Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
Sudah hampir 3 minggu aku menangani kasus di sekolah. Sekolah yang awalnya sempat dalam suasana menegang, kini akhirnya sudah mulai kondusif. Beberapa guru baru juga sudah di rekrut dan sudah mulai mengajar. Jina, anak Direktur Jang juga masih bersekolah di sini. Karena ucapan Tuan Niel, kami sepakat untuk tidak membawa masalah ini lebih jauh. Beberapa peraturan baru juga di terapkan. Karena kejadian itu, murid yang lain sudah mulai memperbaiki sikap mereka.
Aku memegang kepalaku yang sedikit pusing. Aku memijat kepalaku untuk mengurangi rasa sakitnya. Kini identitasku sudah di ketahui semua orang. Dan sekarang aku sudah menempati ruangan pimpinan.
"Mila... Sepertinya sudah mulai bersekolah hari ini kan?"
Karena kesibukanku mengurusi masalah yang terjadi belakangan ini, aku sampai lupa dengan Carmila. Kebetulan sekarang jam istirahat. Aku pun pergi keluar untuk mencari keberadaannya di kelasnya.
"Apa Carmila ada?"
Tanyaku pada murid yang keluar dari pintu kelas Mila.
"Sepertinya dia baru saja keluar."
"Kemana?"
"Tidak tahu pak."
"Ok terimakasih."
Ada banyak pertanyaan dalam benakku. Aku merasa hanya dia yang mampu menjawabnya. Aku hanya ingin segera bertemu dengannya sekarang. Aku pun mencarinya mulai dari atap sekolah, gedung olahraga, sampai kantin. Namun aku tidak menemukannya.
"Dia pergi kemana.."
Seorang murid dari arah perpustakaan menghampiriku.
"Selamat siang Pak Josep."
Murid memberi salam seperti biasanya.
"Tunggu! Kalian melihat Carmila?"
"Carmila?"
Aku melihat dasi yang di kenakannya. Dia murid kelas 3. Sepertinya dia tidak tahu.
"Bapak lupa, kalian tidak kenal..."
"Oh Carmila? Si anak spesial itu ya?"
"Spesial?"
"Tentu saja. Dia kan sosok yang buat sekolah ini heboh senegara P. 10 menit lalu aku melihatnya di perpustakaan. Aku tidak tahu dia masih ada disana atau tidak."
"Terimakasih."
Aku berjalan pergi ke tempat yang di arahkan murid tadi. Dan benar, ternyata gadis itu memang ada di ruang perpustakan itu.
Aku melihatnya sedang tertidur lelap dengan earphone yang terpasang ditelinganya. Wajahnya nampak lelah. Aku menghampirinya dan duduk dihadapannya. Tanpa aku sadari mataku terus tertuju padanya. Seberkas cahaya masuk melalui celah jendela dan menyinari wajahnya. Sontak aku melindunginya dari cahaya itu dengan tangku sendiri.
'Deg!'
Jantungku berdebar karena dirinya lagi.
Saat itu, akhirnya aku mulai menyadari. Bahwa debaran yang kurasakan selama ini terhadapnya adalah karena aku mulai tertarik padanya. Carmila.
"Tuan Josep."
Panggil seseorang dibelakangku dan membuatku sedikit terkejut.
Aku menoleh kearah suara itu berasal.
"Gerald?"
Aku tidak menyadari kehadirannya. Ternyata, sedari tadi dia memperhatikanku yang sedang memandangi Mila diantara rak-rak buku perpustakaan. Sudah berapa lama dia disini?
"Aku tak menyangka bahwa kali ini aku akan mendapat saingan cinta seorang guru."
Ucapnya tengil.
"Apa maksudmu?"
Gerald berjalan mendekat kearah kami. Lalu tersenyum mengejekku.
"Tuan Josep."
Gerald menyentuh pundakku.
"Kau tidak perlu menyembunyikannya. Semuanya jelas tergambar di wajahmu."
Aku merasa lucu. Cinta pertamaku ternyata di ketahui bocah ingusan ini.
"Kau benar. Aku memang tertarik padanya."
"Aku juga menyukainya."
Aku mendengar pengakuan cinta lain tiba-tiba.
Kami pun menoleh kearah suara itu berasal.
"Mark?!"
Gerald dan aku terkejut akan kedatangannya yang tiba-tiba.
Mark melangkah mendekati kami. Situasi ini sangat lucu. Apa aku harus bersaing dengan muridku sendiri?
"Ah, aku tersadar. Ternyata Tuan Josep tahu nama kami."
Ucap Gerald.
"Siapa yang tidak mengenali dua pangeran sekolah ini? Bahkan penjaga kebun pun tahu. Dan satu hal lagi, biar bagaimanapun juga aku ini guru kalian. Mengapa sedari tadi kalian tidak bersikap sopan padaku?"
"Semua setara dalam persaingan cinta Tuan Josep."
Balas Gerald.
"Pertama, maafkan aku bersikap lancang Pak Josep. Tapi yang dikatakan Gerald ada benarnya. Kedua, sikapku yang menghadapi kalian karena aku menganggap kalian seorang pria yang tertarik dengan wanita yang sama denganku. Jadi hal ini sah-sah saja."
Untuk pertama kalinya aku mendengar Mark berbicara sepanjang itu. Sepertinya perasaannya pada Mila tidak sesederhana itu. Tunggu, sejak kapan Mark ada di perpustakaan juga?
"Baiklah, mari kita bersaing secara sehat untuk..."
"Egh."
Ucapan Gerald terpotong karena mendengar suara Mila. Sepertinya ia terganggu dengan keberadaan kami. Ia pun membuka matanya.
"Aaaaaa!!"
Mila berteriak dengan tiba-tiba. Sepertinya ia melihat sesuatu sampai membuatnya terjatuh dari kursi yang ia duduki.