Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Kesaksian Sang Mahkota
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dijaga layaknya benteng peperangan. Kawat berduri membentang di sepanjang trotoar, dan satuan Brimob dengan senjata laras panjang membentuk barikade hidup. Hari ini adalah hari di mana Arkan Xavier, sang putra mahkota klan mafia yang paling ditakuti, akan duduk di kursi saksi untuk membedah isi perut organisasinya sendiri—termasuk dosa-dosa ibunya, Sofia, dan pamannya, Gideon.
Arkan dibawa keluar dari mobil tahanan lapis baja dengan pengawalan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia tidak lagi mengenakan baju oranye; hari ini ia memakai kemeja putih bersih dengan rompi antipeluru yang tersembunyi di baliknya. Tangannya diborgol ke depan, namun ia melangkah dengan dagu terangkat. Matanya segera mencari satu sosok di kerumunan media: Aisyah.
Di barisan terdepan pengunjung sidang, Aisyah duduk di samping Hamdan. Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang memberikan kesan ketenangan di tengah badai. Saat mata mereka bertemu, Aisyah memberikan anggukan kecil—sebuah pesan tanpa kata bahwa ia akan tetap di sana, apa pun yang terucap dari lisan Arkan.
"Sidang dinyatakan terbuka dan terbuka untuk umum!" Hakim Ketua mengetuk palu tiga kali. Suaranya menggema di ruangan yang hening secara mencekam.
Jaksa Hendra memulai interogasinya. "Saudara saksi, apakah benar Anda memiliki akses ke basis data keuangan klan Xavier antara tahun 2015 hingga 2025?"
"Benar, Yang Mulia," jawab Arkan, suaranya stabil dan rendah.
"Dan apakah di dalam data tersebut, terdapat aliran dana sebesar 50 miliar rupiah yang ditujukan kepada sebuah yayasan fiktif yang dikelola oleh saudara Sofia Xavier dan saudara Gideon Xavier?"
Ruang sidang menahan napas. Sofia Xavier, yang duduk di kursi terdakwa di sebelah kanan, menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tampak tenang, seolah sudah merelakan dirinya menjadi tumbal bagi masa depan anaknya.
"Benar," Arkan menjeda sejenak, tenggorokannya terasa kering. "Dana tersebut berasal dari penggelapan bantuan kemanusiaan pasca-bencana yang seharusnya disalurkan melalui jalur resmi. Ibu saya, Sofia, mengelola administrasinya, sementara paman saya, Gideon, menggunakan jalur logistik gelap untuk mencuci uang tersebut melalui pembelian properti di luar negeri."
Kegaduhan pecah. Pengacara Gideon berdiri dan berteriak keberatan, menuduh Arkan memberikan kesaksian palsu demi mendapatkan remisi.
Namun Arkan tidak goyah. Ia mulai menyebutkan nomor rekening, tanggal transaksi, hingga nama-nama pejabat bank yang terlibat.
Di tengah ketegangan sidang, sebuah peristiwa darurat terjadi di luar gedung. Seorang saksi kunci lainnya, seorang mantan akuntan Xavier bernama Hendro, yang baru saja turun dari mobil perlindungan saksi, ditembak oleh penembak jitu dari gedung seberang.
Peluru menembus dada bagian atas Hendro. Dalam hitungan detik, ia dilarikan ke rumah sakit terdekat—Medika Utama.
Aisyah, yang baru saja menerima pesan darurat di ponselnya, terpaksa meninggalkan ruang sidang. Ia tahu bahwa Hendro adalah satu-satunya orang yang memiliki bukti fisik dokumen yang ditandatangani oleh Hakim Agung Baskara. Jika Hendro mati, kesaksian Arkan akan kehilangan kekuatannya di mata hukum.
Di ruang IGD Medika Utama, Aisyah disambut oleh kekacauan. Dan di sana, berdiri Adrian Baskara, sedang menyiapkan peralatan bedah saraf dan trauma.
"Dia pasienku, Aisyah," ujar Adrian dengan senyum sinis. "Aku yang bertugas di unit trauma siang ini. Kau lihat? Takdir selalu mempertemukan kita di titik yang sama."
Aisyah menatap Hendro yang sekarat. "Adrian, jika kau membiarkan pria ini mati di meja operasimu, kau bukan hanya membunuh seorang saksi, tapi kau membunuh kebenaran. Jangan biarkan dosa ayahmu mengotori tanganmu sebagai dokter."
"Ayahku melakukan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup, sama seperti Arkan-mu," balas Adrian dingin. "Tapi jangan khawatir, aku akan melakukan operasinya. Tapi apakah dia akan bangun lagi... itu masalah lain."
Aisyah menyadari niat jahat di balik kata-kata Adrian. Ia tidak bisa membiarkan Adrian mengoperasi Hendro sendirian. "Aku akan ikut masuk. Aku adalah spesialis bedah trauma senior di sini. Secara hierarki, aku berhak memimpin operasi ini."
Suasana di dalam Ruang Operasi 03 terasa lebih dingin dari biasanya. Aisyah dan Adrian berdiri berseberangan, hanya dipisahkan oleh tubuh Hendro yang penuh kabel dan selang.
"Bisturi," pinta Aisyah.
Tangannya bekerja dengan presisi yang menakutkan. Ia tahu Adrian sedang mengawasi setiap gerakannya, mencari celah untuk menyabotase atau membuat "kesalahan medis" yang tampak alami. Saat Aisyah sedang mencoba menghentikan pendarahan di arteri subklavia, Adrian sengaja menyenggol instrumennya.
"Maaf, tanganku sedikit licin," ejek Adrian.
Aisyah tidak membalas. Ia justru menggunakan teknik jahit cepat yang ia pelajari di Jerman, menutup kebocoran darah dalam hitungan detik.
"Adrian, jika kau menyentuh area ini lagi tanpa perintahku, aku akan melaporkanmu atas tindakan malpraktik di depan dewan etik saat ini juga. Fokus pada bagian sarafnya, atau keluar dari ruangan ini."
Adrian terdiam, harga dirinya terluka melihat ketangguhan Aisyah. Di bawah tekanan maut, Aisyah justru tampil lebih brilian dari biasanya. Ia menyelamatkan nyawa Hendro tepat di saat jantung pria itu hampir menyerah.
Puncak Pengkhianatan di Ruang Sidang
Kembali ke pengadilan, Gideon Xavier yang menyadari bahwa posisinya terpojok, mulai melakukan langkah nekat. Di tengah pemeriksaan saksi, ia berdiri dan berteriak.
"Kau pikir kau suci, Arkan?! Kau lupa siapa yang memegang peluru yang menewaskan polisi di pelabuhan tiga tahun lalu? Itu kau! Aku punya rekamannya!"
Gideon memberi kode kepada salah satu "pengunjung" sidang yang ternyata adalah pembunuh bayaran yang menyamar. Pria itu mencabut senjata dari balik jasnya.
DOR! DOR!
Dua tembakan dilepaskan ke arah kursi saksi. Namun, dalam refleks yang luar biasa, Arkan menjatuhkan dirinya ke lantai, berlindung di balik meja kayu yang tebal. Petugas Brimob segera bereaksi, melumpuhkan sang penembak dalam baku tembak singkat yang mengerikan.
Suasana sidang menjadi kacau balau. Sofia Xavier berteriak memanggil nama anaknya, sementara Arkan bangkit dengan bahu yang terserempet peluru, darah mulai membasahi kemeja putihnya.
"Lanjutkan sidangnya," ujar Arkan, suaranya bergetar namun penuh tekad. Ia menolak untuk dibawa ke ambulans sebelum kesaksiannya tuntas. "Yang Mulia, saya masih punya satu nama lagi. Nama pria yang menerima suap sebesar 10 juta dolar untuk membebaskan ayah saya dua puluh tahun lalu dan menjebak Rahman Malik."
Arkan menatap langsung ke arah kamera media yang sedang melakukan siaran langsung. "Pria itu adalah Hakim Agung Baskara. Dan dokumen buktinya saat ini sedang berada di tangan saksi Hendro yang sedang dioperasi oleh putra sang hakim sendiri."
Pernyataan itu seperti bom atom yang meledak di seluruh negeri. Arkan baru saja mendeklarasikan perang terbuka melawan puncak piramida hukum yang korup.
Malam harinya, di rumah sakit, Hendro dinyatakan stabil. Aisyah keluar dari ruang operasi dengan sisa tenaga yang hampir habis. Ia melihat Arkan di koridor, dikelilingi oleh polisi, dengan perban di bahunya.
Mereka tidak bisa berpelukan. Ada batas hukum dan prosedur yang masih memisahkan mereka. Namun, mereka berdiri saling berhadapan di koridor rumah sakit yang sunyi.
"Hendro selamat," bisik Aisyah. "Dokumennya aman."
Arkan mengangguk, sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang letih. "Ibu sudah dibawa kembali ke tahanan. Dia tersenyum padaku tadi, Aisyah. Dia bilang dia bangga akhirnya ada seorang Xavier yang berani berkata jujur."
"Arkan... bahumu..."
"Hanya goresan. Jauh lebih ringan daripada beban yang selama ini kupikul di hati," Arkan mendekat sedikit, meski penjaga memperingatnya. "Aisyah, setelah ini segalanya akan berubah. Hakim Agung Baskara akan menyerang balik. Adrian tidak akan tinggal diam.
Tapi malam ini... untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa merdeka."
Aisyah menyentuh kaca jendela koridor, bayangannya dan bayangan Arkan seolah menyatu. "Tidurlah, Arkan. Besok kita akan menghadapi sisa dunia ini bersama-sama."
Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta, seolah ingin membasuh darah dan debu yang menempel pada kebenaran yang baru saja lahir.