Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilanbelas
“Iya, adik bergerak-gerak di perut Ibu.” Zhao mengangguk tersenyum senang.
Ziang terdiam, dia bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia berharap anak itu adalah anaknya, tapi dia baru melakukan satu kali sebelum pergi dan sudah empat bulan berlalu kenapa Jessy baru ketahuan hamil? bukankah orang hamil itu memiliki pertanda mual atau semacamnya?.
“Kenapa Ayah terlihat tidak senang? padahal Ibu sangat merindukan Ayah loh.” Heren Zhao.
“Hmm? benarkah?.” Ziang masih seperti orang linglung.
“Ibu bilang adik akan lahir empat bulan lagi, jadi kita harus pulang sebelum adik lahir.” Ucap Zhao tersenyum ceria.
Deg.
“Empat bulan lagi?.” Ziang langsung menghitung bulan.
Ziang tiba-tiba tersenyum senang tapi kemudian murung lagi. Dia baru pergi empat bulan tapi istrinya sudah hamil lima bulan, padahal mereka baru melakukan itu empat bulan yang lalu.
Ziang tidak mengerti soal hpht atau bagaimana cara menghitung usia kehamilan. Ziang kembali teringat dengan ucapan Jessy dulu, dia bilang suka menaklukan burung dan memiliki mantan kekasih lebih dari 100 orang, apa anak itu anak dari mantan kekasih Jessy? apa saat menikah Jessy sudah hamil?.
Saat merasa terpukul Ziang tiba-tiba ingat dengan noda darah saat malam pertamanya. Memang di malam itu Jessy yang memimpin permainan, tapi tetap saja dia yang menjebol gawang nya dengan susah payah.
“Anak itu pasti anakku kan? malam itu Jessy masih seorang gadis. Dia hanya berbohong untuk membuatku cemburu, iya kan? atau dia berdarah karena milikku terlalu besar?.” Batin Ziang bermuram durja.
“Apa yang Ayah pikirkan?.” Heran Zhao melihat ekspresi lemas Ziang.
“Bukan apa-apa, tidurlah kita akan pulang besok pagi.” Ziang bicara dengan lesu.
Dia harus bertanya langsung pada Jessy, dia masih berharap besar jika anak itu adalah anaknya. Dia berharap bisa memiliki anak, meskipun Zhao juga anaknya tapi dia juga ingin memiliki anak kandung.
“Ayah, apa Ayah tidak senang pada adik?.” Ucap Zhao dari tempat tidur.
“Tentu saja Ayah senang.” Jawab Ziang.
“Tapi kenapa wajah Ayah seperti banyak pikiran?.” Jujur Zhao.
“Ayah sedang syok, perlu waktu untuk menenangkan diri.” Ucap Ziang.
Zhao tidak menjawab lagi ternyata dia ketiduran. Ziang hanya menggeleng merasa lucu, pikirannya berkecamuk membuat kepalanya berdenyut sakit.
Pagi hari bahkan sebelum matahari terbit, Ziang dan Zhao sudah bersiap untuk pergi dari istana. Mereka akan pulang ke rumah mereka yang sebenarnya, pesangon dan banyak barang hadiah permintaan maaf sudah mereka dapatkan.
Dan kini Pangeran kecil Ruan sedang menghadang mereka dengan baju tidur. Jelas sekali anak itu berlari setelah bangun tidur, Zhao merasa anak itu menggemaskan.
“Tuan pendekar, apa anda akan pergi? jika kakak mengusirmu maka jadi lah pengawalku saja.” Ucap Ruan Seng.
“Tugas saya sudah selesai dan saya harus kembali karena keluarga saya membutuhkan saya. Oh perkenalkan dia adalah anak pertama saya, dia datang untuk menjemput saya pulang.” Ucap Ziang dengan sopan.
“Nama ku Wu Zhaolong, terimakasih karena sudah baik pada Ayahku.” Ucap Zhao sok dewasa.
“Namaku Ruan Seng, datanglah lagi.” Ruan Seng merasa sedih.
“Pangeran jangan bersedih, saya yakin anda akan menjadi pangeran yang hebat di masadepan. Jadi lah pangeran yang jujur, tidak perlu menjadi orang baik tapi jadi lah orang jujur.” Ucap Ziang memberikan nasihat.
“Aku akan mengingat nasihatmu Tuan pendekar.” Ruan Seng mengangguk semangat.
“Kalau begitu kami pamitt, terimakasih banyak atas bantuan anda.” Ziang membungkuk sopan.
“T-tunggu, aku membawa hadiah.” Tangan mungil Ruan Seng mengulurkan sebuah kotak kayu.
“Saya akan menerima dan menyimpan ini dengan baik, terimakasih banyak.” Ziang menerima hadiahnya.
“Hati-hati di jalan, datanglah lagi untuk bermain dengan ku.” Ucap Ruan Seng ceria.
Ziang dan Zhao akhirnya pergi naik kereta kuda, selama perjalanan mereka diam saja dan fokus untuk kembali ke rumah. Pikiran Ziang sedang berkecamuk, sedangkan Zhao merasa bosan karena Ayahnya diam terus menerus.
“Ayah aku sangat bosan jika terus diam.” Keluh Zhao saat mereka naik ke kapal, bersiap untuk berlayar ke kampung halaman mereka.
“Maaf, Ayah ingin segera sampai ke rumah dan bertemu Ibu mu. Pikiran Ayah sedang tidak fokus, apa kau ingin sesuatu?.” Kantung mata Ziang terlihat lelah, dia tidak tidur dan terus kepikiran Jessy.
“Aku sudah berjanji akan membawa oleh-oleh untuk adik.” Ujar Zhao.
“Kalau begitu ayo turun ke pasar, masih ada 30 menit sebelum kapal berlayar.” Ucap Ziang.
Zhao ditemani Ziang cepaat turun ke pasar, Zhao membeli mainan dan pakaian bayi. Ziang ikut memilih, bahkan dia merasa gelisah saat melihat pakaian bayi. Dia sangat berharap bayi itu adalah anaknya, dia sangat berharap.
Selesai membeli oleh-oleh mereka kembali ke kapal, kemudian berlayar sekitar 1 hari 1 malam hingga sampai ke dermaga kampung meereka di perbatasan. Sampai di dermaga, mereka berjalan dengan cepat untuk mencari kereta kuda sewaan.
Mereka akan kembali ke rumah, semakin dekat jantung Ziang berdetak semakin tidak karuan. Dia merindukan istrinya, dia sangat merindukan istrinya yang cerewet itu. Tapi dia tidak sanggup untuk mendengar kabar yang akan dirinya terima.
klutak
klutak
Kereta kuda sudah mulai memasuki jalan setapak hutan menuju rumah mereka, dari kejauhan Ziang mengerutkan kening karena melihat ada rumah megah dan besar di tempat yang awalnya rumah mereka.
“Rumah siapa itu?.” Heran Ziang, berpikir Jessy menjual rumah saat dia sedang merantau.
“Itu rumah kita.” Jawab Zhao tersenyum.
“Apa?.” Syok Ziang.
“Ocong bisa membuat banyak hal dalam semalam.” Bisik Zhao pada Ziang.
Lagi-lagi mendengar nama Ocong, Ziang benar-benar tidak senang dan cemburu. Awas saja, setelah bertemu Ziang akan memberikan salam olahraga padanya.
Kereta kuda sudah sampai, Zhao dan Ziang turun lalu membayar ongkos pada kusir. Zhao membuka gerbang dan berteriak nyaring memanggil Jessy.
“IBUUUU AKU PULAAANGGG.” Teriak Zhao.
Ziang melangkah masuk ke pekarangan rumah baru nya dengan asing, terasa sangat megah sekali. Model bangunan yang asing tapi kokoh, Ziang merasa tersesat.
“Zhao, kau sudah kembali?.” Suara lemah dan lembut terdengar, Jessy datang di papah oleh Ocong.
Ziang mematung rasanya ingin pingsan karena sudah terkejut berkali-kali sejak kemarin. Di depannya ada wanita yang sangat cantik seperti bidadari, tapi Ziang tau jika itu adalah istrinya Jessy Pitarossa. Tapi kenapa harus di papah oleh pria cantik dan terlihat sangat dekat? Ziang cemburu.
Ziang menatap perut Jessy yang masih rata, tapi wajah Jessy pucat dan lelah. Ziang tidak tahu harus bagaimana, pikirannya campur aduk sampai membuatnya vertigo.
Jessy mematung saat tatapan matanya bertemu dengan Ziang. Dia melepaskan tangan Ocong dan berlari cepat ke arah Ziang, entah bawaan bayi atau memang sangat rindu. Jessy merasa sangat bahagia sampai menangis saat melihat Ziang berada di depan matanya.
Greb
Jessy memeluk Ziang sangat erat, Ziang masih mematung dan memproses apa yang terjadi. Meskipun masih ada banyak pikiran di kepalanya, dia tetap membalas pelukan Jessy dengan erat dia merasa sangat merindukan pelukan itu.
“Akhirnya kau ingat pulang.” Jessy terisak.
“Aku pulang istriku, jangan menangis.” Ziang mendekap Jessy dengan erat, mengecup ubun-ubun kepala Jessy dengan penuh perasaan.
Jessy mengajak Zhao masuk ke rumah utama, Zhao sudah kembali ke kamarnya sedangkan Ocong pergi ke pabrik. Ziang mesih terdiam saat Jessy terus minta di peluk dan tidak mau lepas walau sedetik saja.
“Kau merindukanku?.” Ziang terkekeh.
“Ya, aku sangat merindukan mu.” Jawab Jessy.
“Lalu kenapa tidak membalas surat? apa kau melupakanku karena sudah ditemani pria lain?.” Sindir Ziang.
“Maksudmu Ocong? diaa ular pesuruhku.” Jawab Jessy.
“Aku sudah tau.” Ujar Ziang.
“Aku tidak membalas surat karena malas, aku ingin kau yang datang bukan surat. Tapi aku membaca dan menyimpan semua surat pemberian mu.” Jessy menujuk ke arah meja yang berisi tumpukan kertas.
Ziang tersenyum, dengan perlahan telapak tangannya turun dan mengelus perut Jessy. Dia ingin menangis rasanya, dia sangat berharap anak ini adalah darah daging nya.
“Kau sudah tau? pasti Zhao yang memberitahu ya? anak itu benar-benar, apa kau tau dia izin ingin pergi jalan-jalan mencari pengalaman. Aku pikir dia akan berkelana seperti pendekar, tapi ternyata dia menyusulmu ke kota? untung saja dia tidak tersesat. Benar-benar anak yang tidak mengenal takut, selalu saja membuatku khawatir.” Jessy mengomel, Ziang tersenyum mendengar omelan yang sangat dia rindukan.
“Aku tidak tahu apakah Zhao salah memberikan informasi, dia mengatakan kau akan melahirkan empat bulan lagi. Bukankah seharusnya lima bulan lagi jika di hitung dari hari dimana kita membuatnya?.” Ziang bertanya dengan tenang, tidak ingin menyinggung atau menyudutkan Jessy.
“Hahahahaha tadinya aku juga berpikir tabib salah menghitung usia kandungan. Tapi ternyata kehamilan itu di hitung dari hari terakhir datang bulan, jadi aku terakhir datang bulan itu dua minggu sebelum kita melakukan malam pertama. Makanya usia kandungan ku saat ini sudah 4 bulan 2 minggu aku bulatkan saja jadi 5 bulan.” Ujar Jessy.
“Ah seperti itu ya rupanya.” Ziang langsung tersenyum cerah dan bahagia, pikiran yang tadinya memenuhi kepalanya langsung sirna seketika.
“Dia sudah mulai bergerak.” Ucap Jessy memberitahu.
Ziang berjongkok, menempelkan tangan dan pipinya pada perut Jessy yang mesih kecil. Benar saja ada yang bergerak dengan brutal di dalam sana, Ziang tertawa dan meneteskan air mata haru. Ternyata dia masih memiliki kesempatan untuk memiliki anak di saat semua harapan pupus karena kutukan miliknya.
“Kau senang?.” Jessy sadar jika Ziang menangis.
“Ya, terimakasih Istriku.” Ziang memeluk Jessy merasa sangat bahagia.
“Meskipun kita akan memiliki anak kandung, jangan pernah membedakannya dengan Zhao. Apa kau tau jika Zhao tidak mau menambah umurnya? sekarang dia tetap ingin selamanya berusia 14 tahun.” Ucap Jessy.
“Ya, aku tahu. Mungkin dia enggan tumbuh lebih cepat, aku tidak masalah.” Ucap Ziang.
“Kau akan menyayangi mereka sama rata kan? aku tidak suka jika kau pilih kasih.” Tegas Jessy.
“Ya, aku akan belajar menjadi Ayah yang baik.” Ziang juga korban pilih kasih dari Ayahnya, jadi dia tidak akan pernah mengikuti jejak itu.
“Anak-anakku harus selalu bahagia, mereka tidak akan pernah kekurangan apapun. Tidak akan merasakan rasa sakit yang aku rasakan, aku bersumpah untuk itu.” Ucap Ziang.
“Terimakasih.” Jessy tersenyum.
Ziang menatap Jessy yang sangat cantik, Jessy melihat wajah lelah suaminya yang tampan. Dengan lembut mengajak Ziang berbaring untuk istitahat setelah perjalanan jauh.
“Semua uang yang kau kirimkan setiap bulan sudah aku simpan dengan baik. Gunakan itu untuk membentuk pasukan rahasia milik kita, kau pasti berpengalaman membuat guild kan? itu akan sangat membantu balas dendam mu.”Ucap Jessy.
“Tapi aku mengirimkan uang itu untukmu, apa kau tidak mau menggunakan uang pemberianku?.” Ziang merasa sedih.
“Baiklah kalau begitu aku akan menghabiskan semua uang pemberian mu. Sebagai gantinya kau minta lah pada Ocong segala yang kau perlukan, setelah ini tetaplah di sisi ku dan jangan pernah berpikir untuk pergi lagi.” Ucap Jessy.
“Baiklah, terimakasih.” Ziang mengangguk.
Ziang dan Jessy tidur siang untuk memulihkan tenaga, mereka saling memeluk untuk melepas rindu setelah sekian lama. Jessy jadi semangat lagi setelah sekian lama loyo dan malas melakukan apapun, ternyata bayinya hanya semangat jika Ayahnya pulang.
Sore hari nya Ziang sedang berjalan sendirian mengintari rumah, melewati lorong demi lorong untuk menghafal jalan di rumahnya sendiri. Berpapasan dengan pelayan yang terlihat bingung saat melihatnya, tapi Ziang tidak peduli dan tetap berjalan dengan santai.
“Ayah!!.” Ziang keluar dari kamarnya dan mengejar Ziang.
“Oh jadi kamarmu di bangunan itu.” Ziang menghafalkan.
“Iya, biar aku yang memandu Ayah berkeliling. Aku sudah sangat hafal karena berkali-kali memutari rumah karena bosan.” Ucap Zhao.
“Baiklah.” Ziang mengangguk.
Mereka berkeliling dengan ceria dengan Zhao yang sangat excited karena teman nya sudah pulang. Dia tidak akan kesepian dan sendirian lagi, Zhao telah menemukan dunia nya lagi.
“Nah dari pintu ini kita akan pergi ke pabrik milik Ibu, aku suka datang untuk mengambil beberapa sosis untuk dimakan sambil bermain Ayunan. Kadang Ibu marah jika aku makan terlalu banyak, Ibu bilang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.” Ucap Zhao.
“Itu benar, tapi sosis itu apa?.” Bingung Ziang.
“Mirip seperti daging giling, sulit menjelaskan nya nanti Ayah cicipi saja.” Ujar Zhao.
“Jadi kalian sudah tidak menjual sup usus lagi?.” Tanya Ziang.
“Masih, tapi Ibu membayar orang untuk menggantikannya. Ibu tetap menerima uang setoran setiap bulannya, intinya sekarang Ibu tidak perlu kelelahan karena bangun pagi dan berdagang.” Jawab Zhao.
“Syukurlah.“ Ziang tersenyum lega.
Sampai di pabrik terdengar suara penggilingan daging, Ziang merasa sangat penasaran sekali. Zhao tersenyum melihat Ayahnya yang terlihat penasaran.
“Tapi kita hanya boleh masuk ke pintu 9 dan 10 saja.” Ucap Zhao.
“Kenapa?.” Heran Ziang.
“Karena pintu 1 sampai 8 itu ruangan pembuatan sosis yang harus bersih dan tertutup. Jika ingin masuk harus melapisi diri menggunakan pakaian aneh, bau nya juga tidak enak karena penuh daging dan keju. Intinya lebih baik masuk ke ruang 9 dan 10 karena di sana sosis sedang di bungkus untuk siap di pasarkan.” Ucap Zhao.
“Kemana saja kalian menjual makanan ini?.” Tanya Zhao semakin penasaran.
“Ibu bilang baru akan mulai dijual minggu depan, pembuatan sosis hari ini untuk amal. Di bagikan ke panti asuhan, kuil dan tempat-tempat yang mengalami kesulitan makanan.” Ucap Zhao.
“Amal?.” Ziang terkesima dengan kebaikan hati Jessy.
“Ya, ibu bilang selain untuk mengenalkan rasa dan promosi. Bersedekah di hari pertama sebelum mulai berdagang itu membawa keberkahan dan nasib baik, kita akan menuai apa yang kita tanam. Jadi lebih baik kita menanamkan hal-hal yang baik untuk kebaikan kita di masadepan.” Zhao mengingat nasihat Jessy dengan sangat baik.
Ziang tersenyum merasa bangga, istrinya benar-benar memiliki pemikiran yang pintar dan bijaksana. Ziang mengelus rambut Zhao sebagai bentuk rasa bangga dan apresiasi, Zhao senang menerima elusan itu.
“Terus ingat semua nasihat Ibumu, dengan begitu kau tidak akan tersesat.” Ucap Ziang.
“Ya Ayah.” Zhao mengangguk.