara Elena menekankan kata 'sahabat' persis seperti Alana.
"Tidak... tidak mungkin... kau sudah mati..." gumam Siska, kakinya lemas hingga ia terduduk di lantai.
Pesta itu berakhir menjadi bencana nasional. Dalam hitungan menit, berita tentang skandal keluarga Adiguna meledak di media sosial.
Para investor yang hadir mulai menelepon asisten mereka untuk menarik saham, sementara wartawan yang entah bagaimana sudah menunggu di luar gerbang mulai merangsek masuk.
Elena berjalan keluar dari aula melewati kerumunan orang yang panik. Ia tidak menoleh sedikit pun ke belakang.
Paman Han sudah menunggu di depan mobil Rolls-Royce yang mesinnya sudah menyala.
"Babak pertama selesai, Nona," ujar Paman Han sambil membukakan pintu.
"Ini baru pemanasan, Paman," jawab Elena sambil melepas anting berliannya dan melemparnya ke kursi mobil.
"Rekaman suara itu hanya untuk merusak reputasi sosial mereka. Aku ingin mereka kehilangan hal yang paling mereka cintai setelah ini: Kekuasaan."
Di dalam mobil, Elena menyalakan tabletnya. Ia melihat siaran langsung berita keuangan.
Saham Adiguna Group terjun bebas hingga 20% hanya dalam satu jam setelah video itu bocor.
"Paman, hubungi firma hukum yang kita sewa. Suruh mereka mengajukan tuntutan atas nama 'pihak ketiga' terkait penggelapan dana proyek yang dulu dituduhkan pada Alana. Gunakan bukti asli yang kita ambil dari brankas rahasia Adrian."
"Baik, Nona. Lalu bagaimana dengan Adrian? Dia sepertinya mulai curiga dengan identitas Anda."
Elena menyandarkan kepalanya, menatap lampu-lampu jalanan yang berkelebat.
"Biarkan dia curiga. Biarkan dia terobsesi mencaritahu siapa aku. Semakin dia mendekat, semakin mudah bagiku untuk menghancurkannya dari dalam."
Ia mengambil sebuah amplop cokelat dari kursi sampingnya. Di dalamnya ada foto Adrian yang sedang tampak frustasi di dalam aula tadi.
Elena mengambil korek api perak, menyulut ujung foto itu, dan memperhatikannya terbakar hingga menjadi abu.
"Adrian, kau mencintai uang dan statusmu lebih dari apa pun. Mari kita lihat, apa kau masih bisa mencintai dirimu sendiri saat kau menjadi gelandangan di jalanan yang sama tempat kau membuangku dulu."
Tiba-tiba ponsel Elena bergetar. Sebuah nomor tak dikenal masuk. Elena mengangkatnya.
"Halo?"
"Siapa kau sebenarnya?" suara di ujung telepon itu parau. Itu suara Adrian.
"Kau bukan sekadar investor. Wajahmu... matamu... kau siapa?!"
Elena tersenyum, sebuah senyum yang sangat manis namun mematikan.
"Aku adalah masa lalumu yang lupa kau kubur dengan cukup dalam, Adrian. Selamat malam. Tidurlah yang nyenyak... selagi kau masih punya tempat tidur."
Elena mematikan ponselnya, mencabut kartu SIM-nya, dan mematahkannya menjadi dua.
Ia menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan malam Jakarta, merasa untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia bisa bernapas dengan lega.
Namun, ia tahu ini baru permulaan.
Masih ada keluarga besar Adiguna yang harus ia hadapi, dan masih ada rahasia tentang kecelakaannya yang ternyata melibatkan orang yang lebih besar dari sekadar Adrian dan Siska.
Permainan ini baru saja naik ke level berikutnya.
Bersambung...
Ayo buruan baca...