NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.

" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.

" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"

" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.

" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 ( Rencana Yang Gagal

"AHHHHH...!"

Suara merdu yang keluar dari bibir Teh Intan membuat bulu kuduk Langit berdiri tegak. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada wanita di depannya—tangan Teh Intan semakin aktif menyentuh tubuhnya, bahkan sudah mulai merayap ke arah bagian yang baru saja ia sebut "pusaka".

"Ngit... Ngit... ayo kita kerumah Teteh..." ucap Intan dengan napas terengah-engah, matanya sudah tidak lagi jelas seperti biasanya. Pikirannya sudah terbuai oleh aura yang terpancar dari tubuh pemuda polos itu.

"Bentar Teh... syair kita belum tamat lho... dan mau ngapain ya ke rumah Teteh?" tanya Langit dengan wajah penuh kebingungan, namun tangannya sudah mulai terbawa untuk mengikuti gerakan Teh Intan.

"Bocah ini bener-bener polos atau sengaja?" pikir Intan dalam hati, tangan nya semakin mendekat ke area yang sudah mulai menggeliat. "Padahal aku sudah kasih banyak kode... goa sigotakaku sudah gatal, bahkan sudah mulai ada yang menetes..."

"Tidak usah mikir banyak Ngit!" ucap Intan dengan suara yang sedikit tergesa-gesa. "Di rumah Teteh ada banyak kue hari raya lho—kue lapis, nastar, bahkan kue putri salju yang kamu suka! Pasti kamu tidak akan rugi kalau ikut ke rumah Teteh!"

Langit berpikir sejenak, matanya berbinar mendengar kata "kue". Tapi saat tangan Teh Intan benar-benar menyentuh bagian "pusaka" nya, ia langsung terkejut dan menarik wanita itu dengan cepat:

"Ayo Teh Intan! Ayo kita ke rumah Teteh sekarang juga!"

Wajah Intan langsung bersinar bahagia. "Akhirnya juga..." pikirnya, senyum menyelimuti wajahnya. "Sesaat lagi aku akan mendapatkan bocah polos ini... harus aku ajari dengan baik agar dia jadi lelaki sejati yang bisa memuaskanku..."

Namun takdir selalu punya cara sendiri. Saat mereka sampai di depan halaman rumah Intan, sebuah bentuk yang sangat familiar membuat wajah Intan langsung memerah karena kesal dan kemarahan—sepeda motor Beat warna hitam yang selalu digunakan suaminya terparkir rapi di halaman.

"SIAL... SIAL... SIAL...!" gumam Intan dalam hati, langsung melepaskan pegangan tangannya dari Langit.

"Teh kenapa kok berhenti? Ayo kita masuk dong, Langit sudah lapar mau makan kue!" ucap Langit dengan penuh semangat, tidak menyadari perubahan suasana pada wanita di depannya.

Intan mengambil napas dalam untuk menenangkan diri. "Tidak apa-apa... masih banyak kesempatan lain untuk mendapatkan bocah ini," pikirnya. "Sekarang lebih baik aku fokus pada suamiku yang baru pulang—akhirnya juga bisa melampiaskan nafsuku yang sudah terpendam lama."

"Ngit maaf ya..." ucap Intan dengan suara yang sudah kembali tenang. "Kamu jangan masuk ya, suami Teteh baru pulang kerja. Kamu tahu kan bagaimana sipatnya kalau marah?"

Langit mengangguk dengan sedikit kecewa. "Oke deh Teh... tapi janji ya kue nya nanti anterin ya? Jangan sampai bohong ya!"

"Janji kok Ngit!" jawab Intan dengan senyum lembut, lalu mengelus-elus rambut Langit yang masih sedikit berantakan. "Nanti Teteh anterin kue lewat jendela kamar kamu ya? Jangan lupa jangan kunci jendelanya ya!"

"Oke Teh janji ya!" Langit menjulurkan jari kelingking, dan Intan dengan cepat menyambutnya dengan jari kelingkingnya juga. Setelah itu, Langit langsung berjalan pergi dengan langkah cepat, seperti tidak sabar menunggu kue yang dijanjikan.

Setelah sosok Langit benar-benar hilang di balik kegelapan malam, Intan menghela napas panjang sebelum melangkah ke arah pintu rumahnya. Ia menekan gagang pintu, namun tidak bisa dibuka—tentu saja sudah dikunci dari dalam.

"Tok... Tok... Tok...!"

Ketukan pintu yang cukup keras membuat sang suami segera membukanya. Seorang lelaki kurus dengan wajah yang sudah mulai tampak keriput di sekitar mata muncul dengan senyum hangat:

"Sayang... habis dari mana? Anak-anak bilang kamu pergi ke warung setelah sholat Isya, kok sampai sekarang baru pulang? Udah hampir jam sepuluh nih."

"Hehehehe maaf ya papi..." Intan tersenyum manis sambil masuk ke dalam rumah. "Tadi aku keasyikan ngobrol sama Bu Wati di rumahnya, jadi lupa waktu. Tumben ya papi tidak kasih kabar dulu kalau mau pulang?"

Sang suami langsung menutup pintu dan mengunci nya dengan rapat. "Aku juga baru saja sampai sayang... ada pekerjaan mendadak jadi bisa pulang lebih cepat dari jadwal."

"Pih... anak-anak sudah tidur ya?" tanya Intan dengan nada yang sedikit dinaikkan, langkahnya sudah mulai menghampiri sang suami sambil menuju arah dapur. Tubuhnya masih terasa panas akibat kegagalan untuk bertemu dengan Langit.

"Udah sayang... baru aja aku kasih minum susu dan mereka langsung tertidur pulas," jawab sang suami sambil melangkah ke arah ruang tamu, tubuhnya juga mulai menunjukkan tanda-tanda merindukan sentuhan istrinya.

Beberapa saat kemudian, Intan datang membawa cangkir kopi hangat dan beberapa cemilan kecil yang biasa disukai suaminya. Ia duduk berseloroh di pangkuan sang suami, menyuguhkan cangkir kopi dengan tangan yang sedikit gemetar:

"Makasih ya sayang... kopinya masih hangat kan?" ucap sang suami dengan suara mesra, sambil mengambil cangkir dari tangan Intan.

Intan hanya tersenyum hangat sambil mulai memeluk pinggang suaminya. "Kalau tidak bisa dengan Langit, apa salahnya aku melampiaskan pada suamiku sendiri?" pikirnya, tubuhnya mulai bergoyang perlahan mengikuti irama napas sang suami.

"Emang kamu ngobrol apa aja sama Bu Wati sampai lupa waktu ya sayang?" tanya sang suami, tangan kanannya sudah mulai merayap perlahan ke arah punggung Intan, lalu menyusup ke dalam daster yang dikenakannya.

"Itu pih... Bu Wati mau pinjam uang ke bank buat renovasi rumahnya," jawab Intan dengan suara yang mulai melengking, tubuhnya semakin mendekat ke arah suaminya. "Dia bilang punya gaji pensiunan jadi bisa ajukan pinjaman... tapi dia minta aku anterin aja karena anaknya sibuk kerja."

"Oh gitu ya..." ucap sang suami dengan napas yang mulai menjadi berat, tangannya sudah mulai membuka kancing daster Intan satu per satu. "Kenapa tidak minta anaknya aja ya? Bukannya lebih mudah?"

Intan hanya bisa mengangguk, tangannya sudah mulai meremas dada suaminya yang masih tertutup baju kerja. Nafsu yang sudah terpendam lama mulai membara, menggantikan rasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Langit. Namun di dalam hatinya, satu pemikiran tetap mengganggunya:

"Nanti malam ini setelah suami tidur... aku harus cari cara untuk bertemu Ngit..."

Di kejauhan, sebuah bayangan gelap kembali muncul di balik pagar rumah Intan. Matanya terus mengawasi setiap gerakan di dalam rumah melalui celah jendela, bibirnya mengerucut dalam senyum yang penuh makna. Ia mengambil ponsel dari saku dan mengetik pesan singkat:

"Target sedang sibuk dengan suaminya. Siap melanjutkan langkah berikutnya jika ada kesempatan."

CATATAN.

SEHABIS BACA JANGAN LUPA LIKE NYA, SYUKUR SYUKUR DAPAT VOTE DAN HADIAH JIKA SUKA DENGAN NOVEL RECEH INI SILAHKAN UNTUK DI PAVORITKAN.

Salam dari anak kampung ARIS TEA.

Bersambung.

1
Neng
🤭🤭🤭🤭🤭
Neng
lumayan
Neng
👍👍👍👍
Tuyul
🤣🤣🤣🤣
Tuyul
😍😍😍😍
sitanggang
muter2 kek gangsing 🙄😵😵‍💫
RAJA CHAN
sangat bagus
Tuyul
menarik
Tuyul
👍👍👍
Aden
ayam dasar lemah
Aden
lumayan menarik
Robet
🤭🤭🤭🤭🤭 lumpur Lapindo
Aris Nugraha
🤣🤣🤣
Aris Nugraha
keren kak
Robet
🤣🤣🤣
Robet
keren
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!