NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Bara Pelebur Jiwa

Wush.

Bara Pelebur Jiwa menari-nari di atas tangan kanan Wang Yan, tenang namun memberikan dingin yang pekat.

Wang Yan memperhatikannya dengan saksama. Secara visual, tidak ada yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Warnanya tetap hitam kelam dengan lidah ungu yang terlihat hidup.

Beberapa saat kemudian sensasi fisiknya segera terasa.

“Ugh, perasaan ini lagi!”

Meskipun ia sudah berada di Lautan Spiritual lapisan keempat, rasa lemas yang familiar mulai merayap di otot-ototnya. Bara itu menghisap staminanya secara langsung, bukan energi spiritual. Tetapi kali ini staminanya dikuras dengan kecepatan yang lebih cepat daripada saat dirinya masih menjadi manusia fana.

Wang Yan segera mengepalkan tangan, memadamkan api hitam tersebut sebelum tubuhnya ditumbangkan. Ia terengah sedikit, menyeimbangkan sirkulasi pernapasannya.

“Energi spiritual di Dantian-ku sama sekali tidak berkurang, tapi staminaku terasa seperti baru saja diperas dengan cepat,” gumam Wang Yan dengan dahi berkerut.

Ia terdiam, menganalisa fenomena itu dengan konsep-konsep yang pernah ia pelajari. Secara teori dalam buku-buku yang pernah ia baca, fondasi kultivasi seorang kultivator seharusnya menjadi bahan bakar bagi segala jenis kekuatan supranatural. Namun, setelah kejadian ini, Wang Yan memastikan kemampuan Bara Pelebur Jiwa seolah berdiri di atas hukum yang berbeda. Ia menolak energi spiritual dan tetap memilih stamina fisik sebagai bayarannya.

“Jadi, energi spiritual memperkuat wadahku, tapi tidak bisa menjadi bahan bakar untuk Bara ini,” simpulnya.

“Kemampuan ini benar-benar misteri. Apakah ia berasal dari luar hukum langit dan bumi atau karena aku mengultivasikan teknik kultivasi penipu langit, jadi energi spiritual alam semesta tidak bisa digunakan sebagai bahan bakar?”

Wang Yan berjalan kembali ke dalam kamar, membiarkan tubuhnya bersandar di dinding kayu yang dingin. Pikirannya masih berputar pada anomali Bara Pelebur Jiwa.

“Jika Teknik Kultivasi Penipu Langit bekerja dengan cara ‘mencuri’ atau ‘mengelabui’ hukum alam untuk mendapatkan energi spiritual alam semesta, mungkinkah Bara ini juga memiliki sifat serupa yang justru menolak energi hasil curian tersebut?” batinnya.

Logika sarjananya mencoba menyusun hipotesis. Ada dua kemungkinan: pertama, Bara Pelebur Jiwa adalah kekuatan tingkat tinggi yang hanya menerima energi murni dari staminanya, bukan energi spiritual. Kedua, Teknik Kultivasi Penipu Langit miliknya menciptakan jenis energi yang asing bagi Bara tersebut, sehingga keduanya tidak bisa sinkron.

Apapun itu, satu hal yang pasti; semakin meningkat kultivasinya, semakin besar pula daya hisap Bara tersebut. Ia harus melatih stamina fisiknya dua kali lebih keras dari kultivator biasa jika tidak ingin mati kering saat menggunakan api hitam itu dalam pertarungan sungguhan.

Kriitt… Braak.

Suara pintu gerbang depan yang dibuka dengan terburu-buru membuyarkan lamunan Wang Yan. Ia segera memakai kembali jubah atasnya, menutupi tubuhnya yang masih lembap oleh keringat.

“Yan’ge! Kami pulang!” seru suara melengking Lin Yue dari halaman depan. Ia tahu kakaknya dirumah karena sandalnya tepat di depan pintu halaman depan.

Wang Yan keluar dari kamar tepat saat Lin Yue dan Huo Ting melangkah masuk ke ruang tengah.

Wajah Lin Yue tampak bersemu merah, matanya berbinar penuh semangat. Di belakangnya, Huo Ting membawa beberapa kantong kain sisa dagangan dengan langkah yang tetap tegap.

“Kalian pulang lebih cepat?” tanya Wang Yan, mencoba bersikap senatural mungkin meski napasnya masih sedikit berat.

“Tuan Guang Ming menutup tokonya lebih awal karena ada urusan keluarga, jadi Paman mengajakku pulang untuk langsung memulai latihan!” jawab Lin Yue riang. Ia menghampiri Wang Yan dan memperhatikan kakaknya dari atas ke bawah.

“Yan’ge... kau berkeringat banyak sekali?”

Wang Yan mengangguk tipis. “Hanya gerakan dasar untuk membiasakan diri.”

“Apa kau baru saja melakukan latihan berat? Yan’ge tidak apa-apa kan?”

“Kau tidak perlu secemas itu, Yue’er. Aku baik-baik saja,” ujar Wang Yan sambil mengusap sisa keringat di pelipisnya.

Lin Yue masih cemberut, matanya menatap tajam ke arah jubah Wang Yan yang lembap. “Tapi Yan’ge terlihat kelelahan. Kalau baru mulai berlatih, jangan terlalu berlebihan. Bagaimana kalau Yan’ge pingsan saat kami tidak di rumah? Siapa yang akan menggotong Kakak ke tempat tidur? Paman sedang di pasar, dan aku tidak sekuat itu!”

Wang Yan terkekeh pelan melihat adiknya yang mulai cerewet. “Aku tahu batasanku. Lagipula, bukankah kau sendiri yang tadi pagi sangat ingin menjadi kuat? Jangan hanya menceramahiku, pastikan kau juga kuat agar nanti bisa menggotongku jika aku benar-benar pingsan.”

“Ih, Yan’ge!” Lin Yue menyenggol lengan Wang Yan kesal, namun raut cemas di wajahnya sedikit memudar.

Ekhem!

Huo Ting berdehem keras, memotong percakapan kakak-beradik itu. Ia melirik posisi matahari yang mulai condong ke barat dari celah pintu.

“Hari sudah sore. Jika kalian terus mengobrol, kita baru akan selesai latihan saat tengah malam. Yan’er, karena kau sedang di rumah, sekalian saja ikut latihan.”

Huo Ting berjalan menuju halaman belakang, diikuti oleh Wang Yan dan Lin Yue. Sesampainya di sana, ia berbalik dan menatap keduanya dengan serius.

“Yue’er, karena ini hari pertamamu, jangan berharap Paman akan langsung memberimu teknik pernapasan yang rumit. Tubuhmu harus siap terlebih dahulu,” kata Huo Ting tegas.

“Kau akan mulai dengan kuda-kuda dasar. Kau harus melatih otot kakimu sampai kuat menahan beban tubuhmu sendiri. Ini adalah fondasi paling awal sebelum kau bisa menyerap energi spiritual.”

Lin Yue mengangguk mantap, meski wajahnya sedikit tegang saat mulai mengambil posisi kuda-kuda rendah sesuai instruksi Huo Ting.

Huo Ting kemudian beralih menatap Wang Yan. Ia memperhatikan postur tubuh Wang Yan yang kini terlihat jauh lebih tegak dan padat dari biasanya. “Yan’er tampak jauh lebih bugar. Gerakannya juga terlihat lebih stabil,” batin Huo Ting singkat.

“Yan’er, Paman tidak akan mencampuri metode latihanmu sendiri,” ujar Huo Ting.

“Tapi, melihat kondisimu yang kelelahan tadi, kau butuh stamina fisik yang luar biasa. Selama Yue’er berlatih kuda-kuda, kau akan melakukan latihan beban. Angkat batu di pojok halaman itu, lakukan seratus kali pengangkatan. Itu akan melatih kekuatan otot dan napasmu.”

“Baik, Paman,” jawab Wang Yan singkat.

Wang Yan menatap batu lonjong yang dimaksud—beratnya sekitar 25 kilogram. Bagi manusia biasa, mengangkat beban seberat itu secara berulang-ulang akan sangat menguras tenaga dalam waktu singkat.

Wang Yan melangkah mendekat. Ia memposisikan kakinya dengan kokoh dan mencengkeram permukaan batu yang kasar. Ia sengaja mengunci aliran energi spiritualnya di dalam Dantian, berniat menguji kekuatan murni dari otot-ototnya agar staminanya benar-benar terlatih.

Hup!

Wang Yan menarik napas, bersiap untuk mengeluarkan tenaga ekstra. Namun, begitu ia mengangkatnya, batu itu terangkat dengan sangat ringan hingga hampir membuat keseimbangan Wang Yan goyah karena ia mengeluarkan tenaga yang terlalu besar di awal.

“Ah?!” Mata Wang Yan membelalak. Ia menatap batu di tangannya dengan tidak percaya. Ia yakin 100% tidak menggunakan energi spiritual sedikit pun, namun beban 25 kilogram ini terasa seperti hanya 10 kilogram.

Huo Ting yang sedang memperhatikan dari samping seketika menghentikan gerakannya. Alisnya terangkat tinggi, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyata.

“Apa-apaan? Yan’er mengangkatnya semudah itu. Seharusnya napasnya sudah tersengal di tarikan pertama, tapi dia bahkan tidak terlihat berusaha keras. Apakah ia memakai energi spiritual? Tidak..., tidak ada fluktuasi energi spiritual sedikit pun—juga tidak mungkin baginya menjadi kultivator hanya dalam sehari.” batin Huo Ting heran. Kepadatan fisik Wang Yan jauh melampaui apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemula.

Wang Yan mencoba menenangkan keterkejutannya sendiri. Ia menurunkan batu itu lalu mengangkatnya kembali. Turun, naik.

Gerakannya sangat stabil. Ia bisa merasakan otot-ototnya bekerja dengan efisiensi yang menakutkan—setiap serat ototnya seolah telah ditempa menjadi jauh lebih kuat berkat proses pembersihan sumsum dari Teknik Kultivasi Penipu Langit tadi pagi.

Ia terus melanjutkan hitungannya. Meski beban itu terasa ringan, Wang Yan tetap memaksa ototnya bekerja hingga mulai terasa panas. Ia tahu, meskipun fisiknya sudah diperkuat secara otomatis oleh peningkatan kultivasi, ia tetap harus melatih ketahanan murninya jika ingin mengimbangi kerakusan Bara Pelebur Jiwa yang memakan daya hidupnya.

Huo Ting hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pelan melihat perkembangan fisik Wang Yan yang tidak masuk akal, sebelum akhirnya kembali fokus mengoreksi posisi Lin Yue yang mulai gemetar menahan lelah.

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!