Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Tempramental
Acara perusahaan terlihat semakin sepi dengan orang-orang sudah mulai meninggalkan acara tersebut karena malam semakin larut. Begitu juga dengan Dharma yang terlihat berjalan sempoyongan di koridor kantor.
Dharma ternyata sudah meninggalkan tempat acara tersebut dengan kesadarannya yang tidak stabil.
"Alea....."
Dharma sejak tadi tidak berhenti memanggil nama istrinya.
"Kamu di mana?"
"Kamu mencari kesempatan untuk pergi bertemu dengan dia diam-diam?"
"Alea jika itu terjadi di depan mataku. Aku tidak akan pernah mengampunimu!" Dharma terus saja melantur berbicara.
Sampai akhirnya Dharma bertabrakan dengan Monica yang buru-buru mengeluarkan ponselnya dari tasnya.
"Astaga Dharma," umpat Monica.
Dharma membuka matanya sedikit lebar mematikan wanita di hadapannya.
"Sayang, ternyata kamu di sini. Aku sejak tadi mencari kamu, aku pikir kamu mencari kesempatan untuk bertemu dengan laki-laki itu," ucap Dharma tertawa terkekeh.
"Kamu mabuk berat?" tanya Monica mencoba untuk meluruskan posisi berdiri Dharma yang sejak tadi bersandar pada tubuhnya.
"Aku tidak mabuk Alea, kamu pikir aku tidak kuat minum. Lihatlah aku baik-baik saja, aku tidak mabuk sayang," jawabnya.
"Bagaimana mungkin kamu tidak mabuk, kamu saja sudah berpikiran bahwa aku adalah Alea. Dharma aku Monica!" tegas Monica.
"Benarkah...." Dharma melebarkan pandangannya mendekatkan wajahnya memastikan wanita di depannya.
Ha-ha-ha-ha-ha-ha.
Dharma tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata aku sudah cukup tua sampai tidak menyadari bahwa kamu bukan Alea," ucap Dharma.
"Kamu benar-benar kebiasaan Dharma, kamu kalau sudah minum alkohol tidak pernah tahu batasan, alkohol bisa menghancurkan tubuh kamu," ucap Monica dengan geleng-geleng kepala.
"Hey, kenapa kamu jadi menceramahi ku Monica. Kamu seakan-akan begitu peduli kepadaku, ahhhhh sudahlah, apa kamu melihat istriku yang cantik itu?" tanya Dharma.
"Sejak tadi aku tidak melihatnya," jawab Monica.
"Payah," Dharma tidak ingin mengatakan apapun dan berlalu dari hadapan Monica dengan melanjutkan langkahnya untuk mencari Alea.
"Heh Monica!" Monica membalikkan tubuhnya ketika langkah Dharma terhenti.
"Aku sebenarnya sangat membencimu karena sejak dulu kau lebih menyukai Raidan di bandingkan aku. Aku menjadi laki-laki brengsek dan tidak tahu batasan karena dirimu, tetapi sudahlah semua itu sudah berlalu. Jadi saranku sebaiknya kau jangan pernah melepaskan Raidan. Hati-hati pria itu semakin licik!" ucap Dharma.
Monica mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang dikatakan Dharma.
"Memang konyol sekali sih ikatan yang sudah aku berikan untuk mereka berdua, tetapi apapun itu mereka berdua tidak akan bisa macam-macam. Baik bukan aku Monica sudah mengingatkanmu, jadi selebihnya aku serahkan kepadamu," ucap Dharma tersenyum miring kemudian melanjutkan langkahnya yang sempoyongan.
"Apa maksud dari perkataannya?" gumam Monica kebingungan.
"Sudahlah Monica untuk apa juga aku harus menarik kesimpulan atas pembicaraan orang yang sedang mabuk," ucap Monica dengan geleng-geleng kepala.
Kemudian Monica melanjutkan langkahnya dan tidak peduli kepada Dharma yang terus mencari keberadaan istrinya.
******
Malam sudah berlalu dengan mentari pagi yang kembali tiba. Dharma terbangun dari tidurnya dengan memijat kepalanya yang sangat berat. Ketika mata itu terbuka Dharma terduduk begitu cepat ketika melihat keberadaannya.
"Aku ada di rumah?" tanyanya dengan kepala berkeliling memastikan bahwa kamar itu tak lain memang adalah kamar miliknya.
"Tidak, kenapa aku bisa berada di sini? bukankah tadi malam aku?" Dharma mencoba mengingat-ingat dengan memegang kepalanya yang justru semakin dia ingat semakin sakit.
"Ahhhh sial, kenapa aku terus aja lupa dengan apa yang terjadi? Ini benar-benar sangat memuakkan," umpat Dharma semakin terlihat emosi.
Menyibak selimut dan kemudian turun dari ranjang. Dharma keluar dari kamar dan melihat Alea terlihat duduk di meja makan tampak anggun menikmati sarapannya.
"Siapa yang membawa aku pulang?" tanya Dharma membuat perhatian Alea tertuju pada Dharma.
"Kita pulang bersama," jawabnya kembali melanjutkan makannya.
"Bagaimana mungkin kita bisa pulang bersama dan sementara sejak kemarin aku mencari kamu di acara Perusahaan," ucap Dharma.
"Bagaimana. Mas, bisa mencariku sementara Mas saja mabuk tidak bisa mengendalikan untuk tidak minum," Alea kembali menimpali pertanyaan itu.
Dharma lagi-lagi mencoba untuk mengingat, tetapi semakin mengingat justru kepalanya semakin sakit. Dharma mengambil segelas air putih dan langsung meneguknya.
"Daniel membantuku membawa kamu masuk ke dalam kamar, sekali lagi aku tidak akan datang ke acara seperti itu, nyaris aja kandunganku terjadi sesuatu karena kejenuhan di acara itu," ucap Alea dengan penuh penekanan.
"Jadi kamu menyalahkanku?" tanya Dharma.
"Mas, mengajakku untuk menghadiri acara Perusahaan dan sementara. Mas sendiri sibuk dengan teman-teman Mas tanpa peduli denganku!" tegas Alea memperlihatkan ekspresi wajah kesalnya.
Padahal Alea justru menikmati percintaan panas dengan Raidan, perselingkuhan memang memicu kebohongan, manipulatif dan penuh dengan drama seolah-olah agar tidak dicurigai.
"Alea kamu adalah istri pemilik perusahaan terbesar di negara ini. Kamu juga sebentar lagi akan menjadi istri pewaris, jika kamu tidak hadir di acara besar perusahaan, maka, Mama dan Papa akan mempertanyakan hal itu. Kamu apa susahnya mengikuti semua yang aku mau dan lagian semua itu demi kebaikan kamu!" tegas Dharma.
Alea memilih untuk diam tidak memberi respon pada ucapan suaminya itu yang terus mengingatkan siapa dirinya.
"Lagipula aku juga tidak tahu apa yang terjadi kemarin dan bisa saja kamu justru mengambil kesempatan untuk bertemu dengan Raidan...." ucap Dharma mencurigai istrinya membuat Alea menatap serius ke arah Dharma.
"Kamu memiliki wanita lain di belakangku?" tanya Alea secara tegas membuat mata Dharma melotot.
"Apa maksudmu?" tanyanya tersenyum getir berusaha untuk tenang dengan pertanyaan menohok dari istrinya itu secara blak-blakan tanpa basa-basi.
"Biasanya pria yang terus saja mencurigai istrinya melakukan ini dan itu di belakangnya adalah pria yang berusaha untuk menutupi hubungannya di belakang istrinya!" tegas Alea.
"Kau menuduhku berselingkuh?" tanya Dharma.
"Mas, juga sejak awal selalu saja menuduhku memiliki hubungan dengan Raidan. Padahal hubungan kami ada karena Mas!" tegas Alea menekan suaranya.
Pakkkkk.
Dharma kembali melampiaskan amarahnya dengan memukul meja kuat dan bahkan gelas sampai terjatuh ke lantai membuat Alea kaget dengan sikap tempramental suaminya itu semakin menjadi-jadi.
"Heh, aku menyuruhmu tidur dengan dia hanya untuk anak dan kalian tidur juga dengan waktu yang telah aku berikan bukan keterusan!" tegas Dharma menekan suaranya menunjuk tepat di wajah Alea.
Alea terlihat kesulitan menelan ludah, tatapan mata suaminya itu semakin tajam.
"Ingat Alea. Aku mengangkat derajatmu dengan menikahimu dan membantu keluargamu. Jika kau berulah sedikit saja, bukan hanya kau yang akan berakhir tetapi juga semua keluargamu!" tegas Dharma memberi ancaman.
"Aku sudah mengatakan tidak memiliki hubungan apapun dengan Raidan. Kenapa terus menuduh ku!" tegas Alea masih tetap dengan jawaban yang konsisten.
"Jika merasa tidak melakukan hubungan apa-apa, maka jangan membuatku terus mencurigaimu!" tegas Dharma.
"Aku benar-benar muak berbicara dengan wanita sepertimu, sudah syukur hidupnya dibantu dan diberikan kehidupan enak," ucap Dharma menekan suaranya dan kemudian langsung pergi meninggalkan meja makan itu.
"Kamu benar-benar semakin kelewatan Dharma. Aku tidak bisa terus berada di tempat ini, aku harus menyelamatkan keluargaku, menyelamatkan nasibku dan lepas dari laki-laki seperti dia!" batin Alea mulai khawatir dengan Dharma yang semakin bertingkah hari demi hari.
Bersambung.....