Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enam Belas
Pagi di pesantren selalu punya ritmenya sendiri.
Udara masih bersih, belum terlalu panas, dan suara burung yang hinggap di pepohonan halaman terdengar seperti pengantar hari. Beberapa santri kecil terlihat berlarian kecil setelah menyelesaikan tugas pagi mereka. Di kejauhan, suara sapu lidi bergesek dengan tanah menyatu dengan suasana tenang.
Di salah satu ruang belajar sederhana yang biasa digunakan untuk tahsin, Hanin sudah duduk rapi sejak beberapa menit lalu.
Di depannya ada meja kecil dengan tiga kitab Iqro tersusun. Tangannya sesekali merapikan jilbabnya yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi. Di sampingnya, Aisyah duduk bersila sambil memainkan ujung buku catatan.
“Kamu tegang ya?” bisik Aisyah.
Hanin menggeleng pelan. “Nggak.”
“Bohong.”
Hanin melirik sekilas. “Aku cuma bingung.”
“Karena kerabat misterius itu?”
Hanin tidak menjawab. Tapi diamnya cukup jadi jawaban.
Aisyah menyeringai kecil. “Aku malah penasaran sama orangnya.”
Hanin hanya menarik napas pelan. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sembilan.
Beberapa detik kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman pesantren. Aisyah langsung menoleh ke arah jendela.
“Pasti itu dia yang datang.”
Hanin refleks menunduk. Mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti dengan halus di depan bangunan utama. Beberapa santri kecil yang sedang lewat otomatis melambatkan langkah. Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria keluar. Disusul Ustaz Hamid. Keduanya berjalan menuju ruang belajar.
Aisyah yang melihat dari jendela tanpa sadar membatin, "Ya Allah … gantengnya."
Langkah mereka semakin mendekat. Beberapa detik kemudian, pintu diketuk pelan. Dan terdengar ucapan salam. Hanin menjawab salam.
“Silakan masuk, Ustaz,” ujar Hanin selanjutnya.
Pintu terbuka. Ustaz Hamid masuk lebih dulu, diikuti pemuda itu. Ruangan terasa mendadak lebih sempit. Pria itu tersenyum sopan.
Hanin tetap menunduk. Aisyah yang duduk di sampingnya mencoba menjaga ekspresi, meski dalam hati masih mengomentari penampilan tamu mereka.
Ustaz Hamid membuka suara. “Hanin, Aisyah … ini Arsenio.”
Arsenio mengangguk sedikit sebagai salam. Lalu ia menoleh ke arah Aisyah.
Dengan ekspresi ragu ia menunjuk. “Ini … Hanin?”
Aisyah langsung menggeleng cepat. “Bukan saya.”
Ia lalu menunjuk ke samping. “Ini Hanin.”
Arsenio menoleh. Hanin yang tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Hanin memberi senyum kecil yang sopan.
Dan Arsenio terpana sejenak. Dalam hatinya hanya ada satu kalimat, Ternyata dia cantik banget.
Arsenio sempat kehilangan respon sepersekian detik. Lalu refleks Arsenio mengulurkan tangan.
Hanin tidak menyambut. Ia hanya menyatukan kedua tangannya di dada dengan sopan.
“Assalamu’alaikum.”
Arsenio menarik tangannya kembali tanpa tersinggung. “Wa’alaikumussalam,” jawabnya.
Ustaz Hamid berkata lembut, “Hanin, ini Arsenio. Mulai hari ini kamu akan membantu mengajarinya mengaji.”
Hanin mengangguk. Ustaz Hamid lalu menoleh pada Arsenio.
“Kita mulai dari Al-Qur’an langsung atau Iqro?”
Arsenio tampak sedikit malu. Ia tersenyum canggung. “Dari Iqro saja, Ustaz.”
Hanin dan Aisyah saling melirik.
Arsenio melanjutkan dengan jujur, “Saya … tidak bisa mengaji sama sekali.”
Aisyah hampir refleks berkata “serius?” tapi menahan diri.
Ustaz Hamid hanya mengangguk. “Baik. Belajar itu dari awal bukan sesuatu yang memalukan.”
Arsenio tersenyum kecil. Setelah memastikan semuanya siap, Ustaz Hamid pamit.
“Saya serahkan pada kalian.”
Beliau keluar. Pintu lalu ditutup. Dan sekarang tinggal mereka bertiga. Hening sebentar.
Hanin lebih dulu memecah kesunyian. Dia berkata, “Silakan duduk.”
Arsenio duduk bersila di depan meja kecil. Aisyah ikut merapikan posisi duduknya.
Hanin mengambil satu buku Iqro dan meletakkannya di depan Arsenio.
“Ini kita mulai dari sini.”
Dalam hati, Hanin masih ragu. Tak mungkin dia benar-benar tidak bisa.
Setidaknya pasti tahu bentuk huruf. Ia membuka halaman pertama.
Huruf-huruf hijaiyah berjajar sederhana. Hanin menunjuk. “Silakan dibaca.”
Arsenio menatap halaman itu. Diam beberapa detik. Lalu ia mengangkat wajah.
“Saya tidak bisa.”
Hanin mengira ia bercanda.
“Coba saja.”
Arsenio menggeleng.
“Saya benar-benar tidak tahu.”
Aisyah ikut mencondongkan badan.
“Yang ini tahu?” tanyanya sambil menunjuk huruf Alif.
Arsenio menatap lama. "Tidak.”
Aisyah melirik Hanin. Gadis itu kini sadar jika Arsenio benar-benar buta huruf hijaiyah.
Bukan merendah. Bukan juga pura-pura. Ia memang tidak tahu. Hanin menarik napas pelan. "Baiklah, kita mulai dari awal."
“Oke,” katanya lembut.
Ia menunjuk huruf pertama. “Ini A.”
Arsenio mengulang pelan. “A.”
“Bagus.”
Hanin menunjuk huruf berikutnya.
“Ba.”
“Ba.”
“Ta.”
“Ta.”
“Tsa.”
“Tsa.”
Pelan dan terbata. Tapi serius.
Aisyah mengamati. Ada sesuatu yang jujur dalam cara Arsenio belajar. Tidak gengsi dan sok tahu. Ketika salah, ia langsung mengulang.
“Ini apa?” tanya Hanin lagi.
“Ba?”
Hanin tersenyum.
“Betul.”
Beberapa kali Arsenio tertukar. Antara Ta dan Tsa. Antara Jim dan Ha.
Ia bahkan sempat berkata, “Kenapa bentuknya mirip semua?”
Aisyah tertawa kecil. “Biar sabar belajarnya.”
Arsenio ikut tersenyum. Sekitar tiga puluh menit berlalu. Mereka baru sampai di huruf Kha.
Arsenio menghela napas. “Lumayan juga ya.”
Hanin menjawab ringan. “Belajar memang butuh waktu.”
Aisyah menyela, “Untung ini bukan ujian.”
Arsenio terkekeh kecil. Suasana mulai cair. Satu jam berlalu. Arsenio mulai bisa mengenali beberapa huruf tanpa bantuan.
“Ini?”
“Dal.”
“Ini?”
“Ra.”
“Ini?”
“Zai.”
Hanin mengangguk.
“Cepat juga belajarnya.”
Arsenio tersenyum tipis.
“Guru saya bagus.”
Aisyah langsung melirik Hanin. Gadis itu pura-pura fokus ke buku. Waktu berjalan tanpa terasa. Satu setengah jam. Mereka akhirnya berhenti.
Arsenio menutup buku pelan. “Terima kasih.”
Hanin mengangguk. “Besok kita lanjut.”
Arsenio berdiri. “Saya akan datang lagi.”
Aisyah berkata, “PR-nya diingat ya.”
Arsenio tertawa kecil. “Iya, Bu.”
Ia menoleh pada Hanin. “Terima kasih.”
Hanin menjawab singkat. “Sama-sama.”
Arsenio lalu pamit. Langkahnya keluar ruangan terasa ringan. Di luar, mobilnya sudah menunggu.
Ketika pintu ruang kembali tertutup, Aisyah langsung berbisik cepat. “Dia beneran nggak bisa!”
Hanin mengangguk pelan. “Iya.”
“Dan dia sabar banget belajarnya.”
Hanin tidak menjawab. Ia hanya memandang halaman Iqro yang masih terbuka.
Dalam hati, satu hal ia sadari. Pria itu datang dengan niat sungguh-sungguh. Dan mungkin pelajaran hari ini bukan hanya untuk Arsenio. Tapi juga untuknya. Besok akan jadi awal yang lain lagi.
Arsenio yang telah berada dalam mobil berkata dalam hatinya, "Maafkan aku Hanin. Jika suatu hari kamu tau siapa aku, hanya maaf darimu yang aku inginkan."
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??