NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Luka yang Serupa

Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Colette. Suasana begitu hening, hanya suara detak mesin yang perlahan mendingin. Jude mematikan lampu besar agar tidak mengundang perhatian tetangga, namun ia tetap diam di kursinya, seolah enggan mengakhiri perjalanan yang singkat namun bermakna itu.

Colette bergerak perlahan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun—karena suaranya seolah telah terkunci di balik tenggorokannya—ia menatap Jude sejenak. Sebelum turun, Colette membungkukkan badannya dalam-dalam, sebuah gestur terima kasih yang sangat formal namun penuh ketulusan. Itulah cara terbaik yang ia miliki untuk menghargai satu-satunya orang di kantor yang tidak menganggapnya sebagai lelucon.

Jude hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis yang dipaksakan. Ada kecanggungan yang menggantung di antara mereka, namun di balik itu, Jude merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Bagi kebanyakan orang, berada di dekat Colette yang pendiam dan "suram" mungkin terasa mencekam. Namun bagi Jude, berada di dekat Colette terasa sangat nyaman.

Setiap kali ia melihat Colette yang meringkuk diam atau melihat matanya yang penuh luka saat dihapus air matanya tadi, ingatan Jude ditarik paksa ke masa lalu. Colette mengingatkannya pada adik perempuannya, sosok kecil yang dulu begitu ceria namun perlahan kehilangan suaranya karena menjadi korban bullying yang keji di sekolah. Adiknya yang malang itu akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri, menyerah pada dunia yang terlalu berisik dan jahat.

Jude gagal menyelamatkan adiknya dulu, dan melihat Colette sekarang seperti diberi kesempatan kedua oleh takdir—meskipun ia hanya bisa menjaganya dari kejauhan.

Di Ambang Keberangkatan

Colette turun dari mobil dan langsung disambut oleh Sinta yang berlari memeluknya. Jude mengawasi dari balik kemudi sampai Colette benar-benar masuk ke dalam rumah. Ia menghela napas panjang, mencengkeram kemudi dengan erat.

"Jangan berakhir seperti adikku, Colette... Kumohon," bisiknya lirih pada kesunyian kabin mobil.

Sinta langsung berlari dari teras rumah begitu melihat sedan tua itu berhenti di depan pagar. Wajahnya yang penuh kecemasan mendadak sedikit melunak saat melihat sosok di balik kemudi.

"Jude! Syukurlah kau yang membawanya pulang," seru Sinta dengan napas terengah-engah. Ia sudah sangat mengenal Jude; pria itu adalah satu-satunya rekan kerja Colette yang sering datang sekadar memastikan Colette sampai di rumah dengan aman atau membawakan barang-barang Colette yang tertinggal.

Jude turun sebentar, menyapa Sinta dengan hormat. "Maaf baru pulang jam segini, Bu. Tadi ada sedikit... keributan di acara kantor."

"Terima kasih banyak, Jude. Ibu tidak tahu harus membalas apa. Kau selalu ada untuk membantunya, bahkan untuk hal terkecil sekalipun," ucap Sinta tulus, matanya berkaca-kaca. Ia tahu betapa sulitnya hidup Colette di luar sana, dan keberadaan Jude adalah satu-satunya ketenangan bagi Sinta.

Sementara itu, Colette yang baru saja membungkukkan badan sebagai tanda pamit pada Jude, tidak menunggu lama untuk ikut dalam percakapan. Tanpa suara, ia langsung melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terdengar terburu-buru menaiki anak tangga kayu menuju kamarnya.

Hanya satu yang ada di pikiran Colette saat ini: tidur.

Ia ingin segera menenggelamkan dirinya di bawah selimut, menutup mata rapat-rapat, dan berharap kegelapan tidurnya bisa menghapus bayangan sentuhan kotor rekan-rekannya, ramalan kematian yang mengerikan, serta tatapan tajam nan memikat dari dukun muda tadi. Meskipun besok adalah hari Sabtu—hari libur yang seharusnya menyenangkan—bagi Colette, libur hanyalah cara untuk bersembunyi lebih lama dari dunia.

Di bawah, Jude masih berdiri menatap jendela kamar Colette yang baru saja menyala.

"Dia sangat lelah, Bu," gumam Jude pelan. "Sebaiknya biarkan dia istirahat total besok."

Jude diam mematung, memandangi pintu rumah yang baru saja tertutup di balik punggung Colette. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin memenuhi paru-parunya. Untuk pertama kalinya sejak pesta kantor itu dimulai, Jude merasa bisa bernapas dengan lega.

Melihat Colette bergegas masuk dengan keinginan kuat untuk tidur adalah sebuah kelegaan tersendiri bagi Jude. Baginya, tidur adalah satu-satunya pelarian paling aman bagi jiwa yang sedang babak belur. Setidaknya di dalam tidur, Colette tidak perlu mendengar ejekan Linda, tidak perlu melihat kerakusan rekan-rekan mereka, dan tidak perlu merasa terancam oleh dunia luar.

Tidurlah, Colette, batin Jude sambil menyeka keringat dingin di pelipisnya. Lupakan semua yang terjadi malam ini.

Jude kemudian beralih menatap Sinta yang masih berdiri di teras dengan raut wajah yang lebih tenang. Ia memberikan senyum kecil yang tulus, seolah memberi isyarat bahwa tugasnya menjaga Colette malam ini telah usai dengan aman.

"Saya pamit dulu, Bu. Pastikan dia tidak terganggu besok pagi," ucap Jude lembut.

Sinta mengangguk, melambaikan tangan saat Jude kembali masuk ke dalam mobil.

Sinta mengangguk lemah. "Iya, Jude. Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah menjadi pelindungnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!