NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ethan

Pagi itu, Cassie melangkah keluar dari unit 304 dengan sangat waspada. Ia menempelkan telinganya ke pintu Unit 305 sejenak. Hening. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada gumaman  yang mengancam. Ia segera melesat menuju lift, turun ke lobi, dan hampir berlari melewati gerbang.

​Aman.

​Tidak ada Liam yang bersandar di pilar. Tidak ada aroma tembakau yang menyesakkan. Tidak ada tatapan tajam yang membuat bulu kuduknya berdiri.

​Hari itu, Cassie menjalankan rutinitasnya dengan perasaan lega yang aneh. Di kafe, ia bisa bekerja tanpa harus merasa diawasi dari sudut ruangan. Di perpustakaan, ia bisa fokus pada jurnalnya tanpa perlu melirik ke arah rak kriminologi. Bahkan saat ia membeli sup dan roti di kedai yang sama sebelum pulang, Liam tidak terlihat.

​Namun, di tengah perjalanan pulang yang seharusnya tenang, ada sesuatu yang mengusik benak Cassie. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

​Ia mendapati dirinya terus-menerus menoleh ke arah pintu kafe setiap kali lonceng berbunyi. Di perpustakaan, ia tanpa sadar berjalan melewati lorong rak tempat Liam berdiri kemarin, hanya untuk mendapati lorong itu kosong. Saat turun dari bus, matanya menyapu halte yang sepi, mencari sosok tinggi dengan jaket hitam yang biasanya mengagetkannya.

​"Kenapa aku jadi begini?" gumam Cassie pada dirinya sendiri. Ia merasa konyol. Harusnya ia senang karena "teror" itu berakhir, tapi rasa aman ini justru terasa asing.

​Keheningan ini malah membuatnya bertanya-tanya. Apa dia sudah bosan menggangguku? Atau... apa dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar?

​Setibanya di depan lobi Raven's Gate, Cassie berhenti sejenak. Ia menatap pilar beton yang kosong. Ada perasaan kosong yang tidak seharusnya ada di sana. Paranoia yang seharian ini ia pelihara justru berubah menjadi rasa penasaran yang berbahaya. Tanpa ia sadari, kehadirannya yang konstan kemarin telah menciptakan sebuah pola dalam otaknya, dan sekarang pola itu hilang.

​Cassie masuk ke lift sendirian. Kali ini tidak ada cerita hantu, tidak ada godaan mesum. Hanya suara mesin lift yang berderit tua.

​Sesampainya di lantai tiga, ia menatap pintu Unit 305. Masih gelap. Tidak ada cahaya dari bawah celah pintunya. Cassie masuk ke kamarnya, mengunci pintu, tapi kali ini ia tidak langsung bersembunyi di balik selimut.

​Ia duduk di meja belajarnya, menatap dinding yang berbatasan dengan kamar Liam. Ia menunggu. Menunggu suara langkah kaki, suara denting kunci, atau gumaman telepon itu lagi. Menit demi menit berlalu dalam keheningan yang memekakkan telinga.

Hari pertama berlalu.

Hari kedua… sama.

Hari ketiga… bahkan lebih sunyi. Cassie tidak mendengar satu pun suara dari balik dinding unit 305. Tidak ada langkah sepatu. Tidak ada shower. Tidak ada percakapan telepon.

Unit itu terasa seperti ruangan yang ditinggalkan begitu saja, meninggalkan gema yang perlahan memudar.

Dan entah kenapa… keheningan itu terasa lebih mengganggu daripada kehadiran Liam sendiri.

***

Hari ketiga sore, Cassie berjalan menuju perpustakaan seperti biasa. Ia menunduk sambil membaca catatan di ponselnya ketika tiba-tiba—

KLAKSON!

sebuah mobil SUV perak yang bersih berhenti di depannya. Kaca jendela turun, menampakkan wajah yang membuat Cassie seketika merasa hangat.

​"Cassie? Sedang jalan-jalan?"

​Itu Ethan. Tanpa seragam polisinya, Ethan terlihat seperti model katalog musim dingin. Ia mengenakan turtleneck hitam dan jaket wol berwarna abu-abu yang sangat pas di tubuh tegapnya. Rambutnya yang biasanya tertutup topi kini tertata rapi, dan bola mata hazel-nya tampak lebih terang di bawah sinar matahari.

​"Petugas Ethan?" Cassie terpana sejenak. "Ah, iya, aku sedang ingin mencari udara segar."

​"Panggil Ethan saja, aku sedang tidak bertugas," Ethan tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga membuat Cassie lupa sejenak pada Raven's Gate.

"Kebetulan sekali, aku mau ke arah perpustakaan pusat. Mau ikut? Di luar sangat dingin untuk berjalan kaki."

​Cassie sempat ragu, namun rasa aman yang dipancarkan Ethan terlalu kuat untuk ditolak. Ia masuk ke dalam mobil yang beraroma kayu cendana dan sangat bersih. Di dalam mobil itu, mereka mulai mengobrol ringan. Ethan bertanya tentang asal negara Cassie, bagaimana rasanya beradaptasi di Verovska, dan apa yang membuatnya memilih jurusan kuliahnya sekarang.

​Cassie merasa sangat nyaman. Ethan adalah pendengar yang baik, sangat berbeda dengan Liam, tentu saja. Namun, rasa penasaran yang mengganjal di hatinya sejak malam itu tak bisa ia tahan lagi.

​"Ethan..." Cassie memulai dengan ragu. "Tentang Liam... dia benar-benar temanmu?"

​Ethan terdiam sejenak, tangannya tetap stabil di kemudi.

"Bisa dibilang begitu. Kami sudah lama saling kenal. Dia punya beberapa bisnis di kota ini, bisnis logistik dan ekspor-impor yang cukup besar. Tapi..." Ethan menghela napas, wajahnya sedikit lebih serius. "Dia sering sekali berurusan dengan kami di kantor polisi."

​"Karena kriminal?" tanya Cassie cepat.

​"Pajak, perizinan dagang, hal-hal administratif seperti itu," Ethan terkekeh, meski ada nada peringatan di suaranya. "Dia sangat pintar mencari celah hukum, Cassie. Kami tahu ada yang tidak beres dengan beberapa muatannya, tapi dia selalu bisa menyangkal dengan macam macam alasan, dan memang tidak pernah terbukti dia melakukan tindakan ilegal apapun. Dia licin."

​Ethan melirik Cassie sekilas, wajah tampannya kini menunjukkan kekhawatiran yang nyata.

​"Dengar, Cassie. Liam mungkin tidak jahat secara fisik, tapi dia bukan orang yang aman untuk didekati. Dia punya dunia yang sangat berbeda dengan kita. Sebaiknya kau tetap jaga jarak dengannya. Jangan terlalu dekat dengan orang seperti dia, oke?"

​Cassie mengangguk pelan, meresapi setiap kata Ethan. Namun di dalam kepalanya, ia malah teringat bagaimana Liam menariknya agar tidak tertabrak motor, dan bagaimana pria itu memberikan ponselnya kembali.

​"Lalu, kejadian pengeroyokan di tangga... apa dia terlibat?" tanya Cassie lagi.

​"Tidak. Kami sudah memeriksa alibinya. Dia baru sampai di apartemen tepat saat kau masuk. Pengeroyokan itu urusan preman lokal yang sedang berebut wilayah. Liam hanya kebetulan ada di sana," jelas Ethan.

​Cassie menghela napas lega. Setidaknya Liam bukan pembunuh.

Di perpustakaan, Ethan ternyata jauh lebih membantu dari yang Cassie bayangkan.

“Kalau kau cari jurnal tentang urban sociology, coba database ini,” kata Ethan sambil menunjukkan layar komputer perpustakaan. “Biasanya yang peer-reviewed lebih mudah dipertanggungjawabkan di esai.”

Cassie mengangguk kagum. “Kau tahu banyak soal ini.”

Ethan tertawa kecil. “Aku dulu sempat ambil minor social science sebelum masuk akademi kepolisian.”

Beberapa kali Ethan membantu mencarikan referensi. Ia bahkan menjelaskan istilah akademik dengan bahasa sederhana.

“Jadi structural inequality itu… bayangkan tangga,” kata Ethan sambil menggambar kecil di buku catatan Cassie. “Beberapa orang lahir sudah berdiri dua anak tangga lebih tinggi. Mereka tetap harus naik, tapi jaraknya lebih pendek.”

Cassie tersenyum. “Kalau kau dosen, mahasiswa pasti tidak tidur di kelasmu.”

“Kalau kau mahasiswa, kau pasti duduk di barisan depan,” balas Ethan ringan.

Cassie tertawa pelan.

Setelah selesai belajar, Ethan menutup buku dan berkata, “Kau pernah coba pretzel dari toko di ujung jalan sini?”

Cassie menggeleng.

“Tempat itu lagi viral di kalangan mahasiswa. Ayo, aku traktir.”

Cassie sempat menolak, tapi Ethan sudah berdiri sambil mengambil jaketnya.

Toko pretzel itu ramai, dipenuhi mahasiswa yang tertawa dan memotret makanan mereka. Aroma roti panggang dan mentega memenuhi udara, hangat dan mengundang.

Cassie menggigit pretzel pertamanya, matanya langsung sedikit membesar.

“Ini enak,” katanya pelan.

Ethan tersenyum puas. “Aku tahu.”

Mereka duduk di dekat jendela.

“Cassie, kau sekarang semester berapa?” tanya Ethan.

“Semester dua.”

“Sudah punya banyak teman di Verovska?”

Cassie menggeleng pelan. “Tidak benar-benar.”

“Kenapa?”

Cassie mengangkat bahu "Aku tidak terlalu pandai bersosialisasi. Terlebih lagi bahasa lokal di sini cukup sulit bagiku. Kadang aku merasa komunikasi kami sangat terbatas, jadi aku lebih suka menghabiskan waktu sendiri."

Ethan mengangguk mengerti. “Adaptasi itu memang tidak gampang." "Tapi jangan menutup diri terlalu rapat, Cassie. Sayang sekali kalau kau menghabiskan masa mudamu hanya dengan buku-buku tebal ini."

​"Aku akan mencoba," jawab Cassie sambil tersenyum tipis.

Hari itu, Ethan benar-benar menjadi pelarian yang sempurna bagi Cassie. Ia mulai merasa bahwa mungkin hidupnya di negara asing ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan, asalkan ada orang seperti Ethan di dekatnya.

***

Mobil SUV perak Ethan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang Apartemen Raven’s Gate yang kusam. Kontras antara interior mobil Ethan yang mewah dan bersih dengan pemandangan apartemen di depan mereka membuat Cassie kembali merasakan sedikit sesak di dadanya. Kehangatan yang ia rasakan sepanjang hari tadi seolah perlahan menguap.

​Dan benar saja, di sana, di bawah lampu lobi yang berkedip redup, Liam sedang berdiri.

​Kali ini ia tidak bersandar, melainkan berdiri tegak dengan kedua tangan di saku jaketnya. Cassie bisa merasakan tatapan Liam yang tajam dan menusuk langsung ke arah mobil itu, sebuah tatapan yang penuh penilaian dan entah kenapa, terasa sangat dingin. Namun, begitu Ethan turun dari mobil dan melambai ke arahnya, ekspresi Liam berubah secepat kilat.

​"Liam! Masih di sini saja kau," sapa Ethan dengan nada akrab sambil menghampiri pria itu.

​Liam langsung tersenyum ramah, tipe senyum yang terlihat santai namun tetap tidak bisa menyembunyikan kilat misterius di matanya. "Hanya mencari udara segar sebelum masuk ke dalam lubang kelinci ini, Ethan. Bagaimana patrolimu?"

​"Bukan patroli, aku baru saja mengantar Cassie," Ethan menepuk bahu Liam. "Beruntung sekali dia bertemu denganku tadi di pusat kota."

​Liam melirik Cassie yang baru saja turun dari mobil dengan membawa kantong berisi sisa pretzel-nya. "Oh ya? Kau memang selalu jadi pahlawan di saat yang tepat, ya," ujar Liam dengan nada basa-basi yang sangat luwes, seolah mereka benar-benar sahabat dekat. "Kupikir polisi sepertimu punya banyak kasus penting daripada sekadar menjadi sopir mahasiswa."

​Ethan tertawa kecil, tidak menyadari sindiran halus di balik kata-kata Liam. "Yah, menjaga warga baru agar merasa nyaman di Verovska juga bagian dari tugasku, bukan?"

​"Tentu saja," jawab Liam sambil beralih menatap Cassie. "Sangat mulia. Jadi, Cassie... apa kau belajar banyak tentang 'keamanan' Verovska dari polisi tampan kita hari ini?"

​Cassie hanya bisa mengangguk kaku. Ia berdiri di belakang Ethan, merasa bahwa meski Liam sedang bersikap ramah, ada aura persaingan atau ketegangan yang hanya bisa ia rasakan sendiri.

​"Baiklah, aku harus segera pergi. Masih ada laporan yang harus kuselesaikan," Ethan berpamitan. Ia menoleh ke arah Cassie. "Ingat pesanku tadi, Cassie. Kalau ada apa-apa, telepon aku."

​"Aku akan mengawasinya, Ethan. Tenang saja, kami kan tetangga," potong Liam dengan nada jenaka yang justru membuat Cassie merinding.

​Ethan hanya tersenyum dan melambai sebelum kembali ke mobilnya. Begitu mobil SUV perak itu menjauh dan menghilang di kegelapan malam, suasana di depan lobi langsung berubah menjadi sangat dingin.

​Liam mematikan senyumnya. Ia menatap ke arah bekas mobil Ethan pergi, lalu beralih ke Cassie yang masih memegang kantong kertasnya erat-erat.

​ "Berlindung di bawah ketiak polisi. Tapi ingat... polisi hanya ada saat matahari terbit atau saat mayat ditemukan. Di antara waktu itu, hanya ada kau, aku, dan dinding tipis di kamar kita."

Cassie masih terpaku dengan ancaman tersirat Liam, namun detik berikutnya, ia malah dibuat melongo oleh kelakuan pria itu. Tanpa permisi, tangan besar Liam menyambar kantong kertas cokelat dari genggaman Cassie.

​"Wah, pretzel Kayu Manis dari depan perpustakaan? Pilihan yang cerdas," ujar Liam sambil mengintip ke dalam kantong itu. Ia mengambil satu potong besar, lalu mengunyahnya dengan santai. "Terima kasih ya, Cassie. Manis sekali kau membawakan oleh-oleh setelah kencan romantis dengan polisi idamanmu itu."

​Darah Cassie mendidih seketika. Rasa takutnya sejenak kalah oleh rasa kesal yang luar biasa.

​"Hei! Itu punyaku!" seru Cassie, mencoba meraih kembali kantongnya, namun Liam dengan sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan tinggi badannya yang hampir 190 sentimeter, Cassie terlihat seperti anak kecil yang sedang berusaha mengambil balon.

​"Pelit sekali. Anggap saja ini pajak karena aku sudah menjagamu seharian ini. Meski kau tidak sadar aku ada," goda Liam sambil kembali melangkah masuk ke lobi, diikuti Cassie yang menggerutu di belakangnya.

​Di dalam hati, Cassie ingin sekali berteriak. Ia sangat menyukai pretzel itu! Tadi saat bersama Ethan, ia hanya memakan potongan-potongan kecil dengan sangat anggun, hati-hati, dan menjaga image agar tidak terlihat seperti orang yang belum makan seharian. Padahal, perutnya meronta ingin melahap semuanya sekaligus. Sekarang, pretzel incarannya justru masuk ke mulut pria menyebalkan ini dengan sangat lahap.

​"Ayo, kenapa diam saja di sana? Katanya takut hantu," panggil Liam dari depan lift yang sudah terbuka.

​Cassie terpaksa mengekor masuk ke dalam lift dengan wajah cemberut. Suasana di dalam lift yang tadinya mencekam kini berubah menjadi aneh karena suara kunyahan Liam dan aroma kayu manis yang menggoda selera.

​"Kau tahu," ucap Liam sambil menawarkan kantong yang isinya tinggal separuh itu ke hadapan wajah Cassie, "makan itu harus dinikmati, jangan cuma dipotong kecil-kecil seperti memberi makan burung. Kau pasti lapar kan setelah berpura-pura anggun di depan Ethan?"

​Wajah Cassie memerah padam.

​"Aku tidak berpura-pura! Aku memang sopan, tidak seperti kau yang tidak punya tata krama!" ketus Cassie sambil menyambar kantong itu kembali dengan kasar begitu Liam menurunkannya.

​Liam hanya terkekeh, suaranya bergema di ruang lift yang sempit. "Terserah apa katamu, Gadis Sopan. Tapi setidaknya sekarang kau tidak pucat lagi. Marah ternyata lebih cocok untuk wajahmu daripada ketakutan."

​Ting!

​Pintu lift terbuka di lantai tiga. Sebelum Cassie sempat keluar, Liam menahan pintu lift dengan tangannya, menatap Cassie dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi sedikit lebih serius.

​"Makan sisa pretzel-mu, lalu tidur. Jangan menguping lagi malam ini, karena aku punya banyak pekerjaan yang tidak akan suka kau dengar."

Sesampainya di dalam kamar, Cassie langsung melemparkan tasnya ke atas kasur dengan perasaan dongkol yang meluap-luap. Ia menatap nanar ke arah kantong kertas cokelat yang sudah lecek itu.

​"Argh! Dasar menyebalkan!" gerutu Cassie sambil mengeluarkan sisa pretzel yang tinggal beberapa potong kecil.

​Rencananya tadi sudah sangat sempurna. Ia ingin menata pretzel itu di atas piring kecilnya yang cantik, memotretnya dengan estetik, lalu mengunggahnya ke media sosial dengan caption manis tentang "Hari yang hangat di Verovska" Sekarang? Bentuk pretzel itu sudah hancur, sisa-sisa kunyahan Liam seolah masih tertinggal di sana. Impian posting-an manisnya hancur seketika.

​Sambil mengunyah sisa makanannya dengan perasaan kesal, telinga Cassie tiba-tiba menangkap suara dari balik dinding.

​Lagi.

Suara Liam kembali terdengar.

​Kali ini, suaranya terdengar lebih cepat dan tegas. Liam sedang berbicara dengan seseorang di telepon, namun seluruh kalimatnya menggunakan bahasa lokal Verovska yang sangat lancar. Cassie mencoba menempelkan telinganya ke dinding, berusaha menangkap satu atau dua kata yang ia pahami dari pelajaran bahasa di kampus. Namun, percakapan itu terdengar sangat teknis dan serius. Ada nada kemarahan dalam suara Liam, diikuti suara dentuman benda berat yang dipukul ke meja.

​Cassie semakin mendekatkan telinganya, menahan napas agar tidak membuat suara sekecil apa pun.

​"Kalau kau mau dengar dengan jelas, jangan cuma menempel di dinding. Masuk saja ke kamarku."

​Suara Liam terdengar sangat jernih, seolah pria itu sedang berbicara tepat di depan wajah Cassie, padahal mereka terpisah tembok.

​Cassie tersentak hebat dan langsung menjauh dari dinding. Wajahnya panas karena malu sekaligus bingung. Bagaimana mungkin? pikirnya panik. Apa dinding ini sebegitu tipisnya? Atau dia punya indra keenam? Bagaimana bisa Liam selalu tahu setiap kali Cassie mencoba menguping?

​"Mandi sana, baumu sudah seperti bau roti basi," teriak Liam lagi dari sebelah, diikuti suara tawa rendah yang mengejek.

​Cassie menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram. "Berhenti mengawasiku, Liam!" teriaknya balik, meski ia tahu itu sia-sia.

​Dengan perasaan campur aduk, Cassie akhirnya memutuskan untuk menyerah. Ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, membiarkan gemericik air hangat membasuh rasa lelah dan kesalnya hari itu. Di bawah kucuran air, ia merenung. Liam sangat menyebalkan, sangat berbahaya, namun entah kenapa, kehadirannya mulai terasa seperti bagian dari rutinitasnya di apartemen ini.

​Setelah mandi, ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamar yang remang. Rasa penasaran tentang siapa sebenarnya Liam dan bisnis apa yang ia jalankan masih berputar di kepalanya.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!