NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kak Erick

"Bel kamu punya pacar baru lagi?", tanya kak Erick saat kami berkumpul untuk makan siang bersama.

"Ya gitu deh." Jawabnya acuh tak acuh sambil menyantap makan siangnya.

"Kamu kapan Rick? Kamu udah 28 loh. Mama kenalin ya sama anaknya temen mama."

"Ya elah ma, kuno banget deh pake acara kaya gitu, ada waktunya nanti, sekarang Erick ga tertarik untuk hal-hal seperti itu ma."

"Apa kamu ada acara nanti Rick?."

"Ga ada pa."

"Papa sama mama ada acara nanti, mungkin pulang malam ya. Oya jam pulang kamu seperti biasa ya Bel, ga lewat dari jam 12 loh."

"Iya pa siap", jawab Belva.

"Bagaimana dengan kamu Jen, apa kamu ikut pergi bareng Belva atau ada acara lain nanti?."

"Ga ada om, aku mau dirumah aja."

"Hari ini si mba lagi ijin pergi baru pulang minggu malam, Rick tolong ajak Jeny makan malam bareng ya."

"Gampang om, aku bisa pesan gofood kok."

"Hei jangan gofood, kak Erick ajak Jeny makan diluar dia lagi butuh hiburan dari patah hati", celetuk Belva sambil tersenyum menggoda.

Akupun menendang kaki Belva dibawah meja sambil memelototinya, memang mulutnya kadang ga bisa direm.

"Jangan cuma bisa godain Jeny, kamu harusnya yang ajak Jeny main kalau gitu donk, jangan pacaran melulu."

"Yeee... mama kesempatan banget buat nyindir aku", ucap Belva merengut.

Aku tersenyum melihat Belva dan tanpa sengaja mataku bertatapan dengan kak Erick, aku tersenyum canggung kepadanya lalu melanjutkan makan siangku.

Tok tok... tok tok...

"Ya", jawabku sambil melangkah membukakan pintu.

"Oh maaf, aku bangunin kamu tidur ya Jen?"

"Ah ga kok kak."

"Udah tidur lagi aja, nanti aku bangunin kalau waktunya makan malam."

"Ga kak, tadi aku ketiduran, kalau aku tidur lagi yang ada aku ga bisa tidur nanti malam. Ada apa kak?"

"Mmm... apa kamu mau temani kakak pergi keluar? kita ke supermarket depan aja sekalian cari makan, gimana?."

"Boleh kak, tunggu sebentar aku ganti baju dulu ya."

"Jen, kita naik motor aja ya, jadi pakai jaketmu ya."

"Baik kak."

Setelah membeli beberapa keperluan pribadi kak Erick, kami mampir ke cafe yang masih berada di sekitar area perumahanku. Cafe ini salah satu tempat favoritku, tidak jauh dari rumah, makanannya lumayan enak, tiap jumat malam dan weekend akan ada live music juga.

"Apa kamu tidak bisa tidur semalam karena cowok yang udah buat kamu patah hati?."

"Hah?! Jangan dengerin kata-kata Belva, dia suka ngasal kak."

"Mungkin dia suka melebihkan sesuatu, tapi tidak dengan berbohong."

"Apa kamu sangat menyukainya Jen, sampai kamu mengatakannya duluan, ini pertama kalinya kamu menyatakan pada lawan jenis kan Jen?."

Sial Belva, bisa-bisanya mulutnya bocor ke kak Erick, ucapku dalam hati.

"Ya mungkin aku sangat menyukainya, sampai bisa-bisanya termakan oleh omongan adik kakak yang menyuruhku menyatakan perasaanku, yah setidaknya Belva ada benarnya kini aku tau dimana posisiku saat ini", ucapku tersenyum getir.

"Sebenarnya bagian mana yang membuatmu tertarik kepadanya Jen? Kalau aku bandingkan dengan mantanmu dulu, ia berbeda jauh, baik dari karakter ataupun fisik."

"Ahhh... kakak mengingat mantanku dulu. Dulu itu cinta monyet kak."

"Jadi?", tanyanya lagi.

"Kenapa kakak penasaran dengan kehidupan asmaraku, jujur saja ini agak canggung untuk aku bahas dengan kakak."

"Kamu mau move on dari cowok itu? Kalau kakak tau kriteriamu mungkin kakak bisa membantumu."

"Dikenalin dengan teman kakak? Ga makasih, umurnya kejauhan kak, apa omongannya bisa nyambung."

"Jadi umur salah satu kriteria utama dalam pilihanmu?."

"Yah ga juga sih kak, sebenarnya meski menurut kakak mantanku berbeda jauh dengan cowok ini tapi mereka punya 1 kesamaan, aku merasa diperlakukan istimewa, yah meski ternyata aku salah membaca tanda pada cowok yang terakhir."

"Perlakuan istimewa Jen? Udah cuma itu aja syaratnya?."

"Ya, mungkin aku cuma butuh itu."

"Aku juga memperlakukanmu dengan istimewa Jen."

"Ya, tentu saja, kakak adalah kakakku bukan, jadi sudah sewajarnya aku diperlakukan istimewa", ucapku bercanda mencoba mencairkan pembicaraan canggung ini.

"Bagaimana kalau aku tidak mau jadi kakakmu? Bagaimana kalau aku mau dianggap sebagai seorang pria?."

"Apa sih kak? Udah jangan bercanda, tenang aja aku ga segitunya kok, dunia ga akan runtuh hanya karena cowok. Aku hanya butuh waktu sebentar, tapi aku akan segera kembali normal, tenang aja kak."

"Ya aku akan memastikan itu", ucapnya pelan.

Karena pembahasan ini membuatku tidak nyaman, aku berpura pura tidak mendengarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!