Tiga tahun mengabdi sebagai seorang istri yang patuh dan di jadikan pengasuh anaknya. Marissa akhirnya menyerah setelah tahu dia di khianati. Bahkan putra sambung yang dia rawat selama ini tak lagi memihaknya.
Marissa marah, Dia yang seorang artis terkenal takkan akan diam dan akan balas semuanya.
Di sisi lain, Mendengar kakak angkat sekaligus wanita yang di cintainya terkhianati. Tentu saja Dylan murka. Pria itu takkan pernah mengampuni siapapun yang berani menyakiti Marissa, Wanita yang sejak dulu diam-diam ia sukai.
•••••
"Kau mencintaiku? Aku kakak mu..." Marissa Nugroho
" Kita sudah menjadi pasangan kakak beradik, Apa salahnya kita menjadi pasangan suami istri..." Dylan Sean Abraham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memohonlah..
"Asal kau tahu saja, Selama aku menikah dengan pria yang kau tempeli tidak sekalipun dia membelikan satu pun mili emas. Lagipula, Memangnya dia sanggup memberikan semua itu padaku?
Deg!
Gilang menatap tak percaya Icha. Ucapan Icha seakan merendahkannya..
"Cha... Tega kau mengatakan itu di depan banyak orang seperti ini?" Tanya pria itu lirih..
Gilang tak percaya dengan ucapan Icha barusan. Selama berumah tangga Icha selalu menjadi istri yang baik, Tutur katanya lemah lembut, Tapi kenapa sekarang wanita itu berubah. Icha menatap Gilang dengan tatapan menantang.
"Untuk apa aku tidak tega? Kau saja tega berselingkuh dibelakangku.. Bahkan saking tega nya kau menikahiku bukan karena cinta tapi kau menikahi ku hanya menjadikanku seorang pengasuh saja!.." Ucap Icha penuh dengan penekanan.
"Dan dengan tidak tahu malunya, Kau berani membawa wanita gundikmu ini kerumah ini. Mungkin sekarang hubungan kita sudah berada di ujung tanduk. Tapi pada saat itu, Aku masih istri sah mu.. Kau membawa wanita mura-han ini kerumah ini Gilang! Apa pada saat kau membawanya kau pernah berpikir tentang perasaanku? Sakit kah hatiku? Bagaimana perasaanku? Tidak kan? Setega-teganya aku masih lebih tega kau Gilang.. " Dihadapan semua orang Icha akan bongkar semuanya. Akan buat dua orang ini malu. Terserah orang mau bilang apa, Mereka tidak pantas menghakimi Icha karena menjadi belum merasakannya.
"Cha! Kamu berkata seperti ini didepan banyak orang. Ini masalah keluarga kita.. Ini aib, Dan..
"Jangan katakan aku mengumbar aib keluarga Gilang. Yang menjadi korban disini adalah aku, Akulah yang paling tersakiti.. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Sekaligus aku juga ingin memberitahu pada semua wanita kalau mereka jangan sampai mau di lamar oleh pria sepertimu.. Aku yang seperti ini saja hanya kau jadikan pengasuh apalagi wanita lain? Dan satu lagi, Jangan pernah bicara tentang aib. Apa saat kau berselingkuh kau memikirkan tentang aib? Makanya sebelum bertindak itu pikirkan dulu.. Lihat dulu siapa lawanmu, Hm?" Kedua tangan Gilang terkepal. Icha yang dia hadapi sekarang bukanlah Icha yang baik dan penurut seperti dulu.
Tatapan mata Icha mengarah pada gaun miliknya yang sobek. Dia mendekat, Lalu memegang gaun yang masih melekat di tubuh Lula itu.
"Gaun ini rusak.. Dan kau tahu berapa harganya gun-dik?
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu.. " Kata Lula tidak terima.
"Loh, Kenapa? Kau tidak terima? Kau tidak suka? Harusnya kau senang aku memanggilmu dengan nama itu.. Bukankah itu memang namamu? Kau pantas di sebut dengan nama itu..
"Kau!!
" Kau tahu gun-dik? Gaun yang kau pakai ini di rancang dari desainer ternama, Dia adalah tanteku. Aku jarang sekali memakainya karena memang gaun ini gaun mahal dan berkelas, Dan sangat cocok dengan orang yang berkelas. Dan selama aku yang pakai, Tidak pernah gaun ini rusak barang sedikit pun. Karena apa? Karena aku sangat menjaganya.. Tapi kau.." Icha memundurkan langkahnya dan kembali bersedekap dada.
"Kau merusaknya.. Apa selain lihai merusak rumah tangga orang kau juga lihai merusak gaunku? Pandai sekali..." Ucap Icha dengan nada tenangnya..
"Sekarang lepaskan gaun itu, Karena kau sudah merusaknya, Maka aku ingin kau ganti rugi. Aku mau uang gaun itu masuk dalam rekening ku dalam jangka waktu tiga hari. Jika tidak! Siap-siap saja masuk pen-jara.."
"Gilang.." Gilang merasa iba, Pria itu angkat bicara..
"Icha, Gaun ini sudah rusak.. Untuk apa di perpanjang.. Semua ini bisa di selesaikan dengan cara baik-ba...
"Ssstt..." Icha meletakkan jari telunjuknya dibibir.
"Aku sedang tidak bicara padamu Gilang.. Aku bicara dengan gundikmu ini.. Kalau kau ingin membantunya ganti rugi, Tidak apa-apa.. Sepertinya dia juga butuh bantuan.." Lula menarik lengan kemeja Gilang.
"Dan saya rasa kalian juga harus siapkan pengacara yang terbaik.. Karena saya orangtua Marissa akan membawa kasus ini ke jalur hukum.." Sambung Brian. Dia tidak akan pernah main-main dengan ucapannya, Dia akan bayar berapapun uangnya asal rasa sakit hati Icha terbalas termasuk menyewa pengacara paling tinggi di negara ini.
Klak!
"Aaaaarrrrggghh..." Icha menarik paksa kalung yang melingkar dileher Lula membuat wanita itu menjerit.
"Kalung ini begitu sangat berharga. Harganya sangat mahal. Meski tertimbun oleh lumpur, Dia akan tetap berkilau. Dan kau tidak pantas memakai barang mahal ini.. Berlian itu hanya pantas dipakai oleh orang yang punya martabat tinggi.. Bukan orang yang suka merebut milik orang lain..." Lula pasrah saja, Apalagi saat Davina yang bekerja. Pasalnya Lula seolah berat melepaskan perhiasan mahal itu.
"Perhiasan mahal untuk orang yang mahal.. Rugi kalo dipakek sama orang yang murah. Apalagi tukang rebut suami orang kayak lo. Kayak gak ada laki lain aja, Gak laku lo!!... " Ucap Davina dengan bibirnya yang tipis itu. Adik dari Davin itu juga ikut membantu melepaskan perhiasan mulai dari gelang, Cincin, Anting. Bahkan dengan tega Davina menyentak anting itu membuat telinganya Lula memerah.
Usai melepaskan semuanya, Davina menatap tajam Gilang yang hanya diam membisu.
"Ini wanita yang kau puja-puja? Cantik udah enggak, Apa selain dia gatal sama kau dia juga miskin? Makanya dia mau ngang-kang di hadapan pria badjingan seperti dirimu.. Karena kalau dia kaya, Dia gak mungkin lancang masuk ke kamar kakakku.. Memakai barang-barang mewah yang harganya selangit itu. Aku jadi heran, Katanya kau itu dosen, Tapi bagaimana caranya kau di terima sementara otakmu dungu..
"Diam!" Ucap Gilang menatap tajam Davina. Sudah cukup dia rendahkan seperti ini sejak tadi. Apa masih kurang puas mereka menghinanya..
"Kenapa? Lo gak terima!!" Habis sudah kesabaran Davina. Jika tadi istri dari Samudra itu bicara dengan bahasa yang formal, Tapi kini sudah tidak lagi. Untuk apa sopan pada pria seperti Gilang ini, Gak guna!
"Lo ngerasa terhina sama semua ini? Seharusnya lo mikir jadi suami. Lo juga gak bakalan dihina tahu gak kalau lo tuh gak selingkuh..
"Aku tidak selingkuh!!
"Teris video itu apa? Jelas-jelas lo dekat sama si gun-dik ini, Dan kedekatan kalian bukan sebatas teman.. Lo tuh mikir dong. Denger ya, Bagi gue.. Gak ada pertemanan antara laki-laki dan wanita. Kalaupun itu ada, Pasti salah satunya akan menaruh harapan.. Ya, Contohnya kalian berdua ini.." Davina menunjuk wajah Gilang yang telah memerah.
"Udah, Lebih baik sekarang kita pergi.. Biarkan hukum yang bertindak.." Icha susah lelah dengan semua ini. Wanita itu meminta seluruh keluarganya yang menunggu untuk pulang, Namun...
"Icha...
Langkah Icha terhenti.
"Apalagi?.." Tanya nya tanpa mau menoleh..
"Aku mau kau cabut laporan itu.. Ini adalah urusan kita berdua, Lula tidak perlu terseret.." Icha tersenyum sinis, Dia berbalik badan.
"Secinta itukah kau padanya?
"Icha.. Masalah ini..
"Memohon lah..
"Apa?
"Kalau kau ingin aku mencabut laporan tuntutan ini. Aku mau kau memohon padaku.. Berlutut lah di hadapanku dan di hadapan semua orang yang ada disini.. Dan katakan, Nyonya Marissa Nugroho, Saya Gilang Hanif Alfarizi.. Memohon agar..
"Itu tidak akan pernah aku lakukan Icha! " Gilang menolak akan permintaan istrinya itu. Dia yang pernah menjadi dosen mana mau berlutut dan memohon, Apa tidak hancur martabat dan nama baiknya. Ya, Meskipun nama baiknya sudah hancur tapi dia masih punya harga diri bukan.
"Okey... Kalau begitu siapkan saja pengacaranya, Syukur-syukur kalo menang.." Icha juga melihat ke arah Lula.
"Dan kau, Gun-dik.. Jangan lupa ganti rugi ya.. Bye..." Icha dan seluruh keluarganya pun berlalu pergi. Para awak media pun juga ikut pergi setelah mengambil gambar yang sangat menggemparkan itu. Dan mungkin saja setelah ini, Berita itu akan mencuat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku heran, Bagaimana bisa pria dan wanita macam seperti itu masih dikasih hidup?" Davina menolen ke arah Icha.
"Ya karena mereka seperti itu.. Coba kalau orang alim, Cepet dipanggil nya.. Karena Tuhan sayang. Orang kayak gitu mah masih di pelihara.." Sahut Dylan. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Icha, Dylan dan Davina berada dalam satu mobil. Sejak tadi Icha hanya diam saja. Bukan memikirkan tentang Gilang, Tapi memikirkan tentang ucapan terakhir mendiang ibu mertuanya.
"Lemari.. Rumah ibu....
"Kak...Kenapa sih? mikirin Gilang?" Suara Davina mengagetkan Icha yang tengah melamun itu.
"Enggak.. Dav, Aku mulai ingat sekarang..
"Ingat apa?
"Tahun lalu, Pas Ibu mertuaku kecelakaan.. Dia kritis.. Pas di saat nafas terakhir nya dia tuh ngucap sesuatu.." Kata Icha. Dia masih ingat dengan ucapan lemari di rumah ibu itu.
"Apa yang ucapin?
"Ibu bilang, Lemari rumah ibu.. Dan setelah itu Ibu langsung gak ada.." Davina dan Dylan berpikir. Begitupun dengan Icha. Dulu dia terlalu memikirkan ucapan yang dia tak tahu bermakna apa itu. Karena dulu yang icha pikirkan tentang bagaimana mengubah sikap Gilang agar kembali seperti semula.
"Aku ngerasa ada sesuatu yang beres deh. Kayak ibu tuh meninggal membawa rahasia yang orang lain gak tahu, Tapi apa ya..." Davina melihat Icha yang sedang berpikir pun ikut pusing.
"Kak, Mending mikirnya nanti aja deh pas nyampe rumah.. " Icha menghela nafas panjang.
"Hm, Kayaknya aku butuh istirahat dulu.." Ucap Icha, Nanti dia akan mulai berpikir apa di balik ucapan ibu mertuanya itu. Sepertinya memang ada yang aneh. Tapi apa...
•
•
•
TBC
hancur kan siaoa saja yg pernah menyakiti mu Icha.
lanjut thor