Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Langkah Pertama Yang Berbahaya
Mobil yang membawa Lisa melaju dengan tenang menembus jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu gedung tinggi terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi, berkilauan dalam diam, sementara di dalam mobil suasana justru terasa sunyi—terlalu sunyi untuk seseorang yang baru saja memulai permainan besar.
Lisa menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya menatap ke luar jendela tanpa benar-benar fokus pada pemandangan di sana. Pikirannya masih bergerak cepat, mengulang setiap detail yang terjadi malam ini, menganalisis setiap reaksi kecil dari Arvin dan Clara.
Ia tidak boleh melewatkan satu hal pun.
Karena dalam permainan seperti ini…
Detail kecil bisa menjadi senjata paling mematikan.
“Clara mulai gelisah…” gumam Lisa pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ia mengingat bagaimana tangan Clara sempat berhenti saat ia menyebut restoran itu, bagaimana sorot mata wanita itu berubah walau hanya sesaat. Itu bukan kebetulan.
Itu adalah celah.
Dan Lisa akan memanfaatkannya.
“Arvin juga mulai curiga…” lanjutnya dengan nada yang tetap tenang.
Namun tidak seperti Clara, Arvin lebih berhati-hati. Ia tidak mudah menunjukkan emosi, tetapi justru itu yang membuatnya lebih berbahaya.
Lisa menutup matanya perlahan.
Di kehidupan sebelumnya, ia selalu berada satu langkah di belakang mereka.
Namun sekarang…
Ia sudah beberapa langkah di depan.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Yang yang besar dan megah. Pintu gerbang terbuka perlahan, seolah menyambut kepulangan seseorang yang telah lama hilang.
Lisa turun dari mobil dengan anggun.
Udara malam terasa lebih segar dibandingkan sebelumnya.
Namun sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah…
Ia berhenti sejenak.
Devan.
Nama itu kembali muncul di pikirannya tanpa diundang.
Lisa mengerutkan kening sedikit.
Ia bukan tipe orang yang mudah terdistraksi.
Namun pria itu…
Ada sesuatu yang berbeda.
Tatapannya.
Cara berbicaranya.
Dan terutama… keyakinannya.
“Kita akan bertemu lagi.”
Kalimat itu terngiang jelas di benaknya.
Lisa menghela napas pelan.
“Aku tidak butuh hal yang tidak pasti sekarang…”
Ia menggelengkan kepala kecil, seolah ingin menyingkirkan pikiran itu.
Fokusnya hanya satu.
Balas dendam.
Lisa akhirnya masuk ke dalam rumah.
Begitu pintu terbuka, aroma hangat yang familiar langsung menyambutnya. Lampu ruang tamu masih menyala, menandakan seseorang masih terjaga.
“Lisa? Kamu sudah pulang?”
Suara lembut itu membuat langkah Lisa terhenti.
Ia menoleh.
Dan untuk sesaat…
Waktu terasa berhenti.
Seorang wanita paruh baya berdiri di sana dengan wajah penuh kekhawatiran.
Ibunya.
Di kehidupan sebelumnya…
Ibunya meninggal tanpa ia bisa lakukan apa pun.
Dan sekarang…
Wanita itu berdiri di depannya.
Hidup.
Sehat.
Nyata.
“Mama…” suara Lisa sedikit bergetar tanpa ia sadari.
Ibunya tersenyum hangat.
“Kamu kenapa? Capek ya?”
Tanpa sadar, Lisa berjalan mendekat.
Dan dalam satu gerakan…
Ia memeluk ibunya erat.
Sangat erat.
Seolah ia takut kehilangan lagi.
Ibunya sedikit terkejut, namun segera membalas pelukan itu dengan lembut.
“Lisa? Ada apa?” tanyanya pelan.
Lisa menutup matanya.
Air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan.
Namun kali ini…
Bukan karena sakit.
Melainkan karena kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
“Aku cuma… kangen,” bisiknya pelan.
Ibunya tersenyum, mengelus rambutnya dengan lembut.
“Kamu ini… baru juga pergi sebentar.”
Lisa tertawa kecil di tengah tangisnya.
Jika saja ibunya tahu…
Bahwa bagi Lisa, pertemuan ini seperti keajaiban.
Setelah beberapa saat, Lisa melepaskan pelukan itu perlahan.
Ia menghapus air matanya dengan cepat agar tidak terlihat terlalu mencurigakan.
“Aku baik-baik saja,” katanya, mencoba terdengar normal.
Ibunya mengangguk, walaupun masih terlihat sedikit khawatir.
“Kalau begitu cepat istirahat. Jangan terlalu capek.”
Lisa tersenyum.
“Iya, Ma.”
Ia berjalan menuju kamarnya.
Namun langkahnya tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Jika tadi ia berjalan sebagai seseorang yang baru memulai balas dendam…
Sekarang ia berjalan sebagai seseorang yang memiliki alasan lebih besar.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Tetapi juga untuk keluarganya.
Lisa masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu perlahan.
Ruangan itu kembali sunyi.
Ia berjalan ke arah tempat tidur, lalu duduk perlahan.
Beberapa detik ia hanya diam.
Menatap kosong ke depan.
Lalu perlahan…
Ekspresinya berubah.
Dingin.
Tegas.
Penuh perhitungan.
Lisa mengambil ponselnya.
Membuka beberapa file.
Catatan.
Nama.
Tanggal.
Ia mulai menuliskan sesuatu dengan serius.
Semua yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya.
Setiap kejadian penting.
Setiap kesalahan yang pernah ia buat.
Dan setiap langkah yang akan ia ubah.
“Langkah pertama…” gumamnya pelan.
Jarinya berhenti sejenak di layar.
Lalu ia mengetik lagi.
“Menghancurkan kepercayaan mereka.”
Lisa tersenyum tipis.
Ia tahu Arvin adalah tipe pria yang haus kontrol.
Ia ingin memiliki segalanya.
Dan cara terbaik untuk menghancurkan orang seperti itu…
Adalah membuatnya kehilangan kendali.
Perlahan.
Tanpa ia sadari.
Lisa menatap layar ponselnya dengan tajam.
“Arvin…”
Suara itu hampir seperti bisikan.
“Kamu ingin menikah denganku, kan?”
Senyuman Lisa semakin dalam.
“Baik…”
Nada suaranya berubah lebih dingin.
“Aku akan membuatmu jatuh lebih dalam.”
Ia menutup ponselnya perlahan.
Lalu berbaring di tempat tidur.
Matanya menatap langit-langit kamar.
Namun pikirannya terus bekerja.
Menyusun strategi.
Mengatur langkah.
Dan untuk pertama kalinya…
Lisa benar-benar merasa hidup.
Namun di sudut lain kota…
Di sebuah ruangan kerja yang luas dan elegan…
Seorang pria berdiri di depan jendela besar, menatap pemandangan malam dengan ekspresi tenang.
Devan.
Tangannya memegang gelas minuman, namun pikirannya tidak berada di sana.
Bayangan seorang wanita terus muncul di benaknya.
Wanita yang menatapnya tanpa rasa takut.
Wanita yang mengatakan bahwa tidak semua yang terlihat itu nyata.
“Menarik…”
Devan mengulang kata itu pelan.
Sudah lama ia tidak merasa penasaran terhadap seseorang.
Namun malam ini…
Ada sesuatu yang berbeda.
Ia mengambil ponselnya.
“Cari tahu siapa dia.”
Perintahnya singkat.
Namun tegas.
Di balik ketenangannya…
Rasa ingin tahunya mulai tumbuh.
Dan tanpa ia sadari…
Ia baru saja melangkah masuk ke dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Sebuah permainan…
Yang dipimpin oleh seorang wanita yang telah kembali dari kematian. 🔥