"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: DILEMA DARAH DAN CINTA
Udara di lantai 50 Menara Adiguna mendadak terasa tipis, seolah oksigen dihisap habis oleh kehadiran pria bertopeng perak itu. Di sampingnya, Nenek Victoria berdiri dengan keanggunan yang mematikan, menatap Gwen seperti seekor elang yang sedang memantau mangsanya.
Gwen merasakan telapak tangannya dingin. Cengkeraman Elang di lengannya mengeras, dan ia bisa merasakan tubuh pria itu menegang sempurna. Elang sedang dalam mode tempur, meski luka-lukanya belum sepenuhnya kering.
"Siapa kau?" suara Gwen keluar dengan nada rendah, bergetar di antara keberanian dan kengerian. "Berani-beraninya kau duduk di kursi itu!"
Pria bertopeng itu tertawa. Suaranya tidak lagi melalui pengeras suara, tapi terdengar jernih—dingin, berwibawa, dan anehnya... terasa sangat akrab. Ia melepas sarung tangan kulit hitamnya dan meletakkannya di atas meja kerja mahoni milik Gwen.
"Kursi ini hanyalah seonggok kayu, Gwen. Yang penting adalah siapa yang mengendalikan sistem di baliknya," ucap pria itu. Ia berdiri, melangkah keluar dari balik meja. "Kau bertanya siapa aku? Victoria, haruskah aku memberitahu cucumu tercinta ini?"
Nenek Victoria tersenyum tipis. "Dia sudah cukup dewasa untuk mengetahui kebenaran yang pahit, Ares."
Ares. Nama itu seperti petir yang menyambar ingatan Gwen. Di dalam buku harian ibunya yang baru saja ia baca, nama Ares muncul beberapa kali sebagai 'asisten jenius' yang membantu proyek ibunya.
Pria itu perlahan membuka topeng peraknya. Begitu topeng itu terlepas, Gwen tersentak mundur hingga menabrak dada Elang.
Wajah pria itu... hampir identik dengan ayahnya, namun versi yang lebih muda dan lebih tajam. Matanya berwarna kelabu gelap, memancarkan kecerdasan yang tidak manusiawi.
"Paman Ares?" bisik Gwen. "Tapi... Ayah bilang kau sudah mati dalam kecelakaan laboratorium bersama Ibu!"
"Ayahmu pintar dalam mengarang cerita, Gwen," Ares melangkah mendekat, mengabaikan pistol yang mulai diarahkan Elang ke kepalanya. "Dia tidak mati, aku tidak mati. Kami hanya terpecah. Ayahmu memilih untuk menyembunyikan teknologi itu dan hidup seperti pengecut, sementara aku... aku ingin mewujudkan mimpi ibumu. Dunia yang terkendali tanpa konflik, di bawah pengawasan Proyek Gerhana."
"Ibu tidak pernah menginginkan dunia dikendalikan!" bantah Gwen keras. "Ibu mengorbankan nyawanya untuk menghentikan orang-orang sepertimu!"
Ares berhenti tepat di depan moncong senjata Elang. Ia menatap Elang dengan pandangan merendahkan. "Anjing penjaga ini masih memiliki nyali, ya? Elang, kau tahu bahwa detak jantungmu saat ini masih bisa kurasakan di tabletku? Kau tidak benar-benar bebas. Chip itu meninggalkan 'jejak residu' di sistem sarafmu."
Elang tidak bergeming. "Residu atau tidak, aku akan menarik pelatuk ini sebelum kau menyentuh Gwen."
"Cukup!" Victoria menyela, suaranya yang tajam membelah ketegangan. "Gwen, kedatangan kami di sini bukan untuk membunuhmu. Kau adalah darah Adiguna. Kami datang untuk menagih warisanmu. Proyek Gerhana butuh kode akses biometrik yang hanya ada dalam retina dan darahmu. Serahkan itu pada kami, dan kau bisa hidup bahagia dengan pengawalmu ini di belahan dunia manapun yang kau mau."
Gwen menatap Neneknya, lalu beralih ke Paman Ares, dan terakhir ke Elang. Ia terjepit di antara keluarga yang haus kekuasaan dan pria yang selama ini mempertaruhkan nyawa untuknya.
"Dan jika aku menolak?" tanya Gwen.
Ares mengangkat bahunya dengan santai. "Maka seluruh saham Adiguna Group yang kini dipegang oleh Victoria akan dilepas ke pasar. Perusahaanmu akan hancur dalam semalam. Kau akan kehilangan segalanya, Gwen. Kemewahanmu, namamu, dan... pengawalmu ini tidak akan punya tempat lagi untuk bersembunyi dari The Hive."
Gwen merasakan sesak di dadanya. Ini bukan lagi soal fisik, tapi serangan mental yang sistematis. Mereka tahu kelemahan terbesarnya: rasa tanggung jawab pada warisan ayahnya dan keselamatannya Elang.
"Gwen, jangan dengarkan mereka," bisik Elang di telinganya. "Kita bisa pergi sekarang. Aku bisa membawamu keluar dari sini."
"Keluar ke mana, Elang?" potong Victoria sinis. "Ke tempat persembunyianmu yang kumuh? Gwen adalah seorang Ratu. Dia tidak pantas hidup di selokan bersamamu."
Gwen memejamkan matanya sejenak. Ia teringat ciuman mereka di gudang, pelukan Elang saat ledakan, dan rasa takut kehilangan Elang yang hampir membuatnya gila. Ia menyadari satu hal: selama ia memegang kunci Proyek Gerhana, Elang akan selalu menjadi target. Satu-satunya cara untuk membebaskan Elang adalah dengan menyelesaikan permainan ini.
"Aku akan memberikan apa yang kalian mau," ucap Gwen tiba-tiba.
"Gwen! Tidak!" Elang mencengkeram bahu Gwen, memaksa wanita itu menatapnya. "Kau gila? Mereka akan menghancurkan dunia dengan itu!"
Gwen menatap Elang dengan mata yang berkaca-kaca, namun ada kilatan rencana di baliknya yang hanya bisa dipahami oleh orang yang sudah terbiasa berakting. "Elang, aku lelah. Aku lelah berlari. Aku ingin semua ini berakhir."
Gwen melepaskan diri dari Elang dan berjalan mendekati Ares. "Tapi aku punya syarat."
Ares tersenyum penuh kemenangan. "Katakan, Diana Kecil."
"Lepaskan Elang. Beri dia identitas baru, hapus semua catatan residu di tubuhnya, dan biarkan dia pergi sejauh mungkin dari konflik ini. Jangan pernah sentuh dia lagi. Jika aku tahu ada satu saja agenmu yang mengikutinya... aku akan menghancurkan data akses biometrikku dengan menyuntikkan racun ke mataku sendiri."
Keheningan menyelimuti ruangan. Elang terpaku, hatinya hancur mendengar syarat Gwen. Wanita itu mencoba menukarnya dengan kebebasan.
"Kesepakatan yang adil," ucap Ares. "Victoria, siapkan tim medis. Kita akan melakukan pemindaian retina sekarang juga."
"Gwen, jangan lakukan ini..." Elang mencoba melangkah maju, tapi dua pengawal Victoria segera menahan lengannya yang terluka. Elang mengerang kesakitan, ia berlutut di lantai dengan napas tersengal.
Gwen tidak menoleh ke arah Elang. Ia tahu, jika ia melihat wajah Elang sekali saja, pertahanannya akan runtuh. Ia melangkah menuju kursi medis yang sudah disiapkan di sudut ruangan.
Saat lampu pemindai mulai menyorot matanya, Gwen membisikkan sesuatu yang sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun kecuali Ares yang berada sangat dekat dengannya.
"Paman... kau lupa satu hal. Darah ibuku bukan hanya kunci. Itu juga adalah racun bagi sistem yang tidak sempurna."
Mata Ares melebar. "Apa?!"
BIIIIIP!
Alarm di seluruh Menara Adiguna berbunyi. Lampu merah berkedip gila. Layar-layar monitor di ruangan itu menampilkan pesan: SYSTEM CORRUPTION DETECTED. VIRUS "DIANA'S TEARS" ACTIVATED.
Gwen meloncat dari kursi, meraih vas bunga kristal di dekatnya dan menghantamkannya ke kepala salah satu pengawal yang menahan Elang.
"ELANG, SEKARANG!" teriak Gwen.
Meskipun bingung dan terluka, insting tempur Elang langsung bangkit. Ia melepaskan diri, merebut senjata dari pengawal yang pingsan, dan dalam hitungan detik, ia sudah berada di depan Gwen, menutupi wanita itu dengan tubuhnya.
"Kau... kau menanamkan virus di akses biometrikmu?!" raung Ares sambil mencoba menyelamatkan data di komputernya yang mulai terbakar.
"Ibu sudah menyiapkan ini jika suatu saat kalian memaksaku," ucap Gwen dengan senyum kemenangan yang paling cantik. "Proyek Gerhana tidak akan pernah aktif tanpa aku yang mengaturnya secara sadar. Selamat tinggal, Paman. Selamat tinggal, Nenek."
Gwen menarik tangan Elang. "Lari!"
Mereka berlari menuju lift layanan saat ruangan itu mulai dipenuhi asap dari sirkuit yang meledak. Di dalam lift yang turun dengan cepat, Elang menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatap Gwen dengan pandangan tak percaya.
"Kau berbohong soal menyerah," ucap Elang, napasnya masih terengah.
Gwen mendekat, menyeka darah di pipi Elang. "Aku belajar dari yang terbaik, Tuan Bodyguard. Kau mengajariku bahwa untuk menang, kita harus membuat musuh merasa mereka sudah menang."
Elang tersenyum tipis, lalu menarik Gwen ke dalam pelukan yang sangat erat. "Kau benar-benar berbahaya, Gwen Adiguna."
"Dan aku milikmu," bisik Gwen.
Namun, saat pintu lift terbuka di lantai dasar, mereka tidak menemukan jalan keluar yang kosong. Di sana, sudah berdiri puluhan pria berseragam hitam dengan lambang lebah emas di dada mereka.
The Hive. Organisasi induk yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka hadapi. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria tua berambut putih yang memegang tongkat emas.
"Gwen, Elang... permainan baru saja naik ke level berikutnya," ucap pria tua itu.
Gwen mencengkeram tangan Elang. "Siapa lagi sekarang?"
"Tuan Besar yang sesungguhnya," desis Elang.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia