Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak, teman macam apa itu
Setelah berlalunya masalah pembullyan yang di lakukan anak-anak Oceanus kemarin yang kebetulan tak sengaja bertemu dan ternyata Anisa bisa melawannya walau sedikit terluka.
James benar-benar mengirim Anisa ke tempat anak-anak mulai belajar berbaur dan belajar bersosialisasi satu sama lain. Walau usia Anisa sudah sepuluh tahun ini bisa di berikan ke longgarkan karena putri dari seorang James Arthur.
Jika di tempat biasa itu disebut sekolah dasar tapi, ini berbeda. Sekolah ini lebih seperti taman bermain dan tidak ada tingkatannya sampai anak berumur sepuluh tahun ia akan pergi ke tempat lainnya yang lebih mementingkan kenyamanan murid dalam belajar dari pada fokus pada pembelajaran apa yang mereka tekuni tapi, kenyataannya kenyamanan yang di utamakan malah semua muridnya belajar dengan rajin. Bahkan tempat belajar ini sering meluluskan anak-anak terbaik yang tidak di sekolahkan di tempat umum, mereka adalah anak-anak pejabat yang sulit beradaptasi dengan orang lain atau lebih menjadi pendiam akut walau kedepannya mereka memang wajib bersosialisasi.
Tempat belajar mewah yang berada di bawah naungan Oceanus dan Pacificum ini sudah lama menjadi tempat pertama bagi tempat belajar mewah ini berdiri dan sudah ada sejak pendiri pertama keluarga Oceanus. Menurut James, mungkin itu bisa terjadi padahal kakek moyang atau buyutnya itu lebih suka terlihat seperti orang malas dan sering menggunakan waktunya bermain dari pada belajar tapi, semua pekerjaannya dan bisnisnya bisa menjadi kerjaan bisnis raksasa di berbagai daerah di negara ini.
"Waah ini sekolah?" Anisa terpukau sejak pertama kali melihat gedung besar mewah dan ini tempatnya jauh dari jalan raja bahkan udaranya sangat bagus dan sejuk. Bau daun basah dan embun masih terasa padahal sudah jam tujuh pagi.
"Ini tempat belajar mewah dan kamu harus berbaur dan mencari teman sebaya, harus perempuan!"
Ancaman macam apa ini!
"Hah, aku pulang saja aku kira kira hanya datang menemani ayah. " Di bawahnya seperti membawa karung beras. Meronta ingin turun.
"Ayah kita pulang, Huwaaa!"
Semua yang datang melihat mereka berdua yang ternyata mereka kenal siapa pria dewasa yang membawa anaknya seperti karung beras itu.
Jangan melihat lagi anggap saja mereka tak melihat apapun dan tak mendengar apapun.
Silva menepuk dahinya rasanya sangat malu dan aneh.
"Mereka berdua begitu mirip."
"Aku tidak tahu mereka seperti anak dan ayah sungguhan, " ucap Rudolf disamping Silva.
Anisa terus meronta sampai James menurunkannya dan berlutut didepannya.
"Kamu harus punya masa depan anakku yang cantik. "
"Pujian itu mengandung racun berbahaya. " Ekspresinya lebih seperti orang dewasa yang benar-benar curiga dengan pujian manis itu.
James menatap datar wajah curiga putrinya yang ternyata lebih peka dari pada dugaannya.
"Tidak ada penolakan kau harus bersekolah sampai enam bulan kedepan, ayah sudah tanda tangan kontraknya. "
Menghentak kakinya dengan kedua tangannya bersamaan berayun memukul angin terlihat lucu, James tak bisa menahan tawanya.
"Hisshh Ayah, aku tidak mau aku sudah marah, ayah kita harus pulang. Untuk apa belajar ujung-ujungnya aku tetap bukan anak ayah aku hanya... "
James menutup mulut Anisa dengan satu jari telunjuk besarnya tatapannya marah dan kesan sudah sangat menyeramkan ini, jika ini anak lain sudah menangis dari tadi.
"Ayah!" Lebih keras lagi berteriak menepis tangan ayahnya menjauh.
"Ayah tidak tau apa didunia ini banyak orang dengan banyak wajah anak-anak pasti sudah bisa melakukan itu, lebih baik aku seperti ini saja. "
James membawanya menggendong didepan mereka semua yang memperhatikan kenapa tidak di tuntun saja.
Sampai di ruang pemimpin tempat belajar, Anisa menyapanya dengan senyuman terpaksa nya dan Perempuan cantik dengan dres formal membentuk tubuh idealnya juga memiliki rambut coklat kemerahan panjang di kepang samping panjang, membalas senyuman sapa Anisa sedikit canggung, ia tahu anak ini sudah mengamuk didepan karena suaranya keras terdengar sampai dekat jendela ruangannya.
Duduk di hadapannya.
"Selamat datang untuk Tuan James Arthur Oceanus dan Nona Anisa Arthur Oceanus...Saya Priscilla Mensis, saya disini sebagai kepala sekaligus pemimpin di Tempat belajar mewah ini, saya sudah bekerja selama sepuluh tahun menggantikan pemimpin sebelumnya 6a g sudah pensiun."
Menyapa perkenalan diri singkat itu sedikit membuat Anisa terdiam sebentar lalu kembali kesal pada ayahnya.
"Cilla, aku sedikit pusing dengan tingkah ajaibnya selama ini jadi untuk enam bulan kedepan ia akan belajar disini tentang hal baru yang mungkin ingin dia inginkan atau tidak di inginkan ya, iyakan Anisa."
Wajah Anisa lebih seperti anak kucing liar yang mau mencakar James. Priscilla sedikit tersenyum canggung.
"Nah nona Anisa, dimohon kerja samanya, hanya enam bulan saja setelah itu anda akan bebas dari sini anda bisa pulang pergi atau mau asrama juga bisa."
"Pulang pergi siapa yang mau membiarkan ayah sendirian dirumah, sebagai anak yang baik harus berbakti, iyakan ayahku?"
Mereka benar-benar mirip, pikir Priscilla memandangi keduanya.
Setelah menitipkan Anisa di tempat ini James pergi dengan mobilnya tapi, ia meninggalkan Theo disana bersama Anisa, karena Canaria tidak bisa luka tusuk waktu itu kembali terbuka jadi ia izin.
"Perasaanku tak tenang meninggalkan anak itu disana."
Silva diam ia berpikir semoga saja semua kondisi tempat itu baik-baik saja, jangan sampai seperti anak-anak Oceanus kemarin.
Jangan sampai ada kerusuhan yang pelaku utamanya Anisa. Pikir James menatap keluar jendela memandangi gedung yang semakin jauh meninggalkannya.
Ruang kelas sekarang Anisa masuk dan bertemu banyak anak-anak dari golongan orang yang benar-benar memiliki uang dan popularitas tinggi.
"Selamat pagi, perkenalkan ini Anisa kita akan menjadi tim belajar yang asik, ayo anak-anak sambutan tepuk tangan dan ucapan selamat datang."
"Siapapun yang masuk sini harus keturunan murni, bukan anak haram ya?" Suara itu datang dari anak laki-laki yang terlihat tidak asing bagi Anisa sepertinya wajah yang pernah ia lihat secara dekat.
"Nah sebaiknya kita kesampingkan masalah pribadi keluarga karena ini tempat belajar, mari anak-anak kita mulai kegiatannya."
Anisa di arahkan untuk bergabung dengan para perempuan disana.
Saat yang sama tatapan mata Anisa bertemu dengan anak laki-laki yang tadi mengatainya anak haram, acuhkan dengan santai.
Anak laki-laki itu kaget, ekspresi sombong apa yang Anisa buat membuatnya kaget.
Selama kegiatan mewarnai dan juga sedikit menulis membuat puisi. Tiba-tiba waktu untuk membacakan puisi secara bergilir di tempat mereka tanpa maju kedepan kelas.
Lalu mengumpulkan hasil gambaran yang ternyata semuanya punya nilai seni yang bagus.
Kecuali, Anisa yang terlihat benar-benar membuat gurunya sedikit bingung dan harus menyimpan perasaan ngeri ini.
Waktu pulang sekolah tiba, Anisa tak melihat mobil James sampai penjemput terakhir tiba.
Theo berdiri disampingnya tanpa mengajaknya bicara. Anisa menoleh.
"Apa ayah sengaja lupa ya, aku di buang lagi ya." Bisiknya. Theo mendengar itu.
"Nona tunggu sebentar ya, jika Tuan tak perduli tak akan Tuan meninggalkan saya bersama anda."
Anisa menatap Theo yang tersenyum.
"Bukannya tadi Rudolf dan paman Silva, aku tidak melihatmu?"
Theo tersenyum.
"Saya datang belakang bersama Rudolf tapi, mobilnya di bawa Rudolf untuk di service."
Mengangguk saja.
Seketika itu seorang anak laki-laki mendekatinya dan memberikan saputangan yang pernah Anisa berikan pada anak laki-laki yang melindunginya. Terangkat wajahnya melihat siapa itu.
Anisa terdiam.
"Kau! Ya ampun!"
"Kau terlalu bersemangat ya?"
Tangan Anisa di raih dan diberikan sapu tangan itu.
"Terimakasih, aku harus pulang dulu."
"Kau... Kau bukannya waktu itu!" Anak laki-laki itu berbalik memberikan isyarat jari telunjuk depan bibir untuk tetap diam.
James dengan mobilnya datang saat melihat Anisa dan anak laki-laki itu saling berpegangan tangan memberikan saputangan lalu ekspresi diam dan rahasia macam apa itu.
Anisa yang sadar mobil ayahnya tiba Theo yang langsung membukakan pintu mobilnya Anisa naik dan duduk nyaman.
"Siapa dia.. Teman laki-laki ?"
Anisa memukul keras telapak tangannya sendiri.
Tatapan permusuhan jelas terlihat.
"Hanya teman biasa berhentilah aneh Ayah, teman itu tidak harus perempuan saja."
"Tidak, Teman macam apa itu? Pegangan tangan masih kecil dan sapu tangan itu... Kau sedang bicara apa padanya."
"Aakh Ayah aneh, kita hanya anak-anak ini bukan anak remaja, ayah!"