NovelToon NovelToon
Akan Ku Ubah Takdirku

Akan Ku Ubah Takdirku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen Sun044

dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perubahan sikap Bude

Awalnya, Budenya bekerja dengan sangat rajin. Dia datang lebih pagi dari yang ditentukan dan pulang lebih larut daripada pekerja lainnya. Dia melakukan tugasnya di bagian pengemasan dan pengiriman dengan teliti dan sungguh-sungguh. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, dan dia selalu tersenyum saat berbicara dengan siapa pun, termasuk denganku.

Ibu-ibu pekerja lain pun mulai berbicara baik tentangnya. "Bude kamu sekarang berubah ya, Laras. Dulu kan terkenal galak dan suka meremehkan orang, sekarang jadi rajin dan sopan," kata Bu Sari suatu hari saat kami sedang istirahat sejenak.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku pun mulai merasa lega dan berpikir bahwa mungkin dia benar-benar sudah berubah. Mungkin kesuksesanku dan kesempatan yang aku berikan padanya telah menyadarkannya akan kesalahannya dulu. Aku mulai mempercayainya lebih lagi, bahkan kadang memberinya tugas yang lebih penting, seperti mengambil bahan baku dari pemasok atau mengantar barang ke tempat pengiriman.

Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan sikapnya mulai terlihat samar. Semakin dia merasa dipercaya, semakin dia mulai bersikap santai. Kadang dia datang terlambat dengan alasan sakit atau ada keperluan keluarga yang mendesak. Kualitas kerjanya pun mulai menurun—ada beberapa barang yang dikemas kurang rapi hingga sampai ke tangan pelanggan dalam kondisi sedikit rusak, dan aku harus menggantinya dengan barang baru.

Aku sempat menegurnya dengan halus. "Bu, tolong lain kali lebih teliti ya dalam mengemas. Ini kan nama kita yang dipertaruhkan. Kalau pelanggan kecewa, mereka tidak akan pesan lagi," kataku padanya.

Dia hanya mengangguk-angguk dan meminta maaf, tapi perubahannya hanya bertahan beberapa hari saja, lalu kembali lagi ke sikap yang sama.

Hal yang lebih mengkhawatirkan mulai terjadi sekitar dua bulan setelah dia bekerja di sana. Aku mulai menyadari bahwa stok bahan baku, seperti rotan pilihan dan kain perca dengan motif tertentu, sering kali berkurang lebih banyak dari yang seharusnya digunakan untuk produksi. Awalnya aku mengira itu karena kesalahan pencatatan, tapi setelah aku cek berkali-kali, jumlahnya memang tidak masuk akal.

Suatu hari, aku datang ke bengkel lebih awal dari biasanya karena ada pesanan mendesak yang harus disiapkan. Saat aku masuk, aku melihat Budenya sedang menyelipkan beberapa gulungan kain perca yang bagus dan beberapa potong rotan berkualitas tinggi ke dalam karung goni di belakang pintu gudang. Dia terlihat tergesa-gesa dan kaget saat melihatku tiba-tiba muncul.

Wajahnya memerah padam, dan dia buru-buru menutup karung itu dengan terburu-buru. "La... Laras? Kamu sudah datang?" katanya dengan suara gugup, matanya berkedip-kedip tidak tenang.

Aku menatapnya tajam, hatiku terasa perih dan kecewa. "Apa yang Bude lakukan di sana? Apa yang Bude masukkan ke dalam karung itu?" tanyaku, suaraku terdengar dingin dan tegas.

Budenya mulai berkeringat dingin. Dia tertawa kecil dengan canggung. "Ah, ini... ini cuma kain-kain sisa yang sudah tidak terpakai, Laras. Aku mau bawa pulang buat lap lantai di rumah. Kasihan kalau dibuang sia-sia," jawabnya, tapi matanya tidak berani menatap mataku.

Aku berjalan mendekat, lalu membuka karung itu perlahan. Di dalamnya bukan hanya kain sisa, tapi ada kain perca yang masih bagus dan baru, serta rotan-rotan pilihan yang seharusnya digunakan untuk membuat keranjang pesanan khusus. "Bude bilang ini cuma kain sisa? Tapi ini kain dan rotan yang baru saja aku beli minggu lalu, Bu. Ini masih bagus dan seharusnya ada di rak stok, bukan di karung ini," kataku, menahan emosi yang mulai memuncak.

Melihat kebohongannya terbongkar, Budenya akhirnya menghela napas panjang dan menjatuhkan dirinya ke dinding. Wajahnya berubah menjadi masam, dan sikap penurutnya tadi hilang seketika, digantikan oleh wajah aslinya yang dulu aku kenal.

"Ya sudah, kalau kamu sudah tahu!" katanya dengan nada yang mulai meninggi, tidak lagi sopan seperti sebelumnya. "Memang aku ambil! Kenapa sih kamu pelit banget, Laras? Kamu kan sudah sukses, kaya raya. Punya usaha besar, pesanan datang terus. Sedikit saja bahan baku yang aku ambil, apa sih yang kurang buatmu? Kamu tidak akan miskin cuma karena kehilangan ini semua!"

Aku terkejut mendengar jawabannya. Rasa kecewa di dadaku semakin dalam. Ternyata, semua perubahan sikapnya selama ini hanyalah sandiwara. Dia tidak benar-benar berubah. Dia hanya berpura-pura baik agar bisa mendapatkan keuntungan dari usahaku.

"Bu, ini bukan soal banyak atau sedikit, dan bukan soal aku kaya atau miskin," jawabku dengan suara bergetar menahan marah dan sedih. "Ini soal kejujuran dan kepercayaan. Aku sudah memberi Bude pekerjaan, aku sudah memberi Bude penghasilan yang layak. Aku sudah memaafkan kesalahan Bude di masa lalu dan memberi Bude kesempatan untuk berubah. Tapi apa yang Bude lakukan? Bude malah mencuri dari tempat ini, mencuri dari usaha yang sudah aku bangun dengan susah payah."

"Ah, alasan saja kamu!" potong Budenya dengan sinis. "Kamu cuma cari alasan buat menyalahkanku, kan? Kamu memang sama saja seperti orang lain, merasa paling benar dan paling hebat karena sekarang sudah sukses. Kamu lupa kalau kita masih keluarga, kan? Seharusnya kamu berbagi rezeki dengan sukarela, bukan begitu pelit!"

"Aku tidak pelit, Bu. Kalau Bude butuh sesuatu, Bude bisa minta padaku dengan jujur. Aku pasti akan bantu. Tapi mencuri dan berbohong itu hal yang berbeda," jawabku tegas. "Dan karena Bude sudah melakukan ini, aku tidak bisa lagi membiarkan Bude bekerja di sini. Kepercayaanku sudah rusak. Tolong Bude tinggalkan tempat ini sekarang juga."

Budenya mendengus kesal, wajahnya merah padam karena marah dan malu. "Yasudah! Aku juga tidak mau kerja di sini kalau harus diperlakukan seperti ini! Kamu lihat saja nanti, aku tidak butuh usahamu!" katanya sambil menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan bengkel dengan marah, meninggalkanku yang berdiri sendirian dengan hati yang perih.

Aku duduk lemas di kursi kerjaku. Air mata mulai menetes. Rasanya sakit sekali mengetahui bahwa orang yang sudah aku beri kesempatan untuk berubah ternyata masih memiliki niat buruk di balik sikap manisnya. Tapi di sisi lain, aku juga merasa lega karena kebohongannya akhirnya terungkap. Aku belajar satu pelajaran penting hari ini: tidak semua orang yang datang dengan wajah memelas dan kata-kata manis memiliki niat yang tulus. Aku harus lebih waspada dan berhati-hati dalam mempercayai orang lain, meskipun mereka adalah keluarga sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!