Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak digital dan kerikil tajam di dunia maya
Badai di dalam tembok pesantren mungkin telah mereda, namun di dunia luar, sebuah badai digital yang tak kasat mata namun mematikan tengah dipersiapkan. Najwa telah melewati garis batasnya; baginya, jika ia tidak bisa memiliki sang Gus, maka tidak boleh ada seorang pun yang bisa, apalagi seorang "pendosa" dari kota.
Zayna memulai misi "Empat Puluh Hari"-nya dengan semangat yang baru. Setiap pagi, ia duduk di serambi masjid bersama sepuluh anak yatim yang lucu-lucu namun luar biasa aktif. Ia mengajar mereka mengeja Alif, Ba, Ta dengan penuh kesabaran, sesekali menyelipkan cerita-cerita pahlawan Islam yang ia baca semalam suntuk.
"Kak Zayna, kenapa huruf Ha suaranya seperti orang kedinginan?" tanya salah satu bocah sambil tertawa.
Zayna tersenyum, sebuah senyuman yang kini terasa sangat ringan. "Karena huruf itu sedang memeluk hatinya sendiri agar hangat, sayang. Sama seperti kita yang harus selalu memeluk kebaikan."
Di kejauhan, Gus Haidar memperhatikan dari balik jendela kantor madrasah. Ia melihat perubahan itu. Zayna yang dulu meledak-ledak kini mulai tenang laksana air di dalam bejana perak. Namun, ketenangan itu mendadak koyak saat Zoya berlari menuju Zayna dengan wajah sepucat kapas.
"Mbak Zay... Mbak harus lihat ini," tangan Zoya gemetar saat menyodorkan ponselnya.
Zayna mengambil ponsel itu. Di layar, terlihat sebuah unggahan yang telah dibagikan ribuan kali di media sosial. Judulnya bombastis: "Skandal Pesantren Ternama: Calon Istri Sang Gus Ternyata Mantan Ratu Kelab Malam?"
Di bawahnya, foto-foto Zayna yang dirusak oleh Najwa terpampang dengan jelas, namun kali ini lebih lengkap. Ada cuplikan video lama saat Zayna sedang menari di tengah kerumunan, tertawa dengan pakaian yang sangat kontras dengan kerudung yang kini ia kenakan. Kolom komentarnya penuh dengan racun.
"Memalukan! Merusak nama baik agama saja!"
"Pasti pakai pelet buat memikat Gusnya!"
"Hidayah atau pencitraan? Jangan-jangan cuma mau cari perlindungan buat hapus masa lalu."
Zayna merasa dunianya seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mendingin. Semua kerja kerasnya dalam beberapa hari terakhir terasa runtuh hanya dalam satu kali klik.
"Mbak, di depan gerbang... banyak orang bawa kamera," bisik Zoya dengan suara serak. "Wali santri mulai berdatangan. Mereka menuntut penjelasan."
Situasi di pesantren menjadi kacau. Para wali santri yang merasa kecewa berkumpul di depan Ndalem. Mereka merasa dikhianati karena anak-anak mereka dipimpin oleh keluarga yang (menurut mereka) memaklumi kemaksiatan.
Kyai Sepuh terduduk lemas di kursinya. Fitnah ini jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Najwa, yang berdiri di sudut ruangan, berpura-pura sedih, namun di balik cadarnya, ia tersenyum puas. Rencananya bekerja lebih baik dari yang ia duga.
Zayna melangkah menuju ruang tengah Ndalem. Ia tidak menangis lagi. Matanya kering, namun ada ketegasan yang mematikan di sana.
"Kyai, Gus Haidar..." suara Zayna stabil, meski hatinya remuk. "Saya akan pergi. Saya tidak bisa membiarkan pesantren ini hancur karena saya. Biarkan saya yang menanggung semua hujatan ini di luar sana."
Haidar bangkit dari duduknya. Wajahnya yang biasa teduh kini tampak seperti pedang yang terhunus. "Tidak, Zayna. Jika kamu pergi sekarang, maka fitnah itu menang. Jika kamu lari, maka mereka akan selamanya percaya bahwa taubat itu tidak ada."
"Tapi Gus, mereka menghujat Gus! Mereka bilang Gus buta karena cinta!" tangis Zayna akhirnya pecah.
Haidar melangkah mendekati Zayna. Di hadapan Ayahnya, di hadapan Najwa, dan di hadapan para pengurus pesantren, Haidar melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia mengambil ponsel Zoya yang masih menampilkan berita tersebut, lalu ia keluar menuju balkon Ndalem yang menghadap langsung ke arah massa yang sedang berdemonstrasi.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian!" suara Haidar menggelegar melalui pengeras suara masjid, sanggup membungkam riuh rendah di bawah sana.
Ribuan mata mendongak. Haidar berdiri di sana, tegak laksana menara yang tak tergoyahkan oleh angin.
"Kalian melihat foto-foto ini dan menyebutnya skandal?" Haidar mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. "Saya justru melihatnya sebagai keajaiban! Di hadapan kalian adalah bukti nyata bahwa kasih sayang Allah lebih besar daripada seluruh dosa manusia. Jika kalian menolak seseorang karena masa lalunya, maka kalian sedang menghina Tuhan yang Maha Pengampun!"
Hening. Massa terdiam.
"Siapa di antara kalian yang tidak punya dosa?" tanya Haidar, suaranya kini melirih namun puitis dan tajam. "Siapa di antara kalian yang masa lalunya seputih kain kafan? Jika kalian menuntut kesempurnaan, maka jangan cari di dunia ini. Zayna Almeera adalah wanita yang telah memilih untuk meninggalkan gemerlap palsu demi sucinya sajadah. Jika kalian mengusirnya, maka kalian sedang menutup pintu bagi siapapun yang ingin kembali pada-Nya!"
Haidar berhenti sejenak, ia menoleh ke belakang, menatap Zayna yang berdiri di ambang pintu.
"Saya, Haidar Ali, bersaksi dengan nama Allah. Saya tidak mencintai masa lalunya, saya mencintai perjuangannya saat ini. Dan jika kalian tetap ingin pergi dari pesantren ini karena hal ini, maka pergilah. Karena kami lebih memilih menjaga satu jiwa yang bertaubat daripada memelihara seribu jiwa yang merasa dirinya paling suci namun hatinya penuh dengan kebencian."
Massa terdiam. Satu demi satu dari mereka mulai menundukkan kepala. Beberapa ibu-ibu mulai terisak, menyadari bahwa mereka pun pernah salah. Kyai Sepuh di dalam ruangan menghela napas lega, ia melihat putranya telah tumbuh menjadi pemimpin yang sesungguhnya.
Malam itu, pesantren kembali sunyi. Namun, di balik pohon sawo, Haidar menemukan Najwa yang sedang mencoba menghapus jejak digital di ponselnya.
"Hentikan, Najwa," ucap Haidar dingin.
Najwa tersentak. "Gus... saya hanya..."
"Saya tahu itu kamu. Hanya kamu yang tahu di mana foto-foto itu disimpan setelah sidang kemarin," Haidar menatap Najwa dengan pandangan yang paling menyakitkan: pandangan kasihan. "Kamu memiliki hafalan yang luar biasa, Najwa. Tapi sayang, Al-Qur'an itu hanya sampai di kerongkonganmu, tidak turun ke hatimu. Pergilah dari sini. Kembalilah ke orang tuamu. Belajarlah cara mencintai tanpa harus menghancurkan."
Najwa jatuh terduduk, ia menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya—panggungnya, reputasinya, dan cinta yang selama ini ia kejar dengan cara yang salah.
Zayna berjalan mendekati Haidar setelah Najwa pergi. Ia menatap Gus-nya dengan rasa takjub.
"Gus... kenapa Gus berani bilang gitu di depan orang banyak? Gus nggak takut pesantren ini ditinggalkan?"
Haidar menatap bulan yang kini tertutup awan tipis. "Zayna, pesantren ini milik Allah. Jika Allah ingin menjaganya, maka tidak ada satu pun postingan media sosial yang bisa meruntuhkannya. Dan soal kamu..."
Haidar menoleh, tersenyum dengan sangat manis. "Empat puluh harimu baru jalan sepuluh hari. Masih ada tiga puluh hari lagi untuk saya menahan sabar agar tidak segera memintamu menjadi makmum saya seumur hidup."
Zayna tertawa kecil, pipinya memerah di bawah sinar rembulan. "Gus mah, puitis mulu! Tapi makasih ya, Gus. Udah jadi gunung yang paling kokoh buat saya."
Zayna menyadari, jejak digital mungkin tidak akan hilang, tapi ia tidak lagi peduli. Karena ia kini punya jejak baru: jejak sujud di atas sajadah dan jejak pengabdian pada anak-anak yatim. Namun, perjuangan belum usai. Masih ada tiga puluh hari lagi, dan kejutan terbesar dari Ayah Zayna di kota sedang dalam perjalanan menuju pesantren.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp