Kara seorang artis cantik yang mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam novel kebencian memerankan seorang wanita bernama Aleca seorang istri yang di nikahi suaminya karena sebuah dendam.
Dengan jiwa tangguh dan pengalaman hidupnya sebagai pabrik figur, dia mengubah takdir istri yang teraniaya itu dengan kekuatan baru.
Matanya yang dulu bercahaya kini membara, Dan suaranya yang dulu lembut kini tegas. Dia siap melawan suaminya yang menindasnya, dan mengambil kembali kendali kehidupan yang layak untuk sang istri yang lemah.
"Aku sudah siap bermain!” katanya dengan senyum dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa
Perlahan Luiz membuka kedua matanya, samar-samar ia melihat nyonya Shofia yang duduk di samping nya sambil memegangi tangannya.“Kamu sudah bangun sayang,?”
Perlahan Luiz memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.“Apa yang terjadi ma,?”Tanya Luiz dengan suara yang melemah.
“Apa kamu tidak ingat, Sri bilang kamu tertimpa Aleca yang jatuh dari tangga dan berakhir pingsan.lagi pula kamu kenapa sih harus menolong wanita itu, padahal kamu bisa saja membiarkan wanita itu terjatuh dari tangga. Jadi kamu tidak perlu menolong dia!”
Luiz memproses omelan yang keluar dari mulut mamanya, sambil terus memegangi kepalanya dan berbicara sendiri.‘Benar juga kenapa aku harus menolong nya, seharusnya aku membiarkan dia terjatuh. dan gara-gara dia nasib yang sama terulang lagi pada ku'
“Sekarang di mana wanita itu ma!?”
“Dia sudah mama usir tadi! tapi untunglah dia menurut dan segera pergi tadi. lagi pula kan mama sudah suruh kamu untuk menceraikan dia secepatnya, tapi kamu tidak melakukan nya”
“Mama tau jalan keluar dari kamar ku kan!? mama bisa keluar sekarang juga aku mau istirahat."
“Baiklah, mama akan keluar sekarang. Tapi kita harus bicara lagi tentang ini nanti."
Luiz mengangguk lemah, meski tanpa menjawab.Nyonya Shofia berdiri dan berjalan ke arah pintu, "Istirahatlah, nanti mama akan panggil kan Sri untuk mengantar makan malam mu.”
...****************...
Aleca melemparkan tasnya ke atas tempat tidur di dalam apartemen dengan memasang wajah yang cemberut.“Coba saja dia memberikan aku kunci itu pasti kejadian seperti tadi tidak akan terulang lagi!”Aleca mengomel sendiri seraya melepas satu persatu pakaiannya dan memakai handuk.
Aleca melangkah ke arah kamar mandi, masih mengomel sendiri. "Lagi pula kenapa sih dia harus menolong aku bukan kah dia itu benci aku jadi coba biarkan saja aku tadi jatuh!" Aleca tak berhenti mengomel sembari membuka air shower untuk mengisi air hangat ke dalam bathtub.Aleca mulai memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub,dan mulai menutup mata, membiarkan air hangat meredakan emosinya.
ALeca keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, ia pun perlahan melangkahkan kaki ke arah meja hias dan mulai mengusap rambutnya dengan handuk. Kemudian ia memandangi kulit wajah nya yang semakin hari cerah dan terawat sambil tersenyum.
Tiba-tiba Aleca mengingat tentang seorang pria bernama Gilang, yang sejak tadi siang menawan dirinya untuk menjadi bintang.Kemudian Aleca mengambil kartu nama Gilang yang ada di dalam tasnya. Ia kembali berpikir ataukah ia mau atau tetap menolak sehingga ia di ambang kebingungan sekarang.
Aleca memutar-mutar kartu nama Gilang di tangannya, merasa tidak yakin. "Menjadi bintang itu impianku tapi itu dulu,tapi apa yang akan terjadi jika aku menerima tawaran ini?" ia memandang ke cermin, melihat dirinya sendiri,“Aku hanya takut cerita ini sama seperti kisah ku saat menjadi Kara
...----------------...
Meysa membanting camera fotografer sehingga camera tersebut terbelah menjadi dua bagian.Gilang sebagai manajer nya tentu nya sangat lah marah karena Meysa yang datang tiba-tiba ke ruang pemotretan dengan nada tinggi.
Gilang melangkah ke arah Meysa, wajahnya merah karena kemarahan. "Apa yang kamu lakukan, Meysa?! Kamu tahu berapa harga kamera itu?!" dia berteriak, suaranya mengguncang ruang pemotretan.
Meysa tidak mundur, dia tetap menatap Gilang Dengan mata yang tak kalah tajam.“Pokoknya aku tidak mau kamu menggantikan aku dengan orang lain”
Gilang menatap Meysa dengan ekspresi frustrasi, "Meysa saya tidak berniat menggantikan kamu dengan orang lain, coba kamu berpikir jernih. Ini tentang karir, bukan tentang ego!"
salah satu stap dan karyawan yang bekerja di PT entartaimen itu mendengar keributan di dalam ruang pemotretan lantas mereka masuk ke sana dan menemukan Meysa dan Gilang sedang berhadapan, suasana tegang.
Salah satu staf, seorang pria, mencoba mendinginkan suasana, "Gilang, Meysa, apa yang terjadi?"
Gilang menunjuk kamera yang rusak, "Meysa membanting kamera. Dia marah karena berpikir kalau dia akan tersingkir kan." Para staf saling menatap, lalu kembali melihat Meysa yang masih berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Romi yang bekerja sebagai asisten Meysa juga datang menghampiri Meysa, dan dia mulai menasehati Meysa untuk tidak perlu bersedih karena meskipun ada calon artis baru namanya tidak akan pernah tersingkirkan.
Romi memegang bahu Meysa, "Meysa, kamu tidak perlu khawatir. Kamu punya bakat, kamu punya nama mey, jadi tidak perlu bersedih”
“Aku tahu, Romi. Aku hanya tidak ingin merasa tersaingi, aku tidak mau jadi seperti ini,”
Gilang mencibir "Romi bilang sama Atasan Mu untuk mengganti camera yang telah ia rusak!." Lalu dia berbalik dan mulai berjalan keluar dari ruang pemotretan, diikuti oleh staf yang lain.
Meysa tersenyum kecil, "Aku tidak akan lupa itu, Gilang." Romi membantu Meysa mengambil barang-barangnya, lalu mereka berdua juga keluar dari ruang pemotretan.
...----------------...
Sebuah mobil van hitam berhenti tepat di depan apartemen Aleca, lalu mobil tersebut berhenti di saat melihat ALeca baru saja keluar dari dalam apartemen.Lalu berjalan masuk ke mobil yang ada di depannya.
Perlahan seorang pria yang memperhatikan kejadian itu hanya menggenggam erat jemari tangannya.Pria itu adalah Luiz.
Luiz menatap Aleca yang masuk ke dalam mobil biru mewah, raut wajahnya berubah menjadi gelap. Dia menggenggam setir mobilnya dengan kuat, "wanita yang statusnya Masih memiliki suami apa pantas jalan dengan seorang pria lain?" dia bergumam pada dirinya sendiri.
Luiz tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mobil biru yang mulai bergerak, hatinya terasa seperti terbakar oleh rasa tidak nyaman.
...****************...
“Jadi buku kecil mu itu hilang?"Tanya Mario pada Aleca yang duduk di samping nya.
Aleca yang terlihat begitu lelah menjawab pertanyaan Mario dengan posisi tubuh bersandar di kursi mobil.“Entahlah pokoknya aku tidak tau buku itu ada di mana”
“Jadi kamu sama sekali tidak ingat desain yang pernah kamu gambar di buku itu?”
Aleca menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mario. Aku tidak ingat. Aku sibuk dengan... hal lain."
Aleca menatap ke luar jendela, "Aku tidak tahu di mana buku itu. Mungkin aku salah letak."
Mario menatap Aleca dengan penasaran "Tapi itu desain spesial, Aleca. Kamu tidak bisa sembarangan meninggalkannya."
Aleca menghembuskan napas berat"Aku tahu, Mario.pokoknya aku akan cari lagi."
Kemudian ALeca menatap Mario yang masih fokus menyetir.“Mario boleh aku tanya satu hal?"
Mario melirik Aleca sejenak.“Tanya apa?"
“Sebenarnya kamu kerja di mana sih,?”
Pertanyaan Aleca ini sukses membuat Mario tertawa.Mario tertawa, "Haha, ALeca! Kamu lucu sekali, kamu lupa aku kerja di mana? bahkan kamu tau kan jika aku adalah saingan bisnis Luiz suami mu!”
“Apa maksud mu..?”Tanya ALeca yang sama sekali tak mengerti.
smgt nulisnya di tunggu selalu up ny