NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Sesi pemotretan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Kilatan lampu flash yang tadinya terasa menyilaukan kini berganti dengan temaram lampu lorong hotel yang elegan. Alana berdiri di dalam kamar executive suite yang sudah mulai sepi, merapikan kembali hijabnya di depan cermin besar. Ia telah menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan riasan yang sangat teliti, namun ia tahu, ingatan tentang sentuhan kasar itu tidak bisa ditutupi semudah riasan wajah.

Saat Alana meraih tas tangannya dan bersiap untuk melangkah keluar, pintu kamar yang sempat ia kunci dari dalam terbuka pelan. Azkara berdiri di sana. Ia tidak lagi tampak seperti predator yang haus akan kehancuran. Bahunya merosot, tatapannya kosong namun tertuju lurus pada Alana. Ada aura penyesalan yang begitu pekat menyelimutinya, seolah pria angkuh itu telah meluruh menjadi abu.

Azkara melangkah masuk, mendekat ke arah ranjang tempat Alana berdiri. Langkahnya ragu, seolah setiap inci lantai yang ia pijak adalah duri yang menyakitkan.

"Alana..." suaranya pecah, hampir seperti bisikan angin. "Aku akan mengantarmu pulang."

Alana terdiam sejenak. Ia menatap pantulan Azkara di cermin. Ada ribuan alasan untuk menolak, ribuan alasan untuk merasa takut, namun ketangguhan yang ia warisi dari ibunya membuatnya tetap tenang. Alana tahu, jika ia lari sekarang, ia akan membiarkan ketakutan itu menang.

"Baiklah," jawab Alana singkat. Ia berbalik dan menatap mata Azkara. "Ayo pergi."

Lantai lobi hotel terlewati dalam keheningan yang menyesakkan. Azkara berjalan satu langkah di belakang Alana, menjaga jarak yang sangat sopan, seolah ia takut bayangannya saja bisa melukai wanita itu lagi. Saat mereka sampai di depan pintu mobil Lamborghini-nya, Azkara membukakan pintu untuk Alana dengan gerakan yang sangat hati-hati, sangat berbeda dengan cara ia membanting pintu kemarin.

Mobil itu meluncur membelah jalanan Manhattan yang mulai basah oleh rintik hujan. Biasanya, Azkara akan memacu mesinnya hingga meraung, menantang maut di setiap tikungan. Namun kali ini, ia mengemudi dengan sangat pelan, sangat teratur, seolah ia sedang membawa barang pecah belah yang paling berharga di dunia.

Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu pekat, hanya diiringi suara wiper yang menyapu kaca depan. Azkara sesekali melirik Alana dari sudut matanya, memastikan wanita itu merasa nyaman, namun ia segera membuang muka saat mata mereka nyaris berserobok.

"Alana," Azkara akhirnya memecah kesunyian saat mobil berhenti di lampu merah Broadway. "Aku... aku benar-benar minta maaf. Kata maaf mungkin terdengar sangat murahan sekarang, tapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menebus kegilaanku tadi."

Alana tetap menatap ke depan, jemarinya bertautan di pangkuannya. "Kau sudah mengatakannya berulang kali, Azkara. Dan aku sudah bilang, jangan biarkan masa lalu mu mengubah mu menjadi monster."

"Aku melihat bekas itu, Alana," suara Azkara bergetar, ia merujuk pada leher Alana yang kini tertutup hijab. "Setiap kali aku memikirkan apa yang kulakukan padamu, aku merasa ingin menghancurkan tanganku sendiri. Aku membenci pria yang kulihat di cermin tadi."

Azkara memutar kemudi masuk ke kawasan apartemen Alana. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan yang agak sepi, namun tidak langsung mematikan mesin. Ia memutar tubuhnya, menatap Alana dengan tatapan yang sangat intens, tatapan yang penuh dengan permohonan ampun dan rasa bersalah yang dalam.

"Tatap aku, Alana. Kumohon," pintanya lirih.

Alana menoleh. Di bawah sinar lampu jalan yang masuk ke dalam mobil, ia melihat mata Azkara berkaca-kaca. Pria yang penuh tato, yang sombong, yang angkuh, kini tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah.

"Aku menghabiskan bertahun-tahun untuk membenci wanita sepertimu," ucap Azkara, matanya tidak lepas dari mata Alana. "Aku membangun tembok kebencian agar aku tidak pernah merasa lemah lagi. Tapi tadi... saat kau berkata nikahi aku dulu... kau meruntuhkan semuanya. Kau menunjukkan padaku bahwa martabat itu nyata, bukan hanya topeng."

Alana merasakan getaran tulus dari kata-kata Azkara. "Azkara, kebencian hanya akan memakan dirimu sendiri. Kau pikir dengan merusak ku, lukamu karena wanita itu akan sembuh? Tidak. Kau justru menciptakan luka baru bagi dirimu sendiri."

Azkara menunduk, tangannya yang penuh tato mencengkeram kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih. "Aku tahu. Aku baru menyadarinya saat melihat air matamu. Itu adalah air mata paling menyakitkan yang pernah kulihat seumur hidupku."

Azkara keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Alana. Saat Alana turun, Azkara secara refleks ingin memegang tangan Alana untuk membantunya, namun ia segera menarik kembali tangannya dengan cepat, seolah tangannya adalah api yang bisa membakar kulit Alana. Kehati-hatiannya begitu nyata, begitu canggung hingga terasa menyakitkan untuk dilihat.

"Aku akan memastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi. Aku akan menjaga jarak jika itu yang kau inginkan," ucap Azkara saat mereka berdiri di depan pintu lobi apartemen.

Alana menatap Azkara cukup lama. Sebagai wanita modern, ia bisa merasakan bahwa pria ini sedang berada di titik balik hidupnya. "Jarak tidak akan menyelesaikan masalahmu, Azkara. Kedamaian dengan dirimu sendirilah yang kau butuhkan."

Azkara menatap mata Alana lagi, seolah mencoba merekam setiap detail kejujuran di sana. "Bisakah... bisakah aku menemui mu lagi? Bukan sebagai pria yang ingin merusak mu, tapi sebagai pria yang ingin belajar bagaimana cara menghargai wanita lagi?"

Alana tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat tenang. "Pintu maaf selalu terbuka bagi mereka yang benar-benar ingin berubah. Tapi ingat, Azkara... kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau bangun, bukan kau minta."

Azkara berdiri mematung di trotoar, membiarkan hujan mulai membasahi kemejanya saat ia melihat Alana masuk ke dalam gedung. Ia tidak langsung pergi. Ia tetap di sana, menatap jendela lantai atas yang kemudian menyala, menandakan Alana sudah sampai dengan selamat.

Di dalam mobilnya, Azkara bersandar dan memejamkan mata. Bayangan Alana yang menatapnya dengan berani di kamar hotel tadi terus terngiang. Ia menyadari satu hal: Alana Richard bukan hanya berbeda dari mantannya, dia adalah tipe wanita yang bisa membuat pria seperti Azkara ingin menjadi lebih baik hanya dengan kehadirannya.

Malam itu, di Manhattan yang dingin, kecanggungan itu menjadi jembatan pertama bagi hubungan mereka yang sangat rumit. Azkara pulang dengan hati yang masih berat karena rasa bersalah, namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasakan secercah cahaya yang bukan berasal dari kemarahan.

Sementara itu, Alana duduk di balik jendela kamarnya, menyentuh lehernya yang masih sedikit perih. Ia tahu, perjalanannya dengan Azkara baru saja dimulai. Sebuah perjalanan yang mungkin akan penuh dengan kehati-hatian, namun juga penuh dengan harapan bahwa luka yang paling dalam sekalipun bisa disembuhkan oleh ketulusan.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!