NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pemikiran

Rembulan malam itu menggantung di cakrawala seperti mata raksasa yang dingin, seolah sedang menghakimi setiap jengkal tanah di Lembah Teratai.

Tian Shan duduk bersila di atas atap paviliun, jubah hitamnya menyatu dengan kegelapan, sementara rambut putihnya berkilau perak diterpa cahaya langit.

​Di balik matanya yang terpejam, memori masa lalu berputar seperti gulungan film yang rusak.

Ia melihat dirinya yang dulu—seorang anak yang dibuang, lalu dipungut oleh tangan hangat seorang pria tua.

Ia diajarkan tentang kasih sayang, tentang pedang yang melindungi, bukan membunuh.

Namun, ia juga melihat dirinya yang kemudian: sosok yang bermandikan darah para pendekar abadi, yang tega mengorbankan jutaan nyawa hanya demi memutar balik sang waktu.

​"Dibuang orang tua, diselamatkan olehmu, diajarkan tentang kebaikan ... lalu aku melakukan kejahatan hanya untuk semua ini," gumamnya. Suaranya hilang ditelan desau angin malam.

​Kegelisahan merayap di dadanya. Sebuah paradoks yang menyiksa, ia kembali untuk melindungi, namun keberadaannya sendiri adalah magnet bagi kehancuran.

​WHOSH!

​Udara di sekelilingnya mendadak membeku. Sebuah manifestasi dari niat membunuhnya sendiri muncul di hadapannya—bayangan gelap yang menyerupai dirinya saat berada di puncak kegelapan.

​"Kenapa kau khawatir, Tian? Apa kau takut?" Bayangan itu berbisik, suaranya seperti gesekan pedang pada batu. "Bukannya kau sendiri yang berkata bahwa orang terkuat pun tidak akan mampu melindungi semua orang? Kau yang memutuskan untuk menyelamatkan beberapa orang dan membiarkan dunia terbakar. Apa kau sudah lupa rasanya meminum darah para abadi?"

​Tian Shan terdiam. Rahangnya mengatup rapat. "Kau benar ... dan aku mengakuinya. Itulah harga yang kupilih."

​Dengan satu kibasan tangan, bayangan itu buyar menjadi partikel debu. Keheningan kembali, namun rasa sesak itu tetap ada.

​"Tian Shan? Kenapa kau masih terjaga? Malam sudah sangat larut."

​Langkah kaki yang stabil mendekat. Xinjiang berdiri di bawah paviliun, menatap ke atas dengan senyum hangat yang selalu membuat hati Tian Shan berdenyut aneh.

​"Tuan Xinjiang," Tian Shan melompat turun dengan ringan, mendarat tanpa suara di hadapan gurunya. "Hanya sedang menikmati keindahan bulan. Pikiranku sedikit berkelana."

​Xinjiang menyandarkan bahunya pada tiang kayu, menatap langit yang sama. "Sudah tiga tahun kau di sini. Kau telah memberikan banyak hal untuk keluargaku—keamanan, bimbingan, bahkan kekuatan. Apa kau akan melanjutkan perjalananmu?"

​"Tentu saja," jawab Tian Shan datar. "Aku harus tetap melangkah. Masih ada jiwa-jiwa lain yang ingin kuselamatkan selain dirimu."

​"Selain diriku?" Xinjiang bertanya, tampak sedikit bingung namun tidak mendesak.

​Tian Shan membuang muka. Dilema ini adalah penjara. Jika ia pergi, ia takut takdir buruk akan kembali menjemput Xinjiang.

Jika ia tinggal, keberadaannya sebagai "Entitas yang seharusnya tidak ada" akan memancing entitas-entitas yang jauh lebih berbahaya ke desa kecil ini.

​"Apa Tuan Xinjiang tidak pernah berniat untuk menjelajahi dunia yang luas ini? Sebagai seorang pendekar, bukankah puncak-puncak gunung itu memanggilmu?" tanya Tian Shan, mencoba mengalihkan pembicaraan.

​Xinjiang tertawa kecil, suara tawanya jernih tanpa beban. "Bagaimana ya? Keinginan itu pasti ada. Namun, aku memiliki istri dan anak yang mencintaiku. Tapi ... tidak ada yang tahu masa depan, kan? Jika suatu saat aku benar-benar berkelana, aku berharap jalan kita akan bersilangan lagi."

​"Semoga saja," bisik Tian Shan.

​Setelah Xinjiang masuk kembali ke rumahnya, Tian Shan duduk kembali dalam meditasinya. Ia merasa sudah waktunya.

Sumber daya yang ia jarah dari Kota Giok telah ia murnikan sepenuhnya di dalam Dantiannya.

​Ia mulai menarik Esensi Kerak Bumi dari dalam tanah di bawah kakinya. Energi itu berwarna cokelat keemasan, berat dan padat. Inilah tahap Pendekar Bumi (Ranah 3).

​BUM!

​Saat energi itu memasuki tulang-tulangnya, Tian Shan merasa seolah-olah seluruh pegunungan di dunia ini dijatuhkan tepat di atas bahunya.

Gravitasi di sekitar paviliun itu mendadak menjadi sepuluh kali lebih kuat. Lantai kayu di bawahnya mulai berderit dan retak.

​"Ugh ..." Tian Shan menggeretakkan giginya.

​Penyatuan elemen tanah dan logam ke dalam sumsum tulang adalah proses yang menyiksa. Setiap langkah dalam pikirannya terasa seperti menarik beban ribuan ton.

Mentalnya mulai teruji; jika ia kehilangan fokus sedikit saja, gravitasi bumi akan meremukkan tubuh fisiknya menjadi bubur daging—sebuah "Penyimpangan Qi" yang fatal.

​Ia memusatkan jiwanya, menyelaraskan detak jantungnya dengan denyut nadi bumi. Perlahan, tulang-tulangnya mulai berubah.

Dari putih tulang biasa menjadi keperakan yang mengkilap, menandakan penyerapan elemen logam yang sempurna.

​Di tengah proses yang menyakitkan itu, Tian Shan mendadak membuka matanya.

​Dari arah hutan gelap di seberang desa, ia merasakan sebuah tatapan. Itu bukan tatapan manusia.

Itu adalah aura yang sangat kuat, dingin, dan purba—sebuah entitas yang kekuatannya setara dengan ranah ketiga, mungkin lebih.

Makhluk itu sedang memperhatikannya, tertarik oleh fluktuasi energi dari proses terobosannya.

​Mata perak Tian Shan berkilat tajam di tengah rasa sakit yang menghimpit tulangnya.

​"Begitu cepat?" batinnya. "Baru saja aku mencoba melangkah ke ranah bumi, burung bangkai sudah mulai mencium aromanya."

​Tian Shan tidak gentar. Sambil terus menahan beban ribuan ton di dalam tubuhnya, ia mengirimkan balik sebuah tekanan mental yang halus namun mematikan ke arah hutan tersebut.

Sebuah pesan tanpa kata: Jika kau melangkah lebih dekat, aku akan memastikan tempat ini menjadi kuburanmu.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!