Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Gagal Interview
"Maaf, Mbak Aluna. Pintu ruangan HRD sudah dikunci dari dalam. Nama Mbak juga sudah dicoret merah di daftar hadir."
Kalimat itu meluncur mulus dari bibir resepsionis bergincu merah menyala, terdengar seperti vonis hukuman mati di telinga Aluna. Gadis itu mencengkram pinggiran meja resepsionis dengan putus asa, napasnya masih memburu habis lari maraton dari parkiran sebelah.
"Tolonglah, Mbak," mohon Aluna dengan wajah memelas. "Saya cuma telat lima belas menit. Itu juga karena musibah. Ada orang kaya gila yang nabrak motor saya di parkiran sebelah. Sumpah, Mbak. Motor saya sampai penyok. Kasih saya kesempatan ketuk pintu HRD sebentar saja."
Resepsionis itu menatap Aluna dari ujung rambut yang sedikit berantakan sampai ujung sepatu pantofel yang berdebu. Tatapannya penuh penilaian dan sedikit jijik.
"Alasan klasik," cibir resepsionis itu sambil kembali menatap layar komputernya. "Perusahaan ini butuh karyawan yang disiplin, bukan yang penuh drama. Silakan tinggalkan lobi sebelum saya panggil sekuriti."
Aluna menganga. "Mbak ngusir saya? Saya ini calon aset perusahaan lho!"
"Mbak itu calon pengangguran," koreksi resepsionis itu pedas. "Silakan keluar."
Dada Aluna sesak. Emosi, lelah, dan rasa lapar bercampur jadi satu. Ingin rasanya dia menjambak rambut sasak tinggi resepsionis itu, tapi dia sadar itu hanya akan membuatnya masuk penjara, bukan masuk kerja.
Dengan langkah gontai, Aluna membalikkan badan. Dia menyeret kakinya keluar dari gedung perkantoran mewah itu. Udara panas Jakarta langsung menampar wajahnya begitu pintu otomatis terbuka.
Aluna duduk di pinggiran pot beton besar di trotoar. Dia menunduk, menatap ujung sepatunya yang solnya mulai menipis.
"Sialan," umpat Aluna lirih. "Sialan si Elvano. Sialan adiknya yang manja. Sialan spion gocap. Gara-gara drama receh di parkiran, gue kehilangan kesempatan gaji UMR."
Ponsel di saku kemejanya bergetar. Aluna merogohnya malas. Pesan masuk dari ibu kos.
Neng Aluna, uang kos bulan ini gimana? Kalau lusa belum bayar, barang-barangnya Ibu taruh di teras ya. Udah ada yang mau masuk kamar Neng.
Aluna memijat pelipisnya yang berdenyut. Dua hari. Dia cuma punya waktu dua hari sebelum jadi gelandangan. Saldo di ATM-nya tinggal cukup buat makan mie instan seminggu. Kalau dia pulang sekarang, dia tidak membawa kabar baik apa-apa.
"Gue harus dapet duit. Apapun caranya, asal halal," gumam Aluna, mendongakkan kepala menatap langit yang silau.
Saat itulah matanya menangkap sesuatu.
Tepat di seberang jalan, menjulang gedung pencakar langit paling megah di kawasan itu. Gedung dengan kaca-kaca biru gelap yang memantulkan awan. Di bagian atas gedung, tertulis huruf besar berwarna emas: DIWANTARA TOWER.
Itu gedung si CEO pelit tadi. Kandang singa.
Aluna mendengus benci. Tapi kemudian, pandangannya turun ke sebuah layar videotron raksasa yang menempel di dinding lobi gedung itu. Layar itu sedang menampilkan teks berjalan dengan warna merah mencolok.
LOWONGAN PEKERJAAN - MENDESAK (URGENT)
Aluna menyipitkan mata, mencoba membaca tulisan yang bergerak itu di bawah terik matahari.
DIBUTUHKAN SEGERA: STAF AUDIT INTERNAL KHUSUS (PENGELUARAN NON-BISNIS).
Aluna menegakkan punggungnya. Posisi apa itu? Audit Internal biasanya mengurus keuangan perusahaan, kenapa ada embel-embel "Non-Bisnis"?
Teks di layar berganti, menampilkan deskripsi kriteria pelamar. Tidak ada poin-poin kaku seperti lowongan biasa. Kalimatnya justru terdengar aneh dan spesifik.
Dicari seseorang yang memiliki ketelitian tingkat tinggi terhadap angka, berani berkata 'TIDAK' pada siapapun, memiliki mental baja, tidak mudah disuap, dan sanggup menghadapi tekanan emosional yang tidak wajar. Pengalaman tidak diutamakan, yang penting nyali.
Aluna melongo. "Ini lowongan kerja atau lowongan debus? Kok syaratnya nyali?"
Tapi otak Aluna yang sedang kepepet langsung bekerja.
Berani berkata tidak? Dia jagonya. Tadi saja dia berani mendebat CEO soal spion.
Mental baja? Hidup miskin di Jakarta sudah melatih mentalnya sekeras beton.
Tidak mudah disuap? Dia baru saja menolak "damai" tanpa ganti rugi dari Elora.
Dan yang paling penting, di bagian bawah layar tertulis: GAJI MENARIK + BONUS HARIAN.
Kata "Bonus Harian" bersinar terang di mata Aluna mengalahkan sinar matahari.
"Diwantara..." desis Aluna. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan kartu nama emas yang tadi dilempar Elvano. Kartu itu sudah lecek karena dia remas dengan penuh dendam.
Elvano menyuruhnya datang ke lantai 50 untuk ambil uang 35 ribu.
"Oke, Pak Elvano," gumam Aluna, sebuah senyum nekat perlahan terbit di bibirnya. "Kamu nyuruh saya datang buat ambil recehan, kan? Saya bakal datang. Tapi saya nggak bakal pulang cuma bawa uang receh. Saya bakal pulang bawa kontrak kerja."
Aluna berdiri tegak. Dia menepuk-nepuk kemeja putihnya yang kusut di bagian lengan. Ada noda hitam sedikit di siku bekas menyenggol ban mobil Elora tadi. Rambutnya juga lepek karena keringat dan helm. Penampilannya jauh dari kata rapi ala wanita karir SCBD.
Tapi Aluna tidak peduli. Rasa lapar dan ancaman diusir ibu kos jauh lebih menakutkan daripada rasa malu.
Dia menyeberang jalan dengan langkah lebar, mengabaikan klakson motor yang lewat. Matanya terkunci lurus ke pintu putar lobi Diwantara Tower.
"Bismillah, demi bayar kosan," bisik Aluna memantapkan hati.
Dia mendorong pintu kaca lobi yang berat itu. Hembusan AC yang super dingin langsung menyambutnya, kontras dengan panas di luar. Lantai lobi itu terbuat dari marmer Italia yang mengilap, begitu bersih sampai Aluna merasa sepatunya yang berdebu mengotori kesucian tempat itu.
Orang-orang yang berlalu-lalang di sana berpakaian necis. Pria dengan jas licin, wanita dengan blazer mahal dan sepatu hak tinggi. Wangi parfum mahal menguar di udara.
Saat Aluna melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung menoleh padanya. Tatapan mereka heran, menilai penampilan Aluna yang "bukan dari golongan mereka".
Sekuriti di dekat pintu bahkan sudah bersiap melangkah maju, mungkin mengira Aluna pengantar paket nyasar atau orang yang mau minta sumbangan.
Aluna mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Dia tidak akan mundur. Dia berjalan lurus melewati tatapan-tatapan itu menuju meja resepsionis utama yang jauh lebih megah dari gedung sebelah.
Ini bukan sekadar melamar kerja. Ini adalah invasi. Dan Aluna siap berperang.
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥