Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Nathan dan sahabatku!?
Malam itu, ruang tamu kami bukan sekadar saksi bisu pertumbuhan anak-anak, melainkan menjadi saksi sebuah babak baru dalam perjalanan hidup Hamdan. Suasana yang tadinya riuh oleh derap langkah Abror dan Rasyid, perlahan mereda saat anak-anak mulai asyik dengan dunianya masing-masing di atas karpet bulu.
Fattah, yang sedari tadi memperhatikan Hamdan dengan tatapan penuh arti, akhirnya membuka suara. Ia menggeser posisi duduknya menjadi lebih tegak, menghadap suamiku.
"Hamdan," panggil Fattah pelan, nadanya sedikit lebih berat dari biasanya. "Aku baru saja bicara dengan Abi Rehadi di pondok kemarin."
Hamdan meletakkan gelasnya, menatap Fattah dengan dahi berkerut. "Ada apa, Fatt? Sepertinya serius sekali?"
"Abi mau Mas Hamdan yang memegang kendali penuh mengurus pesantren ke depannya," Fattah menjeda kalimatnya, lalu tersenyum tipis sembari melirik ke arah Abror yang sedang mencoba memanjat sofa. "Bukannya aku tidak mau, Mas. Tapi Mas lihat sendiri, kan? Abror ini jagoan yang luar biasa aktif. Aku harus lebih banyak pasang badan membantu Nisa. Rasanya, Mas Hamdan adalah orang yang paling tepat memenuhi harapan Abi."
Keheningan sempat menyelimuti ruangan. Hamdan tampak tertegun, menimbang beban tanggung jawab besar yang baru saja diletakkan di pundaknya. Namun, sebelum suasana menjadi terlalu melankolis, sebuah rebutan botol minuman pecah di antara mereka.
"Heh! Itu Coca-Cola punyaku, jangan dihabiskan!" seru Fattah tiba-tiba, merebut botol soda dari tangan Hamdan yang tanpa sadar hampir meminum sisa terakhirnya.
"Ah, pelit sekali kamu,Fatt! Ini kan di rumahku," balas Hamdan sambil tertawa geli, sejenak melupakan beban pikiran tentang pesantren.
Ketegangan diskusi itu mencair seketika.
Tak lama kemudian, suara bel rumah berbunyi. Pesanan martabak keju yang kami tunggu-tunggu akhirnya sampai.
Harum mentega dan lelehan keju yang gurih segera menyita perhatian semua orang. Kami menyantapnya bersama-sama sembari menonton Fattah bercerita tentang kejadian-kejadian konyol di pondok dulu. Tawanya yang khas membuat Hamdan tertawa hingga bahunya terguncang hebat.
"Masih ingat tidak, Dan? Waktu Nathan hampir ketauan mau nyolong Gorengan gara-gara ga sahur pas kita lagi ngabuburit bertiga?" tanya Fattah dengan sisa tawa.
"Ingat sekali! Mukanya waktu itu benar-benar tak ternilai pas ketauan Abi," Hamdan menimpali sembari menyeka air mata saking gelinya.
Namun, seolah semesta sedang mendengarkan pembicaraan kami, ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini lebih mantap dan bersemangat. Ketika Hamdan membuka pintu, sosok yang baru saja kami bicarakan berdiri di sana dengan senyum lebar yang tak berubah.
"Panjang umur! Baru saja kami bicarakan," seru Hamdan sembari memeluk erat sahabatnya itu.
"Assalamualaikum, Teman-teman!" Nathan masuk dengan gaya energetiknya yang khas. Ia tidak datang sendiri. Di belakangnya, muncul dua sosok perempuan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
"Marissa? Putri?" suaraku bergetar, nyaris tidak keluar.
Marissa dan Putri—sahabat perjuanganku sejak masa-masa di pesantren—berdiri di sana, menatapku dengan mata yang sama-sama berkaca-kaca. Tanpa kata-kata, aku berlari menghambur ke pelukan mereka. Tangisku pecah seketika, sebuah isak rindu yang selama ini kupendam rapat-rapat.
"Kalian ke mana saja..." bisikku di sela tangis, membenamkan wajah di bahu Marissa.
"Kami di sini, Ri. Maaf ya baru sempat datang sekarang," balas Marissa sembari mengusap punggungku dengan lembut.
Putri pun ikut memeluk kami, menciptakan lingkaran persahabatan yang kembali utuh setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing.
Suasana malam itu berubah dari penuh tawa menjadi penuh haru. Nathan, Fattah, dan Hamdan hanya bisa memperhatikan kami dengan senyum maklum. Mereka tahu betapa berartinya pertemuan ini untukku. Di tengah ruang tamu yang kini penuh sesak oleh orang-orang tersayang, aku menyadari satu hal: kebahagiaan sejati bukan hanya tentang kesembuhan diri, tapi tentang dikelilingi oleh mereka yang tak pernah menyerah pada kita.
Sambil menghabiskan sisa martabak keju dan minuman ringan, malam itu kami habiskan dengan bercerita. Dari urusan masa depan pesantren yang diamanahkan Abi Rehadi, hingga kenangan-kenangan konyol masa remaja yang membuat kami lupa bahwa waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
TBC.
semangat tor