NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Segel yang Terkoyak

Malam yang tadinya tenang di reruntuhan kuil tua itu kini terasa mencekam.

Pria tua berjubah hitam itu melangkah maju, setiap pijakannya di atas tanah kering membuat debu berputar-putar dalam pola yang ganjil.

Namanya adalah Ki Brata, salah satu algojo rahasia milik Adipati Kalingga yang telah lama mencapai Ranah Emas tingkat awal.

Di dunia persilatan, mencapai Ranah Emas berarti seseorang telah mampu memadatkan energi kanuragan mereka menjadi inti yang tidak stabil namun sangat kuat, mampu menghancurkan sebuah bangunan besar hanya dengan satu serangan telapak tangan.

"Bocah, kau memiliki keberanian yang besar, namun keberanian tanpa kekuatan hanyalah jalan pintas menuju liang lahat," ucap Ki Brata dengan suara serak yang bergema di reruntuhan kuil.

Wira berdiri tegak, tangannya menggenggam tongkat kayu lusuh itu dengan santai, namun urat-urat di lengannya mulai menonjol.

Di belakangnya, Sekar Arum merasakan tekanan yang begitu hebat hingga dadanya sesak. Ia mencoba mengangkat pedang pendeknya, namun tangannya bergetar hebat.

Inilah perbedaan tingkat yang nyata, seorang praktisi Ranah Perak sepertinya hanyalah butiran debu di hadapan keagungan Ranah Emas.

"Kak Sekar, sudah kubilang mundur," bisik Wira sekali lagi, suaranya kini terdengar sangat berat dan penuh wibawa.

"Jangan biarkan auranya merusak inti kekuatanmu. Biar kakek tua yang bau tanah ini aku yang urus." lanjut Wira dengan sindiran.

Ki Brata tertawa meremehkan.

"Menarik. Seorang bocah Ranah Dasar berani menyebutku bau tanah? Mari kita lihat seberapa keras tulangmu setelah aku remukkan!"

Tanpa peringatan, Ki Brata melesat maju. Gerakannya tidak lagi bisa ditangkap oleh mata telanjang.

Ia muncul tepat di depan Wira, telapak tangannya memancarkan cahaya kuning keemasan yang menyilaukan,

"Telapak Pemecah Karang". Gumamnya lirih.

Hantaman itu membawa tekanan ribuan kali siap menghancurkan dada Wira.

BUM!

BUM!

BUM!

Ledakan energi terjadi, debu dan puing-puing kuil beterbangan ke segala arah. Sekar Arum berteriak, mengira Wira telah hancur.

Namun, saat debu menipis, matanya membelalak tak percaya. Wira masih berdiri di tempatnya, menahan telapak tangan Ki Brata hanya dengan menggunakan satu ujung tongkat kayunya.

"Hanya segini kekuatan Ranah Emas?" tanya Wira dengan senyum dingin yang mengerikan.

Ki Brata terkejut bukan main. Matanya melotot menatap tongkat kayu lusuh itu. "Bagaimana mungkin... kau tidak hancur? Siapa kau sebenarnya?!"

Wira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memejamkan matanya sejenak. Di dalam lubuk jiwanya, ia membayangkan sebuah gerbang raksasa yang dirantai dengan cahaya putih.

Dan ada sebuah segel yang dipasang oleh Dewi Shinta Aruna untuk melindungi tubuh Wira yang masih muda dari kekuatan dewa yang terlalu besar.

Guru, maafkan aku. Kali ini saja, izinkan aku menggunakan sedikit kekuatan itu untuk menghukum iblis ini, batin Wira.

Krak!

Suara retakan terdengar bukan dari benda, melainkan dari udara di sekitar Wira.

Tiba-tiba, aura biru langit yang sangat murni meledak dari tubuh Wira, menyapu bersih tekanan aura kuning milik Ki Brata.

Rambut Wira berkibar liar, dan matanya kini sepenuhnya berpendar cahaya biru elektrik.

Ini bukanlah energi kanuragan biasa, ini adalah Energi Sukma Dewa yang telah menyatu dengan darahnya.

"Kau ingin tahu siapa aku?" Wira melangkah maju, membuat tanah di bawah kakinya retak dan hangus.

"Aku adalah mimpi buruk yang kau ciptakan tujuh tahun lalu di desa itu. Aku adalah nyawa yang kau coba cabut namun ditolak oleh Bumi. Aku adalah Wira Wisanggeni, dan malam ini, kau akan menjadi orang pertama yang merasakan amarahku!" gumamnya pelan namun penuh tekanan yang sangat kuat.

Wira memutar tongkatnya dengan gerakan yang sangat lambat namun setiap putarannya menciptakan pusaran angin yang tajam.

Ki Brata yang kini dipenuhi rasa takut yang luar biasa mencoba melepaskan serangan pamungkasnya. Ia mengumpulkan seluruh energi Ranah Emasnya, menciptakan bola cahaya raksasa di atas kepalanya.

"Jurus Matahari Terbenam!" teriak Ki Brata dengan putus asa.

Bola cahaya itu dilemparkan ke arah Wira. Namun, Wira hanya mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi.

"Jurus Pembelah Langit, Petir Biru!" gumam Wira pelan dan santai.

Ujung tongkat kayu itu menyambar udara, dan seketika itu juga, seberkas kilat biru raksasa menyambar turun dari langit yang cerah, menembus atap kuil dan menghantam tepat ke arah bola cahaya Ki Brata.

KRAKKK!!..

DUARRR!

Guncangan itu terasa hingga ke seluruh penjuru Ibu Kota Astagina. Warga yang sedang tidur terbangun karena mengira ada gempa bumi dahsyat.

Cahaya biru itu menerangi malam, menelan seluruh keberadaan Ki Brata. Sang algojo Ranah Emas itu bahkan tidak sempat berteriak saat tubuhnya hancur menjadi abu oleh kemurnian energi dewa yang dilepaskan Wira.

Hening pun kembali menyelimuti reruntuhan kuil. Wira berdiri terengah-engah, cahaya biru di matanya perlahan memudar, dan tubuhnya gemetar hebat. Melepaskan segel kekuatan tersebut memberikan beban yang luar biasa besar bagi fisiknya yang masih berumur dua belas tahun.

Sekar pun bergegas berlari mendekat, menangkap tubuh Wira yang hampir jatuh.

"Wira! Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan lembut dan panik.

Wira mencoba tersenyum konyol seperti biasanya, meski wajahnya sangat pucat. "Hehe... tenyata... melepaskan segel itu rasanya seperti... perut diputar-putar setelah makan ubi busuk, Kak..."

Namun, sebelum Sekar sempat menjawab, terdengar suara derap ribuan kaki kuda dari arah kota.

Cahaya obor mulai terlihat mendekat. Pasukan besar kerajaan sedang menuju ke sana karena melihat ledakan cahaya tadi.

"Wira, kita harus pergi sekarang! Mereka akan segera mengepung tempat ini!" seru Sekar sambil memapah Wira.

"Tunggu..." Wira mengambil lencana elang mata merah milik Ki Brata yang terjatuh di atas abu. Ia meremasnya hingga hancur. "Adipati Kalingga... tunggu aku. Ini belum berakhir."

Keduanya menghilang ke dalam kegelapan hutan di belakang kuil, tepat sebelum ribuan prajurit kerajaan sampai di lokasi tersebut.

Yang tersisa hanyalah reruntuhan kuil yang kini hancur total dan bau gosong yang menyengat, menjadi saksi bisu lahirnya seorang legenda baru yang akan mengguncang tatanan alam semesta.

Malam itu, di kedalaman Hutan Terlarang, Dewi Shinta Aruna membuka matanya dari meditasinya. Ia menatap ke arah ibu kota dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Wira... kau telah mengambil langkah pertama, kini takdirmu bukan lagi milikmu sendiri, melainkan terbagi dengan Langit," gumam sang Dewi Agung pelan sebelum kembali memejamkan mata.

Perjalanan Wira kini benar-benar telah dimulai. Ia bukan lagi sekadar bocah hutan yang ingin membalas dendam, melainkan seorang pengubah takdir yang akan menyeret seluruh kerajaan, dewa, dan iblis ke dalam pusaran konflik yang tak terelakkan.

Dan tujuannya selanjutnya adalah mencari jejak-jejak keberadaan Adipati Kalingga yang ternyata sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih gelap di sebuah kerajaan tetangga yang sedang kacau balau.

Perjalanan mereka membawa mereka melintasi perbatasan Kerajaan Astagina menuju wilayah-wilayah liar yang belum terjamah.

Di tengah perjalanan, Wira mulai menyadari bahwa tongkat kayu pemberian gurunya bukan sekadar senjata. Setiap kali ia berlatih, tongkat itu seolah-olah bernapas selaras dengan detak jantungnya.

"Wira, kenapa kau terus menatap tongkat itu?" tanya Sekar suatu sore saat mereka beristirahat di tepi sungai.

Wira yang sedang mencoba menangkap ikan dengan tangan kosong pun langsung menoleh.

"Entahlah, Kak. Rasanya kayu butut ini kadang-kadang lebih pintar dariku. Dia tahu kapan aku harus bergerak dan kapan aku harus diam. Guru bilang ini adalah Tongkat Pemutus Takdir, tapi aku lebih suka memanggilnya 'Si Pemalas' karena dia sangat berat kalau diajak latihan." jawab Wira dengan alasannya.

Sekar tertawa kecil. Sejak kejadian malam itu, hubungan mereka menjadi semakin erat. Sekar tidak lagi melihat Wira sebagai bocah malang, melainkan sebagai seorang pelindung yang kekuatannya melampaui logika dunia persilatan. Namun, ia juga sadar bahwa beban yang dipikul Wira kini menjadi sangatlah berat.

"Kau tahu, Wira? Di kerajaan yang akan kita tuju, Kerajaan Galuhwati, kabarnya sedang terjadi perang saudara. Adipati Kalingga sering terlihat mengirim utusan ke sana. Mungkin di sana kita bisa menemukan jawaban tentang pembantaian keluargamu," ucap Sekar sambil membersihkan pedang pendeknya.

Wira bangkit, memegang seekor ikan besar yang meronta-ronta di tangannya. Wajah konyolnya kembali muncul.

"Wah, kalau ada perang, berarti ubi di sana pasti mahal ya? Ya sudah, mari kita ke sana. Aku ingin melihat apakah para pengkhianat itu bisa lari dari tongkat bututku ini." canda Wira kembali.

Dengan semangat baru dan tekad yang membara, Wira dan Sekar melanjutkan petualangan mereka.

Mereka tidak tahu bahwa di Kerajaan Galuhwati, mereka akan bertemu dengan musuh-musuh baru yang jauh lebih kuat, serta rahasia tentang masa lalu Wira yang bahkan belum diketahui oleh Dewi Shinta sekalipun.

Konflik semesta mulai merayap naik, sedangkan para dewa di langit mulai memperhatikan gerak-gerik sang pemuda bertongkat kayu itu di balik tabir batasan dunia.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!