NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Keheningan di dalam kamar Nikolas kini terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang tegang dan penuh permusuhan seperti di parkiran sekolah, melainkan keheningan yang berat, pekat, dan sarat akan sesuatu yang tak terucap. Aroma mie instan yang gurih masih tertinggal tipis di udara, bercampur dengan wangi mawar dari rambut Salene yang kini berantakan karena angin London.

Salene duduk di tepi ranjang, bahunya sedikit merosot. Matanya sayu, kelopak matanya terasa berat saat jarum jam dinding menunjukkan pukul delapan malam.

Bagi gadis yang hidupnya diatur oleh jam biologis yang kaku, ini adalah waktu di mana ia seharusnya sudah berada di dalam kamar pribadinya, melakukan ritual kecantikan yang membosankan sebelum tidur.

"Nik..." suara Salene memecah kesunyian, lembut dan tanpa jejak keangkuhan. "Bisakah kau... memasangkan korset ini lagi? Aku harus segera pulang."

Nik yang sedang bersandar di meja belajar tersentak. Ia menelan ludah, jakunnya naik turun. "Oh... baiklah. Aku akan memasangnya."

Salene memutar tubuhnya, memunggungi Nik. Nik melangkah mendekat, tangannya yang biasanya stabil saat memegang kunci inggris kini sedikit gemetar. Membuka korset tadi terasa seperti membebaskan tawanan, namun memasangnya kembali... itu terasa seperti ia sendiri yang menjebloskan Salene kembali ke penjara.

Korset itu memiliki deretan pengait kecil yang rumit. Nik mulai memasang dari bagian atas, namun karena baju Salene memiliki potongan pinggang yang tinggi, pengait bagian bawah tersembunyi jauh di balik kain denim putih itu.

"Salene... bagian bawahnya agak sulit," bisik Nik, suaranya serak. Ia ragu sejenak, lalu menarik napas panjang. "Maaf, aku harus memasukkan tanganku lebih ke bawah lagi untuk menjangkaunya. Maaf kalau ini membuatmu tidak nyaman."

Salene terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa menoleh. "Baiklah. Santai saja, Nik. Aku... aku mempercayaimu."

Kata percaya itu menghantam dada Nik lebih keras daripada hantaman tinju antar geng mana pun. Dengan sangat hati-hati, Nik memasukkan jemarinya ke balik pinggang celana Salene, mencari kaitan logam yang tersisa. Kulit punggung bawah Salene terasa hangat dan halus. Nik bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu di ujung jarinya. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, ada sengatan listrik yang membuat napas Nik tertahan.

Klik. Klik.

Akhirnya, pengait terakhir terpasang. Nik menarik tangannya dengan cepat, seolah-olah ia baru saja menyentuh api. Salene segera merapikan baju kodoknya, mengancingkan kembali kaitan bahunya, dan berdiri. Ia menghadap cermin besar di kamar Nik, mengusap wajahnya, dan seketika itu juga, topeng porselennya kembali terpasang. Wajah ceria yang tadi lari-lari di taman bunga kini menghilang, digantikan oleh ekspresi datar yang dingin.

Salene menatap pantulan mata Nik di cermin. "Lupakan hari ini, Nik. Semua yang terjadi di sini, di motor, dan... mie instan itu. Anggap saja itu tidak pernah ada."

Nik hanya mengangguk pelan. "Aku mengerti, Salene."

Namun di dalam hatinya, Nik berteriak. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Perasaan kagum yang selama ini ia anggap sebagai rasa penasaran biasa, kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Jatuh cinta. Hanya dalam satu hari, ia telah melihat dua versi Salene Lumiere, dan ironisnya, ia jatuh cinta pada versi yang paling rapuh—versi yang baru saja ia bantu bungkus kembali dengan korset besi.

Bagaimana mungkin hanya dalam satu hari aku mencintai kepribadiannya yang ini? bisik Nik dalam hati saat mereka menuruni tangga markas menuju parkiran.

Perjalanan pulang ke Mayfair terasa lebih lambat dari sebelumnya. Tidak ada lagi percakapan hangat atau teriakan girang. Salene duduk kaku di belakang, tangannya hanya memegang pinggiran jok, menjaga jarak yang sangat formal dari punggung Nik.

Saat motor Honda Cross Cub itu berhenti di depan gerbang mansion Lumiere yang menjulang tinggi, lampu teras yang terang benderang langsung menyambut mereka. Dan di sana, berdiri seperti patung es yang tidak bisa mencair, Madame Lumiere sudah menunggu. Ia mengenakan gaun malam hitam dengan tangan terlipat di depan dada.

Salene turun dari motor dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah ia baru saja turun dari kereta kencana, bukan motor bebek 110cc.

"Kau terlambat satu jam, Salene," suara Madame dingin, memotong udara malam.

Nik mematikan mesin motornya, melepas helm, dan melangkah maju untuk berdiri di samping Salene. Ia berusaha menatap Madame dengan rasa hormat Martinez yang tersisa.

"Maafkan kami, Madame," ucap Nik tegas. "Hari ini perjalanannya sangat berat karena motor saya tidak bisa melaju terlalu kencang. Kami harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mendapatkan bahan riset yang sempurna bagi tugas Salene."

Madame Lumiere menatap Nik dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu beralih ke motor kecil di belakangnya. Ia tampak sedikit meremehkan kendaraan itu, namun ia hanya mengangguk singkat.

"Keluarga Martinez memang punya selera yang... unik," sindir Madame pelan. "Terima kasih sudah mengantar putriku kembali. Salene, masuk sekarang. Pelayan sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi. Kau bau asap jalanan."

Salene tidak menoleh lagi pada Nik. Ia hanya mengangguk kecil pada ibunya dan berjalan masuk melewati gerbang besar itu tanpa sepatah kata pun.

Nik berdiri di sana, memperhatikan punggung Salene yang menjauh hingga pintu besar mansion tertutup rapat. Ia merasa seperti baru saja mengantarkan Cinderella kembali ke ibu tirinya, namun kali ini tidak ada sepatu kaca yang tertinggal—hanya sisa rasa hangat di ujung jarinya dan aroma mie instan yang kini terasa sangat menyedihkan.

Nik kembali memakai helmnya, menyalakan mesin Cross Cub-nya yang kecil, dan pergi meninggalkan Mayfair. London kembali menjadi kelabu baginya, namun ia tahu, di balik dinding tinggi itu, ada sebuah lukisan badai yang sedang menunggu untuk diselesaikan.

🌷🌷🌷

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!