NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28.

Pagi di Desa Rambutan yang semula tenang, perlahan berubah terasa tegang di depan rumah Zee.

Di luar pagar, dua sosok berdiri saling berhadapan. Daniel dengan tatapan dinginnya, dan asisten Pak Harto dengan senyum tipis penuh perhitungan.

Namun sebelum percakapan mereka berlanjut. Pintu pagar terbuka, Zee pun melangkah keluar.

Langkahnya ringan, namun pasti. Matanya langsung menangkap dua sosok di depannya. Dia tidak terlihat terkejut, seolah sudah memahami situasi yang sedang terjadi.

"Ada apa pagi-pagi begini?" tanyanya tenang sambil mendekat.

Daniel menoleh sedikit. "Sepertinya kita kedatangan tamu yang punya tujuan khusus."

Zee mengalihkan pandangannya ke arah pria berpakaian rapi itu.

Asisten Pak Harto pun segera memperbaiki sikapnya, lalu tersenyum sopan.

"Perkenalkan, Nona Zee. Saya Ardi, perwakilan dari perusahaan impor terbesar di Negara ini, yang di pimpin oleh Pak Harto Tarigan." ujarnya sambil sedikit menundukkan kepala

Zee hanya mengangguk tipis. "Ada keperluan apa Pak?"

Ardi pun tidak berbasa-basi lagi.

"Saya datang ke sini untuk menawarkan kerja sama, kami mengetahui bahwa Anda memiliki buah-buahan berkualitas tinggi." katanya langsung ke intinya.

Ardi berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih meyakinkan.

"Perusahaan kami siap membeli seluruh hasil Anda... dengan harga yang lebih tinggi."

Udara seakan berhenti sejenak.

Daniel tidak berkata apa-apa, namun dia mengepal tangannya kuat dengan rahangnya mengeras.

Sementara Zee... tetap tenang. "Lebih tinggi?" ulangnya pelan.

"Iya, Nona, jawab Ardi cepat. "Dan jika Nona sudah ada pembeli sebelum kami. Berapa pun harga yang diberikan saat ini, kami bisa melampauinya. Nona hanya perlu beralih bekerja sama dengan kami."

Zee terdiam sesaat, lalu Dia tersenyum kecil. Namun senyum itu bukan tanda ketertarikan, melainkan penolakan halus.

"Maaf, Saya tidak tertarik." ucapnya tenang.

Ardi sedikit terkejut. "Nona bahkan belum mendengar angka yang kami tawarkan."

Zee menggeleng pelan. "Bisnis ini bukan tentang siapa yang menawarkan harga yang paling tinggi," katanya, suaranya tetap lembut namun tegas.

"Tapi tentang siapa yang bisa menjaga kejujuran... dan kepercayaan Saya." lanjut Zee

Dia melirik sekilas ke arah Daniel. "Dan kesepakatan yang sudah ada... bukan sesuatu yang bisa saya ubah hanya karena ada angka yang lebih tinggi." jelas Zee.

Hening...

Ardi menatap Zee beberapa detik, mencoba membaca ekspresinya. Namun tidak ada celah, dan tidak ada keraguan.

Akhirnya, dia menghela napas pelan. "Saya mengerti, sayang sekali." katanya, meski nada suaranya sedikit berubah.

Ardi melirik ke arah Daniel. "Sepertinya Anda cukup beruntung, Tuan Daniel."

Daniel tidak menjawab.

Ardi pun membalikkan badan. "kalau begitu, saya pamit, Nona Zee dan Tuan Daniel."

Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan menuju mobilnya. Mesin menyala, lalu kendaraan itu perlahan meninggalkan Desa Rambutan.

Suasana kembali hening. Daniel akhirnya menghela napas lega, seolah melepas beban yang sejak tadi tertahan.

"Terima kasih Zee," ucapnya singkat.

Zee mengangkat bahu ringan. "Aku hanya menjaga apa yang sudah disepakati."

Daniel tersenyum tipis. "Tidak semua orang berpikir seperti kamu."

Dia menatap Zee sejenak, lalu berkata, "Aku akan meningkatkan pengiriman Minggu ini, dan mungkin permintaan akan terus naik."

Zee mengangguk. "Aku akan selalu siapkan."

Tak banyak kata lagi, namun cukup untuk saling mengerti.

"Kalau begitu, aku pamit, "ujar Daniel.

"Iya."

Daniel pun berbalik dan berjalan pergi menuju mobilnya.

Setelah semuanya kembali sepi, Zee berdiri beberapa saat di depan rumahnya. Lalu Dia berbalik dan melangkah ke samping rumah, ke toko kecilnya.

Saat pintu dibuka, aroma barang-barang baru langsung menyambutnya. Rak-rak sudah terisi rapi, beras, minyak, gula, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Zee berjalan perlahan, memeriksa satu per satu. Semua sudah siap, dan tak ada yang kurang.

Dia mengangguk pelan, "Bagus, hari ini toko akan mulai beroperasi." gumamnya.

Menjelang siang, para pekerja yang beberapa hari terakhir membuka dan meratakan lahan mulai berkumpul.

Jumlah mereka cukup banyak. Berkat kerja sama yang cepat, lahan yang sebelumnya berumput dan tanah yang keras. Kini sudah siap ditanami bibit pohon buah yang telah disiapkan oleh Zee.

Di bawah langit yang mendung, Zee mulai membagikan upah mereka satu per satu.

Wajah-wajah lelah itu kini berubah menjadi lega. Senyum mulai terlihat di sana-sini.

"Terima kasih banyak, Neng Zee!"

"Semoga sehat selalu."

Suasana terasa hangat, namun di tengah proses itu, Zee tiba-tiba berhenti. Di tangannya masih ada satu amplop lagi yang belum di bagi.

Matanya langsung menyapu kerumunan, Dia mencari siapa yang belum menerima gajinya. Namun semua yang Dia lihat sudah memegang amplop mereka masing-masing.

"Apakah lebih, atau ada yang tidak hadir." batinnya.

"Pak Rahman," panggilnya.

"Iya, Neng? Jawab Pak Rahman.

"Jumlahnya kurang satu orang, ya?"

Pak Rahman terlihat berpikir sejenak. "Iya juga ya... Si Rama tidak ada." ujarnya

"Sejak kapan?"

"Sudah dua hari ini tidak terlihat, dan tidak ada kabar juga, Neng. Saya pikir hari ini dia akan datang menerima gajinya."

Zee terdiam, perasaannya sedikit terusik. "Tidak adakah yang tahu dia kemana? Tanyanya lagi.

Beberapa pekerja saling pandang, dan menggeleng. "Tidak, Neng..."

Entah kenapa, perasaan tidak enak mulai muncul. Seakan ada sesuatu yang tidak beres.

Sedangkan di ujung Desa Rambutan, berdiri sebuah rumah kecil yang lebih mirip gubuk tua dari pada tempat tinggal.

Di dalam rumah itu, Rama duduk dengan gelisah.

Di hadapannya, salah satu anak kembarnya, Reno, terbaring lemah. Tubuh kecil itu panas tinggi, dan napasnya tidak teratur. Ada juga ruam-ruam merah kecil memenuhi kulitnya, membuat wajahnya tampak semakin pucat.

Sesekali, tubuhnya bergetar dan kejang. Untungnya dia masih bisa bersuara walaupun terdengar kecil.

"Ibu... panas..." lirihnya hampir tak terdengar.

Ayu, istri Rama hanya bisa mengompres dengan air hangat, tangannya gemetar menahan panik.

Di sudut ruangan itu, ada seorang anak perempuan, kembaran Reno... yang menangis pelan sambil menggenggam tangan saudaranya.

Rama mengepalkan tangannya, dia ingin sekali melakukan sesuatu. Tapi tidak tahu harus apa.

Pikiran tentang meminta gajinya lebih dulu, dan meminjam uang sempat terlintas. Namun dia segera menggeleng.

"Baru beberapa hari kerja, masa sudah mau minta gaji dan pinjam uang..." gumamnya dalam hati.

Dia tahu, bukan hanya dia yang membutuhkan. Banyak pekerja lain juga memiliki kesulitan masing-masing, dan jika ini menjadi penilaian... Bagaimana jika dia tidak lagi diterima bekerja?

Rama hanya bisa menunduk tak berdaya.

Sementara itu, di sisi lain desa...

Zee berdiri dengan wajah serius setelah mendengar bahwa salah satu pekerjanya tidak hadir selama dua hari tanpa kabar.

"Ada yang tidak beres ini..." gumamnya.

Dia segera menoleh ke arah Pak Ali. "Pak, bisa tolong cari tahu di mana rumah Rama?"

Pak Ali mengangguk tanpa banyak tanya.

Beberapa menit kemudian, Pak Ali kembali. "Rumahnya di ujung desa, Neng, dan agak jauh."

Zee mengangguk. Dia juga tidak mau menunda. "Ayo kita ke sana Pak."

Pak Ali pun, pergi ke garasi mengeluarkan motor. "Ayo naik Neng." ujar Pak Ali.

Motor pun melaju menyusuri jalan desa yang semakin sepi. Semakin jauh mereka pergi, semakin jarang rumah yang terlihat.

Hingga akhirnya, mereka sampai di ujung desa. Mereka memarkirkan motornya sedikit jauh dari rumahnya Rama.

Mereka pun berjalan ke arah rumah kecil di depan mereka itu. Seketika Zee menghentikan langkahnya saat melihat rumah itu.

Matanya menatap rumah itu lama, seolah tidak percaya masih ada rumah begitu di masa ini.

Dia tidak menyangka, di desa yang sama, masih ada keluarga yang tinggal dalam kondisi seperti itu.

Padahal, sepanjang jalan tadi, dia melihat semua rumah warga terlihat cukup baik. Tapi kenapa di sini begitu berbeda.

Mungkin bukan tempat tinggal yang jadi masalah utama. Tapi kehidupan, makanan, dan pekerjaan.

Zee belum sempat melangkah lebih jauh, ketika mendengar tangisan dari dalam rumah itu. Suara tangisan yang kencang dan penuh kepanikan.

Zee dan Pak Ali saling pandang sejenak. Lalu tanpa ragu, mereka menerobos masuk segera ke dalam rumah itu.

Di dalam rumah, suasana sangat kacau, dan penuh kesedihan.

Empat orang dengan usia berbeda berkumpul mengelilingi satu tubuh kecil di lantai. Tangis dan suara panik memenuhi rumah itu.

Zee dan Pak Ali perlahan mendekat. Dan apa yang mereka lihat langsung membuat Zee segera bertindak.

Seorang anak laki-laki tergeletak dengan tubuh kejang-kejang. Wajahnya dipenuhi ruam merah kecil. Napasnya pendek dan tersengal-sengal.

Tanpa berpikir panjang, Zee segera bersuara tegas. "Jangan dikerumuni begitu! Dia bisa lebih sesak nanti!"

Seketika semuanya di situ tersentak kaget. Mereka pun baru menyadari kehadiran Zee dan Pak Ali.

Rama segera berdiri, wajahnya pucat, matanya merah karena tangis yang tertahan.

"Non... Zee, Pak Ali." suaranya bergetar.

Zee tidak menjawab panjang. Dia langsung berlutut di samping Reno.

"Iya, Mas Rama.

Dari dalam tas ransel kecil yang Dia bawa, Zee mengeluarkan satu botol sirup kecil.

"Tolong berikan dia obat ini Mas. Ini sirup untuk demam anak." ujarnya cepat

Zee juga menyerahkan satu botol air putih. Air itu terlihat biasa saja, tapi hanya Zee yang tahu... air itu bukan sembarangan air.

Ia tadi mengunakan pikirannya cepat meminta A4 mengambilnya dari kolam biru di dalam ruangnya. Karena air itu memiliki banyak manfaat.

Zee juga tidak mengatakan apa-apa. Dan bagi mereka itu hanya air putih seperti biasa mereka minum.

"Minuman perlahan, setelah itu berikan air putih itu agar mulutnya tidak terasa aneh." tambah Zee.

Padanya tetap fokus mengamati kondisi Reno.

Sedangkan Pak Ali masih berdiri di belakang mereka, sambil mengamati apa yang terjadi.

Sementara keluarga Rama, yang semula diliputi kepanikan, kini hanya bisa mengikuti arahan dari Zee.

Ada secercah harapan kecil yang mulai muncul, dan cukup membuat mereka sedikit tenang.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Yuliana Tunru
lah kok zee milih di t4 baru ya ..
Ida Kurniasari
thorr lama bgt updatenya😍 makin penasaran
SyahLaaila: maaf ya kak🙏☺️
total 1 replies
RaMna Hanyonggun Isj
Lanjutannya mana
rasyaaa
mana lanjutannya tor
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
rasyaaa
lanjut tor👍👍👍💪💪💪
Ida Kurniasari
Doble up dong thor
rasyaaa
lanjut tor semangat 💪💪
Ida Kurniasari
lanjut thorr😍 suka sekali bikin penasaran
Narina
lanjut thor semakin penasaran 💪😍😍
arniya
kak kmn aja br update??!
SyahLaaila: maaf ya kak, jaringan internet disini ada ganguan kak🙏
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up Dong thor
SyahLaaila: iya kak
total 1 replies
rasyaaa
lanjutannya mana Thor jangan lama dong
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
q hadir thor
SyahLaaila: terima kasih kak
total 1 replies
Ida Kurniasari
lanjut thorr😍
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
arniya
penasaran..... update yang sering kak
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Chen Nadari
seandainya ada di dunia nyata ..jadi halu Thorr🤣
SyahLaaila: hehehe🤭
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!