Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Hidup tanpa Tobias Larsen dulunya adalah sebuah kemustahilan bagi Amara. Ia ingat bagaimana setiap ancaman perceraian dari Giselle membuatnya menggigil ketakutan, bahkan sampai titik di mana ia rela bersimpuh mengelap kaki mertuanya itu hanya demi mempertahankan posisinya sebagai istri. Namun kini, setelah tinta di berkas pengadilan mengering dan statusnya resmi menjadi janda, Amara baru menyadari satu hal: hidup tanpa Tobias ternyata luar biasa melegakan.
Ia tak lagi perlu didera kritik tajam, tidak perlu membuang energi untuk berdandan cantik hanya demi suami yang bahkan tak sudi meliriknya saat pulang. Sebulan berlalu, dan Amara telah menemukan kembali jati dirinya. Di bawah bimbingan Lorenzo, ia bertransformasi menjadi sosok yang tangguh, siap mengambil alih tahta manajer cabang perusahaan keluarga Crawford.
"Pesta di Hilton Metropole?" Amara menatap kartu undangan emas di tangannya.
"Ini panggung pertamamu, Adikku," ujar Lorenzo mantap. "Biarkan dunia bisnis mengenal siapa Amara Crawford yang sebenarnya sebelum kau resmi menjabat."
Malam pesta tiba. Amara berdiri di depan cermin, mengagumi gaun hitam lengan panjang yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan tinggi di sisi kiri memberikan kesan berani, sementara riasan natural dengan lipstik merah muda pucat menonjolkan kecantikan aristokratnya. Ia terlihat seperti definisi CEO wanita yang berkelas dan tak tergoyahkan.
"Amara, Lorenzo sudah menjemput," seru Melanie dari balik pintu.
Amara meraih tas kecilnya dan melangkah keluar. "Aku berangkat, Mel. Jangan menungguku pulang."
Saat mereka tiba di Hilton Metropole, kilatan lampu paparazi menyambar bagaikan petir. Namun, suasana mendadak riuh saat pasangan emas malam itu tiba: Tobias Larsen dan Celestine White.
"Tuan Larsen, apakah Nona White akan segera menjadi Nyonya Larsen yang baru?" tanya seorang reporter dengan antusias.
Celestine tersipu, bermanja di lengan Tobias. "Kami hanya teman baik, meski media sering berasumsi lebih," jawabnya dengan nada yang sengaja dibuat ambigu. Tobias hanya memberikan anggukan datar yang dingin, citra yang selalu ia pertahankan di depan publik.
Namun, fokus Tobias terpecah saat gumaman kekaguman mulai menjalar di kerumunan.
"Siapa wanita itu? Dia sangat cantik!"
"Dia terlihat seperti dewi!"
Tobias menoleh, dan untuk sesaat, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, Amara melangkah dengan keanggunan yang belum pernah ia lihat selama enam tahun pernikahan mereka. Ia tampak begitu bersinar, begitu jauh, dan begitu mempesona. Namun, rasa kagum itu segera digantikan oleh kilatan amarah saat ia melihat tangan Lorenzo melingkar posesif di pinggang Amara.
Amara pun menyadari kehadiran mereka. Matanya bertemu dengan mata Tobias, namun tak ada lagi pemujaan di sana—hanya ada es yang membeku. Baginya, Tobias dan Celestine kini hanyalah debu di masa lalu.
"Jangan khawatir, Lorenzo. Mereka bukan siapa-siapa bagiku," bisik Amara menenangkan kakaknya.
Namun, langkah mereka terhenti saat Fiona Larsen menghadang dengan wajah penuh kebencian. "Mau apa anak yatim miskin sepertimu di sini? Apa kau menyewa gaun ini hanya untuk mengemis sisa makanan?" cibir Fiona.
Amara menahan tangan Lorenzo dan maju selangkah. Matanya memindai pakaian Fiona dari atas ke bawah. "Pakaianmu... kau beli di mana? Jelek sekali."
Fiona ternganga, namun Amara belum selesai. "Tapi memang cocok untukmu. Sampah memang paling pas dibungkus kantong sampah."
"Kau—!" Fiona berteriak marah. "Sekuriti! Usir wanita gila ini!"
"Kau tak punya hak memanggil siapa pun," potong Amara sambil menunjukkan kartu undangan VIP-nya dengan tenang. "Aku datang dengan undangan resmi. Jika kau ingin dipermalukan lebih jauh, silakan berteriak."
Fiona langsung terbungkam. Saat itulah Celestine muncul dengan senyum manisnya yang palsu. "Sudahlah, Fiona. Jangan bicara kasar. Kasihan Amara, mungkin dia sedang berusaha mencari pria kaya di sini untuk menyambung hidup."
Amara menatap Celestine dengan muak. Fiona pun ikut menimpali, "Pria kaya mana yang mau pada wanita mandul? Enam tahun menikah tanpa hasil, benar-benar produk gagal."
Rahang Amara mengeras. "Bukan salahku jika selama enam tahun rahimku tidak terisi. Sebelum kau terlalu banyak bicara, sebaiknya suruh kakakmu periksa ke dokter. Siapa tahu masalahnya ada pada kejantanannya," balas Amara dengan nada setajam silet. "Peringatan ini berlaku untuk kalian berdua. Jangan mengusikku jika tidak ingin hancur."