NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi yang Salah Sasaran

Malam harinya di apartemen, Alexey melirik Haerim yang sedang duduk santai di sofa sambil main ponsel.

"Kamu nggak pulang lagi?" tanyanya sambil bersandar di meja dapur.

"Nggak mau~" jawab Haerim santai sambil tersenyum centil. "Mommy sama Daddy udah berangkat ke Singapura. Jadi males banget sendirian di rumah. Mendingan di sini sama kamu kan?"

Ia mengedipkan mata dengan jahil.

"Tunggu di sini," ucap Alexey sambil mengambil kunci mobil. "Aku akan beli makanan."

"Eh, tunggu!" larang Haerim sambil cepat berdiri dari sofa dan menarik lengan Alexey. "Nggak usah keluar! Aku yang masak. Kamu istirahat aja. Pasti capek kan seharian..."

Ia menatap Alexey dengan tatapan bersikeras sambil tersenyum lembut.

"Baiklah," ucap Alexey sambil mengangguk pasrah.

Haerim langsung berlari dengan penuh semangat ke kulkas dan mulai mengambil bahan-bahan masakan dengan ceria.

"Oke! Aku mau masak yang enak buat kamu!" serunya excited sambil sibuk memilih sayuran dan daging.

Alexey hanya bisa tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.

"Haerim tidak bisa ditebak", gumamnya sambil menatap gadis itu yang sibuk dengan penuh semangat.

Saat Alexey masuk ke kamar, ponselnya berdering. Nama Kang Mira muncul di layar. Ia langsung mengangkat.

"Alexey, apa Haerim sedang bersamamu?" tanya Kang Mira dengan nada lembut.

"Iya, Bibi," jawab Alexey tenang sambil duduk di tepi ranjang. "Haerim sedang di dapur sekarang."

"Syukurlah..." ucap Kang Mira sambil menghela napas lega. "Alexey, aku akan sedikit lama di Singapura karena kepentingan bisnis suami. Jadi... aku percayakan Haerim padamu ya. Tolong jaga dia baik-baik."

"Saya akan menjaga Haerim, Bibi," jawab Alexey dengan nada serius.

"Terima kasih, Alexey," ucap Kang Mira tulus. "Dan satu lagi... Haerim memang sudah dewasa, tapi kalian harus bijak dalam menjaga hubungan. Mommy bukan melarang kalian untuk melakukan apapun... tapi jangan terburu-buru. Waktu kalian masih panjang. Mengerti?"

"Saya mengerti, Bibi," jawab Alexey sambil mengangguk meski Kang Mira tidak bisa melihatnya.

Setelah panggilan selesai, pintu kamar terbuka dan Haerim masuk sambil membawa dua piring nasi goreng dengan wajah penuh kebanggaan.

"Alexey! Makanannya sudah siap!" panggilnya ceria sambil menyerahkan satu piring ke Alexey. "Ayo makan bareng! Aku jamin ini enak, aku masaknya dengan penuh cinta lho~"

Alexey menerima piring itu dan mereka berdua duduk di karpet bulu sambil menyantap nasi goreng bersama.

"Bagaimana rasanya?" tanya Haerim sambil menatap Alexey penuh harap.

"Enak," jawab Alexey santai sambil melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan mereka bersiap-siap untuk tidur. Namun saat Haerim baru saja memejamkan matanya, ponselnya tiba-tiba berbunyi.

"HAERIM! Kamu dimana?!" teriak Yubin dari seberang dengan nada panik. "Di kampus lagi ada masalah besar! Ada yang berani membobol ruang arsip! Rektor Minsook marah besar tadi! Kamu nggak tau apa yang terjadi?!"

"Ha? Apa?!" pura-pura kaget Haerim sambil duduk tegak. "Serius?! Siapa yang berani melakukan itu?"

"Nggak tau!" jawab Yubin dengan nada panik. "Itu yang bikin semua orang heboh! Oh iya, ngomong-ngomong... kamu sama Alexey dimana tadi waktu kejadian? Kalian berdua nggak masuk kelas soalnya..."

Haerim sangat panik, matanya membulat tidak tahu harus menjawab apa. Alexey yang melihatnya langsung mengambil ponsel dari tangan Haerim dengan tenang.

"Kami tidak jadi masuk kelas tadi," jawab Alexey santai. "Langsung pulang ke apartemen untuk istirahat."

"EH?! ALEXEY?!" teriak Yubin kaget dari seberang. "Tunggu... berarti Haerim sampai sekarang masih di apartemenmu?!"

"Iya," jawab Alexey singkat dan datar.

"Alexey, ini gawat banget!" seru Yubin panik dari seberang. "Kalian nggak masuk kelas hari ini, jadi besok Rektor Minsook mau manggil kalian ke ruangannya! Dosen Lisa yang disuruh nyampein pesannya. Kalian harus siap-siap!"

"Terima kasih atas informasinya," ucap Alexey singkat lalu memutuskan sambungan.

Haerim langsung meraih lengan Alexey dengan panik.

"Alexey, gimana kita harus jelasinnya besok?!" tanyanya dengan nada cemas. "Minsook pasti curiga sama kita! Kalau ketahuan gimana?!"

"Tenang," ucap Alexey sambil menepuk pelan kepala Haerim. "Aku yang akan menyelesaikan semuanya. Kamu hanya perlu mengikutiku besok. Mengerti?"

Haerim mengangguk pelan sambil menarik napas dalam-dalam.

"Iya... aku percaya sama kamu," ucapnya lirih.

Alexey menarik Haerim ke dalam pelukannya dan menyelimuti mereka berdua.

"Tidur," perintahnya lembut.

"Situasi bersama pria ini benar-benar tidak pernah tenang," batin Haerim sambil memeluk lengan Alexey lebih erat. "Tapi anehnya... makin hari aku makin nyaman di sini. Di pelukannya..."

Senyum tipis tersungging di bibirnya sebelum matanya perlahan terpejam.

Malam berlalu dengan tenang meski ada sedikit tekanan. Pagi harinya Alexey dan Haerim kembali ke kampus seperti biasa tanpa menunggu dipanggil.

Di koridor, Junhwan yang berpapasan dengan mereka langsung menyeringai puas.

"Lihat siapa yang datang," ejeknya sambil melipat tangan di dada. "Apa mungkin ini hari terakhir Tuan Libert yang terhormat di kampus? Sayang sekali ya..."

"Wah, makasih lho, Junhwan," balas Haerim dengan senyum manis yang penuh sindiran. "Susah payah mikirin kami segala. Terharu banget aku~"

Ia melirik Junhwan dari atas ke bawah sambil tersenyum tipis.

"Tapi kayaknya kamu lebih cocok jadi satpam tambahan di kampus ini deh. Lumayan kan, bisa mantengin Alexey dari dekat sepuasnya..."

Tanpa memperdulikan Junhwan yang sudah merah padam menahan emosi, Alexey dan Haerim langsung melangkah masuk ke ruangan Minsook.

Alexey menatap Minsook dengan tatapan dingin sambil berdiri di depan mejanya.

"Aku dengar Anda memanggil kami ke sini," ucapnya datar. "Apa tujuannya?"

"Tuan Liebert, Nona Kang... maaf ya sudah merepotkan kalian," ucap Minsook dengan nada menjilat sambil tersenyum ramah. "Silakan duduk dulu."

Setelah mereka duduk, Minsook kembali menyunggingkan senyum palsu yang sama.

"Sekali lagi saya minta maaf sudah mengganggu ketenangan kalian. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal kecil saja—"

"Langsung tanya," potong Alexey dingin sambil menatap tajam ke arah Minsook. "Jangan berbelit-belit."

"Kalian pasti sudah tahu tentang pembobol gedung arsip kampus," ucap Minsook sambil mempertemukan jari-jarinya di atas meja. "Setelah pemeriksaan, semua mahasiswa tercatat hadir di kelas masing-masing. Nah—"

"Langsung ke intinya," peringat Alexey dingin tanpa mengalihkan tatapannya.

Minsook menelan ludah dan mengangguk gugup.

"Ah... Junhwan sempat melihat kalian di parkiran pagi itu, tapi kalian tidak masuk kelas," ucapnya hati-hati. "Saya hanya ingin tahu... kalian berada di mana saat kejadian itu berlangsung?"

"Kami memang sempat ke kampus," jawab Alexey tenang sambil menatap Minsook. "Tapi tidak masuk kelas karena Haerim tidak enak badan, dan kembali ke apartemen."

"Oh... ternyata begitu," ucap Minsook hati-hati. "Tapi kalau boleh tanya, kenapa tidak ke ruang medis kampus saja?"

"Apa sekarang Anda juga sudah mulai mempertanyakan kehidupan pribadi Saya?" tanya Alexey dengan nada mengintimidasi, tatapannya menusuk tajam ke arah Minsook.

Minsook langsung pucat. Keluarga Liebert adalah sumber donasi terbesar kampus—ia tidak bisa kehilangan mereka.

"T-tidak! Sama sekali tidak! Maafkan Saya Tuan Libert!" ucapnya buru-buru sambil melambaikan tangan panik. Ia langsung berbalik ke Haerim dengan senyum palsu. "Ngomong-ngomong, keponakan Paman yang tersayang... keadaanmu sudah membaik sekarang?"

"Masih sedikit pusing, Paman," jawab Haerim dengan gaya pura-pura lemas sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Alexey. "Mungkin kelelahan belajar. Maklum, tugas akhir semester menumpuk..."

"Ah, wajar wajar," ucap Minsook sambil mengangguk basa-basi. "Hidup sebagai penerus keluarga Kang memang sedikit berat. Kita harus selalu bisa menjadi yang terbaik. Paman bangga sama kamu, Haerim..."

Namun di balik senyum palsunya, pikirannya berputar liar.

"Kalau bukan Tuan Liebert yang membobol ruang arsip... siapa lagi yang berani melakukan itu?" gumamnya dalam hati sambil melirik Alexey dengan curiga.

"Paman, semuanya sudah jelas kan?" tanya Haerim sambil berdiri dari kursi. "Kalau sudah, aku mau kembali ke kelas. Aku sudah ketinggalan dua hari soalnya..."

"Tentu, tentu! Silakan, silakan!" ucap Minsook sambil melambaikan tangan ramah. "Kalian berdua boleh keluar. Maaf sudah mengganggu waktu kalian."

"Haerim, keluar dulu," ucap Alexey sambil melirik Haerim. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan Rektor sebentar."

Haerim mengangguk dan keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Alexey kembali menatap Minsook dengan tatapan dingin.

"Aku punya sesuatu yang perlu dikerjakan olehmu," ucapnya datar. "Dengan bayaran..." ia berhenti sejenak. "Tidak," ralat nya santai. "Dengan donasi yang sangat fantastis untuk kampus ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!