NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persetujuan Capo de Capi

^^^SEASON V^^^

...୨ৎ──── C H E R R Y ────જ⁀➴...

...(23 Tahun)...

"Ini kehormatan besar buat keluarga," kata Mama sambil menelitiku dari ujung kepala sampai kaki. "Jangan sampai kamu bikin kami kecewa!"

Dia lagi membahas pernikahanku yang sebentar lagi sama Alexander Luke. Itu pun kalau Marunda setuju dengan pernikahan ini. Atau lebih tepatnya, Cavell Rose. Capo dei Capi dari Marunda.

Dia satu-satunya orang yang masih harus memberi persetujuan, dan itu bakal diputuskan malam ini saat makan malam yang diadakan untuk menghormatinya.

Cerita-cerita yang aku dengar tentang Cavell cukup bikin darahku dingin. Aku sama sekali gak antusias buat ketemu dia.

Tapi sebelum itu, aku harus melewati satu malam penuh dengan senyum palsu. Pura-pura seakan gak ada yang lebih aku inginkan selain jadi istri Alexander Luke.

Tuhan, tolong aku.

Rasa merinding pun menjalar di punggungku karena aku gak mau menikah sama Luke. Pria itu sudah lewat empat puluh tahun, dan aku cuma pernah ketemu dia beberapa kali. Setiap interaksi kami pun selalu terasa seperti pertanda buruk buat masa depan aku.

Dia gak pernah sekali pun memberiku senyuman atau kata-kata baik. Sebaliknya, dia memperlakukan aku seperti aku cuma pion kecil dalam permainan besar yang disebut mafia. Sentuhannya selalu kasar, dan kata-kata dia selalu penuh penghinaan.

Tatapan Mama berhenti di rambutku, lalu dia menghela napas kesal. "Mama harap kamu gak memotong dan mengecat rambutmu. Jelek banget."

Dulu rambutku hitam dan panjang sampai ke bokong. Sekarang aku mengecatnya jadi cokelat terang dengan highlight pirang dan memotongnya jadi model bob. Aku melakukan itu karena Luke mulai memanggilku si hitam cantik. Dia selalu menarik rambutku supaya aku menatap dia.

Orang tuaku lebih suka kalau aku pakai pakaian sopan, tanpa makeup, dan menundukkan mata saat ada tamu. Luke kelihatannya tipe yang sama seperti mereka.

Tapi itu bukan tipe aku.

Aku suka main makeup dan mencoba berbagai gaya rambut.

Tatapan Mama turun ke gaun sutra ketat yang aku pakai. Panjangnya cuma sampai pertengahan paha. Di kakiku ada sepatu hak hitam setinggi tiga belas sentimeter.

Aku tahu pakaian ini cukup berani dan sedikit terbuka. Tapi hari ini aku gak bisa menahan diri untuk menunjukkan keras kepalaku.

Sambil menggeleng, Mama bergumam, "Kamu harus banget ya numpahin kopi ke gaun yang Mama pilihin buat kamu?" Dia mendengus kesal.

"Ya sudah. Mau gak mau pakai yang ini. Kita gak bisa bikin para pria itu menunggu lagi."

Tanpa memastikan aku mengikuti dia keluar ruangan, dia terus bicara. "Ingat, Luke itu sepupu Tuan Rose. Kamu bakal menikah dengan keluarga terbaik. Jadi kamu harus melayani Luke dengan patuh. Lakukan apa pun yang dia mau supaya dia tetap mau membawa kamu ke altar."

Karena aku diam saja, Mama berhenti di tengah lorong lalu menatapku tajam.

"Kamu ngerti, Cherry Anabell?"

Ya, aku ngerti. Tapi jelas aku gak setuju.

Saat aku menatap Mama sedikit lebih lama, tangannya langsung melayang dan telapak tangannya menghantam sisi kepala aku.

Ledakan emosi menghantam dadaku. Tanganku mengepal. Setiap tamparan, setiap kalimat yang merendahkan, setiap perintah membuat aku semakin melawan.

Mereka menginginkan seorang putri kecil yang sopan dan patuh. Jangan harap. Yang bakal mereka dapat adalah seorang ratu yang menantang.

Dengan gigi terkatup, Mama berbisik, "Kamu gak boleh merusak kesepakatan ini untuk Papa dan kakakmu."

Aku menelan harga diri dan emosi lalu berkata, "Iya, Ma."

Sonya Bellamy gak pernah menjadi ibu buat aku. Sejak aku bisa mengingat, dia selalu mengontrol hidup aku. Mengatur apa yang aku makan, berapa berat badan aku, apa yang aku pakai, dan bagaimana aku harus bersikap.

Aku gak lebih dari sekadar alat tukar. Sementara kakak laki-lakiku adalah putra mahkota yang bakal menggantikan posisi Papa. Herman bisa melakukan apa pun dan lolos dari pembunuhan.

Aku hanyalah kecelakaan. Orang tuaku sebenarnya sudah cukup dengan Herman, tapi kemudian aku muncul dan mengacaukan kehidupan sempurna mereka dengan keberadaanku yang gak diinginkan.

Mereka gak sabar menjualku ke Alexander Luke. Mereka akan mendapatkan menantu yang masih kerabat pria paling berkuasa di dunia kami. Dan mereka juga bisa menyingkirkan aku.

Mama melemparkan tatapan marah lagi sebelum turun tangga. Saat aku mengikuti dia dengan enggan, aku mendengar kakak berteriak.

"Dia sudah datang!"

Begitu ruang foyer terlihat, aku melihat Herman membuka pintu depan.

Seorang pria naik tangga dengan kepala sedikit menunduk sambil membuka kancing jasnya. Dia melepas jas itu lalu, tanpa menoleh, memberikannya pada pria yang sepertinya pengawalnya.

Saat dia mengangkat kepala, aku menarik napas tajam. Tatapanku terpaku pada Capo dei Capi dari Marunda.

Wajahnya keras tanpa ampun. Dia terlihat seperti dewa yang menguasai segalanya. Kekuatan dan dominasi yang terpancar dari dirinya membuat perhatianku terjebak. Aku bahkan gak bisa mengalihkan pandangan.

Dia tinggi, berkulit gelap, dan sangat tampan.

Cavell Rose.

Saat nama itu muncul di pikiranku, mata gelapnya langsung mengunci mataku. Aku bersumpah, mata itu hitam seperti kematian. Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhku, dan tanpa sadar aku mundur selangkah.

Tiba-tiba Mama mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku maju hingga terpeleset. Sebelum aku sempat menyeimbangkan diri, aku jatuh berlutut. Jari Mama mencengkeram pergelangan tanganku sampai rasa sakitnya menusuk naik ke lengan. Tanganku yang bebas menghantam lantai supaya aku gak terjatuh telungkup di depan semua orang.

"Berdiri," geram Luke pelan.

Rasa malu pun menyergapku. Sebelum aku sempat berdiri, Cavell berjalan melewatiku dengan langkah penuh percaya diri.

Mama menarik pergelangan tangan aku lagi.

"Kamu mempermalukan kami," bisiknya dengan gigi terkatup.

Aku berusaha berdiri tepat saat melihat semua pria mengikuti Cavell. Meski ini pertama kalinya dia datang ke rumah ini, dia langsung berjalan menuju ruang tamu.

Luke melemparkan tatapan gelap padaku.

Aku ditarik lagi. Aku bahkan hampir gak punya waktu memperbaiki gaunku saat Mama bergegas mengejar para pria itu.

"Berhenti narik aku," aku berteriak sambil akhirnya berhasil melepaskan pergelangan tanganku dari genggamannya.

Dia menatap aku dengan marah, tatapan yang biasanya diikuti tamparan. Tapi kami sudah masuk ruang tamu, jadi dia menahan diri karena ada orang lain.

Aku melihat Cavell sedang menuangkan segelas bourbon terbaik milik Papa. Semua pria memandangnya dengan ekspresi menunggu.

Tatapanku melesat ke pistol yang terselip di pinggang celananya, lalu berhenti di bahunya yang lebar.

Dia berbalik. Saat dia meneguk minuman itu, matanya perlahan menyapu seluruh ruangan.

"Kamu pasti capek, bro," kata Luke. "Kenapa gak istirahat sebentar sebelum kita mulai rapat?"

Cavell bahkan gak menanggapi sepupunya.

Saat matanya kembali tertuju padaku untuk kedua kalinya, rasa dingin yang menjalar di tubuhku lebih kuat dari sebelumnya.

Bibirnya terbuka.

"Kesini," perintahnya. Suaranya rendah dan mematikan.

Karena aku gak bergerak, Mama mendorongku ke arah Cavell.

Mataku bertemu dengan matanya. Setiap otot di tubuhku menegang.

Tuhan.

Dia setidaknya satu kepala lebih tinggi dari aku, dan aku sedang memakai sepatu hak tinggi. Tanpa sepatu, mungkin aku cuma sampai di tengah dadanya.

Aku gak ragu dia bisa membunuh aku dengan satu pukulan.

Cavell meneguk sisa minuman di gelasnya. Saat dia menurunkan tangannya, Herman buru-buru menangkap gelas itu ketika Cavell melepaskannya.

Dia bahkan gak repot meletakkan gelasnya di meja. Tatapan kejam Capo dei Capi bergerak dari kepalaku sampai kaki, lalu kembali ke wajahku.

Walau tubuhku mulai gemetar karena takut, entah bagaimana aku tetap bisa mengangkat daguku.

Tuhan.

Tiba-tiba sebuah tangan menekan tengkukku dan memaksaku menunduk.

"Maafkan dia, Tuan Rose," gumam Papa dengan marah. "Biasanya dia lebih patuh. Aku gak tahu kenapa dia seperti ini hari ini."

Dengan jari Papa mencengkeram leherku, aku ditarik mundur lalu didorong ke arah Mama. Dia mencengkeram lengan aku dan menyeret aku keluar ruang tamu.

Aku mendengar Cavell menghela napas, seperti dia bosan dengan semua drama ini.

Mama gak berhenti berjalan sampai aku didorong masuk ke kamarku. Pintu dibanting keras.

Begitu aku berbalik menghadapnya, dia mulai menamparku dengan brutal. Telapak tangannya menghantam wajah dan tubuhku berulang kali.

Dalam momen ini, aku mengangkat kedua tangan di antara kami lalu mendorong Mama menjauh.

"Cukup!" teriakku.

Ledakan emosiku membuatnya terkejut. Dia menatap aku dengan mata melebar.

"Kamu sudah gila?" desisnya.

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka.

Saat Luke masuk ke ruang pribadiku, dia berkata pelan, "Aku yang akan menangani tunanganku."

Mama menatapku dengan marah sekali lagi sebelum memberi Luke senyum kaku.

"Terima kasih."

Saat dia keluar dari kamar, rasa takut langsung mengisi perutku, mencoba mempersiapkan diri untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!