Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16. Hubungan spesial
Happy Reading
"Sebutin satu alasan kenapa aku harus ngabulin permintaan kamu?!" Tanya Aily dengan wajah yang serius.
Sementara Alderza malah menaikkan alis kanannya dan menatap Aily dengan senyuman pertanda bahaya. Wajahnya begitu mengintimidasi. Seringaian kecil mulai muncul, lalu dia mendekat pada Aily sembari berbisik.
"Kalo lo gak ngabulin permintaan gue, siap-siap aja satu sekolah bakal tau tentang skandal yang udah kita lakuin barusan."
Aily memperlihatkan ekspresi seakan ingin menikam cowok itu sekarang juga. Perasaan marah dan malu bersatu di dalam tubuhnya. Benar, cowok itu sangat menyebalkan dan memiliki aura negatif di mana pun dia berada.
Wajah Aily kini memerah. Ia bingung apa yang harus ia lakukan, antara mengabulkan permintaan Alderza atau satu sekolah tahu tentang....
Nooo!!!
"Deal?" Ucap Alderza seraya menatap Aily dengan senyuman serta alis yang diangkat penuh semangat.
"Kamu pikir-"
Alderza kembali membuat Aily terkejut. Dia menutup bibir Aily dengan telunjuknya. Seketika Aily berhenti, bukan hanya berhenti berbicara tapi juga berhenti bernapas.
"LO pikir, bukan KAMU pikir!" Ucap Alderza penuh kemenangan.
"Kalo gue denger lo ngomong 'aku-kamu' lagi di sekolah, liat apa yang bakal gue lakuin!"
Aily mendengus. Dia memutar bola matanya lalu memeluk tasnya yang basah. Sesekali dia menatap tangannya yang mengkerut, dingin terasa menyelusup ke setiap inci tubuhnya.
"Mau pulang." Ucap Aily pelan.
Alderza menatao ke arah matanya tertuju, dan saat ini dia tahu bahwa Aily sedang kedinginan.
"Dah mau nyampe kok! Nih pake." Balas Alderza sembari memberikan sebuah syal kepada Aily dengan senyuman. Aily merasakan itu, bagaimana tatapan matanya yang tulus membuatnya tidak pikir panjang lagi untuk mengambilnya.
"Makasih." Ucap Aily membalas senyuman Alderza.
"Pake aja, itu syal awalnya buat nyokap gue. Tapi gue gak berani ngasih, jadi syal itu bulukan deh di mobil."
Aily memakai syal merah yang tebal itu, begitu hangat. Dia tersenyum kecil, syal yang Alderza berikan mirip sekali dengan pengantin Goblin yang cantik.
"Kenapa?" Tanya Alderza sembari mengendarai mobilnya.
"Syalnya enak, anget."
Alderza tersenyum. Dia menatap jalan yang basah. Hujan sudah mulai surut. Tak terasa, hanya dengan menjemput Aily ke makam ayahnya, lalu bercanda di dalam mobil bisa menghabiskan waktu hingga tiga jam lamanya. Waktu memang cepat berlalu.
10 menit kemudian, mereka bisa melihat rumah putih tua dengan halaman hijau yang membentang cukup luas.
Rumah siapa lagi kalau bukan rumah Aily. Alderza pun berhenti di depan rumahnya. Ia yakin bahwa Tiara saat ini sedang tidak ada di rumah karena masih bekerja.
"Makasih udah nganterin sampe rumah."
Alderza mengangguk, lalu keluar dari mobil ingin melihat Aily masuk ke dalam rumahnya.
Saat Aily hendak meninggalkan Alderza, sesosok cowok dengan tubuh yang sedikit lebih besar dari Alderza menghampiri mereka.
Alderza yakin bahwa ia sama sekali tidak pernah melihat cowok itu ada di rumah Aily sebelumnya, atau bahkan pernah melihatnya bersama dengan Aily.
Cowok itu hanya diam dan menatap baju serta tas Aily yang basah. Ia kemudian melihat ke arah Alderza lalu mendorong keras Alderza hingga menghantam mobilnya cukup keras.
"Lo apain Aily sampe dia basah kek gitu?" Tanya cowok itu dengan nada marah.
Tunggu, siapa cowok itu? Apa jangan-jangan, dia itu pacarnya Aily yang marah karena melihat pacarnya berantakan dan kebetulan saat ini dia sedang bersama dengan pacarnya?
Melihat Alderza yang sama sekali tidak menjawab, cowok tersebut kemudian mencengkram kuat kerah baju Alderza dan sekali lagi bertanya dengan nada keras.
"LO APAIN AILY?" Tanya cowok itu lagi.
Aily seketika panik melihat Alderza di cengkram seperti itu. Ia berusaha untuk membantu Alderza dan berusaha melepaskan tangan cowok itu dari kerah Alderza.
"Kamu diem Aily, gak usah ikut campur!" Ucap cowok itu seketika menurunkan nadanya.
"Gue tau gue salah udah buat Aily kayak gitu! Lo mau pukul gue juga silahkan!" Alderza memasrahkan dirinya dan hanya diam tak melakukan apa-apa.
Mendengar itu, tentu saja cowok itu langsung mendaratkan bogem mentah di pipi hingga bibir Alderza yang membuat mulutnya mengeluarkan darah akibat hantaman keras tersebut.
"Alderza!" Aily langsung panik begitu mengetahui ada darah yang keluar dari mulut Alderza.
"Bang Tama, udah cukup!" Ucap Aily dengan suara lantang.
Bang? Maksudnya cowok yang ada di depan Alderza saat ini adalah kakaknya Aily? Pantas saja dia begitu khawatir dengan keadaannya.
Tapi entah mengapa ada perasaan lega di dalam diri Alderza begitu mendengar hal tersebut.
"Gak papa Ly, lagian rasa sakit yang gue rasain saat ini gak sebesar yang lo rasain!" Alderza kemudian menunduk menunjukkan seberapa merasa bersalahnya dia.
"Gentle juga lo." Tama tersenyum melihat Alderza yang bersikap gentle.
"Sorry udah mukul lo. Gue kira lo ada nyakitin dia atau apa. Yaudah, gue masuk dulu. Kalian ngobrol lah."
Tama pun kemudian meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.
"Alderza kamu gak papa kan? Maaf ya, abang aku keterlaluan tadi sampe mukul kamu gini!" Ucap Aily merasa bersalah.
"Gak kok, dia gak salah. Malah gue baru tau kalo lo ternyata punya abang."
"Iya, dia itu sebenarnya kuliah di Jakarta sekaligus kerja juga di sana. Aku juga baru tau kalo dia ternyata udah pulang. Ku pikir bakalan minggu depan."
"Oh gitu ya. Yaudah, sana cepet masuk! Nanti abang lo khawatir lagi."
"Mulut kamu gimana?" Tanya Aily khawatir.
"Santai aja, luka kecil kok. Paling 1-3 harian juga sembuh. Udah buru masuk sana, entar malem gue jemput lo." Balas Alderza agar membuat Aily tidak khawatir.
"Ke tempat rahasia ya?" Tanya Aily sedikit tertawa, begitu juga dengan Alderza.
"Oke."
Sebelum masuk, Aily melambaikan tangannya ke arah Alderza yang langsung dibalas oleh Alderza.
***
Sesampainya di rumah, Alderza langsung mandi air hangat hingga membuat tubuhnya sedikit rileks. Mungkin unu bisa menghentikannya untuk memikirkan cewek polos yang mudah ditipu tersebut.
Sembari merasakan sakit di mulutnya, dia kembali terbayang, kenapa dia bisa menyakiti cewek yang tidak pernah mengusik kehidupannya sama sekali.
Terutama kejadian tadi pagi saat Bintang mengembalikan mobilnya.
"Gue disuruh nganterin mobil lo sama Sinta." Bintang melempar kunci itu dengan kasar.
Alderza melotot. Tatapan beringas muka keluar darinya. Tentu saja, tidak ada angin maupun hujan, tiba-tiba Bintang bersikap kasar kepadanya sehingga membuatnya kesal.
"Lo kalo ada masalah bilang sama gue, Tang. Lo itu sahabat gue!" Bentak Alderza tidak suka.
"Lo bisa gak, jangan ganggu Aily lagi?" Ucap Bintang dengan serius.
Alderza mengerutkan keningnya bingung. Bukankah selama ini Bintang baik-baik saja jika ada yang mengganggu Aily? Kenapa baru bertindak sekarang?
"Dari dulu kemana aja bro!" Ucap Alderza seolah tidak peduli.
"Dari dulu? Dari dulu lo bilang? Denger ya, lo itu pindah ke sini baru 2 tahun, sementara gue sama Aily di sini udah dari dulu."
Bintang menarik napasnya yang menggebu. Ini adalah kesempatannya untuk berbicara selama tidak ada Sinta dan Riska yang mengganggu.
"Lo gak tau apa-apa Nyet!" Ucap Bintang dengan pelan. Perlahan ia menarik napas lalu kembali berkata dengan lantang.
"LO GAK TAU APA AJA YANG UDAH GUE LAKUIN BUAT DIA. LO GAK TAU HUBUNGAN GUE SAMA AILY KEK GIMANA. SEMUANYA GAK ADA YANG LO TAU!"
Cukup, semua itu membuat Alderza kaget sekaligus lemas. Dia memang membenci Aily, tapi begitu mendengar kata 'hubungan' yang keluar dari mulut Bintang, itu cukup membuatnya terganggu. Rasanya ada yang mengganjal dan tidak dapat diungkapkan.
Lamunan tentang kejadian beberapa jam yang lalu membuat Alderza tersadar bahwa malam ini dia ingin bertemu dengan Aily. Dia ingin mengajak Aily ke tempat rahasianya dan bertanya tentang Bintang.
Terlalu banyak pertanyaan, membuatnya mati penasaran. Dan, dia harus tau saat ini juga.
Alderza beranjak dari kamar mandi, lalu membuka ponselnya yang menunjukkan pukul tujuh malam. Banyak sekali notifikasi chat dan panggilan tak terjawab dari Sinta.
Sinta:
Lo dimana? Kita kumpul jam 10 di kafe.
Sinta:
Lo jadi dateng kan?
Sinta:
Pokoknya harus ikut!
Sinta:
P
P
P
P
P
P
Alderza sama sekali tidak menganggap satu pun pesan dari Sinta. Dia menghela napas lalu bergegas untuk ke rumah Aily.
Saat dia menuruni tangga, terlihat pemandangan yang tak asing untuk Alderza. Ayahnya sibuk dengan laptop, begitu pun ibunya yang sibuk dengan berkas-berkas yang sedang dia periksa. Padahal mereka sedang berada di meja makan, mengesankan, itu semua membuat Alderza tidak tertarik lagi.
"Alderza, ayo makan." Suara perempuan paruh baya itu tidak mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Bi... udah makan?" Tanya Alderza pada Bi Tika, pembantu kesayangannya yang sedang membawakan minum untuk orangtuanya.
"Belum, nanti aja bibi mah, gampang."
"Nanti Alderza bawain makanan ya buat bibi. Tapi kalo kemaleman, bibi makan aja duluan."
Seketika kedua orangtuanya berhenti melakukan aktivitas masing-masing. Mereka menatap Alderza dan Bi Tika yang tengah tertawa bersama.
"Alderza berangkat dulu ya, Bi. Jaga rumah."
"Hati-hati, Den."
"Alderza, bukan Den." Alderza tersenyum lalu dengan semangat, dia keluar dari rumahnya.
Tanpa ragu, dia langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah Aily.
Sesampainya di sana, ada yang aneh, rumahnya sangat gelap, tidak seperti biasanya. Bahkan, kamar Aily yang biasanya terang, kini gelap gulita dan tertutup gorden.
Pantang menyerah, Alderza membuka sepatunya dan menaiki pohon besar agar bisa mengetuk jendela kamar Aily.
Tok... tok... tok!
Tidak ada jawaban. Alderza masih terus mengetuk jendela tersebut, namun tetap tidak ada jawaban. Membuat Alderza yakin bahwa Aily sedang tidak ada di rumah.
Tangannya perlahan membuka jendela tersebut. Entah keajaiban atau bukan, jendela itu tidak dikunci.
"Aily." Panggil Alderza dengan hati-hati sambil melompat melalui jendela yang tertutup gorden.
"Aily, lo ada di sini kan?"
Ternyata benar, kamar itu kosong. Tidak ada siapapun di sana. Alderza hanya bisa menghela napas kasar, lalu duduk di kursi sambil menatap bulan di luar jendela.
Alderza mengeluarkan ponsel. Dia langsung melihat grup kelasnya, mencari-cari no WA Aily. Semoga saja ada.
Dan... dapat! Dia tersenyum kecil, lalu menelpon Aily beberapa kali.
Hasilnya pun tetap sama. Alderza tidak mendapatkan kabar apa pun dari cewek itu. Entah berapa pesan yang dia kirimkan untuk Aily, sepertinya tak terhitung.
"Aily, lo dimana? Gue mau ajak lo keluar. Bales gue kalo udah denger vn-nya ya."
Alderza menutup ponselnya, lalu keluar kamar Aily dengan perasaan kecewa.
***
Keesokan harinya, Alderza menunggu Aily di depan rumahnya dari jam 5 pagi. Matanya tidak henti-henti menatap pintu rumah itu, berharap ada seorang cewek yang memakai tas dan jaket ungu keluar dari sana.
Waktu sudah menunjukkan jam setengah 7 pagi, dan Alderza yakin Aily tidak masuk hari ini.
Apa dia sakit gara-gara kehujanan kemarin? Atau nginep di rumah temen? Batin Alderza.
Dengan hati yang kacau, dia langsung menuju ke sekolah. Dan pada saat sampai di gerbang, ia berusaha membuang semua pandangan cewek-cewek yang melihatnya dengan genit.
Berbeda dengan Aily, tatapan matanya sangat berbeda dengan cewek lainnya. Pikirannya masih tidak berhenti memikirkan Aily.
Ada apa dengannya?
Cewek yang dia harapkan itu pun tidak ada di kelas. Alderza kembali menghela napas sambil menatap bangku Aily dengan tatapan kecewa.
"Ngapain lo liat-liat?" Tanya Wulan sinis.
"Aily kemana?" Tanya Alderza sembari duduk di bangku Aily.
"Ngapain kepo?"
"Jawab aja kenapa!"
"Gak tau. Udah di telpon sama chat beberapa kaki juga gak dibales. Ada apa?"
"Gue cuma mau bully dia doang, gak lebih dan gak usah kepo!" Alderza langsung menggebrak bangku kesal, lalu pergi ke tempat duduknya.
"Idiihhh." Ucap Wulan kesal.
Teman-temannya datang ke kelas karena guru susah masuk.
"Alderza, kok tadi malem chat gue cuma di-read doang. Jahat banget sih!" Ucap Sinta merengek seperti anak kecil.
Alderza mengabaikan semua teman-temannya. Entah kicauan apa yang mereka lontarkan, dia tidak bisa mendengarkannya. Dia tidak bisa fokus, pikirannya terlalu berantakan.
Alderza bernapas bebas dari teman-temannya saat guru datang. Bu Luna mulai mengabsen satu per satu muridnya. Semua nama yang dipanggil, otomatis mengacungkan tangannya.
Dan.....
"Aily Marsela." Ucap bu Luna.
"Sakit, bu."
Itu suara Bintang, Alderza langsung membulatkan matanya. Bagaimana mungkin Bintang tahu keadaan Aily, sementara dia tidak? Apa Aily mengabarinya?
Bukan hanya Alderza yang kaget, satu kelas dibuat kaget karena Bintang, yang termasuk genk Alderza itu mengetahui bahwa Aily sakit.
"Ada suratnya?" Tanya bu Luna.
"Ada bu."
Tiba-tiba saja, hal yang tak terduga terjadi, Bintang maju dan memberikan surat kepada bu Luna.
Ada apa ini? Kenapa Bintang mendadak jadi pahlawan? Kenapa hati Alderza berkecamuk seolah dia tidak terima atas apa yang sudah terjadi?
Aily lo kenapa? Ada hubungan apa lo sama Bintang? Tanya Alderza dalam hati.
Thank you yang udah baca. Kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, mohon dikoreksi ya. Love you guys.