Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Tes Kecerdasan Arka
Selasa pagi, seminggu setelah Arka keluar dari rumah sakit, kehidupan mulai kembali normal. Arka sudah boleh masuk sekolah lagi meski harus sering istirahat dan tidak boleh terlalu capai.
Reyhan mengantar Arka ke sekolah seperti biasa. Kebiasaan yang udah nggak bisa dia tinggalkan. Dari sejak Arka bayi, dia selalu berusaha jadi ayah yang hadir. Apalagi setelah tahu Arka adalah darah dagingnya. Nggak ada hari yang lewat tanpa dia antarkan Arka, meski harus berangkat kerja lebih siang.
Pas nyampe gerbang, Kepala Sekolah Ibu Ratna, wanita paruh baya berkacamata tebal itu, langsung menghampiri mereka. Senyumnya ramah, tapi ada sesuatu di matanya yang bikin Reyhan agak was-was.
"Pak Reyhan, boleh minta waktunya sebentar?" suaranya sopan.
Reyhan mengernyit. Bapak-bapak lain mungkin akan cuek, tapi Reyhan sudah punya insting kalau ini soal Arka. "Tentu, Bu. Ada apa?"
"Tentang Arka. Bisa kita bicara di ruangan saya? Ini penting."
Reyhan melirik Arka yang lagi natang mereka dengan mata bundar penasaran. Bocah itu udah pinter banget baca situasi. "Arka, masuk dulu, Nak. Ayah ngobrol bentar sama Bu Kepala Sekolah."
"Oke, Yah. Hati-hati." Arka melambai dengan tangan kecilnya, tas ransel biru bergambar robot kesayangannya berguncang-guncang pas dia lari masuk ke kelas.
Reyhan narik napas. Perasaannya campur aduk. Antara penasaran, deg-degan, dan takut ada apa-apa sama Arka.
Di Ruang Kepala Sekolah
Ruangannya nggak terlalu besar, tapi rapi. Ada foto-foto kegiatan sekolah di dinding, beberapa piagam penghargaan, dan tumpukan map di meja. Reyhan duduk di kursi tamu, nggak sabar tapi berusaha tenang.
Ibu Ratna duduk di kursinya, buka map tebel. Senyumnya bukan senyum yang bikin khawatir, tapi Reyhan tetap aja tegang.
"Pak Reyhan, saya mau ngomongin Arka. Selama beberapa bulan terakhir, guru-guru ngeliat... Arka itu beda dari anak-anak lain."
Reyhan tegak. Dada rasanya kayak ditindih batu. "Beda? Maksudnya?"
Ibu Ratna buru-buru angkat tangan. "Beda dalam arti positif, Pak. Tolong jangan salah sangka dulu." Dia buka lembaran dokumen. "Arka itu anak yang luar biasa pintar. Cara berpikirnya, cara dia jawab pertanyaan, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan ke guru... itu di luar ekspektasi untuk anak seusianya."
Reyhan diem, campur aduk rasanya.
"Guru kelasnya cerita, kadang Arka udah selesai ngerjain tugas sebelum guru selesai jelasin. Dia sering baca buku sendiri, bukunya bacaan kakak kelasnya. Waktu ditanya, dia bilang 'pelajarannya terlalu gampang, Bu'."
Ibu Ratna ngeliatin Reyhan dengan pandangan penuh arti. "Kami udah diskusi sama psikolog sekolah. Kami rekomendasiin Arka buat tes IQ, Pak. Bukan buat ngelabel, tapi buat ngerti gimana cara ngajarin dia dengan lebih baik."
Reyhan masih diem. Pikirannya ke mana-mana.
"Kami curiga Arka termasuk anak gifted. Anak dengan kecerdasan di atas rata-rata. Mereka butuh pendekatan khusus. Kalau nggak, mereka bisa bosan, frustrasi, bahkan kehilangan minat belajar."
Reyhan akhirnya bersuara, "Saya harus diskusi sama istri saya dulu, Bu."
"Tentu, Pak. Ini keputusan orang tua. Tapi makin cepat, makin baik. Arka... dia butuh tantangan."
Reyhan ngangguk pelan. "Saya ngerti. Makasih, Bu."
Siang Hari
Baru aja keluar dari sekolah, Reyhan langsung nelepon Alya.
"Halo, Alya."
"Rey? Ada apa?" Suara Alya langsung berubah waspada. Sebagai ibu, dia punya radar khusus kalau soal Arka. "Arka kenapa? Dia baik-baik aja?"
"Dia baik. Tenang. Cuma... aku baru abis ngobrol sama kepala sekolah."
"Ngomongin apa?"
Reyhan narik napas. "Mereka rekomendasiin Arka buat tes IQ."
Hening. Cukup lama sampai Reyhan ngecek sinyal.
"Alya?"
"Aku denger." Suara Alya bergetar dikit. "Rey... aku takut. Takut dia dikasih label. Takut dia jadi bahan omongan."
"Aku tau," balas Reyhan selembut mungkin. "Tapi kepala sekolah bilang ini bukan buat ngelabel. Ini buat bantu Arka berkembang. Mereka bilang Arka butuh tantangan."
"Rey..." Alya kayaknya berusaha nahan tangis. "Aku nggak mau Arka jadi kayak... kayak anak yang dipaksa jadi jenius. Nggak mau dia kehilangan masa kecilnya."
"Aku juga nggak mau. Kamu kenal aku, Alya. Aku paling benci orang tua yang maksa anak." Reyhan jeda sebentar. "Tapi kita juga harus liat Arka. Dia bilang ke gurunya kalau pelajaran terlalu gampang. Dia bosan, Alya."
Alya diem lagi. Reyhan bisa bayangin ekspresi istrinya sekarang. Campur aduk antara khawatir, bingung, dan takut salah ambil keputusan.
"Oke," akhirnya Alya bersuara. "Tapi aku mau kita omongin dulu sama Arka. Kalau dia nggak mau, kita nggak paksa."
"Setuju. Kita omongin nanti malem."
Malam Hari
Ruang keluarga mereka hangat. Lampu ruangan nggak terlalu terang, bikin suasana adem. Alya udah siapin cemilan kesukaan Arka, pisang goreng sama susu hangat. Mereka bertiga duduk lesehan di karpet.
Arka udah pinter. Dia tau pasti ada yang bakal dibicarain. Soalnya biasanya abis makan malem, dia boleh main atau nonton TV. Tapi malem ini, orang tuanya duduk manis di depan dia.
"Nak," Reyhan mulai, duduk bersila di depan Arka, "Ayah sama Mama mau ngomong sesuatu. Tentang sekolah."
"Tentang apa, Yah?" Mata Arka lebar, penasaran.
"Bu Kepala Sekolah bilang kamu itu anak yang pinter banget. Lebih pinter dari temen-temen kamu."
Arka mikir sebentar, lalu ngangguk polos. "Iya, Yah. Pelajarannya gampang. Aku udah bisa baca dari umur empat tahun, kan? Sekarang udah bisa baca buku tebel."
Alya dan Reyhan saling pandang. Iya juga. Dulu waktu Arka masih kecil, dia udah bisa baca. Waktu itu mereka pikir itu perkembangan normal, ternyata...
"Nah, makanya," Reyhan nyambung lagi, "Bu Kepala Sekolah bilang, mungkin kamu butuh tes. Tes buat tau seberapa pinter kamu. Biar nanti gurunya bisa kasih pelajaran yang pas buat kamu."
Arka mikir. Ekspresinya serius, nggak kayak anak lima tahun biasanya.
"Tes kayak ujian, Yah?"
"Mirip-mirip, tapi beda." Alya nyaut dengan suara lembut. Lebih kayak main teka-teki sama puzzle gitu, Sayang. Tapi kamu nggak harus ikut kalau nggak mau. Mama sama Ayah nggak bakal maksa."
Arka natap mereka bergantian. Matanya kayak lagi baca sesuatu.
"Kalau aku ikut... aku bakal dapet pelajaran yang lebih susah?"
Reyhan ngangguk. "Iya, Nak. Sesuai kemampuan kamu. Nggak bakal bosen lagi."
"Terus... aku masih tetep main sama temen-temen?"
"Tentu. Kamu tetep di sekolah yang sama. Cuma pelajarannya aja yang mungkin beda dikit."
Arka diem lagi. Lama. Buat anak lima tahun, dia terlalu serius mikir. Tapi akhirnya dia ngangguk.
"Aku mau, Yah. Aku bosen. Temen-temen aku masih belajar nulis, aku udah bisa nulis cerita pendek."
Alya nahan napas. Dadanya sesak.
"Sayang, kamu yakin? Mama nggak mau kamu stres."
"Aku yakin, Ma." Arka nyamperin Alya, elus tangan mamanya. "Aku mau jadi pinter. Biar Mama sama Ayah bangga."
Reyhan narik Arka ke pelukan. "Ayah sama Mama udah bangga, Nak. Dari lahir kamu udah bikin kami bangga. Nggak peduli hasil tes apa pun."
Arka membalas pelukan. "Makasih, Yah. Makasih, Ma."
Alya ikut bergabung. Mereka bertiga berpelukan, hangat banget. Malam itu mereka sepakat, minggu depan Arka bakal tes IQ.
Sabtu Pagi
Klinik psikologi anak yang direkomendasiin sekolah ternyata tempatnya nyaman. Dindingnya warna pastel, ada gambar kartun, dan banyak mainan di ruang tunggu. Tapi Alya sama Reyhan nggak bisa tenang.
Alya duduk sambil remas-remas tisu di tangan. Matanya terus liatin pintu ruang periksa yang tertutup. Arka udah satu jam di dalam.
"Rey..." bisiknya.
Reyhan pegang tangan Alya. "Hm?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut hasilnya... terlalu tinggi." Alya nunduk. "Takut Arka jadi terlalu beda. Susah cari temen. Kesepian. Kayak..."
Dia nggak nerusin, tapi Reyhan tau. Kayak aku dulu. Masa kecil Reyhan yang kesepian karena nggak ada yang ngerti, karena dianggap aneh sama teman-temannya.
Reyhan narik Alya ke pelukan. "Alya, denger. Arka nggak bakal kayak aku. Soalnya dia punya kita. Kita ada buat dia. Aku dulu nggak punya siapa-siapa. Ortu aku sibuk, nggak ngerti aku. Tapi Arka... dia punya kita yang bakal selalu dukung dia."
Alya ngangguk dalam pelukan Reyhan, berusaha tenang.
Satu jam kemudian pintu kebuka. Arka keluar pertama, mukanya cerah banget. Di belakangnya, seorang psikolog muda, Dr. Sarah, senyum.
"Mama! Ayah! Seru banget! Kayak main game!" Arka lari ke arah mereka.
Alya langsung peluk. "Capai nggak, Sayang?"
"Enggak! Malah mau lagi!"
Reyhan ketawa. Dia tatap Dr. Sarah. "Gimana, Dok?"
Dr. Sarah senyum. Senyum yang bikin Reyhan dan Alya makin penasaran. "Bapak, Ibu, bisa kita bicara di ruangan saya?"
Ruang Konsultasi
Arka dibawa asisten ke ruang main. Reyhan dan Alya duduk di depan Dr. Sarah, berhadap-hadapan dengan laptop yang nampilin grafik dan angka.
Dr. Sarah buka laptop, tunjukin hasilnya.
"Pertama-tama, selamat ya. Arka anak yang luar biasa."
Reyhan sama Alya saling pandang. Nggak tau harus senyum atau was-was.
"Hasil tes IQ Arka menunjukkan skor 152. Itu masuk kategori highly gifted atau sangat berbakat. Persentil 99.9, artinya cuma 1 dari 1000 anak yang punya kemampuan kayak dia."
Sunyi.
Alya kayak lupa napas. "152? Itu... tinggi banget?"
"Sangat tinggi," Dr. Sarah konfirmasi. "Kemampuan verbal dia setara anak umur 10-11 tahun. Cara dia nalar, ngehubungin konsep, juga jauh di atas rata-rata."
Reyhan diem. Pikirannya campur aduk. 152. Sama kayak IQ-nya dulu. Arka... bener-bener anakku.
"Cuma," Dr. Sarah lanjut, nada bicaranya berubah lebih serius, "anak dengan IQ setinggi ini perlu pendampingan khusus. Mereka rentan sama perfectionism, kecemasan, dan kesulitan sosial karena beda sama teman sebaya."
Alya langsung tegak. "Jadi... kita harus ngapain, Dok?"
Dr. Sarah senyum, nyoba nenangin. "Yang penting, kasih Arka lingkungan yang suportif. Di sekolah, dia butuh kurikulum yang nantang biar nggak bosen. Di rumah, dia butuh orang tua yang paham keunikannya, tapi nggak kasih tekanan."
"Kami siap, Dok," kata Reyhan tegas. "Apa pun buat Arka."
"Saya percaya, Pak." Dr. Sarah senyum lagi. "Dan satu hal. Dalam observasi saya, Arka anak yang bahagia. Ikatan emosional dia sama Bapak Ibu kuat banget. Itu fondasi terbaik buat anak gifted. Jadi, Bapak Ibu udah di jalan yang benar."
Air mata Alya akhirnya jatuh juga. Tapi kali ini, air mata lega. Reyhan genggam tangannya, nggak lepas.
"Makasih, Dok," ucap Reyhan.
Di Mobil
Arka duduk di kursi belakang, nyanyi-nyanyi kecil sambil liatin pemandangan di luar jendela. Dia sama sekali nggak sadar kalau orang tuanya lagi mikir berat.
"Ma, Yah, aku laper!" teriaknya tiba-tiba. "Makan pizza, yuk!"
Alya nengok dari kursi depan, senyum. "Boleh, Sayang. Pizza kesukaan kamu?"
"Iya! Yang toppingnya pepperoni banyak!"
"Oke, kita ke sana."
Arka sorak-sorak kecil.
Reyhan nyetir pelan, tapi pikirannya muter terus. Dia lirik Alya dari kaca spion. Istrinya itu lagi natap luar jendela, entah mikirin apa.
Di lampu merah, Reyhan raih tangan Alya.
Alya nengok. Matanya masih agak merah, tapi dia senyum.
"Kita baik-baik aja," bisik Reyhan. "Kita jagain Arka bareng-bareng."
Alya ngangguk. "Iya. Bareng."
Di belakang, Arka masih asik nyanyi lagu favoritnya, nggak jelas liriknya. Tapi dia bahagia. Dia tau, orang tuanya sayang dia.
Dan buat anak lima tahun, itu udah cukup. Lebih dari cukup.