NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketua Tim basket : Itadaki Inosuke

‎Pagi hari menyongsong gedung- gedung Hoshikawa elite senior high school.

‎Di sekolah yang elit itu, ada satu nama yang selalu dibicarakan bahkan oleh mereka yang belum pernah benar-benar melihatnya dari dekat — Jauh sebelum Douma hadir di Hoshikawa . Itadaki Inosuke.

‎Ia adalah bintang di sekolah.

‎Bukan sekadar karena posisinya sebagai ketua tim basket, tapi karena auranya sendiri sudah cukup membuat orang berhenti bicara saat ia lewat. Tingginya hampir setara dengan Douma. Tubuhnya padat, terbentuk dari disiplin latihan bertahun-tahun. Setiap geraknya efisien — tidak berlebihan, tidak ceroboh — seperti seseorang yang sangat sadar akan kemampuan fisiknya.

‎Rambutnya hitam pekat, namun ujungnya memancarkan warna biru neon yang samar menyala ketika terkena cahaya. Bukan terang berlebihan — justru cukup halus untuk terlihat aneh… sekaligus memikat. Banyak siswa mengira itu hanya gaya eksentrik. Tidak ada yang tahu itu bukan sekadar pewarna rambut.

‎Wajahnya tampan dan tegas. Karismanya alami, bukan hasil usaha untuk terlihat mengesankan. Saat berada di lapangan, ekspresinya berubah — fokus, tajam, seperti predator yang membaca ritme permainan.

‎Namun justru karena itu…

‎Ia sangat sulit ditemui.

‎Inosuke jarang bersosialisasi. Ia hampir tidak pernah terlihat latihan di sekolah. Jika ingin menyaksikan permainannya — atau sekadar melihatnya dari dekat — satu-satunya kesempatan adalah saat pertandingan resmi.

‎Dan setiap pertandingan…

‎selalu penuh.

‎‎Desas-desus mengatakan ia berlatih di rumah. Bukan tanpa alasan — keluarganya termasuk tiga besar keluarga terkaya di Jepang. Fasilitas pribadi yang ia miliki jauh melampaui fasilitas sekolah mana pun. Lapangan pribadi, pelatih eksklusif, teknologi simulasi… semuanya tersedia.

‎‎Namun kekayaan bukan hal paling misterius darinya.

‎Ada sesuatu dalam tatapannya.

‎Tenang… tapi terlalu tenang.

‎‎Seolah ia melihat dunia dari sudut yang berbeda.

‎‎Dan memang benar begitu. Di dunia tempat ia dikagumi banyak wanita dan pria..

‎Menyimpan rahasia identitas aslinya bukan sekadar ketua tim basket…

‎Ia adalah salah satu pengatur strategi dunia iblis.

‎‎Pemegang otoritas tingkat II.

‎Tidak seperti iblis tingkat rendah yang menyebar jaring dan manipulasi secara langsung, perannya adalah merancang arah besar — memilih target, menentukan momentum, dan menjaga keseimbangan kekuatan menjelang ritual.

‎Di dunia manusia, ia tampil sebagai siswa sempurna.

‎Di balik layar…

‎ia adalah perencana yang dingin.

‎Namun menariknya — keberadaan Douma telah masuk dalam pengamatannya.

‎Belum sebagai ancaman.

‎Belum juga sebagai target.

‎Hanya… variabel yang belum ia pahami.

‎Dan bagi seseorang seperti Inosuke, variabel tak dikenal selalu lebih berbahaya daripada musuh yang jelas.

 

‎Tepat setelah jam istirahat pertama..

‎udara di gedung olahraga terasa berbeda.

‎‎Bukan karena hari ini simulasi final tim basket inti — tapi karena seluruh sekolah seperti tahu sesuatu pertunjukan besar akan terjadi. Sejak bel berbunyi, arus siswa mengalir ke arah lapangan dalam gelombang tak tertahan. Tribun mulai penuh bahkan sebelum pemanasan dimulai.

‎Sorak sorai sudah terdengar.

‎Lapangan basket memantulkan cahaya putih dari lampu atas, membuat lantainya berkilau seperti kaca. Udara dipenuhi campuran aroma keringat, energi muda, dan antisipasi. Di sisi lapangan, anggota tim inti yang terpilih berdiri berjajar — tinggi, atletis, wajah-wajah tampan yang membuat tribun perempuan berisik tanpa henti.

‎Jika dilihat sekilas, mereka memang lebih mirip grup boyband daripada tim olahraga sekolah.

‎Bisikan-bisikan memenuhi udara.

‎“Itu yang nomor tujuh… astaga…”

‎“Kenapa semua tim inti tampan banget sih…”

‎“Ini latihan atau konser?”

‎Di antara mereka berdiri Amatsuki Douma, ekspresinya santai seperti biasa. Seragam olahraga menempel rapi pada tubuh proporsionalnya. Rambut peraknya jatuh natural, sedikit bergerak mengikuti hembusan udara pendingin ruangan. Ia tampak tidak terganggu oleh kebisingan tribun — seolah suara itu hanyalah latar yang jauh.

‎Namun matanya sesekali bergerak…

‎mengamati satu sosok.

‎Di ujung barisan berdiri Itadaki Inosuke.

‎Aura pria itu terasa… padat.

‎Tubuhnya tegap dengan postur atlet sempurna. Rambut hitamnya kontras dengan ujung biru neon yang menyala halus di bawah lampu. Ia berdiri tanpa banyak gerak, namun keberadaannya sendiri seperti menekan ruang di sekitarnya. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi — hanya fokus yang dingin.

‎Douma menatapnya beberapa detik.

‎Jadi ini ketua tim…

‎Rasa ingin tahu muncul, bukan sebagai tantangan, melainkan observasi murni.

‎Sejauh apa kemampuannya?

‎Langkah sepatu bergema.

‎Guru olahraga memasuki lapangan.

‎Takamura Ryuji pria bertubuh besar dengan suara tegas yang langsung menembus keramaian.

‎“Baiklah!”

‎Tribun sedikit mereda.

‎“Latihan hari ini adalah evaluasi final. Kalian semua sudah melewati dua bulan penyaringan. Ini bukan sekadar simulasi — ini penentuan ritme tim inti.”

‎Ia menoleh ke arah Inosuke.

‎“Inosuke… kerja sama nya diharapkan seperti biasa. Aku tidak pernah meragukanmu.”

‎Inosuke hanya mengangguk pendek.

‎Tidak ada kata.

‎Hanya gestur kecil yang cukup menunjukkan bahwa ia mendengar.

‎Tatapan Takamura kemudian bergeser ke barisan anggota baru.

‎“Di tim ini ada beberapa pemain kelas I yang menjanjikan. Salah satunya… Amatsuki Douma.”

‎Beberapa kepala langsung menoleh.

‎Tribun kembali riuh.

‎“Itu dia!”

‎“Doumaaa!”

‎Takamura melanjutkan,

‎“Kuharap kalian bisa akur dan berbagi strategi. Kalian berdua adalah kunci emas tim ini.”

‎Hening sepersekian detik.

‎Douma memberi anggukan ringan.

‎Inosuke tetap diam seperti es.

‎Namun matanya…

‎bertemu dengan mata Douma.

‎‎Tatapan itu singkat — tapi cukup membuat udara terasa lebih berat bagi siapa pun yang sensitif terhadap atmosfer.

‎Beberapa anggota tim menelan ludah tanpa sadar.

‎‎Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

‎‎Banyak yang melihat persamaan di antara keduanya — tinggi, karisma, ketenangan. Tapi ada juga yang merasakan perbedaan tajam.

‎‎Inosuke seperti pisau dingin.

‎Douma seperti permukaan air tenang.

‎‎Para penonton perempuan jelas punya opini sendiri.

‎“Douma lebih approachable…”

‎“Inosuke bikin jantungku deg-degan…”

‎“Yang satu men_toggle jantung… yang satu bikin takut…”

‎‎Sorakan berubah menjadi teriakan centil tanpa filter.

‎‎“Inosuke aku milikmu!”

‎‎“Douma tidurlah denganku!”

‎‎“Aku mau sentuh dada merekaaa!”

‎‎Beberapa guru pura-pura tidak dengar.

‎Takamura menghela napas panjang.

‎‎“Fokus!”

‎‎Peluit berbunyi.

‎Simulasi dimulai.

‎‎Bola memantul keras.

‎‎Gerakan pertama Inosuke langsung menunjukkan kelasnya — langkahnya presisi, perubahan arah bersih, kontrol bola nyaris tanpa celah. Ia membaca posisi pemain lain seperti membaca peta yang sudah dihafalnya.

‎‎Douma bergerak di sisi lain.

‎‎Lebih halus.

‎‎Lebih adaptif.

‎‎Ia tidak memaksakan tempo — ia menyatu dengan aliran permainan, mengisi celah dengan insting alami. Setiap kali bola berada di tangannya, ruang terasa terbuka.

‎‎Beberapa menit berlalu.

‎‎Permainan semakin cepat.

‎‎Dan di tengah ritme itu — tanpa kata keduanya mulai memahami gaya masing-masing.

‎Umpan silang.

‎Rotasi.

‎Pertukaran posisi.

‎‎Tidak direncanakan.

‎Tidak dibahas.

‎Tapi sinkron.

‎Tribun bergemuruh.

‎‎“Gila… mereka baru pertama kali main bareng…”

‎‎“Seperti sudah latihan bertahun-tahun…”

‎Takamura menyilangkan tangannya.

‎‎Matanya tajam.

‎‎“Menarik…bagus!”

‎‎Sementara itu, Inosuke merasakan sesuatu yang tidak ia temukan pada pemain lain.

‎Douma tidak tertekan.

‎Tidak terpancing.

‎Tidak berusaha mengungguli.

‎Ia hanya… hadir disana tapi mendominasi.

‎Dan itu membuat Inosuke waspada.

‎‎Tatapan singkat kembali terjadi saat mereka berpapasan.

‎‎Ada ketenangan aneh di mata Douma.

‎Bukan ketenangan seorang atlet.

‎Bukan juga kepercayaan diri biasa.

‎Lebih seperti seseorang yang berdiri di luar kerangka permainan… namun memilih ikut bermain.

‎Inosuke tidak menyukai variabel yang tidak bisa ia klasifikasikan.

‎Namun ia tidak menunjukkan apa pun.

‎‎Simulasi berlanjut hingga peluit akhir berbunyi.

‎‎Sorakan pecah.

WOOHHHHH!! YEAHHH!!

‎Tim inti berkeringat, napas berat, tapi atmosfer lapangan terasa hidup.

‎Douma menyeka peluh di pelipisnya.

‎‎Inosuke berdiri beberapa langkah darinya.

‎Tanpa kata.

‎Tanpa senyum.

‎‎Hanya pengakuan diam…

‎bahwa hari ini, mereka telah menemukan lawan sekaligus sekutu yang menarik.

‎‎Dan meski tidak ada satu pun penonton yang menyadarinya—

‎pertemuan pertama itu…

‎adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar basket.

‎‎Ruang ganti setelah simulasi latihan:

‎Ruang ganti tim basket dipenuhi uap hangat dan suara air yang masih menetes dari shower. Aroma sabun bercampur keringat memenuhi udara—bau khas latihan keras yang anehnya terasa memuaskan. Loker-loker terbuka, handuk tergantung sembarang, sepatu olahraga berserakan. Namun perhatian semua orang jelas tidak benar-benar tertuju pada hal-hal itu.

‎‎Tatapan mereka berulang kali melirik ke dua sosok yang berada di sisi berbeda ruangan.

‎Amatsuki Douma duduk santai di bangku kayu, menyandarkan punggung seolah latihan barusan hanyalah pemanasan ringan. Rambut peraknya masih sedikit lembap, beberapa helai jatuh mengikuti garis wajahnya yang tegas namun halus. Kulitnya yang putih tampak berkilau tipis oleh sisa keringat, membuatnya terlihat seperti patung yang dipahat terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Gerakannya tenang, efisien—tidak ada energi yang terbuang sia-sia.

‎‎Di sisi lain, Itadaki Inosuke berdiri di depan lokernya. Tubuhnya tinggi dan kokoh, otot-ototnya jelas terbentuk oleh latihan bertahun-tahun. Rambut hitamnya jatuh rapi, dengan ujung biru neon yang samar. Tatapannya dingin, fokus, seperti seseorang yang selalu berada setengah langkah di depan situasi. Bahkan saat hanya mengeringkan rambut, auranya terasa berat—membuat beberapa anggota tim tanpa sadar menjaga jarak.

‎‎Keheningan canggung itu akhirnya pecah.

‎“Serius… kalian merasakan hal yang sama kan?” bisik salah satu anggota tim sambil menyikut temannya.

‎‎“Merasa apa?”

‎‎“Aura mereka,” jawabnya pelan, seolah takut didengar. “Aku saja hampir pingsan tadi di lapangan.”

‎Temannya terkekeh gugup.

‎“Pingsan karena capek kali.”

‎‎“Bukan! Maksudku… bagaimana menjelaskan nya ya…” Ia mengacak rambut, mencari kata yang tepat. “Aura mereka itu… aur-auran—eh maksudnya… rumit! Kayak benang kusut. Susah dijelaskan. Tapi membuat kepala rasanya penuh.”

‎Beberapa yang mendengar ikut mengangguk.

‎“Iya juga… pas mereka satu lapangan, suasananya berbeda,” sahut yang lain. “Seperti… tekanan yang tidak kelihatan.”

‎“Menurutku akan ada rivalitas besar antara mereka,” tambah anggota lain dengan nada setengah kagum. “Kelihatan sekali.”

‎Ucapan itu membuat beberapa kepala menoleh refleks—bergantian melihat Douma dan Inosuke.

‎Namun keduanya tidak saling memperhatikan.

‎Douma sedang mengikat ulang tali sepatu dengan gerakan santai. Inosuke menutup lokernya tanpa suara, ekspresinya tetap datar. Tidak ada percikan konflik di permukaan… tapi semua orang merasakan sesuatu yang tak terucap.

‎“Kalau dipikir-pikir…” seseorang bersandar ke bangku. “Kita beruntung banget punya mereka berdua.”

‎“Beruntung?” yang lain tertawa kecil. “Ini bukan cuma beruntung. Ini jackpot.”

‎“Serius. Dengan kombinasi permainan mereka…” Ia menggeleng kagum. “Tahun ini kita pasti menang.”

‎“Sudah pasti!” sahut yang lain dengan semangat. “Medali emas nasional itu milik sekolah kita!”

‎Beberapa anggota tim bersorak kecil, menepuk bahu satu sama lain. Ketegangan tadi berubah menjadi euforia optimistis.

‎Di tengah percakapan itu, Douma berdiri. Gerakannya ringan, hampir tanpa suara. Ia menyampirkan handuk ke bahu, ekspresinya tetap netral—tidak terpengaruh pujian atau spekulasi apa pun.

‎Di saat yang sama, Inosuke melangkah menuju pintu.

‎Untuk sepersekian detik—

‎mata mereka bertemu.

‎Tidak ada senyum. Tidak ada kata.

‎Hanya tatapan singkat… tajam… penuh pengukuran.

‎Seolah dua pemain catur yang sama-sama sadar papan permainan baru saja dibuka.

‎Lalu keduanya berjalan melewati satu sama lain tanpa komentar.

‎Namun udara ruangan terasa sedikit lebih berat setelahnya.

‎Salah satu anggota tim menelan ludah.

‎“…Oke,” gumamnya pelan.

‎“Kalau mereka beneran kerja sama… lawan kita bakal tamat.”

‎Sautan mereka tenggelam dalam gemercik air di shower ruangan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!