NovelToon NovelToon
Benci Tapi Menikah?

Benci Tapi Menikah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Konflik etika
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fareed Feeza

Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

"Kamu bisa menceraikan aku dalam waktu dekat."

"Jika semudah itu, aku akan lakukan malam ini juga!" Ujar Gian dengan ketus.

Nisa menelan ludahnya kasar, dadanya terasa sesak saat ini ... Karena Nisa merasa sudah merenggut masa muda Gian, karena harus menikahinya.

"Andai saja waktu itu aku menurut, untuk menggunakan bajumu dan menutup tubuhku yang setengah terbuka, mungkin kejadian tidak—"

*Brakkk

Gian memukul kasur dengan kencang, "Tolong berhenti berbicara sesuatu yang sudah tidak berguna lagi!"

Baru kali ini Nisa tidak membalas sentakan Gian, karena dia masih di selimuti perasaan bersalah.

Nisa memilih untuk memejamkan matanya, dia fikir sudah cukup untuk membahas hal ini, karena Gian sama sekali tidak ingin berbicara dengannya.

...

Pagi harinya.

"Mau kemana Gian?" Tanya Lulu yang sedang berada di dapur membantu Lastri dan juga Nisa.

"Ke bengkel, mau ambil mobil ... Kita pulang ke kota Bu, tolong sampaikan pada ayah agar segera bersiap." Ujar Gian tanpa sama sekali melihat ke arah Nisa.

Lulu menghela nafasnya, sikap ketidaksukaan Gian pada Nisa sangat nampak sekali pagi ini.

"Tapi ayah ingin melihat perkebunan kopi Om Guntur."

"Silahkan ... Masih ada waktu 2 jam untuk pulang, jangan buang-buang waktu Bu."

"Sarapan dulu nak, istri kamu sudah memasak—"

"Bu stop! Aku gak selera makan, tolong jangan paksa aku." Gian langsung meninggalkan rumah Guntur dan berjalan kaki menuju bengkel mobil, walaupun beberapa warga disana masih menatapnya dengan tatapan tidak suka, tapi Gian Tidka peduli akan hal itu.

Lulu berjalan mendekat ke arah Nisa, dia tahu Nisa mendengar semua itu, tapi wanita itu berpura-pura tidak mendengarnya.

"Nisa ... Maafkan anak Ibu." Ucap Lulu.

"Maaf untuk apa Bu?"

"Atas sikap Gian tadi, Ibu tau kamu mendengarnya kan?"

"Oh itu ... Tak apa Bu." Kata Nisa dengan senyum sopannya.

"Sebaiknya kamu bersiap, bawa semua pakaian dan kebutuhan kamu ... Ikut kita pulang ke kota."

Nisa sangat terkejut akan apa yang di katakan oleh Lulu, karena dia berfikir untuk melanjutkan kehidupannya seperti biasa dan menjalani pernikahan ini hanya sebatas perjanjian saja.

"A-aku ... I-ikut?"

"Tentu Nisa, kamu kan istrinya Gian."

Istri yang tidak di inginkan, begitupun aku ... Tak menginginkan pria itu menjadi suamiku.

"Apa Gian mengizinkan?"

Lulu terdiam, dia tai Gian pasti tidak setuju jika Nisa ikut ke kota, tapi jika di biarkan ... Pernikahan Gian dan Nisa berakhir dengan cepat.

"Biar Ibu yang urus." Ucap Lulu.

.

.

Sore harinya, Semua berkumpul di rumah keluarga, Lulu meminta bantuan Guntur untuk menasehati Gian dan Nisa agar mau mencoba membangun rumah tangga yang sebagai mana mestinya.

Gian duduk tepat di samping Lulu dan Akbar, sedangkan Nisa duduk di samping Guntur.

"Gian ... Nisa, siapa yang bersedia menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya, tanpa ada yang di tutup-tutupi?" Tanya Guntur, dia baru berani meminta penjelasan setelah suasana tidak tegang seperti semalam.

"Nisa saja." Ucap Gian dengan raut wajah datarnya.

Nisa yang tadinya tertunduk langsung mendongak ke arah Gian. "Lebih jelas kamu kan? Aku tidak tahu asal usulnya seperti apa?" Ucap Gian pada Nisa.

"Baiklah ... Saat itu sepulang bekerja aku di pergoki oleh kang Emil. Sepedaku di rampas secara paksa ... Tidak ada orang di sekitarku." Sambil tertunduk menceritakan awal kejadian, terdengar suara Isakan dan bahu yang sedikit bergetar.

Suasana tegang sangat terasa di ruangan itu ... tak ada yang berani memotong satu patah katapun, mereka memberi kesempatan Nisa untuk mengontrol emosinya sampai dia bersuara kembali.

"Kang Emil terus memaksaku untuk mau menjadi istri ketiganya, aku terus menolak sampai kang Emil menarik ku ke daerah perkebunan, dan mencoba membuka semua baju dan celanaku. Sekuat mungkin aku mencoba menghindar ... Berlari dan melawan sebisaku."

"Sampai pada akhirnya ... Gian datang dan muncul menolong."

Gian melihat wajah Nisa sudah di penuhi oleh air mata, dia berinisiatif untuk melanjutkan ceritanya. "Nisa ... Biar aku yang lanjutkan." Ucap Gian.

Gian menceritakan semua kejadian yang dia dan Nisa alami, tanpa di kurangi atau di lebihkan sedikitpun.

Setelah mendengar semua yang di utarakan oleh Gian dan juga Nisa, Guntur mengepalkan tangannya keras. Pria paruh baya itu sangat ingin membawa permasalahan ini ke jalur hukum, tapi minimnya bukti dan juga saksi pasti akan menyulitkan prosesnya.

"Om tau ... Ini semua adalah ulah Emil, dia melindungi dirinya dari masalah yang sudah dia buat, dengan cara menghasut warga untuk memergoki kalian berdua agar terkesan kalian sedang melakukan hal-hal yang buruk."

"Jalani pernikahan ini Gian, Nisa ... Mungkin ini sudah jalan dari Tuhan, terlepas dari cara menikah kalian yang tidak seindah pasangan lain."

Lulu dan Akbar pun mengangguk, "Ayah setuju dengan Om Guntur Gian ... Bagaimanapun pernikahan sudah terlaksana, dan Tuhan sudah menyaksikan janji kalian, ini tidak bisa di permainkan begitu saja."

"Aku masih punya mimpi Yah, ayah tau kan bagaimana pengorbananku untuk mencapainya?" Sanggah Gian.

"Gian ... Itu bisa berjalan beriringan." Ucap Lulu.

"Ibu jangan sok tahu!" Untuk pertama kalinya Gian berkata dengan nada menyentak pada ibunya sendiri.

"Gian!" Akbar memperingati anaknya yang berani menaikan nada bicara pada ibunya.

Guntur lalu melambaikan tangannya pada Akbar untuk tidak ikut terbawa emosi.

"Sebaiknya aku tidak usah ikut ke kota, biarkan Gian menjalani hari-harinya seperti biasa, aku tidak mau dengan adanya aku disana akan menghambat semua kegiatan dan pekerja Gian."

"Tidak Nisa, kamu harus ikut!" Titah Lulu.

"Terserah kalian! Aku ingin cepat pulang ... Banyak urusan disana."

Gian mengambil tas nya yang sudah dia siapkan sebelumnya, lalu berdiri menghampiri Guntur. "Gian pamit Om, terimakasih untuk semuanya, Gian akan kembali untuk urusan bisnis kita."

"Aku tunggu di mobil!" Ucapnya pada orangtuanya.

Setelah berpamitan, akhirnya Nisa menurut untuk ikut dengan keluarga Gian,sebelum pulang ke kota ... Nisa minta di antar ke rumahnya dulu untuk mengambil tas dan juga baju-bajunya.

Lulu, Akbar dan juga Gian hanya menunggu di mobil dan membiarkan Nisa masuk ke rumahnya seorang diri.

Itu semua permintaan Nisa, karena Nisa tidak mau ada satupun warga yang mengajak bicara orang tua Gian, karena tetangga Nisa sebenarnya tidak peduli akan hidupnya, mereka hanya mencari tahu untuk di jadikan bahan gosip.

Beberapa menit, Nisa keluar dari rumah membawa tas besar sambil wajahnya melihat-lihat ke sekitar.

Nisa dan keluarga Gian, pulang ke kota.

***

Rumah 2 lantai dan juga halaman yang luas, membuat Nisa tidak percaya diri, ekonomi keluarga Gian sangat tidak sebanding dengan keadaannya saat ini. Tapi yang membuat dia masib mau melangkah masuk adalah paksaan dari kedua mertuanya.

"Gian, ajak Nisa ke kamar, dia lelah." Ucap Lulu.

"Aku yang menyetir, akupun lelah!"

"Iya Ibu tahu ... Kita semua lelah, ayo lekas beristirahat."

Nisa bejalan mengekori Gian sambil tangannya sibuk mengangkat tas besarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!