"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: KALUNG PENGIKAT JIWA
Hutan ajaib itu tampak lebih berkilau pagi ini. Alurra sedang duduk bersila di atas akar pohon besar yang menyerupai singgasana, sementara tangannya sibuk menganyam sesuatu dari akar-akar halus berwarna perak yang ia ambil dari jantung pohon ek raksasanya.
Nael berdiri tak jauh darinya, mencoba melakukan peregangan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan setelah memakan buah "radioaktif" Alurra kemarin. Ia menatap punggung Alurra, lalu beralih menatap ke arah luar hutan—ke arah peradaban yang ia tinggalkan.
"Jangan melirik ke sana terus, Sayang. Nanti matamu juling," celetuk Alurra tanpa menoleh. Pendengarannya sebagai bidadari memang tidak main-main.
Nael tersentak. Ia melangkah mendekati Alurra, lalu menyentuh bahunya pelan. Saat Alurra berbalik, Nael menyodorkan sebuah buku catatan kecil yang ia temukan di tasnya yang sempat tertinggal di depan pondok.
Di sana tertulis: "SAYA HARUS KEMBALI. ADA BANYAK HAL YANG HARUS SAYA SELESAIKAN DI KOTA."
Alurra berhenti menganyam. Ia mendongak, menatap Nael dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kembali? Ke tempat manusia-manusia yang mencoba melubangi dadamu dengan timah panas itu? Kau ini bodoh atau kurang minum embun pagi, sih?"
Nael menggeleng. Ia menulis lagi: "ITU KELUARGA SAYA. SAYA TIDAK BISA SEMBUNYI SELAMANYA."
"Keluarga? Huh!" Alurra berdiri, tingginya hanya sebatas dada Nael, tapi auranya membuat Nael harus mundur satu langkah. "Keluarga macam apa yang menyewa pembunuh untuk menghapus suaramu dan nyawamu? Di langit saja, dewa yang paling jahat pun tidak akan menyakiti darah dagingnya sendiri!"
Alurra maju satu langkah, memojokkan Nael ke batang pohon besar. "Dengar ya, Nael Gianluca Ryker. Di sini kau aman. Di sini kau punya aku. Kenapa kau ingin kembali ke tempat yang penuh racun itu?"
Nael menatap mata Alurra yang berbinar ungu. Ia ingin bicara. Ia ingin menjelaskan bahwa ayahnya meninggalkan warisan yang harus dijaga, bahwa ia tidak ingin mereka menang. Namun, bibirnya hanya bergetar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.
Melihat Nael yang berjuang keras untuk bersuara namun gagal, amarah Alurra langsung menguap. Ia menghela napas panjang, lalu mengangkat anyaman akar perak yang baru saja ia buat.
"Oke, oke. Jangan pasang muka sedih begitu. Aku tidak tahan melihat pangeranku terlihat seperti kucing kehujanan," gumam Alurra. "Kau boleh kembali ke kota... TAPI, ada syaratnya."
Nael menaikkan alisnya, menunggu syarat "ajaib" apalagi yang akan diminta bidadari ini.
"Kemari," perintah Alurra.
Nael ragu sejenak, namun akhirnya ia mendekat. Alurra melingkarkan kalung akar perak itu ke leher Nael. Begitu kedua ujungnya bersentuhan, akar itu merapat secara ajaib, menyatu sempurna tanpa pengait. Di tengahnya, terdapat sebuah batu kristal bening yang di dalamnya seperti ada api yang menari.
"Apa ini?" isyarat tangan Nael bertanya.
"Itu adalah Kalung Pengikat Jiwa. Jangan coba-coba dilepas, karena kau tidak akan bisa," Alurra menyeringai nakal sembari merapikan kerah kemeja Nael yang robek. "Fungsinya? Pertama, sebagai pelacak. Ke mana pun kau pergi, bahkan ke ujung dunia atau ke lubang semut sekalipun, aku bisa menemukanmu dalam sekejap."
Nael terbelalak. Ia merasa seperti baru saja dipasangi GPS oleh bidadari posesif.
"Kedua," lanjut Alurra, jemarinya mengusap kristal di leher Nael. "Itu pelindungmu. Jika ada manusia jahat yang mencoba menembakmu lagi, kalung ini akan menciptakan perisai. Aku tidak mau pangeranku mati sebelum kita sempat punya anak sepuluh."
Nael: '...???' (Nael hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar angka sepuluh).
"Dan yang ketiga..." Alurra menarik kalung itu hingga wajah Nael merunduk tepat di depan wajahnya. "Setiap kali kau merindukanku, kristal ini akan terasa hangat. Dan kalau kau mencoba menggoda wanita lain di kota sana..." Alurra mengecilkan matanya, "...kalung ini akan menyengat lehermu sampai kau pingsan. Mengerti?"
Nael hanya bisa menelan ludah. Ia menulis dengan pasrah: "ANDA SANGAT POSESIF."
"Tentu saja! Aku sudah susah payah terjun dari langit, menolak Dewa Matahari yang gantengnya selangit, hanya untuk mendarat di depanmu. Masa aku biarkan kau diambil wanita bumi yang kulitnya tidak selembut aku?" Alurra mencubit pipi Nael dengan gemas.
Alurra kemudian memutar tubuh Nael, mendorongnya pelan ke arah utara hutan. "Sekarang, coba jalan sepuluh langkah ke sana."
Nael menurut. Ia berjalan sepuluh langkah. Tiba-tiba, ia merasakan getaran halus di dadanya. Kristal itu bersinar redup. Di telinganya, ia seolah mendengar suara Alurra berbisik: "Jangan lama-lama ya, Sayang! Aku tunggu mas kawinnya!"
Nael berbalik dengan wajah kaget. Alurra sedang melambaikan tangan dengan riang di kejauhan.
"Itu fitur baru! Kita bisa bicara lewat batin, tapi cuma aku yang bisa bicara, kau cukup dengarkan saja. Enak kan? Kau tidak perlu capek-capek nulis lagi!" teriak Alurra bar-bar.
Nael memijat pelipisnya. Hidupnya yang dulu tenang dan sunyi kini berubah menjadi penuh kebisingan sejak ada Alurra. Namun, saat ia meraba kristal hangat di lehernya, ada segaris senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di bibir Nael.
Ia kembali ke arah Alurra, mengambil buku catatannya, dan menulis satu kalimat terakhir sebelum mereka benar-benar bersiap menuju peradaban:
"ALURRA, DI KOTA SAYA TIDAK PUNYA RUMAH POHON. ANDA HARUS SIAP DENGAN GEDUNG TINGGI DAN KEBISINGAN."
Alurra tertawa lepas, ia melompat ke punggung Nael, meminta digendong. "Gedung tinggi? Bagus! Semakin dekat dengan langit, semakin mudah bagiku untuk memaki Dewa Matahari kalau dia macam-macam!"
Nael menghela napas, namun ia tetap memposisikan tangannya untuk menahan kaki Alurra agar bidadari itu tidak jatuh. Mereka mulai berjalan menembus kabut hutan, menuju dunia modern yang tidak akan pernah sama lagi setelah kedatangan sang Bidadari Bar-bar.
...****************...
aku suka namanya Nael ....