Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30.Rahasia di Balik Kemarahan
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Suasana di ruangan itu perlahan mulai mencair. Ketegangan yang sedari tadi mencekam perlahan berganti menjadi suasana yang penuh emosi dan haru. Udara yang tadinya terasa berat dan dingin, kini mulai terasa lebih hangat dan manusiawi.
Mama Laras tidak lagi berteriak, tidak lagi melontarkan tuduhan tajam, dan tidak lagi memancarkan aura kemarahan yang menyakitkan. Ia hanya diam, tubuhnya sedikit gemetar, menatap lurus ke arah Gus Aqlan yang masih berdiri tegap di hadapannya dengan wajah penuh perasaan dan ketulusan yang tak terbantahkan.
Perlahan, dengan gerakan yang sangat lembut, tangan Mama Laras terangkat ke udara. Jari-jarinya yang halus namun terlihat kuat itu perlahan menyentuh bahu kokoh milik Gus Aqlan. Ia tidak mendorong dengan kasar, melainkan memegang erat sejenak, merasakan kehangatan dan denyut nadi pemuda itu, lalu mendorongnya pelan sebagai isyarat agar ia bangkit dari posisi berlututnya.
"Bangunlah Nak... Ayo bangun..." ucap Mama Laras pelan, suaranya terdengar sangat lembut, bergetar, dan sudah tidak setajam tadi. Justru terdengar sangat lelah, lelah karena emosi yang meledak-ledak, dan lelah karena menyimpan rasa takut selama bertahun-tahun.
"Jangan berlutut begitu sayang. Kamu itu laki-laki, kelak kamu akan menjadi pemimpin keluarga, pemimpin bagi istrimu dan anak-anakmu nanti. Seorang laki-laki tidak pantas merendahkan dirinya berlutut seperti ini, kecuali hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa."
Gus Aqlan mengangguk patuh. Dengan bantuan dorongan lembut itu, ia perlahan bangkit berdiri tegap. Postur tubuhnya tetap tegap, namun wajahnya kini terlihat lebih tenang, menatap Mama Laras dengan penuh rasa hormat dan harap.
"Makasih Ibu... Makasih banyak Ibu sudah mau mendengarkan Aqlan," bisiknya lirih, suaranya terdengar sangat tulus.
Mama Laras menarik napas panjang sekali, mengembuskan udara itu perlahan seolah ingin melepaskan semua beban berat yang ada di dadanya. Matanya lalu memandang berkeliling ke sekeliling ruangan itu, menatap wajah Ayah Abdul, Bunda Maryam, dan Papa Arya bergantian. Ada rasa bersalah, ada rasa lega, dan ada rasa haru yang bercampur aduk di dalam sorot matanya.
"Sebenarnya..." akhirnya Mama Laras membuka suara kembali, kalimatnya terdengar berat dan penuh makna. "Mama marah besar begini, Mama bersikap keras begini... bukan tanpa alasan yang jelas."
"Bukan karena Mama benci sama Aqlan, bukan juga karena Mama benci atau punya dendam sama keluarga kalian. Sama sekali tidak..."
Semua orang di ruangan itu terdiam, menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Mama Laras. Mereka tahu, sekarang saatnya kebenaran terungkap. Sekarang saatnya mereka mengerti apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
"Dulu... waktu Aisyah di culik dulu, waktu kejadian Aisyah sakit keras yang hampir merenggut nyawanya itu..." Mama Laras mulai bercerita, suaranya terdengar bergetar hebat, mengingat kembali memori pahit yang pernah dialaminya.
"Dokter waktu itu bilang kemungkinan selamatnya sangat aisyah . Kondisinya kritis sekali, demamnya tinggi sekali . Seluruh keluarga panik, kami takut sekali kehilangan dia."
Mata Mama Laras kembali berkaca-kaca, air mata siap tumpah lagi.
"Saat itu, dalam keadaan setengah sadar, dalam keadaan antara sadar dan tidak... Aisyah terus saja memanggil-manggil satu nama. Dia tidak memanggil Mama, tidak memanggil Papa, tapi dia terus saja berbisik dan menangis memanggil... 'Aqlan... Aqlan... Aqlan jangan pergi...'"
Suara Mama Laras tercekat, ia harus berhenti sejenak untuk menenangkan diri.
"Dia menangis minta ditemani sama kamu, Nak. Dia mengigau terus menyebut namamu. Tapi karena keadaan saat itu, karena ada kesalahpahaman antar keluarga, dan karena aturan yang sangat ketat waktu itu... kami tidak bisa membiarkan kalian bertemu. Kami terpaksa memisahkan kalian, terpaksa bilang kalau kamu sudah pergi jauh."
"Dan apa yang terjadi? Akhirnya... Aisyah mengalami syok yang sangat berat. Saat dia sembuh secara fisik, ternyata ada luka di hati dan pikirannya. Dia mengalami gangguan ingatan ringan. Dia sengaja melupakan sebagian besar kenangan manis kalian bermain bersama, karena otaknya memilih untuk melupakan rasa sakit yang luar biasa saat berpisah denganmu itu."
"Mama takut... Oh Tuhan, Mama sangat takut..." isak Mama Laras mulai tak terbendung lagi. "Mama takut kalau mereka dekat lagi, trauma itu muncul kembali. Mama takut Aisyah sakit hati lagi, Mama takut dia menangis lagi, Mama takut dia sakit lagi seperti waktu dulu."
"Mama ingin dia bahagia dengan tenang, hidupnya lancar, tanpa ada drama, tanpa ada air mata, tanpa ada perpisahan yang menyakitkan. Makanya Mama selalu melarang, makanya Mama selalu menghalangi setiap kali ada jalan untuk kalian bertemu. Mama bukan jahat... Mama hanya takut kehilangan anak Mama lagi..."
Ah... Jadi itu alasannya!
Semua orang di ruangan itu akhirnya mengangguk paham. Sebuah pemahaman baru yang begitu dalam menyentuh hati.
Jadi kemarahan Mama Laras selama ini, sikap kerasnya, dan penolakannya... semuanya bukan karena rasa benci, tapi murni karena RASA TAKUT yang berlebihan. Rasa takut kehilangan, rasa takut melihat anaknya menderita, dan trauma masa lalu yang belum sembuh total.
Gus Aqlan menunduk dalam, dadanya terasa sesak dan perih mendengar pengakuan itu. Air matanya kembali menetes. Jadi selama ini dia tidak tahu... ternyata Aisyah juga menderita begitu parah dulu karena perpisahan mereka. Ternyata rasa sakit itu saling tertanam di hati keduanya.
"Maafkan kami ya Mb Laras... Maafkan kami..." Bunda Maryam tidak kuasa menahan haru, ia langsung beranjak duduk, mendekat dan memegang kedua tangan Mama Laras erat-erat. Wajah ibu muda itu penuh penyesalan.
"Kami sama sekali tidak tahu hal sedalam ini. Kami tidak tahu kalau Aisyah menderita seperti itu. Kami minta maaf sekali kalau selama ini membuat kalian khawatir, membuat kalian takut, dan membuat kalian menderita sendirian."
"Tapi percayalah Mb... Sekarang semuanya sudah berbeda. Sekarang mereka sudah dewasa, mereka sudah siap secara mental, dan kami semua ada di sini untuk mendukung mereka. Kami janji, kali ini kami akan memastikan mereka bahagia dengan cara yang benar, tanpa ada lagi air mata, tanpa ada lagi perpisahan."
Mama Laras mengangguk pelan, air matanya kembali menetes deras namun kali ini adalah air mata haru dan air mata lega. Rasanya seperti batu besar yang selama ini menghimpit dadanya akhirnya berhasil diangkat pergi.
"Ya sudah... kalau begitu. Mama tidak akan melarang lagi," akhirnya kata Mama Laras lirih, namun tegas. Ia menatap kembali ke arah Gus Aqlan.
"Tapi ingat ya Aqlan... Pegang erat-erat janjimu tadi. Ingat apa yang baru saja kamu ucapkan. Kalau sampai kau membuat anakku menangis setetes air mata pun lagi, kalau sampai kau membuat dia sedih... Mama tidak akan pernah memaafkanmu selamanya. Mendengar itu?"
Wajah Gus Aqlan seketika bersinar terang, bak matahari yang muncul setelah hujan reda. Senyum lebar dan paling tulus mengembang di wajahnya yang masih terlihat pucat namun penuh semangat itu.
"Siap Bu! Siap Ibu! Aqlan janji! Aqlan ingat selalu! Aqlan akan buktikan bahwa Aqlan layak mendapatkan Aisyah, dan Aqlan layak mendapatkan kepercayaan dari Ibu dan Papa!" serunya penuh semangat dan keyakinan.
Ruangan itu akhirnya dipenuhi dengan senyuman dan rasa lega. Badai yang besar akhirnya berlalu, digantikan oleh pelangi indah yang menandakan awal baru bagi cinta mereka.
BERSAMBUNG....