Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Fajar
Kadang Allah tidak mengubah takdir kita dengan peristiwa besar, tetapi dengan satu momen kecil yang mengetuk hati perlahan.
—Chailey Cendana—
Fajar datang tanpa suara.
Langit yang semula hitam pekat, perlahan memudar seperti tinta yang diencerkan air. Semburat jingga merambat di ufuk timur, tipis namun pasti, seperti harapan yang kembali menyapa setelah semalaman hati bergulat dengan pikiran.
Udara pagi di Yogyakarta terasa lebih sejuk dari biasanya. Anginnya lembut, menyentuh kulit seperti sapuan tangan yang menenangkan jiwa. Pepohonan di sekitar villa masih basah oleh embun, dan suara burung bersahutan seperti lantunan tasbih yang tak pernah lelah mengagungkan Sang Pencipta.
Di balkon yang sama seperti semalam, Aldivano masih terjaga.
Ia tidak benar-benar tertidur. Malam tadi, pikirannya seperti ombak yang tak berhenti menghantam karang—tenang di luar, bergemuruh di dalam. Namun anehnya, ia tidak merasa lelah. Justru ada ketenangan yang tumbuh perlahan, seperti akar yang menyusup diam-diam ke dalam tanah.
Ia berdiri, menatap matahari yang mulai muncul.
Fajar selalu mengingatkannya pada satu hal:
bahwa gelap tidak pernah benar-benar menang.
Dan mungkin, perasaan pun seperti itu.
Ia menarik napas dalam-dalam. Aroma tanah basah bercampur angin laut menyusup ke dadanya, seperti pesan rahasia dari alam bahwa pagi ini berbeda.
Langkah kaki kecil terdengar dari dalam villa.
Celine.
Ia bangun lebih pagi dari biasanya. Entah karena suara ombak yang memanggil, atau karena hatinya yang tak lagi tenang sejak semalam. Rambutnya tergerai setengah basah karena wudhu, mukena putih masih melingkupi tubuhnya seperti cahaya yang lembut.
Ia tidak menyadari bahwa Aldivano ada di balkon. Ia berjalan pelan ke halaman depan villa, ingin melihat matahari terbit lebih dekat. Hatinya terasa ringan, meski masih menyimpan tanya yang belum terjawab.
Aldivano melihatnya dari atas.
Siluet Celine di bawah sinar fajar tampak seperti lukisan yang terlalu indah untuk disentuh. Mukena putihnya tertiup angin, bergerak lembut seperti awan yang turun ke bumi. Ia berdiri menghadap matahari, kedua tangannya terangkat berdoa.
Dan saat itu, ada sesuatu dalam diri Aldivano yang berubah.
Bukan perasaan.
Bukan pula tekad.
Melainkan cara ia memandangnya.
Ia tidak lagi melihat Celine sebagai seseorang yang harus ia dekati atau ia perjuangkan. Ia melihatnya sebagai amanah yang harus ia hormati, bahkan jika itu berarti ia harus menunggu lebih lama.
Seperti matahari yang tidak pernah memaksa malam untuk segera pergi.
Di bawah, Celine memejamkan mata.
“Ya Allah… jika perasaan ini baik, dekatkanlah dengan cara-Mu. Jika tidak, tenangkanlah hatiku.”
Doanya sederhana. Tidak menyebut nama. Tidak menyebut harapan secara gamblang. Namun langit yang luas seolah memahami siapa yang ia maksud.
Ketika ia membuka mata, ia mendapati Aldivano berdiri di ujung tangga balkon.
Pandangan mereka bertemu.
Tidak ada keterkejutan.
Tidak ada kecanggungan yang berlebihan.
Hanya hening yang terasa seperti percakapan tanpa kata.
Aldivano turun perlahan.
Langkahnya tidak tergesa, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu momen sakral pagi itu.
“Pagi,” ucapnya pelan.
Celine mengangguk kecil. “Pagi.”
Hanya satu kata. Namun nadanya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak lagi menjaga jarak secara sengaja. Tidak pula terlalu akrab.
Seperti dua orang yang sama-sama lelah bersembunyi dari perasaan sendiri.
Mereka berdiri berdampingan, menghadap matahari yang kini semakin tinggi. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, namun juga tidak sejauh sebelumnya.
Angin pagi berembus, menyibakkan helai rambut Celine.
Tanpa berpikir panjang, Aldivano mengeluarkan satu kalimat yang bahkan ia sendiri tidak rencanakan.
“Aku tidak akan bertanya kenapa kamu menjauh.”
Celine menoleh sedikit.
“Tapi aku ingin kamu tahu… aku tidak pergi.”
Kalimat itu sederhana.
Namun seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau, ia menciptakan riak yang menyebar jauh ke dalam hati Celine.
Ia menunduk.
Dadanya terasa hangat.
“Kenapa?” tanyanya lirih.
Aldivano tersenyum tipis. “Karena tidak semua jarak berarti harus ditinggalkan.”
Sunyi kembali menyelimuti mereka.
Namun kali ini, sunyi itu tidak lagi canggung. Ia seperti selimut yang menyatukan dua rasa tanpa perlu dirapikan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari belakang.
Reina.
Ia berdiri di ambang pintu villa, memperhatikan keduanya dengan senyum yang sulit disembunyikan. Namun ia tidak mendekat. Ia hanya memandang, seperti seseorang yang akhirnya melihat potongan puzzle mulai menyatu.
Momen kecil itu—pagi yang sederhana, percakapan yang singkat—menjadi titik balik yang tidak dramatis, tetapi dalam.
Karena di situlah Celine menyadari sesuatu.
Bahwa perasaan tidak selalu harus ditolak untuk dijaga.
Bahwa menjauh bukan solusi jika hati justru semakin bergetar.
Dan bahwa lelaki yang berdiri di sampingnya tidak pernah memaksanya—hanya menunggu dengan sabar seperti bumi yang menanti hujan.
Sarapan pagi di villa berlangsung hangat.
Kedua keluarga berkumpul di meja panjang. Suasana riuh oleh tawa, cerita perjalanan kemarin, dan rencana hari ini. Namun ada sesuatu yang berbeda—sebuah energi halus yang tak kasat mata.
Bunda Afsheen memperhatikan Aldivano sesekali.
Mommy Chailey mencuri pandang pada Celine.
Mereka tidak bertanya.
Karena orang tua sering kali mengerti tanpa perlu penjelasan.
Celine duduk tidak jauh dari Aldivano. Biasanya ia akan memilih kursi paling ujung, menjaga jarak tanpa terlihat mencolok. Namun pagi ini, ia duduk lebih dekat—tidak terlalu, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak lagi menghindar.
Reina menyikutnya pelan.
“Udah nggak lari lagi?” bisiknya menggoda.
Celine mengerucutkan bibir. “Diam.”
Namun pipinya memerah seperti langit saat matahari mulai naik.
Di sisi lain meja, Draven memperhatikan dengan tatapan tajam namun tidak bermusuhan. Ia melihat bagaimana Aldivano bersikap—tidak berlebihan, tidak pula menuntut perhatian.
Sikap itu membuatnya tenang.
Karena lelaki yang sabar, biasanya tahu cara menjaga.
Hari itu mereka berencana kembali ke pantai.
Perjalanan ditempuh dengan mobil, menyusuri jalan berkelok yang diapit sawah dan perbukitan. Celine duduk di kursi tengah, diapit Reina dan Alya. Namun kali ini, ia tidak sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Aldivano tidak memperhatikannya.
Karena ia tahu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu melarikan diri dari itu.
Di pantai, ombak datang silih berganti seperti napas panjang bumi. Pasir putih berkilau di bawah matahari, dan angin laut berembus kencang seperti bisikan rahasia yang ingin dibagi.
Celine berjalan mendekati bibir pantai.
Aldivano menyusul, menjaga jarak secukupnya.
Tiba-tiba, langkah Celine terhenti. Sandalnya tersangkut batu kecil, dan ia hampir kehilangan keseimbangan.
Seketika tangan Aldivano terulur.
Bukan memegang erat.
Hanya menahan agar ia tidak jatuh.
Sentuhan itu singkat.
Namun seperti petir kecil yang menyambar tanpa suara.
Celine mendongak.
Dan di situlah ia benar-benar sadar.
Detak jantungnya bukan lagi biasa.
Ia tidak lagi sekadar kagum.
Ia takut kehilangan.
Dan itu, jauh lebih dalam dari yang ia kira.
Aldivano melepaskan tangannya segera, menjaga adab seperti yang selalu ia lakukan.
“Hati-hati,” ucapnya tenang.
Namun mata mereka berbicara lebih banyak dari kata.
Celine menelan ludah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menolak perasaan itu.
Ia menerimanya—pelan, seperti menerima cahaya matahari yang menghangatkan tanpa membakar.
Pelajaran pagi itu sederhana, namun dalam:
Bahwa cinta yang baik tidak terburu-buru.
Bahwa menunggu bukan kelemahan, melainkan bukti kedewasaan.
Dan bahwa ketika sesuatu memang ditulis untukmu, ia tidak akan pergi—meski kamu sempat menjauh.
Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216)
Celine dulu takut perasaan itu merusak persahabatan, keluarga, atau dirinya sendiri.
Namun pagi itu ia belajar, bahwa perasaan yang dijaga dengan adab tidak akan menghancurkan—ia justru menumbuhkan.
Dan Aldivano belajar satu hal:
Bahwa kesulitan bukan untuk mematahkan, melainkan menguatkan.
Seperti malam yang harus dilewati sebelum fajar datang.
Sore mulai turun.
Namun sebelum mereka kembali ke villa, Aldivano menerima sebuah pesan dari seseorang yang membuat langkahnya terhenti.
Pesan yang bisa mengubah segalanya.
Ia membaca layar ponselnya sekali.
Lalu menatap Celine yang tertawa bersama Reina.
Angin laut kembali berembus.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Aldivano merasa—
mungkin waktunya semakin dekat.
Namun apa isi pesan itu?
Dan apakah Celine siap mendengar kebenaran yang selama ini tersembunyi?
Fajar telah datang.
Namun siang mungkin membawa ujian yang berbeda.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...